Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 37
Pencegahan dan Penanggulangan
Efek Samping serta Toksisitas dari
Anestetika Lokal
Kunto Rahardjo*, Hertiana Ayati**
* Bagian Anestesiologi RS Pusat Pertamina, Jakarta
** Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
PENDAHULUAN
Anestetika lokal merupakan salah satu obat suntik yang banyak
dipakai oleh dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan
tenaga paramedis dalam praktek sehari-hari, baik di rumah sakit,
puskesmas maupun di tempat praktek swasta perorangan.
Karena efek samping dan toksisitas anestetika lokal dapat
berakibat cukup berat bahkan fatal
1, 2
,
penulis merasa perlu
mengemukakan tinjauan pustaka ini, agar para pemakai aneste-
tika lokal mengingat kembali kemungkinan terjadinya efek yang
tidak diingini tersebut, dan dapat
:
menanggulanginya dengan
cepat dan tepat bila menjumpai hal tersebut.
Untuk mengingatkan kembali dasar tindakan pencegahan
serta penanggulangan tersebut di atas, tulisan ini akan didahului
dengan penyajian beberapa segi yang penting mengenai aneste-
tika lokal.
SEJARAH
Anestetika lokal mulai dikenal di dunia barat pada tahun
1884 ketika Koller mengemukakan sifat-sifat anestetika topikal
kokain. Prokain yang disintetis oleh Einhorn pada tahun 1905
merupakan anestetika pertama yang dapat diberikan melalui
suntikan. Sejak saat itu para ahli terus mencari anestetika lokal
ideal, yaitu yang memilliki sifat :
1.
Kuat dan efektif dalam konsentrasi rendah.
2.
Daya penetrasi jaringan yang baik.
3.
Mula kerja (onset of action) cepat.
4.
Masa kerja (duration of action) panjang.
5.
Toksisitas sistemik rendah.
6.
Tidak merusak saraf.
7.
Efeknya dapat pulih (reversible).
8.
Mudah disterilkan.
9.
Berharga murah dan mudah didapat.
Dalam riset untuk mencari anestetika lokal yang ideal tersebut,
ditemukan anestetika lokal dari jenis lain, yaitu turunan amida
dari asam dietil amino asetat seperti lidokain, mepivakain,
prilokain, bupivakain dan etidokain. Sedangkan prokain,
kloroprokain dan (tetrakain merupakan turunan ester dari asam
para amino benzoat.
CARA DAN TEMPAT KERJA
Dalam keadaan normal terdapat potensial istirahat yang ber
sifat negatif sebesar -60 mV sampai -90 mV di antara kedua
sisi membran sel saraf (bagian luar membran bermuatan positip
dan bagian dalam negatip). Apabila saraf dirangsang, akan terjadi
depolarisasi yang relatif lambat, di mana potensial listrik di dalam
sel menjadi kurang negatif sehingga dicapai potensial ambang.
Pada saat ini mulai terjadi fase depolarisasi cepat. Pada puncak
depolarisasi, potensial menjadi 100mV yang disebut potensial
aksi. Kemudin akan terjadi repolarisasi sampai potensial kembali
ke potensial istirahat sebesar -60 sampai -90mV. Proses depola-
risasi dan repolarisasi ini
.
terjadi dalam waktu 1 milidetik. (ms =
milli second).
Peristiwa elektrofisiologi tersebut tergantung pada :
1.
Perbandingan konsentrasi elektrolit di dalam sitoplasma saraf
dan cairan ekstra set.
2.
Permeabilitas membran sel sarafuntuk berbagai ion, khusus-
nya ion kalium dan natrium.
Potensial istirahat sangat tergantung pada rasio antara ion K
di dalam (Ki) dan di bagian luar sel (Ko) yaitu terdapat
Ki/Ko -- .30/1.
Gambar 1. Potensial aksi di dalam sel saraf sebelum dan sesudah dipengaruhi
lidokain.
Setelah eksitasi, membran sel saraf menjadi lebih permeabel un-
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
38
tuk ion Na, sehingga ion Na akan bergerak dari bagian luar ke
bagian dalam sel saraf melalui saluran natrium (gambar 2.) dan
ini disebut fase depolarisasi dari potensial aksi.
Gambar 2. Tempat ketja benzokain dan lidokain di membran saraf.
TTX = Tetradotoxin
P = Pump
Setelah depolarisasi mencapai puncaknya, permeabilitas untuk
natrium mulai turun. Terjadi peningkatan aliran K
+
dari dalam
ke luar sel sehingga terjadi repolarisasi membran sel saraf
(gambar 2).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama eksitasi ini bersifat
pasif, karena ion-ion bergerak ke arah konsentrasi yang lebih
rendah. Setelah terjadi potensial aksi, terdapat kelebihan ion Na
di dalam sel dan kelebihan ion K di luarsel. Untuk mengembali-
kan keadaan menjadi potensial istirahat diperlukan energi, karena
ion Na hams dikeluarkan dari dalam sel ke bagian luar sel yang
memiliki konsentrasi ion Na lebih tinggi. Ion K dapat dikembali-
kan ke dalam sel baik secara aktif maupun pasif. Energi untuk
transpor aktif ini (-pompa natrium) di dapat dari metabolisme
oksidatif ATP (gambar 2).
Bila saraf dipengaruhi oleh anestetika lokal, potensial isti-
rahat dan potensial ambang membran saraf tidak berubah.
Akan tetapi terjadi perlambatan laju depolarisasi (gambar 1).
Akibatnya tingkat depolarisasi tidak dapat melampaui potensial
ambang sehingga tidak dapat terjadi suatu potensial aksi yang ber-
kelanjutan (propagated action potential). Diduga anestetika lokal
terutama mempengaruhi permeabilitas membran saraf untuk ion
Na. Ion kalsium dapat menekan pengaruh anestetika lokal ter-
hadap membran saraf (gambar 3).
Gambar 3. Pengaruh kalsium dan prokain terhadap potensial aksi.
Kemungkinan besar, cara kerja anestetika lokal adalah :
1. Memindahkan ion kalsium dari suatu reseptor dan meng-
gantikannya dengan bagian dari anestetika lokal.
2.
Mengurangi permeabilitas membran sel untuk ion Na.
3.
Menurunkan laju depolarisasi potensial aksi membran set.
4.
Mengurangi tingkat potensial aksi sehingga tidak mencapai
potensial ambang.
5.
Menggagalkan timbulnya potensial aksi yang berkelanjutan.
Umumnya anestetika lokal tersedia dalam bentuk larutan
garam, misalnya lidokain yang berupa larutan lidokain HC1
0,5-2%. Larutan tersebut mengandung basa tak bermuatan (B)
dan kation yang bermuatan (BH
+
) . Perbandingan antara kedua
komponen ini tergantung pada pH larutan dan pKa anestetika
lokal tersebut.
pKa = konstanta keseimbangan
untuk anestetika lokal tersebut.
(pKa = pH larutan di man 50%
anestetika lokal dalam keadaan ter-
ionisasi).
Apabila pH larutan menurun (konsentrasi H meningkat) maka
keseimbarigan akan bergeser ke bentuk kation bermuatan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal
1.
Difusi melalui sarong saraf atau epineurium.
2.
Pengikatan di suatu tempat di membran sel.
3.
Perbandingan jumlah bentuk BH
+
dan B. Bentuk B diperlu-
kan untuk penetrasi jaringan dan sarung saraf, sedangkan
bentuk BH+ akan terikat oleh membran sel saraf dan
mempengaruhi peristiwa-peristiwa elektrofisiologi di saraf
l
.
Dengan demikian menjadi jelas mengapa anestetika lokal tidak
bermanfaat di jaringan yang meradang, yaitu karena pH jaringan
yang rendah di tempat peradangan, sehingga anestetika akan ber-
bentuk BH
`
dan tidak dapat menembus membran saraf. Akan
tetapi efek sistemik menjadi lebih berbahaya pada keadaan
asidosis sistemik karena pengikatan oleh protein menurun pada
pH yang rendah.
Beberapa agen yang dipakai sebagai anestetika topikal seperti
benzokain dan benzil alkohol merupakan molekul yang tidak
bermuatan, dan bekerja dengan memasuki bagian lipid membran
sel (karena sifatnya yang larut dalam lemak) sehingga bagian
membran ini membengkak dan mempersempit saluran natrium.
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS DAN BENTUK
MOLEKUL
5
--
8'
Anestetika lokal mempunyai susunan kimia sebagai berikut:
Bagian aromatik menentukan sifat kelarutan di dalam lemak,
sedangkan bagian amina menentukan sifat kelarutan di dalam air.
Pemanjangan rantai antara cenderung meningkatkan potensi
anestetika, sampai panjang tertentu di mana potensi akan mulai
menurun. Ikatan antara bagian aromatik dan rantai antara me-
nentukan golongan anestetika, yaitu golongan ester atau golong-
an amida.
Sebagai contoh, penambahan grup butil pada bagian
aromatik prokain akan menghasilkan tetrakain yang lebih larut
di dalam lemak, dan mudah terikat protein sehingga mempunyai
potensi yang lebih tinggi, masa kerja lebih panjang dan lebih
toksik.
Bagian aromatik
Rantai antara
Bagian amina
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 39
Perbedaan utama antara golongan ester dan amida adalah :
1. Cara metabolisme
-
golongan ester dihidrolisis di dalam plasma oleh enzim
kolin esterase.
-
golongan amida dipecahkan dan dikonyugasi oleh enzim
hepar.
2. Kecenderungan menimbulkan alergi
-
golongan ester dihidrolisis menjadi antara lain PABA (para
amino benzoic acid) yang dapat menimbulkan reaksi alergi.
-
golongan amida tidak menghasilkan PABAdan tidak pernah
dilaporkan timbulnya alergi terhadap golongan ini.
Tabel 1. Sifat-sifat fisiko-kimiawi anestetika lokal.
1,3,6,8,9
% terikat
m m pKa
a o
s 1 p
% anestetika yang tak
terionisasi pada ber-
bagai pH lingkungan
protein
s e a
a k d
lug/ml
5ug/ml
u a
1
plasma plasma
25
e
6,8
7,0
7,2 7,4 7,6
Bupivakain 288
8,1 5 ·
7
11
17
24 95 88
Etidokain 276
7,7 11
17
24
33
44 95 ?
Lidokain 234
7,9 7
11
17
24
33 64 45
Mepivakain 246
7,6 14
20
28 39
50 77 66
Prilokain 257
7,9 7
11
17
24
33 55 ?
2-kloroprokain 307 8,7
1,2 2,0 3,1 4,8 7,4
?
?
Prokain 272
8,9
0,8
1,2
2,0
3,1
4,8
? ?
Tetrakain 300
8,5 2,0
3,1
48
7,4
11,2
? ?
PERTIMBANGAN FARMAKOLOGIS DAN FARMA-
KOKINETIS YANG PENTING (1,2,3,6.9)
Aktivitas anestetika lokal dipengaruhi oleh prosedur anes-
tesia, prosedur pembedahan, sifat farmakologis anestetika dan
keadaan fisiologi pasien.
Prosedur anestesia
Prosedur anestesiadengan anestetika lokal dapat dibagi
menjadi:
1. Infiltrasi.
2 Blok saraf perifer : mayor dan minor.
3.
Blok saraf sentral : epidural dan subarakhnoid.
4.
Topikal.
5.
Anestesia regional intra vena.
Mula kerja dari prosedur di atas mempunyai urutan sebagai
berikut (dari yang tercepat sampai yang terlambat): infiltrasi,
subaraknoid, blok saraf perifer minor, anestesia regional intra
-
vena, epidural, topikal (kecuali di mukosa) dan terlambat adalah
blok saraf perifer mayor (pada trunkus dan pleksus saraf).
Sedangkan masa kerja dari prosedur anestesia tersebut di atas
mempunyai urutan sebagai berikut (mulai dari yang terpanjang
sampai yang tersingkat): blok saraf perifer mayor, blok saraf
perifer minor, epidural, infiltrasi dan regional intra vena, sub
-
araknoid dan topikal.
Prosedur pembedahan
-
Prosedur pembedahan yang lebih nyeri memerlukan intensitas
anestesia yang lebih kuat.
-
Perdarahan yang berjumlah besar akan memperpendek masa
kerja anestesia infiltrasi dan blok saraf perifer minor.
Sifat farmakologi anestetika
Berdasarkan potensi dan masa kera anestetika lokal dapat
dibagi menjadi (lihat juga tabel 2):
1).Potensi rendah dan masa kerja pendek (30 - 90 menit).
misalnya prokain dan 2-kloroprokain.
2).
Potensi dan masa kerja sedang (90 - 240 menit) misalnya
lidokain, mepivakain dan prilokain.
3).
Potensi kuat dan masa kerja panjang (180 - 600 menit)
yaitu tetrakain, bupivakain dan etidokain.
Mula kerja, masa kerja dan intensitas anestesia dapat di-
tingkatkan dengan :
-
meningkatkan dosis (terutama konsentrasi).
-
pencampuran dengan vaso konstriktor (memperpanjang masa
kerja).
-
meningkatkan pH anestetika lokal (memperpanjang masa
kerja).
Akan tetapi penambahan vasokonstriktor tidak banyak mem-
pengaruhi masa kerja anestetika lokal yang sudah mempunyai
masa kerja yang panjang. Konsentrasi epinefrin yang optimum
untuk meningkatkan masa kerja adalah 1/200.000. Peningkatan
konsentrasi epinefrin tidak akan memperpanjang masa kerja,
tetapi meningkatkan efek samping epinefrin. Volume besar
dengan konsentrasi rendah meningkatkan keamanan.
Harus diingat kemungkinan interaksi anestetika dengan
obat-obat lain yang sedang dipakai oleh pasien. Sebagai contoh :
-
kloramfenikol, iproniazid dan isoniazid memperpanjang efek
toksik anestetika lokal
-
prometazin dan meperidin meningkatkan kecenderungan
timbulnya kejang.
Keadaan fisiologi pasien
Keadaan fisiologi pasien yang hams dipertimbangkan adalah
keadaan yang dapat mempengaruhi farmakokinetik anestetika
yaitu :
1.
Usia.
2.
Berat badan.
3.
keadaan umum pasien terutama fungsi kardio-pulmonal, fung-
si hati, fungsi ginjal. keadaan umum jelek, renjatan, kelaparan,
usia lanjut, hipometabolisme dan defisiensi vitamin C me-
nurunkan toleransi terhadap anestetika lokal.
Absorbsi sistemik tergantung pada tempat injeksi, pe-
makaian vasokonstriktor, dosis dan sifat farmakologi. Kadar
puncak dalam darah tergantung pada dosis total yang diberi-
kan.
Hasil metabolisme anestetika lokal juga masih bersifat toksik
walaupun toksisitas ini lebih rendah dibandingkan dengan se-
nyawa asalnya. Misalnya : lidokain dimetabolisme menjadi
monoetil glisin xylidid yang masih bersifat toksik. Sedangkan pri-
lokain dimetabolisme menjadi antara lain o-toluidin yang dapat
mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin: Bila dosis
prilokain melebihi 600 mg, maka methemoglobin yang terbentuk
sudah dapat menimbulkan sianosis.
Ekskresi oleh ginjal dipengaruhi oleh :
1.
Berbanding terbalik dengan kapasitas ikatan protein.
2.
Berbanding terbalik dengan pH urin. Penurunan pH urin akan
mempercepat ekskresi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
40
PERTIMBANGAN TOKSIKOLOGI
1, 2, 3
Anestetika lokal mempengaruhi semua sistem yang memiliki
membran yang eksitabel, khususnya susunan saraf pusat dan
sistem kardio-vaskular.
Efek terhadap susunan saraf pusat
Anestetika lokal mudah melalui sawar otak. Gejala permula-
an berupa rasa melayang dan pusing, diikuti oleh gangguan pen-
dengaran dan penglihatan (berupa tinitus dan kesukaran mem-
fokuskan mata). Dapat juga timbul rasa mengantuk, disorientasi
dan kehilangan kesadaran. Gejala permulaan tersebut diikuti
oleh berbicara cadel (slurred speech), menggigil, denyutan-
denyutan otot (twitching), tremor wajah dan ekstremitas serta
kejang-kejang umum. Peningkatan dosis anestetika akan meng-
hentikan kejang, pola EEG menjadi datar, depresi nafas, henti
nafas dan henti jantung.
Eksitasi pada tahap permulaan merupakan akibat blokade
selektif terhadap neuron atau sinaps penghambat di korteks otak,
sehingga serat-serat eksitator tidak terkendali dan timbul kejang.
Dengan peningkatan dosis, serat-serat eksitator juga ikut diblok,
sehingga terjadi penekanan umum.
Efek anestetika lokal terhadap susunan saraf pusat ter-
gantung kepada :
1).
Jenis obat yang dipakai. Karena berbagai anestetika lokal
mempunyai sifat absorbsi, distribusi jaringan dan metabolisme
yang berbeda-beda.
2).
Keadaan asam-basa pasien. P CO2 yang tinggi dan pH yang
rendah meningkatkan toksisitas terhadap susunan saraf pusat.
3).
Pemakaian obat-obat yang berpengaruh terhadap susunan
saraf pusat. Obat-obat penekan korteks dapat mempengaruhi
efek anestetika lokal pada susunan saraf pusat, seperti diazepam
0,1 mg/kg, tiopental 4 mg/kg atau anestesia umum. Dengan
demikian diazepam atau tiopental dengan dosis tersebut di atas
dapat mengatasi kejang yang ditimbulkan oleh anestetika lokal.
Efek terhadap sistem kardiovaskular
Pengaruh terhadap sistem kardio vaskular dapat berupa
pengaruh langsung terhadap jantung dan pembuluh darah perifer
atau secara tak langsung dengan blokade serat saraf otonom.
Dengan kadar lidokain 2 - 5 ug/ml plasma akan terjadi
pemanjangan fase depolarisasi lambat pada waktu diastolik di
serabut Purkinye, serta pemendekan waktu potensial aksi serta
periode refrakter efektif. Terjadi percepatan hantaran di sambung-
an antara saraf purkinye dengan otot ventrikel (pada dosis lebih
dari 5 - 10 ug/ml). Pada dosis toksis terjadi efek inotropik
negatif yang langsung terhadap miokard. Dosis anestetika lokal
untuk prosedur anestesia regional biasanya tidak menimbulkan
dosis toksis di dalam darah.
Pembuluh darah perifer dipengaruhi secara bifasik oleh
anestetika lokal. Dosis rendah menimbulkan vasokonstriksi,
sedangkan pada dosis klinis terjadi vasodilatasi. Lamanya efek
vasodilatasi ini sebanding dengan masa kerja anestetika lokal.
Kokain bersifat terbalik, yaitu vasodilatasi pada dosis rendah dan
vasokonstriksi pada dosis klinis.
Tekanan darah biasanya tetap atau sedikit meningkat pada
dosis klinis yang normal. Pada dosis toksis, tekanan darah akan
menurun akibat depresi miokard dan vasodilatasi perifer.
Reaksi alergi dan hipersensitivitas
Reaksi alergi yang asli terhadap anestetika lokal jarang terjadi.
Turunan ester seperti prokain dan tetrakain merupakan penyebab
utama reaksi alergi terhadap anestetika lokal. Anestetika golong-
an amida biasanya tidak menimbulkan alergi, akan tetapi peng-
awet yang sering digunakan, yaitu metil paraben dapat me-
nimbulkan alergi.
Reaksi anafilaktik terhadap anestetika lokal juga pernah
dilaporkan, akan tetapi frekuensinya tidak diketahui. (Tabel2.3)
Tabel 2. Laju eliminasi anestetika lokal pada orang dewasa
9
tempat
metabolisme
waktu plumb
eliminasi
bupivakain
etidokain
lidokain
mepivakain
2 kloroprokain
hati
hati
hati
hati
plasma
3,5 jam
2,6 jam
1,6 jam
1,9 jam
21 detik
PENCEGAHAN TIMBULNYA EFEK SAMPING
1, 3
1.
Pemakai anestetika lokal hares mengenal dengan baik sifat
farmakologi obat yang dipakai.
2.
Memberikan obat dengan konsentrasi dan dosis yang tepat,
sesuai dengan keadaan fisiologi pasien.
3.
Penyuntikan harus perlahan-lahan, terutama di daerah yang
kaya pembuluh darah atau daerah yang berdekatan dengan
pembuluh darah besar yang menuju ke otak.
4.
Melakukan aspirasi sebelum menyuntikkan obat untuk men-
cegah penyuntikan ke dalam pembuluh darah/mencegah
timbulnya kadar toksis dalam darah.
5.
Menyediakan alat dan obat untuk resusitasi jantung-paru dan
obat anti kejang.
6.
Apabila dosis yang dipakai mendekati dosis maksimum,
penyuntikan dekat pembuluh darah besar, atau keadaan pasien
yang kurang baik sebaiknya dipasang dulu xanul intravena
(i.v. line).
7.
Sebaiknya tidak memberikan anestetika lokal ke daerah yang
meradang.
TINDAKAN TERHADAP EFEK SAMPING/TOKSISITAS
1
'
2
'
3
Tindakan penanggulangan terhadap reaksi sistemik pertama-
tama ditujukan kepada pemeliharaan jalan nafas yang baik dan
menyediakan oksigen. Reaksi susunan saraf pusat yang ringan
sering sudah cukup diatasi dengan pemeliharaan jalan nafas yang
baik, menyuruh pasien bernafas dalam dan cepat, dengan atau
tanpa pernberian oksigen. Kejang umum harus diatasi dengan
bantuan ventilasi paru memakai sungkup muka dan balon per-
nafasan (bag and mask) disertai pemberian diazepam 0,04 - 0,1
mg/kg atau tiopental 3-4 mg/kg. Apabila dengan tindakan ter-
sebut ventilasi masih belum baik, dapat diberikan pelumpuh
otot dengan masa kerja pendek seperti suksinil kolin 1 mg/kg
agar ventilasi buatan dapat diberikan dengan baik. Ventilasi paru
yang baik ini diperlukan untuk mencegah penumpukan CO2
dalam darah, yang dapat meningkatkan kadar anestetika di dalam
otak.
Sianosis yang timbul akibat pemakaian prilokain dosis besar
dapat diatasi dengan pemberian metilen biru 1% sebanyak 1 - 2
mg/kg secara intravena.
Gejala dan tanda kolaps kardiovaskular diatasi dengan
10,11
1).
Meninggikan tungkai dan badan bagian bawah.
2).
Memberikan efedrin 5-10 mg intravena, dan diulang bila
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 41
Tabel 3. Beberapa data farmakologi anestetika lokal
1,3,7,8
K=kokain; KPKloroprokain; T=tetrakain; P=prokain; PR=prilokain; L
=
lidokain; B=bupivakain; EK=etidokain.
+E : dengan epinefrin. --E : tanpa epinefrin.
perlu untuk mendapatkan efek inotropik positif dan kontriksi
vena.
3).
Pemberian cairan intravena untuk mengatasi hipovolemia
relatif (dengan ringer laktat,. dekstran 40 atau NaCl 0,9%).
4).
Bila diduga sudah terjadi asidosis metabolik, berikan larutan
natrium bikarbonat 1 mEq/kg, sampai didapatkan hasil pe-
meriksaan analisis gas darah.
Reaksi anafilaktik diatasi dengan
10
.
1).
Memberikan larutan adrenalin 1/1000 sebanyak 0,3 -- 0,5 ml
(-- 0,3--0,5 mg) i.m..
2).
Pelihara jalan nafas, bila perlu berikan ventilasi buatan dan
bila ungkin berikan oksigen.
3).
Berikan cairan intravena untuk mengatasi hipovolemia.
4).
Bila terjadi bronkokontriksi dapat diberikan aminofilin
4--6 mg/kg intravena (dengan hati-hati karena tekanan darah .
dapat menurun).
5).
Bila mungkin pasang torniket di bagian proksimal dari tempat
penyuntikan.
6).
Apabila tersedia dapat diberikan deksametason 5 -- 10 mg
intravena atau preparat adrenokortikoid yang lain. Obat ini
bermanfaat untuk stadium lanjut reaksi anafilaktik.
Apabila terjadi henti jantung, hams segera dilakukan tindak-
an resusitasi jantung paru menurut urutan A--B--C--D
11
.
RINGKASAN
1).
Pemakaian anestetika lokal mempunyai risiko yang relatif
kecil, akan tetapi bila terjadi efek samping atau keracunan,
akibatnya dapat serius sampai fatal.
2).
Diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai semua
segi dari anestetika lokal yang dipakai, dan pengenalan keadaan
fisiologi pasien.
3).
Walaupun risiko relatif kecil, seorang dokter atau paramedis
yang memberikan anestetika lokal hams memiliki kewaspadaan
yang tinggi dan mampu mengatasi efek yang tidak diingini.
4).
Harus selalu disediakan alat dan obat-obat untuk mengatasi
efek samping dan toksisitas anestetika lokal, terutama apabila
akan memakai anestetika dalam dosis besar atau memberikan
anestesia lokal di bagian tubuh yang rawan.
KEPUSTAKAAN
1. Collins VJ (ed.). Regional Anesthesia. in Principles of Anesthesiology.
Philadelphia : Lea & Febiger 2nd ed. 1980. PP. 839--905.
Atkinson RS, Rushman GB, Alfred Lee J. (eds.). Regional Analgesia in
A Synopsisof Anesthesia. Bristol : John Wright& Sons Ltd. 1977. p. 347-423.
3.
Covino BG. Local Anesthetic Agent in Attia RR (ed.). Practical Anesthetic
Pharmacology. New York : Appleton Century--Crofts. 1978. pp. 70--109.
4.
Ritchie JM. Mechanism of Action of Local Anesthetic Agents and Biotoxin.
Br J Anaesth. 1975; 47 : 191--8.
5.
Covino BG. Bush DF. Clinical Evaluation of Local Anesthetic Agents. Br J
Anaesth. 1975; 47 : 289--94.
6.
CovinoBG. Comparative Clinical Pharmacology of Local Anesthetic Agents.
Anesthesiology 1978; 35 : 158--66.
7.
Swerdlow M, Jones R. The Duration of Action ofBupivacaine, Prilocaine
and Lidocaine. Br J Anaesth. 1970; 42 : 335--9.
8 Bromage PR et.al.Etidocaine. A Clinical Evaluation for Regional Analgesia
in Surgery. Can Anaesth Soc J. 1974; 21 : 523--8.
9.
Ralston DH, Shnider SM. The Fetal and Neonatal Effects of Regional
Anesthesia in Obstetrics, a review article. Anesthesiology. 1978; 48 : 34--64.
10.
Miftah Suryadiprdia. Kedaruratan Kardio Sirkulasi. Dalam Simposium Ke-
daruratan Medik. Jakarta 28 Nov. 1981.
11.
Muhardi Muhiman. Resusitasi Kardio-Pulmonal dan Serebral pada Orang
Dewasa. Dalam Simposium Kedaruratan Medik. Jakarta 28 Nov. 1981.