background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
10
Karsinoma Laring di Rumah Sakit
Dr. Kariadi Semarang
Dr. R. Rahadi, Dr. Karsin I., Dr. Mihardjo D.,
Dr. Pandji U, Dr. Wiratno, Dr. Bambang SS
Laboratorium UPF THT Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang
PENDAHULUAN
Karsinoma laring menduduki urutan kedua dari seluruh ke-
ganasan di bagian THT. Pada tahun 1972-1976, di RS Dr.
Kariadi ditemukan 16,1% dari seluruh keganasan di bagian
THT' dan pada tahun 1981--1985 terdapat 31 kasus
(8,07%). Penderita karsinoma laring yang dijumpai di atas
umumnya sudah dalam keadaan lanjut. Hal ini dikarenakan
tidak adanya gejala dini yang khas. Gejala dini karsinoma
laring sama dengan gejala penyakit lain di laring, sehingga
sering dikelirukan dengan penyakit lain yang jauh lebih ba-
nyak frekuensinya.
Karsinoma laring yang masih dini mudah diterapi, karena
histologis laring miskin jaringan limfe dan vaskuler sehingga
metastasisnya lambat.
Etiologi karsinoma laring sampai sekarang belum dike-
tahui dengan pasti, tetapi para ahli menghubungkannya de
-
ngan bahan asing yang mengakibatkan iritasi kronis pada
laring, sehingga dengan kemajuan industri dan perubahan
kebiasaan mungkin insidensinya akan meningkat.
Maksud tulisan ini adalah mengajak sejawat dokter agar se-
lalu waspada dan curiga akan keganasan seawal mungkin pada
pasien yang mempunyai keluhan suara serak kronis, sehingga
dapat didiagnosis lebih dini dan diterapilebih tepat. Ditemu-
kannya karsinoma laring secara dini akan memberi harapan
kemungkinan kehidupan penderita lebih lama.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Insidensi karsinoma laring di Indonesia yang ditemukan
sangat rendah bila dibandingkan laporan oleh peneliti di luar
negeri (Asia, Eropa, Australia). Karena Indonesia masih
diliputi masalah kesehatan masyarakat yang umum yaitu
malnutrisi dan penyakit infeksi' .
Gejala awal yang memaksa penderita datang berobat
umumnya karena perubahan suara serak. Dokter yang me-
meriksa pertama kali biasanya menghubungkannya dengan pe-
nyakit infeksi tuberkulosa laring' . Suara serak menunjukkan
adanya gangguan mekanisme getar pita suara karena adanya
penambahan masa laring, kerusakan atau kelumpuhan. Hal ini
dapat terjadi' pada semua tingkat usia. Suara serak , akibat
penambahan massa dapat terjadi pada. radang atau trauma
yang menyebabkan edema laring. Penambahan massa oleh
tumor disebabkan oleh perubahan struktur histologis se-
cara bertahap. Oleh karena itu
'
akan mudah dibedakan ke-
lainan suara serak secara akut dan disebabkan karena trauma,
radang akut atau benda asing, sedangkan kelainan yang ber-
langsung kronis mungkin disebabkan radang kronis atau
tumor. Pada tumor laring suara serak dimulai dengan gejala
hilang timbul yang berjalan progresif dan akhirnya menetap.
Biasanya gejala dini berupa suara serak pada pagi hari tanpa
disertai gejala batuk. Bilamana disertai batuk umumnya berupa
batuk kering non produktif
2
.
Karsinoma laring berdasarkan lokasi anatomis dibedakan
atas karsinoma laring supraglotis, glotis dan subglotis. Karsi-
noma laring glotis dan subglotis akan menimbulkan gejala
suara serak, sedangkan karsinoma laring supraglotis pada ke-
adaan awal tidak memberikan gangguan suara penderita
2
.
Karsinoma laring jarang ditemukan pada wanita, rasio
antara laki-laki dan wanita
'
oleh beberapa peneliti disebutkan
sebesar 10--15 : 1. Data terakhir rasio ini memperlihatkan ke-
cenderungan peningkatan jumlah kasus penderita wanjta
1
'
3
Usia penderita umumnya telah menginjak usia tua antara
45-75 tahunl .3,4,e
Penelitian epidemiologik tumor ganas laring memperlihat-
kan beberapa faktor yang diduga berhubungan langsung atau
tidak langsung dengan timbulnya keganasan, tersebut. Banyak
bahan tertentu yang terdapat di lingkungan kita yang mem-
punyai sifat karsinogen atau pencetus aktivitas karsinogen.
Rokok sigaret sering diasumsikan mempunyai peranan penting
dalam timbulnya karsinoma laring
1,2,3,4,6,7,8,9
meskipun
masih perlu dipertimbangkan faktor lain
'
yang dapat bekerja
sama dalam proses timbulnya tumor ganas.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 11
Bahan "agent" karsinogen/prekarsinogen laring
s
.
"Agent"
Ditemukan di
/
dalam
Asbes
Etanol
Gas mustard
Nikel
Polisiklik hidrokarbon
Tembakau, nitrosamin
Minyak, bahan kimia (hidrokarbon,
vinyl, benzen dan sebagainya).
-- lingkungan, produk pabrik,
tambang
-- diet
-- produk pabrik
-- produk pabrik, tambang
-- lingkungan, produk pabrik
-- rokok
-- produk pabrik
Di dalam asap rokok sigaret terkandung suatu senyawa
polisiklik aromatik hidrokarbon yang merupakan bahan ber-
sifat prekarsinogen. Sedang di dalam tubuh manusia ter-
dapat sistem ensim arilhidrokarbonhidroksilase yang mampu
mengubah bahan prekarsinogen (polisiklik aromatik hidro-
karbon) menjadi karsinogen. Makin tinggi kadar kandung-
an AHH di dalam tubuh seseorang, makin tinggi pula risiko
untuk menderita karsinoma laring
6
'
9
.
Untuk mendiagnosis karsinoma laring, penderita yang di-
curigai mempunyai gejala suara serak kronis tersebut perlu
dilakukan pemeriksaan fisik lanjutan yaitu laringoskopi tidak
langsung. Bilamana ditemukan suatu kelainan laring (penebal-
an, bercak, tumor), dilanjutkan dengan pemeriksaan laringos-
kopi langsung dan biopsi kelainan tersebut.
Hasil penelitian di Eropa menunjukkan perbedaan ke-
mungkinan hidup yang nyata pada penderita yang mendapat
pengobatan dan yang tidak diobati (lihat grafik).
BAHAN
Data penderita karsinoma laring dikumpulkan dari catatan
medik RS Dr Kariadi Semarang selama kurun waktu lima
tahun (1981--1985). Pada penderita yang telah &diagnosis
klinik karsinoma laring dilakukan pemeriksaan laringoskopi
langsung dan biopsi. Hasil pemeriksaan histopatologi yang
positif dimasukkan dalam laporan ini. Dari catatan medik
diperoleh data :
a. Umur dan jenis kelamin.
b.
Keluhan utama dan lamanya keluhan.
c.
Jarak tempat tinggal dari RS Dr Kariadi.
d.
Pekerjaan.
e.
Kebiasaan hidup sehari-hari.
HASIL
Ditemukan 31 kasus penderita karsinoma laring selama
waktu lima tahun (1981--1985) di antara 384 orang penderita
tumor ganas di bagian THT (8,07%). Innis kelamin penderita
terdiri 26 orang (83,9%) laki-laki dan 5 orang (16,1%) wanita.
Rasio berdasarkan jenis kelamin ini berarti 5,2 : 1. Umur rata-
rata penderita adalah 52,09 tahun dengan simpang baku se-
besar 11,7 tahun.
Tabel 1. Umur penderita karsinoma taring
Umur (tahun)
Jumlah
Persentase
20 -- 30
1
3,2
31 -- 40
4
12,9
41 -- 50
7
22,6
51 -- 60
12
38,7
61 -- 70.
5
16,1
71 -- 80
2
6,5
Total
31
100,0
Tabel 2. Tempat tinggal penderita
Jarak (km)
Jumlah
Persentase
Keterangan
0 -- 10
10 -- 25
> 25
8
0
23
25,8
0,0
74,2
dalam kota
Iuar kota
Total
31 100,0
Tabel 3. Pekerjaan penderita (keluarga)
Pekerjaan Jumlah
Persentase
Petani
Buruh
Pegawai Negeri
ABRI
Swasta
Tanpa Keterangan
13
1
5
3
6
3
41,9
3,2
16,1
9,7
19,3
9,7
Total
31 100
Tabel 4. Kebiasaan hidup sehari-hari
Kebiasaan Jumlah
Persentase
Merokok
Minum Alkohol
Masak (kompor, kayu)
Obat nyamuk
Lampu minyak
Tanpa keterangan
10
-
2
-
-
19
32,2
-
6,5
-
-
61,3
Total
31 100
PEMBAHASAN
Insidensi karsinoma laringbagian THT RS Dr Kariadi
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
12
Tabel 5. Keluhan penderita karsinoma laring
Keluhan Jumlah
Persentase
Suara serak
29
93,5
Benjolan leher
9
29,0
Sesak napas
15
48,4
Sukar menelan
2
6,5
Batuk darah
1
3,2
Catatan:
-- 2 orang, keluhan utama benjolan leher.
-- sebagai pembanding; tidak kami temukan jumlah keselu-
ruhan penderita dengan keluhan suara serak, jumlah yang
dilaringoskopi langsung di bio psi.
Tabel 6. Lama keluhan penderita
Waktu (balm)
Jumlah
Persentase
< 1
4
12,9
1 --
3
12
38,7
3 -- 6
2
6,5
6 -- 12
9
29,0
> 12
4
.12,9
Total 31
100,0
Semarang selama kurun waktu 5 tahun (1981--1985) ialah
sebanyak 31 kasus penderita laki-laki dan wanita. Seperti
apa yang ditemukan oleh Bambang SS dan Hoedijono pada
kurun waktu 1973--1976 di Semarang
l
, karsinoma laring me-
nempati urutan ke dua di bawah frekuensi karsinoma naso-
faring.
Karsinoma laring jarang ditemukan pada wanita. Dalam
penelitian ini didapatkan rasio laki-laki dan wanita sebesar
5,2 : 1. Bambang SS dan Hoedijono menemukan rasio sebesar
11 : 1, jadi terjadi suatu kecenderungan peningkatan jumlah
penderita wanita. Angka ini masih lebih rendah dengan yang
dilaporkan oleh peneliti di Eropa. Di Connecticut ternyata
juga terjadi penurunan rasio jenis kelamin dari 15 : 1 pada
tahun 1940 menjadi 8 : 1 pada tahun 1968
1,3
. Di Jakarta
tahun 1980--1984 rasio jenis kelamin menunjukkan 6 : 1
5
.
Perubahan insidensi pada wanita ini kiranya perlu penelitian
lebih lanjut mengapa terjadi peningkatan jumlah penderita
wanita. Apakah akibat perubahan kebiasaan wanita. yang
suka merokok atau karena makin banyaknya wanita: yang
memperhatikan kesehatan dalam lingkungan sosialnya.
Usia penderita karsinoma laring rata-rata 52,09 tahun dan
distribusi usia terbanyak antara 40--60 tahun. Hal ini tidak
banyak berbeda dengan pendapat peneliti lainnya
1,3,4,5,7,10
Jadi dapat disimpulkan, risiko timbulnya karsinoma laring
kebanyakan pada usia tua.
Tempat tinggal penderita karsinoma laring yang ditemukan
di RS Dr Kariadi Semarang sebagian besar 23 kasus (74,2%)
berada di luar kota P
.
25 km). Hanya 8 kasus (25,8%) saja
yang rumahnya di dalam wilayah Kodya Semarang (0--10 km).
Kehidupan di desa menyebabkan kemungkinan terkena
"
agent
"
asap lebih besar dibanding warga kota yang lebih
banyak menggunakan peralatan listrik. Data tempat tinggal
memberikan kesan, penderita sebelum datang ke RS Dr
Kariadi tentunya telah ditangani oleh sejawat yang terdekat
dan sebagian kecil yang langsung ke dokter THT/bagian THT
rumah sakit.
Keluhan utama penderita pada 29 kasus (93,5%) ialah suara
serak yang menetap sebagai keluhan tunggal atau bersama ke-
luhan sesak napas sebanyak 15 kasus (58,4%), benjolan leher
9 kasus (29,0%), kesukaran menelan 2 kasus (6,5%) dan batuk
berdarah seorang penderita (3,2%). Dua orang penderita me-
meriksakan diri (6,5%) karena timbulnya benjolan di leher
tanpa disertai rasa nyeri dan panas. Karsinoma laring yang
intrinsik (glotis, subglotis) biasanya menyebabkan keluhan
suara serak karena adanya penambahan massa di pita suara,
tetapi jarang sekali terlihat metastasisnya di kelenjar limfe
sebab miskinnya vaskularisasi dan aliran linfe. Sedang karsi-
noma laring yang ekstrinsik (epiglotis) sering terlihat metas-
tasisnya di kelenjar limfe leher. Suara serak menyertai, gejala
karsinoma laring bila telah mengganggu mekanisme getar
pita suara. Keluhan suara serak merupakan gejala dini, jadi
bila telah disertai gejala dan tanda yang lain berarti telah ter-
jadi perkembangan penyakit yang lanjut. Data keluhan pen-
derita ini memperlihatkan bahwa sebagian besar penyakit telah
memasuki stadium lanjut.
Lama keluhan utama yang disampaikan penderita, 25
kasus (74,2%) telah lebih satu bulan dan keluhan terbanyak
setelah berjalan 1--3 bulan pada 12 kasus (38,7%), hanya
4 kasus (12,9%) saja yang datang ke RS Dr Kariadi sebelum
waktu satu bulan. Ini membuktikan, keluhan suara serak
masih dianggap keadaan yang ringan dan tidak mengkhawa-
tirkan bagi penderita atau dokter yang memeriksanya. Masa-
lahnya ada dua kemungkinan sebagai penyebab, yaitu:
a)
penderita, keluarga atau masyarakat sendiri yang tidak me-
nyadari bahwa mereka telah menderita keganasan tersebut,
b)
dokter pemeriksa pertama yang dimintai pertolongannya
kurang berhasil mengungkap kemungkinan pasiennya men-
derita karsinoma laring.
Insidensi penderita karsinoma laring tertinggi terlihat pada
golongan petani sebanyak 31 kasus (41,9%) disusul oleh swasta
6 kasus (19,3%), pegawai negri 5 kasus (16,1%), ABRI 3
kasus (9,7%), buruh 1 kasus (3,2%) dan 4 kasus (12,9%) tanpa
keterangan identitas pekerjaan keluarga. Keadaan ini masih
belum dapat menggambarkn keadaan yang sebenarnya, oleh
karena data diambil hanya di RS Dr. Kariadi sebagai rumah
sakit pemerintah. Petani terlihat frekuensinya paling tinggi
sebab mereka lebih banyak kontak dengan asap (merokok,
perapian, penerangan)'dan biasanya kehidupan di desa kon-
disi sosial-ekonominya kurang memadai. Bambang SS dan
Hoedijono mengasumsikan, penderita karsinoma banyak
dari golongan sosial ekonomi rendah.
Kebiasaan kehidupan individu sehari-hari dapat merupa-
kan faktor pencetus timbulnya karsinoma laring
[
-10
.-
Anam-
nesis yang berhasil diambil dari 31 penderita karsinoma laring
selama 5 tahun (1981--1985), 12 orang (32,2%) yang pasti
mempunyai kebiasaan merokok, dua orang (8,07%) meng-
gunakan kompor atau kayu bakar untuk memasak dan sisa-
nya sayang sekali tidak ada keterangan kebiasaan mereka
sehari-hari. Dari data yang kasar ini, terlihat, 12 penderita
erat hubungannya dengan asap. Meskipun kemungkinan ada
faktor lain yang bekerja bersama atau yang dapat mengubah
bahan non karsinogen ini menjadi karsinogen, yaitu sistem
ensimatik penderita sendiri yang berupa aril hidrokarbon
hidroksilase
1.2.4
.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 13
Jadi dengan anamnesis yang baik, sedikitnya sejawat dapat
menduga kemungkinan pasien sejawat menderita karsinoma
laring dengan tidak mengabaikan begitu saja keluhan suara
serak penderita. Doyle dan kawan-kawan mendapatkan kar-
sinoma laring in situ dari hasil kerja sama kiriman konsultasi
dokter umum"
KESIMPULAN
Anamnesis yang sederhana tetapi mengarah terhadap pen
-
derita yang datang dengan keluhan suara serak kronis sudah
dapat mencurigai adanya keganasan laring. Kerja sama yang
harmonis dengan sejawat dokter non THT dan ahli THT akan
dapat menemukan penderita karsinoma laring secara Iebih
awal.
SARAN
Data karsinoma laring yang diperoleh di RS Dr Kariadi
Semarang ini mendorong kami untuk mengajak sejawat di
perifer untuk menjalin kerjasama dalam menangani pen-
derita dengan keluhan suara serak yang menetap. Karena
mungkin mereka menderita karsinoma laring sehingga dapat
diterapi lebih awal.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang terjadinya
perubahan rasio jenis kelamin penderita karsinoma laring.
Di dalam catatan medik, anamnesis penderita dengan
keluhan suara serak hendaknya dilengkapi dengan pertanyaan
kemungkinan "agent
"
penyebabnya. Terutama terhadap pen-
derita usia tua, laki-laki dengan keluhan lebih dan satu bulan.
KEPUSTAKAAN
1. Bambang SS, Hoedijono R. Incidence of Carcinoma of The Larynx
in North Central Java. Penelitian tahun 1973--1976. Dibacakan
dalam: Congress Asia Oceania of Otoralyngology, Sidney, 1979.
2. Mark JE, Freeman RB, Lee F, Ogura JH. Carcinoma of The Supra-
glottic Carcinoma. Cancer 1977; 40 : 2874--81.
3. Barclay TH, Rao NN. The Incidence and Mortality rates
.
for Lary-
ngeal Cancer from Total Cancer Regestries. Laryngoscope 1975;
85 : 254--8.
4. Bambang SS, Sunjoto. Problematik Terapi Karsinoma Laring. Kum-
pulan naskah Konas PERHATI V Semarang 1977, jilid 2 hal 661-
8.
5. Hartono A, Soeryadi L. Laryngeal Malignancy in ENT Dept. Cipto-
mangunkusumo Hospital Jakarta 1980--1984. ORLI 1985; 16:
169-- 71.
6. Branderburg, Kellermann. Arylhydrocarbon Hydroxylase Indu-
cibility in Laryngeal Carcinoma. Arch Otolaryngol 1978; 104:
151--62.
7. Keane WN, Atkins JP, Wetmore R. Vidas M. Epidemiology of Head
and Neck Cancer. Larungoscope 1981;91 : 2037--44.
8. Kyriakos M, Berlin BP, DeSeryver--Keeskemati K. Oat Cell Carci-
noma of The Larynx.Arch Otolaryngol 1978;104: 168--176.
9. Marrison WW. Diseases of The Ear, Nose and Throat, 2nd ed C.R.
1955. New York: Appleton Century Crofts Inc. pp
'
624--8.
10. Wynder EL, Muskinski MH, Spivak JC. Tobacco and Alcohol
Consumption in Relation to The Development of Multiple Primary
Cancers. Cancer 1977; 40 : 1872--8.
11. Doyle PJ. Flores A. Douglas GS. Carcinoma in situ of The Larynx.
Laryngoscope 1977 ; 87 : 310-- 6.
12. Fu KK, Eisenberg D, Dedo HH, Philips TL. Result of Supraglottic
Carcinoma. Cancer 1977; 40 : 2874--81.