Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
20
Uji Pirogenitas dengan Kelinci dan
Limulus Amebocyt Lysate
Drs. Usman Suwandi
Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta
PENDAHULUAN
Pirogen merupakan substansi yang mampu menyebabkan
demam dan sering mencemari sediaan farmasi. Uji pirogenitas
dimaksudkan untuk membatasi resiko reaksi demam yang
dapat diterima oleh pasien apabila diinjeksi dengan suatu sedia-
an farmasi. Sampai saat ini, substansi pirogenik yang diketahui
paling aktif dan paling sering mencemari sediaan farmasi ada-
lah endoktoksin; selain itu masih banyak substansi pirogenik
lainnya seperti bakteri, fungi , DNA--RNA virus dan lain-lain.
Uji pirogenitas biasanya menggunakan kelinci. Pengujian
ini ditetapkan di USP pertama kali pada tahun 1942 dan me-
rupakan pengujian resmi untuk menentukan non-pirogenitas
sediaan farmasi. Dengan demikian lebih dari 40 tahun pe-
rusahaan farmasi telah melakukan pengujian pirogenitas
dengan menggunakan kelinci.
Sejak diketahui bahwa endotoksin ternyata mampu meng-
gumpalkan sel darah Limulus, kemudian dikembangkan suatu
pengujian untuk mendeteksi adanya endotoksin dengan meng-
gunakan reagensia yang dibuat dari sel darah Limulus. Peng-
ujian ini kemudian dikenal sebagai metode Limulus Amebocyt
Lysate (LAL). Metode LAL merupakan pengujian in vitro;
maka mulailah perusahaan-perusahaan melihat kemungkinan
untuk menggantikan uji pirogenitas kelinci dengan metode
LAL. Mulai saat itu muncullah argumentasi-argumentasi se-
bagai akibat perbandingan antara uji kelinci dan uji LAL.
Sebagian menyatakan keuntungan-keuntungan menggunakan
uji LAL dan kerugian-kerugian uji kelinci. Dilain pihak ingin
mempertahankan kelinci dalam melakukan pengujian piro-
genitas suatu sediaan.
UJI PIROGENITAS MENGGUNAKAN KELINCI
Uji kelinci telah lama digunakan dengan balk untuk mem-
bantu industri farmasi menguji pirogenitas sediaannya. Peng-
ujian ini pada prinsipnya merupakan injeksi intravena ke tubuh
kelinci di bawah kondisi tertentu dan selanjutnya dipantau dan
dicatat temperatur 3 kelinci dalam jangka waktu tertentu.
Farmakope Indonesia menyebutkan, suatu sediaan di-
nyatakan memenuhi syarat, jika kenaikan suhu ketiga kelinci
tidak melebihi batas tertentu; dan tidak memenuhi syarat jika
total kenaikan suhu ketiga kelinci melebihi batas tertentu
(lihat Tabel 1). Jika respon yang terjadi terletak di antaranya,
pengujian dapat diulangi menggunakan 3 kelompok kelinci
yang lain. Apabila pengujian ke empat jumlah respon melebihi
6,60° C, sediaan tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat.
label 1. Syarat pirogenitas sediaan
Jumlah
kelinci
Sediaan uji memenuhi
syarat jika jumlah res-
pon tida
,
k melebihi
( C)
Sediaan uji tidak memenuhi
syarat jika jumlah respon me-
lebihi
(C)
3
1,20
2,70
6
2,80
4,30
9
4,50
6,00
12
6,60
6,60
Walaupun terdapat variasi prosedur pelaksanaan pada
berbagai Farmakope, tetapi pada prinsipnya adalah sama
yaitu mencatat kenaikan suhu badan kelinci sebagai respon
terhadap substansi pirogenik dalam sediaan yang disuntikkan
ke tubuh kelinci.
Keuntungan pengujian ini antara lain telah lama dikenal
dan digunakan untuk menguji berbagai sediaan dan terbukti
memberikan hasil memuaskan. Keuntungan kedua, sensitivitas
kelinci dan manusia terhadap substansi pirogenik relatip sama.
Kenaikan suhu kelinci akibat substansi-pirogenik, sampai batas
tertentu masih dapat diterima oleh manusia; sehingga kenaikan
suhu kelinci tersebut dapat distandardisasi terhadap substansi
pirogenik yang dapat diterima manusia. Bangham menyebut-
kan, uji kelinci menggambarkan seluruh
'
respon farmakologis
terhadap pirogen dan relevan dengan respon pada manusia.
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 21
Keuntungan ketiga dibandingkan dengan uji LAL yaitu
mampu mendeteksi semua pirogen termasuk endoktoksin.
Pada saat ini endoktoksin diketahui merupakan pirogen
yang paling ,kuat, namun kehadiran pirogen lain dalam suatu
sediaan perlu diperhitungkan; karena manusia tidak hanya
respon terhadap endoktoksin saja tetapi juga pirogen yang
lain. Pengujian kelinci menawarkan jasa untuk maksud ter-
sebut dan sampai saat ini belum dapat digantikan dengan
pengujian lain.
Kelemahan uji kelinci dibandingkan dengan uji Lal antara
lain memerlukan pemeliharaan dan perawatan hewan dan
laboratorium yang lebih intensif. Hewan harus dipelihara
dalam ruangan dengan temperatur tidak jauh berbeda dengan
tempat percobaan. Pemeliharaan hewan harus dilakukan
dengan sebaik mungkin untuk menghindari infeksi penyakit
yang dapat mengganggu percobaan atau mengacaukan inter-
pretasi hasil. Berat badan kelinci harus dijaga jangan sampai
mengalami penurunan yang berarti dalam 1 minggu menjelang
digunakan. Kelemahan kedua yaitu sensitivitas dipengaruhi
oleh musim, kegaduhan, kegelisahan, makanan dan lain se-
bagainya. Kegelisahan akan dapat menyebabkan kenaikan
suhu relatip tinggi, sehingga mengacaukan interpretasi hasil.
Kelemahan ketiga yaitu variabilitas biologis. Respon setiap
kelinci terhadap substansi yang sama belum tentu sama,
sehingga terdapat variasi kenaikan suhu pada tiap kelinci.
UJI LIMULUS
,
AMEBOCYT LYSATE (LAL)
Uji LAL merupakan pengujian untuk memperkirakan
konsentrasi endotoksin bakteri yang mungkin ada dalam
contoh bahan. Pengujian ini pada prinsipnya merupakan
koagulasi protein yang ada dalam reagensia LAL oleh endo-
toksin. Pengujian tersebut ialah dinyatakan positif apabila
terjadi pembentukan gel dan dinyatakan negatip bila tidak
terjadi pembentukan gel. Pembentukan gel akan terjadi apa-
bila kandungan endotoksin dalam contoh sediaan lebih besar
daripada sensitivitas reagen yang dinyatakan dalam Endo-
toksin Unit per ml (EU/ml) atau ng/ml.
LAL telah digunakan secara resmi di USP XXI untuk
membatasi kandungan endotoksin bakteri suatu sediaan,
terutama sediaan radiofarmasi. Peranan LAL untuk mem-
batasi kandungan endotoksin bakteri makin lama makin
luas digunakan terutama untuk sediaan parenteral dan per-
alatan medis. Kruger (1983) melaporkan kemungkinan pe-
makaian metode LAL untuk pengujian berbagai bahan yang
berkaitan dengan farmasi, antara lain:
-- Pemeriksaan bahan baku untuk parenteral.
--
Pemeriksaan air proses untuk parenteral
--
Pemeriksaan elemen filter untuk eliminasi pirogen.
--
Menentukan penyebab terjadinya pirogen positip.
--
Untuk validasi sterilisasi dry-heat.
--
Pengujian produk jadi.
--
Radiofarmasi.
--
Larutan untuk hemodialisis dan air untuk mengencerkan
larutan hemodialisis (pengujian tidak diperlukan secara
resmi).
--
Injeksi dengan dosis tunggal lebih besar dari 15 ml.
--
Infus.
--
dan lain-lain.
Salah satu kelebihan menggunakan LAL dibandingkan
dengan kelinci yaitu penanganannya lebih praktis. Sebagai
pengujian in vitro, tidak ada kesalahan/kegagalan akibat
variasi biologis. Kelebihan kedua, waktu yang dipergunakan
untuk melakukan pengujian lebih singkat, baik pada waktu
pelaksanaan maupun waktu persiapannya. Kelebihan ketiga,
ruangan yang digunakan relatip lebih kecil dan personil yang
dibutuhkan relatip sedikit. Selain itu LAL mendeteksi endo-
toksin lebih sensitif dibandingkan kelinci. Sensitivitas LAL
mencapai 0,01 -- 0,04 ng/ml atau lebih kecil.
Jika dibandingkan dengan uji kelinci, LAL mempunyai
beberapa kelemahan antara lain: LAL hanya mendeteksi
endotoksin dan tidak mampu mendeteksi pirogen eksogen
yang lain seperti virus, fungi, bakteri dan lain-lain. Selain itu
LAL tidak dapat digunakan untuk memeriksa beberapa se-
diaan secara langsung, seperti
-
Sediaan yang tidak dapat dinetralkan menjadi pH 6--7, 5
misalnya potasium kanrenoate.
--
Sediaan yang mengandung zat-zat penghambat pembentuk-
an gel misalnya konsentrasi Ca
2
tinggi, tetrasiklin, strep-
tomisin, polimisin, kloramfenikol, penisilin semisintetik,
sitrat, fosfat dan lain-lain.
Untuk melakukan pemeriksaan bahan-bahan tersebut dengan
LAL, memerlukan beberapa pretreatment yang berfungsi
menghilangkan gangguan-gangguan yang ada. Perlakuan ter-
sebut antara lain dengan pengenceran atau filtrasi.
SENSITIVITAS LAL
Di USP XXI, batas kandungan endotoksin bakteri Water
for Injection (WFI) ditetapkan 0,25 EU/ml. Kadar endotoksin
di sini tidaklah untuk disamakan dengan jumlah endotoksin
dalam air tersebut, melainkan daya kerja endotoksin dalam
organisme. Setiap endotoksin bakteri mempunyai daya kerja
yang berbeda-beda, misalnya batas ambang endotokson pada
manusia dan kelinci untuk Salmonella typhosa antara 0,1 --
1,0 ng/kg berat badan, sedangkan untuk Pseudomonas lebih
besar dari 50 ng/kg BB. Adanya berbagai jenis endotoksin
dengan aktivitas yang berbeda, dapat menyebabkan kesulitan.
LAL mampu mengkonversikan dari berbagai endotoksin
bakteri ke dalam satuan tertentu. Di USA telah dibuat suatu
satuan endotoksin, yaitu Endotoksin Unit (EU). Ada 2 macam
EU yaitu EC-2 dan EC-5, di mana 1 EU mempunyai potensi
setara dengan 0,2 ng EC-2 dan 0,1 ng EC-5.
Sensitivitas LAL ditetapkan sebagai konsentrasi endo-
toksin paling rendah yang mampu menimbulkan terbentuknya
gel. Sensitivitas LAL ada bermacam-macam dan telah
distandarisasi sesuai dengan potensi endotoksin standar.
Sediaan parenteral perlu dibatasi kandungan endotoksin-
nya. Untuk menentukan batas endotoksin suatu sediaan kita
harus memperhitungkan jenis sediaan tersebut, cara pem-
beriannya, dan besar dosis yang diberikan. Batas endotoksin
suatu sediaan paranteral telah ditetapkan sesuai dengan rumus
K/M, sama dengan jumlah endotoksin (dalam EU) per mg
atau ml sediaan. K, selain yang diberikan secara intrateka
sama dengan 5,0 EU/kg; untuk sediaan yang diberikan secara
intrateka K = 0,2 EU/kg. M adalah dosis kelinci atau dosis
manusia maksimum per kg diberikan sekali dalam periode
1jam.
Apabila melakukan uji LAL, perlu memilih sensitivitas
lisat dengan tepat, sehingga memberikan hasil sesuai yang kita
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
22
harapkan. Bickel dan Meyer (1982) menerangkan cara me-
milih lisat, yaitu berdasarkan pada dosis kelinci atau dosis
manusia.
· Berdasarkan dosis manusia
Memilih lisat berdasarkan batas ambang endotoksin yang
dapat diterima manusia pada saat sediaan diberikan. Misalnya
larutan infus yang diberikan pada manusia dengan volume
1000 ml per orang. Dosis ambang endotoksin paling kuat
pada manusia 0,5 ng/kg = 25 ng/orang (diambil berat rata-
rata orang Indonesia 50 kg). Reaksi pirogenik akan dapat ter-
jadi apabila larutan tersebut mengandung 25 ng endotoksin
atau 0,025 ng/ml. Untuk mendeteksi batas kandungan endo-
toksin tersebut diperlukan lisat dengan sensitivitas setidak-
tidaknya 0,025 ng/ml.
· Berdasarkan dosis kelinci
Di sini memilih lisat berdasarkan pada batas ambang endo-
toksin yang dapat diterima kelinci ketika dilakukan pengujian
kelinci. Larutan yang sama, bila dilakukan pengujian kelinci,
disuntikkan 10 ml/kg BB. Apabila kelinci beratnya 3 kg maka
diperlukan volume 30 ml. Batas ambang endotoksin EC-2
pada kelinci 1 ng/kg = 3 ng/kelinci. Reaksi pirogenik pada
kelinci akan terjadi apabila dalam Iarutan 30 ml tersebut me-
ngandung 3 ng atau 0,1 ng/ml. Untuk mendeteksi kandungan
endotoksin tersebut memerlukan lisat dengan sensitivitas se-
tidak-tidaknya 0,1 ng/ml.
BATAS ENDOTOKSIN DALAM AIR DAN BAHAN BAKU
Di atas telah diuraikan tentang cara menentukan batas
endotoksin yang ada dalam sediaan jadi dan cara memilih lisat
sesuai dengan batas endotoksin yang telah ditentukan. Ke-
mudian yang perlu diketahui adalah cara supaya
'
suatu sediaan
jadi mengandung endotoksin sedikit mungkin. Untuk tujuan
tersebut perlu diketahui sumber-sumber endotoksin dan mem-
batasi endotoksin dalam sumber tersebut. Sumber endotoksin
antara lain berasal dari air baku dan bahan baku, wadah atau
pembungkus primer, proses produksi dan lain-lain. Untuk
membatasi kandungan endotoksin dalam sediaan jadi, perlu
ditetapkan batas endotoksin dalam setiap sumber. Sebagai
contoh, larutan infus mengandung glukosa 10% dengan volume
1000 ml. Larutan tersebut kira-kira terdiri dari 100 gr glukosa
dan 900 ml air (WFI). Dalam 1000 ml larutan tersebut tidak
boleh mengandung endotoksin melebihi dosis ambang manusia,
misal 25 ng (0,5 ng/kg BB). Jika menggunakan batas endo-
toksin WFI 0,25 EU/ml EC-2 (0 05 ng/ml), maka larutan ter-
sebut dapat mengandung endotoksin 45 ng (900 x 0,05) yang
berasal dari air (WFI). Kandungan tersebut jelas melebihi
batas dosis ambang manusia; oleh sebab itu walaupun batas
endotoksin WFI di USP disebut 0,25 EU/ml, sering dianjurkan
menggunakan batas 0,01 ng/ml. Dengan batas ini larutan ter-
sebut dapat mengandung endotoksin 9 ng yang berasal dari
air. Apabila batas ambang manusia misalnya 25 ng, maka
endotoksin yang diperbolehkan dari sumber lain yaitu 25 ng-
9 ng = 16 ng. Bila sumber yang diperhatikan hanya glukosa,
maka bahan tersebut boleh mangandung endotoksin 16 ng/
100 gr = 0,16 ng/gr.
Contoh di atas baru melibatkan sumber endotoksin yang
berasal dari air baku dan bahan baku; di dalam praktek masih
ada sumber-sumber kontaminasi endotoksin yang lain, yang
menyebabkan meningkatnya kandungan endotoksin sediaan
jadi.
PENUTUP
Pirogen merupakan substansi yang mampu menginduksi
demam. Istilah pirogen tidak menunjukkan golongan substansi
tertentu dan diukur berdasarkan efek fisiologis yang diinduksi
oleh berbagai substansi.
Dalam masalah endotoksin, LAL berperanan untuk meng-
kontrol kualitas setiap bahan baku dan batas kandungan endo-
toksin setiap bahan dapat ditetapkan, begitu pula batas kan-
dungan.. endotoksin setiap tahap selama proses juga dapat di-
tentukan.
Kontaminasi substansi pirogenik selain dari bahan baku,
juga dapat berasal dari berbagai sumber, di mana pada akhir-
nya substansi pirogenik dan endotoksin yang berasal dari ber-
bagai sumber tersebut akan terakumulasi dalam sediaan jadi.
LAL dapat digunakan untuk mendeteksi endotoksin, tetapi
tidak dapat digunakan untuk memutuskan bahwa sediaan
tersebut tidak menimbulkan kenaikan suhu yang berarti
setelah disuntikkan.
Satu-satunya cara yang telah diketahui untuk mendeteksi
substansi pirogenik termasuk endotoksin adalah uji piroge-
nitas dengan menggunakan kelinci. Pengujian ini akan me-
rekam semua efek fisiologis dan menggambarkan responfarma-
kologis berbagai substansi pirogenik, sehingga akan men-
cerminkan respon yang akan terjadi bila sediaan tersebut di-
suntikkan pada manusia.
Dengan demikian dapat dikatakan, setiap pengujian baik
pengujian dengan kelinci maupun pengujian LAL mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Apabila ditempatkan pada bagian-
nya keduanya akan dapat saling melengkapi. LAL mampu
membatasi kandungan` endotoksin sebagai substansi pirogenik
yang kuat, sedangkan pengujian kelinci mampu merangkum
akumulasi berbagai substansi pirogenik.
KEPUSTAKAAN
1.
Bickel H and Meyer KH, Application of the LAL-test within the
scope of Inprocess controls with regard to Quantitative Aspects,
Drug Made in German, 1982; 25 (3) : 105-108.
2.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia,
3rd ed., Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979.
3.
Kruger D, The Detection of Pyrogens with the Limulus Test, Drug
Made in German, 1982; 25 (1) : 12-23.
4.
Kruger D. The Limulus test in Europe, Drug Made in German,
1983; 26 (4) : 196-204.
5.
McCullough KZ; Pyrogen Testing, Pharmaceutical Engineering,
1987; 7 (5) : 35-36.
6.
The United State Pharmacopeia, 20 th revision, US Parmacopeial
convention, Inc. Rockville, 1979.
7.
Weary M. Pyrogen Testing with the Limulus Amoebocyte Lysate
Test, Pharm Int, 1986; (4) : 99-102.