Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 45
Flour Sistemik dan Kesehatan Gigi
Drg Magdarina Destri Agtini
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI., Jakarta.
PENDAHULUAN
Fluor (F) adalah elemen golongan halogen dan tidak pernah
terdapat bebas di alam. Ikatan fluor baik organik maupun
inorganik disebut fluoride.
Karies adalah suatu penyakit gigi yang bersifat irreversible
dan kumulatif. Karies ini dapat mengenai semua orang pada
semua golongan umur semenjak tumbuhnya gigi dalam rongga
mulut.
Pada abad ke-19 telah diketahui adanya hubungan antara
fluor dan karies. Erhardt pada tahun 1874 telah menganjurkan
agar anak-anak dan wanita hamil menggunakan lozenges yang
mengandung potasium fluoride. Kemudian Grichton Browne
dan kawan-kawan pada tahun 1892 menyatakan bahwa pemberi-
an fluoride pada waktu pertumbuhan gigi adalah penting. Dan
pada tahun 1923 McClendon menemukan bahwa gigi yang sehat
mengandung fluoride lebih banyak dari pada gigi karies (Blayney
JR, 1967). Akan tetapi pada tahun 1929 FS McKay melaporkan
bahwa air minum yang mengandung fluoride untuk mencegah
karies dapat mengakibatkan mottled teeth (mottled enamel). Pada
tahun 1931 dua kelompok peneliti Amerika secara terpisah
menemukan konsentrasi fluoride yang tinggi dalam air minum
di daerah-daerah endemis mottled teeth.
Berdasarkan hasil-basil. penelitian yang menunjukkan
hubungan antara fluoride dan karies gigi, maka Dean dari
US Public Health Service menganjurkan pemakaian 1 ppm fluoride
dalam air minum. Ternyata insiden karies menurun 50--60%
dan tidak ditemukan mottled teeth.
MEKANISME FLUORIDE MENCEGAH KARIES
Menurut WHO (1962) yang dimaksud dengan karies gigi
adalah : Suatu proses patologi dimulai dari bagian luar gigi,
dengan melemahnya jaringan keras gigi dan terbentuk lubang,
yang dapat terjadi sesudah gigi tumbuh (erupsi).
Enamel adalah lapisan gigi yang paling luar, lebih keras
dibandingkan dengan lapisan di bawahnya yang disebut dentin.
Hal ini disebabkan karena enamel lebih banyak mengandung
mineral dan bahan-bahan organik. Struktur enamel gigi terdiri
dari susunan kimia komplek dengan gugus kristal yang terpenting
yaitu hidroksil apatit. Unsur-unsur kimia yang lebih banyak
terdapat di permukaan enamel adalah F, Cl, Zn, Pb dan Fe,
sedangkan karbonat dan magnesium lebih sedikit dibanding
bagian lainnya. Ion kimia paling penting yang diharapkan banyak
diikat oleh hidroksil apatit adalah ion fluor, di mana hidroksil
apatit akan berubah menjadi fluor apatit dan lebih tahan ter-
hadap asam. (Newburn, 1978).
ABSORPSI, DISTRIBUSI DAN EKSKRESI FLUORIDE
Fluoride inorganik dengan daya larut yang tinggi dapat
diabsorpsi dengan sempuma di dalam lambung (Murray JJ,
1986). Absorpsi fluoride lewat air minum dan makanan pada
dasarnya sama. Tapi bila makanan mengandung kalsium, magne-
sium, atau alumunium akan terbentuk ion fluoride komplek
dengan daya larut rendah, sehingga sukar diabsorpsi. Air minum
adalah sumber fluoride yang paling penting dan zat ini biasanya
terdapat dalam bentuk fluoride yang larut. Fluoride dalam jumlah
relatif paling besar terdapat pada jaringan berkapur. Endapan
fluoride pada gigi terjadi pads 3 stadium yaitu : stadium pem-
bentukan gigi, mineralisasi dan sesudah mineralisasi. Pada gigi
kadar fluor tertinggi adalah di permukaan enamel paling luar.
Fluoride diekskresikan melalui faeces, urine, keringat, se
bagian kecil melalui air ludah dan air susu ibu. Fluoride yang
diekskresi melalui air ludah sangat sedikit tetapi penting artinya
untuk penimbunan fluoride pada permukaan enamel gigi
karena dapat menghambat beberapa proses enzim sehingga
mengurangi jumlah azam yang dihasilkan oleh bakteri yang
terdapat dalam air ludah dan plak.
PATOLOGI KLINIS FLUORIDE
Kelebihan fluoride melali makanan atau minuman dapat
menyebabkan keracunan akut dan kronik.
· Keracunan akut. Biasanya terjadi akibat kecelakaan minum
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
46
fluoride dalam jumlah besar sekaligus. Gejala-gejalanya adalah
banyak ludah, mual, sakit perut, muntah, diare, kejang-kejang
yang kemudian dapat mengakibatkan kematian. Dosis letal
sodium fluoride untuk manusia adalah 5 gr, tetapi ada juga yang
meninggal akibat minum obat tersebut sebanyak 2 gr.
· Keracunan kronik. Manifestasi utama akibat minum fluoride
dalam jumlah besar dan waktu lama ialah: osteosklerosis, osifika-
si tendon ligament tulang punggung dan pada gigi menyebabkan
mottled teeth. Pada mottled teeth yang ringan terdapat noda putih
yang tidak teratur pada permukaan gigi. Pada keadaan yang
lebih berat wamanya menjadi coklat tua/kehitam-hitaman. Hal
mi terjadi sebagai akibat minum 2--8 mg fluoride atau lebih
setiap han sampai usia 8 tahun.
FLUORIDASI SECARA SISTEMIK
Fluoridasi melalui air minum
a) Fluoridasi air minum secara sentral (fluoridated water supply).
Dalam hal mi konsentrasi fluor yang baik adalah 0,7--1,2 mg
fluoride/liter, tergantung temperatur lokal rata-rata tiap tahun.
Tabel 1. Konsentrasi fluoride pads temperatur rats-rats pertahun.*
Rata-rata temperatur
maksimum tiap hurl
per tahun
Konsentrasi fluoride (mg/liter)
°C °F
Rendah
Yang
baik
Tinggi
10,0 - 12,05
50,0 - 53,0
0,9
1,2
1,7
12,0 - 14,6
53,8 - 58,3
0,8
1,1
1,5
14,6 - 17,6
58,4 - 63,8
0,8
1,0
1,3
17,7 - 21,4
63,9 - 70,6
0,7
0,9
1,2
21,5 - 26,25
70,7 - 79,2
0,7
0,8
1,0
26,2 - 32,55
79,3 - 90,5
0,6
0,7
0,8
* Prevention of Oral Disease (WHO Offset Publication, 1987).
Pengaruh anti karies dan fluoride pada anak-anak adalah
pada masa pertumbuhan dan mineralisasi giginya. Penelitian
selama 10 tahun dengan fluonidasi air minum buatan dengan
kadar 0,7 ppm fluor telah dilakukan di Singapura (daerah tropis).
Hasil penelitian pada kelompok umur 7--9 tahun asal Singapura
menunjukkan bahwa pada anak Melayu terdapat reduksi
frekuensi karies sebesar 31% dan penurunan rata-rata DMF--T
2,9 per anak (tahun 1957) menjadi rata-rata DMF--T2,1 per anak
(tahun 1966). Dalam suatu populasi fluoridasi air minum dengan
1 ppm fluoride terdapat bentuk mottled teeth paling ringan kurang
Iebih 10% (WHO, 1970).
Penambahan fluoride pada air minum (fluoridated water
supply) dengan kadar 1 ppm sudah banyak dilakukan negara-
negara yang memakai distribusi air minum yang sudah di-
fluonidasi antara lain : Amerika Serikat, Belanda, Denmark,
Inggris, Australia, Jepang, Thailand, Malaysia dan Singapura.
(Rock dan kawan-kawan, 1987). Foo dan Chong pada tahun
1975 menyatakan bahwa terlihat jelas adanya penurunan
frekuensi karies 60--70% di Johor (Malaysia) setelah 10 tahun
pemberian fluor 0,7 ppm pada air minum. (Foo and Chong
1975). Makin tinggi kadar fluor dalam air minum, makin rendah
kejadian kanies. (WHO, 1970).
Pemeriksaan karies gigi pada anak-anak sekolah yang telah
dilakukan di Kecamatan Asembagus, Jawa Timur menunjukkan
bahwa : anak-anak kelompok usia 9,11 dan 12 tahun pada
kelompok fluor rendah (0,2 -- 0,4 ppm) masing-masing mem-
punyai rata-rata DMF--T 0,7, 0,8 dan 1,3; fluor sedang (1,0 - 1,6
ppm) masing-masing mempunyai rata-rata DMF--T 0,6, 0,7 dan
1,1; fluor tinggi (2,2 -- 2,7 ppm) masing-masing rata-rata DMF-T
0,4, 0,6 dan 0,8. Dan hasil penelitian mi terlihat, bahwa makin
tinggi kadar fluoride dalam air makin rendah prevalensi karies
gigi di antara anak-anak yang diperiksa. Demikian pula hubungan
sebaliknya (Rai, 1980).
b. Fluoridasi air minum di sekolah (fluoridated school water
supply). Studi pertama kali dilakukan oleh Horowitz dkk.
rnengenai efek fluoridasi air minum pada ariak-anak sekolah
di Virginia tahun 1954 dengan. kadar fluoride 2,3 ppm tiga kali
kadar fluoride optimal setempat). Setelah 8 tahun terlihat
adanya perbedaan kesakitan gigi 22% antara kelompok yang
diberi fluoridasi air minum dengan kelompok kontrol. studi
selanjutnya yang dilakukan dan tahun 1958 -- 1970 di dua
daerah dengan memperhatikan keadaan geografi setempat yaitu
di Kentucky 3 ppm (3,3 kali kadar fluoride optimal setempat)
dan Pennsylvania 5 ppm (4,5 kali kadar fluoride optimal Se
tempat) menunjukkan penurunan prevalensi DMF--T 39% di
bandingkan dengan prevalensi DMF--T sebelum fluoridasi di
lakukan (Horowitz, 1973).
Fluoridasi air minum secara sentral mungkin sulit untuk
dilaksanakan pada negara yang distribusi aimya belum merata,
memadai dan terkontrol baik. Yang mungkin Iebih efektif adalah
fluoridasi air minum di sekolah-sekolah dengan kadar 4,5 kali
konsentrasi optimum pada masing-masing lokasi (Horowitz,
1973; WHO, 1987).
Fluoridasi melalui garam
Negara-negara yang telah melakukan fluonidasi garam
adalah Hongaria, Colombia dan Swiss (Hend Galal Gorchev,
1981). Fluonidasi garam mungkin sulit dilakukan oleh negara-
negara yang belum memiliki teknik pembuatan dan sistem
distribusi garam secara nasional dan tenkontrol baik. Kadar yang
dianjurkan adalah 250 mg fluoride per kg garam (WHO, 1987).
Fluoridasi dengan menggunakan tablet fluoride
Untuk rnencegah karies dapat dibenikan tablet fluoride sesuai
dosis yang dianjurkan pada anak umur 6 bulan -- 13 tahun.
Efektivitas tablet fluoride adalah sama dengan fluondasi melalui
air minum atau garam (WHO. 1987).
Tabel 2. Dosis tablet Fluoride (mg).*
Kadar fluoride pads sumber air
U s i a
0,2 ppm
0,3 - 0,7 ppm
0,7 ppm
6 bulan - 2 tahun
0,25
0
0
2 - 3 tahun
0,50
0,25
0
3 - 13 tahun
1,00
0,50
0
* Prevention of oral disease (WHO offset Publication; 1987).
Selain pemakaian fluoride secara sistemik dapat pula di-
berikan fluoride secara lokal antara lain : kumur-kumur dengan
larutan yang mengandung fluoride dan menyikat gigi dengan
menggunakan pasta gigi. Kedua hal ini masih dapat dilakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 47
oleh yang bersangkutan sendiri. Aplikasi permukaan gigi dengan
bahan fluoride (cairan, pernis) dan penggunaan fissure sealant,
seharusnya dilakukan oleh ahli di bidang kedokteran gigi.
KESIMPULAN
Banyak hasil penelitian menunjukkan adanya efek fluoride
terhadap penurunan prevalensi karies gigi. Fluoridasi air minum
(water supply) merupakan tindakan pencegahan yang efektif dan
mencakup masyarakat luas, tapi hanya dapat dilaksanakan di
negara-negara yang telah mempunyai sistem distribusi air secara
nasional dan terkontrol baik. Demikian pula dengan fluoridasi
melalui garam dan susu.
Fluoridasi air minum di sekolah dengan teknik yang disesuai-
kan dengan kebutuhan merupakan
.
salah satu alternatif lain
yang efektif.
Penentuan kadar fluor optimal yang diperlukan untuk pen-
cegahan penyakit gigi perlu dilakukan dengan hati-hati, yaitu
dengan memperhatikan berbagai faktor dan keadaan lingkungan
di masing-masing lokasi.
KEPUSTAKAAN
1. Blayney, JR et al. Fluorine and Dental Caries a Special Issue of the-
JDDA. 1967; 74.
2. Foo LC, Chong YH. Fluoride Studies in Malaysia. Southeast Asian J
Trop Med Pub Health. 1975; 6 (2) : 264-9.
3.
Hand Gala] Gorchev. Dental Health. Fluoride Saves Teeth. World Health
Organization Geneva: June 1981; 15-8.
4.
Horowitz HS. School Water Fluoridation for the Prevention of Dental
Caries. Intern Dent. 1973; 23 : 346-53.
5.
Newbrun E. Dietary Fluoride Supplementation for the Prevention of Caries.
Pediatrics. 1978a; 62 : 733-7.
6.
Newbrun E Cariology . Baltimore: The Williams & Wilkins Co, 1978b.
7.
Rai I Gush N. Hubungan antara Prevalensi Hipoplasia Gigi yang Endemis
pada Anak-anak dengan Konsentrasi Fluoride dalam Air Minum dan Urine,
dan dengan KariesGigi. Majalah Kedokteran Gigi Surabaya, 1981; XIV(1)
: 1-2.
8.
Rock WP, Gordon PH, Bradnock G. Dental Caries Experience in Birming-
ham and Wolverhampton School Children Following the Fluoridation
of Birmingham Water in 1964. Br Dent J 1981; 150 : 61-6.
9.
WHO Chronicle. Fluorides and Human Health. Geneva, World Health
Organization. 1970.
10.
WHO. Occurence and Metabolism of Fluorides. In : Murray JJ et al.
(ads). Appropriate use of Fluoride for Human Health Geneva: World Health.
Organization, 1986; 3-26.
11.
WHO. Prevention of Oral Dieseases. Geneva: World Health Organization,
1987.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dr. Rudy Salan Kepala Puslit
Penyakit Tidak Menular, Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan RI,
sejawat lainnya serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan
saran-saran yang berharga dalam penulisan makalah ini.