background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
42
Kesehatan Jiwa Okupasional
Dr. Tony Setiabudhi
Lektor pada Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UniversitasTtrisakti,
dan staf pada Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo, Jakarta
PENDAHULUAN
Bila kita simak dan amati lebih mendalam tentang waktu
yang digunakan sehari-hari oleh setiap manusia dewasa - khu-
susnya yang sudah bekerja -- ternyata lebih dari setengah waktu
(setelah bangun tidur) dihabiskan dalam pekerjaan atau se-
tidak-tidaknya dalam lingkungan kerja (industri, kantor, pe-
merintahan, pertanian dan sebagainya). Setiap orang tua juga
berusaha mendidik putra/putri mereka, agar mereka nantinya
dapat menyesuaikan diri dalam lingkup kerja di kemudian
hari. Anak-anak itu juga sadar, bila mereka nanti dewasa
harus bekerja; dan ternyata sepertiga, bahkan lebih dari
sepertiga hidup kita ini memang dipakai untuk bekerja.
Tidaklah heran bahwa Occupational Health akhir-akhir.
ini berkembang lebih pesat karena dampak kerja makin lama
makin penting untuk dipelajari, khususnya dalam menyiapkan
tindakan preventif secara lebih tepat. Seperti kita ketahui,
Occupational Mental Health sebenarnya merupakan bagian
dari Occupational Health, di mana dua buah kepentingan
tercakup dan terjalin secara erat, yakni :
1)
Kepentingan pimpinan industri yang berusaha memperoleh
efisiensi kerja serta produktivitas yang setinggi-tingginya
dari para pekerja.
2)
Kepentingan pekerja yang menginginkan kondisi optimal
Tentang pentingnya kesejahteraan serta kesehatan jiwa
karyawan, dalam bab pendahuluan ini akan diungkapkan tiga
buah ilustrasi.
1) Pada tahun 1938, Whitehead mengungkapkan hasil eks-
perimen yang dilakukan di Western Electric Company di
Amerika (yang dikenal sebagai
"
Hawthorne Experiment'').
Ternyata produktivitas rnereka meningkat secara bermakna
sbtelah lingkungan kerja mereka diperbaiki secara fisik dan
diadakan pendekatan emosional (dengan melakukan per-
cakapan maupun diskusi antar karyawan dan atasannya).
Ternyata pula bahwa peningkatan prestasi kerja ini masih
tetap dapat dipertahankan walaupun kondisi fisik lingkungan
kerja tadi sudah kembali seperti sediakala, sedangkan pen-
dekatan secara emosional masih tetap
.
dijalankan.
Dari eksperimen ini terbukti, pendekatan manusiawi lebih
berhasil dibandingkan dengan perbaikan kondisi fisik.
2) Herzberg mengungkapkan (dikenal sebagai motivation
hygiene theory) ; bahwa : Employees are not motivated by
imporving work conditions, raising salaries or shuffling tasks.
"If I kick a dog, he will move. When I want him to move
again, what must I do? I must kick him again. Similarly, I
can charge a man's battery and then recharge it again. But it is
only when he has his own generator that he can talk about
motivation. He then needs no outside stimulation. He wants
to do it."
Seorang motivator adalah orang yang memberikan kepuasan
kerja, karena kenaikan gaji saja masih selalu disusul dengan
"
ketidakcukupan" dan tidak akan pernah menimbulkan
self-motivation.
Herzberg sendiri kemudian mempelajari secara lebih men-
dalam dan menyimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan
kepuasan kerja sebenarnya terdiri dari kelompok berikut ini:
a)
Prestasi kerja.
b)
Penghargaan yang layak atas hash kerja.
c)
Pekerjaan itu sendiri (yang oleh karyawan tadi dirasakan
sebagai hat yang tidak menjemukan atau membosankan).
d)
Tanggung jawab yang hams diemban dalam menunaikan
tugas.
e)
Kemungkinan kemajuan yang masih dapat diperoleh
(antara lain promosi atau kenaikan pangkat).
3) Ketika Perang Dunia Pertama selesai, setiap Angkatan
Perang lebih memperhatikan aspek seleksi. Penempatan
maupun penugasan setiap tentara selalu mengutamakan
hasil seleksi dan latihan ketrampilan yang diarahkan pada
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 43
tugas yang akan diembankan padanya. Cara di atas ternyata
juga diikuti oleh organisasi sipil yang ada, dan kemudian
meluas. Di samping itu, masih perlu dilakukan pembinaan
moril prajurit dan pemupukan kerja sama kelompok (team. -
work) untuk mempertahankan solidaritas sosial.
Adanya "pengorbanan diri
"
untuk kepentingan ke-
lompok yang sering dijumpai pada keadaan perang serta
terbentuknya suatu perasaan solidaritas maupun kebanggaan
kelompok merupakan identifikasi yang perlu dipupuk baik
di kalangan militer maupun di kalangan sipil. Salah satu
negara yang berhasil menanamkan rasa disiplin kelompok
dan pengalaman kemiliteran mereka dan ternyata berhasil
membangun organisasi industri mereka adalah Jepang dan
Korea.
SEJARAH PENGEMBANGAN OCCUPATIONAL MENTAL
HEALTH
Di antara periode 1850 -- 1870 para industrialis mem-
punyai suatu prinsip usaha mencari kemungkinan keuntung-
an produktivitas setinggi-tingginya dengan pengeluaran biaya
yang serendah-rendahnya. Jadi dalam hal ini para karyawan
hanya dianggap sebagai komponen energi fisik belaka sehingga
hanya sedikit perhatian yang diberikan untuk kesehatan,
kesejahteraan serta jaminan keamanan bagi keselamatan para
pekerja. Saat itu, harapan hidup (life expectancy) bagi pekerja
baru mencapai 35 tahun. Sedangkan bagi pekerja di bawah
umur (anak), juga dibebani jam kerja yang sama dengan
pekerja dewasa.
Salah satu literatur tua yang mengungkapkan Ilmu Kerja ada-
lah karangan seorang naturalist Polandia (Woltch Jastreze-
bowski) yang dipublikasikan dalam majalah mingguan tentang
Industri dan Alam (Prirodai Promoshlenosti) yang berjudul:
CHERTI ERGONOMITY (Characteristics of Ergonomy/The
Science of Work).. Menurut Jastrezebowski, ergonomi yang
dimaksudkan adalah dalam konteks kerja yang berguna, dan
dalam istilah tadi tercakup empat tipe pekerjaan .
a)
Kerja yang bersifat fisik (motions.).
b)
Kerja yang bersifat estetik (emotions).
c)
Kerja yang bersifat intelektual. (rational).
d)
Kerja yang bersifat spiritual (moral).
Ia mengungkapkan bahwa banyak keuntungan yang didapat
dari suatu karya yang berguna, karena dalam menunaikan
tugas tadi dicapai pula peningkatan kekuatan/ketrampilan..
Sebagai kontras diketengahkannya bahwa kerja yang salah
tidak saja mubazir, tetapi merupakan penghamburan tenaga
yang sangat melelahkan dan akan disusul dengan kerusakan
tubuh lainnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa setiap
orang seharusnya bekerja tidak untuk dirinya sendiri, tapi
untuk masyarakat. Diungkapkan pula bahwa kerja yang di-
dasari oleh semangat spiritual tadi akan melipatgandakan
hasil dari kerja intelektual.
Demikian pula di Eropa dan di negara industri lainnya
dikenal berbagai nama seperti Burlingame -- seorang psi-
kiater yang pertama kali bekerja penuh pada salah satu pe-
rusahaan sutera, yang kemudian disusul oleh. Adler (1917),
Marry Jarett (1920) dan diikuti oleh nama-nama seperti:
Southard, Sherman, Mayo, Rosenbaum, Romano dan Mindus
yang menyelenggarakan survai bagi WHO di Inggris, Amerika,
Kanada yang akhirnya menelurkan suatu konsep bahwa pem-
bayaran honorarium sebaliknya disesuaikan dengan lamanya
waktu dan tanggung jawab dari pekerjaan itu.
Di Asia, perkembangan forum Occupational Mental
Health inipun mulai dibicarakan. Dan Indonesia dipercaya
untuk memegang jabatan ketua komite dalam Asian Associati-
on on Occupational Health atas nama DR. A. Prayitno.
RUANG LINGKUP DARI OCCUPATIONAL MENTAL
HEALTH
Pada dasarnya, ruang lingkup yang termasuk dalam ilmu
ini, secara garis besar dapat dikembalikan pada dua aspek
di bawah ini:
1)
Bagaimana menyelaraskan orang/karyawan tadi terhadap
pekerjaannya (fitting the man to the job). Hal ini menyangkut
seleksi maupun latihan.
2)
Bagaimana kita dapat menyelaraskan pekerjaan terhadap
manusianya (fitting the job to the man), hal mana menyangkut
ergonomi maupun faktor manusia lainnya.
Untuk dapat lebih mengerti hal tersebut di atas, French
dkk, mengemukakan P-E Fit Theory (person -- environment
fit) yang menekankan aspek di bawah ini :
a)
Kemampuan dan ketrampilan sfiap manusia hams selalu
ditingkatkan agar dapat cocok dengan jabatan yang diemban-
nya atau selaras dengan lingkungan kerjanya.
b)
Agar setiap kebutuhan manusiawi dan penghargaan yang
diperoleh orang/pekerja tadi dapat dipenuhi, sesuai dengan
kemampuan dan ketrampilan yang dikeluarkan untuk me-
nyelesaikan pekerjaan tersebut.
Tom Cox menambahkan agar PE--Fit theory ini dapat diamal-
kan lebih balk, setidaknya enam hal di bawah ini dijadikan
jadwal kegiatan dari Occupational Mental Health :
a)
Kesehatan mental bagi para personil, yang mencakup
bidang recruitment, seleksi, penempatan tenaga kerja, latihan/
penataran, pengembangan karir, pembicaraan tentang hak-hak
pensiun, atau kemungkinan pindah tugas.
b)
Kegiatan yang sifatnya sosial dan organisasional seperti
hubungan antar organisasi buruh, antar industri.
c)
Faktor rancang bangun yang menyangkut segi ergonomik.
d)
Kesehatan dan keselarimatan kerja.
e)
Peraturan Perburuhan.
f)
Teknologi mutakhir yang seringkali memberikan dampak
(positif maupun negatif) bagi kesejahteraan karyawan.
Sampai saat ini uraian di atas dianggap terlalu teoretik, se-
hingga Ross mengutarakan tiga dimensi aktual di bawah ini
untuk dipelajari dalam lingkup Occupational Mental Health
tersebut:
1)
Dimensi Klinik : bidang yang berkaitan erat antara kelain-
an mental dengan jabatan/pekerjaan seseorang.
2)
Dimensi Organisasional; agar setiap karyawan dapat me-
ngetahui kedudukannya dalam situasi okupasionalnya. Hal ini
diperlukan agar dapat diperoleh hasil komunikasi yang paling
efektif; dan teknik edukasi yang lebih baik pun dapat di-
terapkan di antara mereka.
3)
Dimensi Preventif yang memusatkan perhatian pada:
a)
Mengurangi bahaya yang mengancam (primer).
b)
Membatasi lamanya hendaya/disfungsi (sekunder).
c)
Mencegah adanya defek/invaliditas (tersier).
Pencegahan Primer
Seorang ahli bidang occupational mental health, selalu
harus berusaha memberikan konsultasi yang baik. Ia harus
mempelajari sumber faktor-faktor okupasional pada lingkung-
an kerja yang kiranya dapat menimbulkan maladjustment
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
44
atau gangguan lain akibat sties emosional. Ia harus menyadari
sepenuhnya bahwa setiap karyawan/eksekutif sangat mudah
merasionalisasikan kegagalan yang mereka hadapi dengan
menghubungkannya dengan kondisi lingkungan kerja yang
kurang membantu/menyenangkan:
Informasi yang diperoleh dari para individu -- yang
kadangkala perlu digunakan untuk memberikan rekomendasi
khusus bagi direksi -- perlu disimpan kerahasiaannya, apalagi
yang berkenaan dengan usulan / kritik yang membangun dalam
memperbaiki lingkungan dan suasana kerja.
Pencegahan Sekunder
Dari bagian personalia, dapat diperoleh data karyawan
baik tentang absenteeism mereka, sering/tidaknya mereka ber-
tengkar. Keterangan kesehatan, frekuensi berobat, kecelakaan
kerja diperoleh dari poliklinik perusahaan, diteruskan ke
bagian personalia.
Kasus yang mencurigakan sebaiknya secepatnya dirujuk
pada yang lebih ahli (psikolog, psikiater, bekerja sama dengan
pekerja sosial untuk memperoleh data yang lebih lengkap).
Kasus yang berat seperti psikopat berat atau epilepsi psiko-
motor perlu dibicarakan secara rinci dengan pimpinan per-
sonalia, atau bahkan dengan pimpinan perusahaan (bila di-
perlukan).
Pencegahan Tersier
Merupakan usaha mencegah invaliditas yang kronis
dengan mengadakan rehabilitasi yang baik bagi karyawan
yang menderita gangguan mental/emosional.
Beberapa perusahaan biasanya masih mau menerima
mereka kembali asalkan ada jaminan bahwa yang bersangkut-
an masih dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Bila
pasien tadi tidak dapat lagi menduduki jabatannya yang se
-
mula, bahkan memerlukan fasilitas half way house atau
sheltered work shop yang sampai saat ini masih belum mem-
peroleh penanganan yang serius, mereka perlu dicarikan jalan
keluar agar tidak membebani masyarakat secara berlebihan.
Mereka sebenarny masih dapat berdikari dalam lingkup yang
lebih sempit. Perlu dikemukakan dalam pencegahan tersier
ini tidak jarang dijumpai adanya karyawan yang mempunyai
gangguan/cacat akibat kerja dan memanfaatkan kesempatan
untuk memperoleh keuntungan sekunder (yang seringkali
merugikan perusahaan).
HAL-HAL YANG PERLU DILAKUKAN DI INDONESIA
Mengingat ruang lingkup kegiatan Occupational Mental
Health ini cukup luas, maka dalam forum "Asian Conference
on Occupational Health" yang ke sepuluh yang diselenggarakan
di Singapura, pernah tercetus pertanyaan mengapa hasil kerja
dari negara berkembang (khususnya negara dunia ketiga) masih
rendah dan kurang efisien ?
Saat ini sudah bukan waktunya lagi untuk membuat
program yang muluk-muluk, tetapi hendaknya dilandasi oleh
cara berpikir yang lebih realistik dan sistematik. Beberapa
diskusi telah dilakukan antara tokoh-tokoh Hiperkes - khusus-
nya yang berkecimpung dalam bidang Occupational Mental
Health.
Perlu ditambahkan pula, sejak beberapa waktu yang lalu,
dengan dipercayanya Direktorat Kesehatan Jiwa, DEPKES
R.I. sebagai Collaborating Center dari WHO di wilayah Asia
Tenggara untuk pengembangan program Kesehatan Mental,
maka R.S. TNI -- AL memperoleh kesempatan untuk me-
ngembangkan Military Psychiatry yang juga tercakup dalam
aspek Occupational Mental Health.
PENUTUP
Walaupun Occupational Mental Health masih merupakan
bidang yang masih baru, tapi bagi Indonesia yang telah meng-
arah pada industrialisasi, kelompok ilmuwan perlu meng-
antistpasikan hal ini dengan tindakan yang lebih nyata. Bebe-
rapa lembaga telah memulai dengan beberapa kegiatan untuk
mengarahkan manusia Indonesia agar bersikap positif, antara
lain dengan kursus Achievement Motivation Training, maupun
kursus pengembangan diri lainnya.
Kepentingan para usahawan maupun karyawan seharusnya
dapat lebih disimbiosekan sehingga efisiensi dan efektivitas
setiap unit produksi dapat ditingkatkan. Justru dalam kaitan-
nya dengan hal yang terakhir ini, maka peranan Occupational
Mental Health di Indonsia tidak dapat diabaikan. Akhirnya,
dengan pemahaman falsafah Occupational Mental Health ini,
maka kerawarian yang seringkali timbul antar karyawan --
usahawan sedikit demi sedikit dapat dikikis, sehingga hubung-
an manusiawi akan lebih menonjol sesuai dengan falsafah dasar
yang memang. sudah berakar dalam masyarakat kita.
KEPUSTAKAAN
1.
Achmad Hardiman. Psikiatri Industri/Okupasional Jiwa 1977, X, 1.
2.
Cox T. Occupational Psychology. In : Psychology for Today British
Library, CIP, 1981.
3.
Heerdjan S. Kesehatan Jiwa dalam Bidang Industri dan Perusahaan.
Djiwa 1971; IV, 2.
4.
Kaplan HI, Freedman AMP, Sadock BJ. Comprehensive Textbook
of Psychiatry/III; 3rd ed. Baltimore, London : Williams & Wilkins.
5.
Prayitno A, Setiabudhi T. Mental Disorders among Employees of
a Government Owned Enterprise. Presented at the 10th Asian
Conference on Occupational Health, Singapore. Trisakti University
Press, 1982.
6.
Prayitno A, Setiabudhi T. The Development of Occupational
Mental Health in Indonesia and Its Expectation for Asian Countries.
Presented at the Xlth ACOH, Manila. Trisakti University Press, 1985.
7.
Setiabudhi, T. "Book -- Advisors" and their Motivation. Presented
at the Xth ACOH, Singapore, 1982.
8.
Tyrer FH, Lee K. A Synopsis of Occupational Medicine. Bristol
Great Britain : John Wright & Sons Ltd, 1979.
9.
Wuaswasta : Majalah dari Lembaga Bina Wiraswasta, Jakarta, 1978.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih yang tak terhingga perlu penulis ucapkan pada
Laksma DR. A. Prayitno, Pimpinan Direktorat Kesehatan TNI--AL dan
Kepala Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas,Trisakti, yang
masih mau meluangkan waktu untuk mengkoreksi/memperbaiki naskah
ini.