background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 3
Artikel
Tumor Hidung Yang Berdarah di
Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang
Dr. Nurtrisno, Dr. Achadi IS, Dr. Nietje ML,
Dr. Samsudin dan Dr. Soetomo
Laboratorium UPF THT Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/Rumah Sakit Dr Kariadi, Semarang
PENDAHULUAN
Epistaksis adalah gejala perdarahan dari dalam rongga
hidung, salah satu penyebabnya adalah tumor. Tumor hidung
yang menyebabkan perdarahan banyak jenisnya, baik yang
jinak maupun yang ganas. Maka untuk membedakan secara
klinis tidaklah mudah dan sering menimbulkan masalah dalam
menentukan diagnosis maupun penanganannya.
Hidung mempunyai hubungan erat dengan struktur di
sekitarnya, misalnya sinus paranasal dan nasofaring, sehingga
tumor di rongga hidung sering meluas ke tempat tersebut atau
sebaliknya, Penanganan tumor hidung sangat tergantung dari
jenis, jinak ganasnya, letak, besar dan luas penyebarannya,
sehingga cara operasi belum tentu memberikan hasil yang
memuaskan atau dapat dilakukan, maka diperlukan terapi
lainnya yaitu terapi kombinasi.
Dalam tulisan ini dikemukakan cara menegakkan diagnosis
dan penanganan dari tumor-tumor hidung yang menimbulkan
perdarahan yang dirawat di RS Dr. Kariadi Semarang.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Epistaksis dapat disebabkan oleh tumor hidung jinak
maupun ganas, dan tidak semua tumor di rongga hidung,
sinus paranasal dan nasofaring menyebabkan epistaksis. Tumor
ini sangat heterogen dan sering menimbulkan masalah dalam
menentukan diagnosis maupun penanganannya.
Tumor hidung yang berdarah, dapat didahului dengan gejala
utama hanya berupa epistaksis yang berulang
1
,
2,3
Diagnosis tumor hidung yang berdarah ditegakkan, di-
samping menemukan kelainan klinis berupa masa tumor di
rongga hidung, juga disertai pemeriksaan penunjang lainnya
yaitu foto rontgen hidung, sinus paranasal dan nasofaring,
juga pemeriksaan endoskopi dan patologi anatomi.
Pada tumor Juvenile Angiofibroma Nasofaring, biopsi
hendaklah dilakukan secara hati-hati karena ditakutkan
terjadinya perdarahan hebat. Untuk mempertajam diagnosis-
harus dilakukan pemeriksaan angiografi
3,4-7
Jenis tumor hidung yang menyebabkan perdarahan yang
sering dijumpai di RS Dr. Kariadi adalah:
I. Golongan Benigna.
1.
Juvenile angiofibroma nasofaring (JNA).
2.
Inverted papiloma.
3.
Hemangioma.
II. Golongan Maligna
1.
Karsinoma nasofaring
2.
Karsinoma sinus maksila
TUMOR HIDUNG BENIGNA YANG BERDARAH
"Juvenile" angiofibroma nasofaring
Secara histopatologi, angiofibroma nasofaring termasuk ji-
nak, tetapi klinis berbahaya karena dapat terjadi perdarahan
hebat, dan menimbulkan kerusakan karena mendesak organ-
organ di sekitarnya
3.6
. Pada dasarnya dikenal dua macam,
yaitu tipe vaskuler dan fibrotik.
Tumor tipe vaskuler banyak mengandung pembuluh darah,
dinding pembuluh darahnya non kontraktil karena tidak
mempunyai tunika muskularis, sehingga kalau terjadi Iuka
darah sukar berhenti. Biasanya penderita datang karena epis-
taksis yang hebat, pucat karena anemi, atau hidung terasa
buntu. Penyebab epistaksis disebabkan lepasnya krusta pada
permukaan tumor atau karena tumor sendiri mengalami
ulserasi, dan jarang sekali karena erosi pembuluh darah besar.
Pada stadium awal penyakit terjadi epitaksis yang tidak hebat
dan dapat berhenti sendiri, tetapi karena vaskularisasi pada
tumornya banyak, perdarahan dapat menghebat
3
. Tumor
ini mulai tumbuh di nasofaring, kemudian dapat meluas
ke rongga hidung, sinus maksila, sinus etmoid, basis kranium.
Pada pemeriksaan mungkin ditemukan benjolan pada pipi
atau proptosis, ini disebabkan karena ekspansi masa tumor ke
dalam spasium pterigomaksila dan orbita.
3
Diagnosis ditegakkan berdasarkan keluhan dan pemeriksaan
klinis, x-foto dan angiografi, sedang biopsi tumor harus was-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
4
pada terhadap perdarahannya. Pada x-foto kranium terlihat
masa jaringan lunak di nasofaring, kadang-kadang dapat
terlihat erosi ringan pada tulang. Jaringan tumor mendesak
tulang di sekitarnya sehingga tipis dan rusak
3
.
Di RS Dr. Kariadi, dalam periode 1983--1985 ditemukan
25 orang penderita, semuanya pria dan terbanyak berusia
11--20 tahun sebanyak 21 orang, sedang yang diatas 20 tahun
hanya 4 orang.
Penanganan tumor juvenile angiofibroma tergantung dari
luas dan besarnya tumor, bila masih terbatas dalam nasofaring
dan rongga hidung cukup dilakukan eksterpasi tumor, tetapi
bila JNA sudah sampai ke dalam kranium, radioterapi merupa-
kan cara pengobatan pilihan
3
.
Di RS Dr. Kariadi,tumor yang terbatas di nasofaring dan
rongga hidung diekstraksi melalui rongga mulut dan hidung.
Caranya jari meng-eksplorasi ke dalam nasofaring untuk me-
nilai besar dan basis tumor, kemudian tumor dijepit dengan
tang Jurasz dan diluksir sambil diekstraksi ke luar melalui
mulut. Sedang tumor di rongga hidung diekstraksi melalui
hidung. Kalau perlu dilakukan tindakan dengan cara trans-
palatal.
"Inverted" papiloma
Inverted papiloma di hidung dan sinus paranasal dikenal
sebagai tumor jinak, tetapi terdapat hiperplasi epitel yang
tumbuh dan masuk ke dalam jaringan stroma di bawahnya
untuk kemudian membentuk kripte, dengan membrana basalis
yang tetap utuh.
Ciri khas dari Inverted papiloma yaitu mempunyai ke-
mampuan untuk merusak jaringan sekitarnya, cenderung
kambuh lagi dan dapat menjadi ganas
8
. Etiologinya belum
jelas benar, terdapat bermacam-macam teori, antara lain:
infeksi kronis, virus, polip dan lain-lain, sehingga Vrabec
menganjurkan menganggapnya sebagai true neo plasma. Lebih
banyak penderita pria daripada wanita. Rata-rata umur pen-
derita sekitar 40--50 tahun.
Gejala inverted papiloma mirip dengan gejala tumor jinak
hidung dan sinus paranasal, pada pemeriksaan klinis didapat-
kan masa tumor mirip dengan polip hidung, tetapi biasanya
unilateral. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan histo-
patologi2'6,8'9 . Biopsi tumor dapat diambil dari rongga hidung
dan sinus maksila.
Gejala dapat berupa epistaksis, anosmia, rasa penuh di
hidung, bersin-bersin, proptosis dan lakrimasi yang berlebih-
an
6,8,9
Pemeriksaan X-foto hidung dan sinus paranasal dan
sinuskopi sangat membantu dalam menangani inverted papi-
loma. Bila sinus maksila suram, pemeriksaan sinoskopi me-
nentukan cara operasi yang akan diambil.
Dalam mengobati inverted papiloma, para ahli menganjur-
kan untuk dilakukan ekstirpasi tumor sebersih mungkin
dengan
,
lapangan pandangan operasi yang memadai, yaitu
dengan rinotomi lateral yang dapat diteruskan dengan per-
luasan insisi sulkus gingivolabial atau perasat dari Weber
Ferguson. Bila perlu eksenterasi orbita
6
'
7
'
8
.
Selama tahun 1980--1985 terdapat 14 penderita inverted
papiloma yang dirawat di bagian THT RS Dr Kariadi, rata-
rata berumur 45--55 tahun, terdapat 9 pria dan 5 wanita.
Operasi rinotomi lateral dilakukan pada 13 penderita, pada
8 orang di antaranya dilanjutkan dengan insisi sulkus gingivo
labial. Seorang penderita wanita muda, mengingat segi kosme-
tik, dilakukan perasat endonasal tetapi ternyata memberikan
residif. Destruksi dinding lateral hidung pada 10 penderita.
Perluasan ke sinus maksila 7 orang,seorang di antaranya juga
meluas ke sinus etmoid dan frontal. Terdapat dua kasus yang
menunjukkan gambaran papiloma transisional pada pemeriksaan
patalogi anatomi. Sampai kini tidak ada penderita yang
kambuh setelah operasi lateral.
Hemangioma hidung
Hemangioma adalah tumor pembuluh darah yang mudah
berdarah dan sukar dibedakan dari teleangiektasi atau dilatasi
pembuluh darah yang sebelumnya sudah ada.
Terdapat tiga jenis hemangioma :
1.
Hemangioma kapiler.
2.
Hemangioma kavernosum.
3.
Hemangioma perisitoma.
Hemangioma dapat tumbuh di semua bagian tubuh kita,
termasuk di rongga hidung, Yang terbanyak adalah jenis hema-
ngioma kapiler, kemudian hemangioma kavernosum, dan yang
tersedikit adalah hemangioma perisitoma'"
2
.
Perbedaan pada pemeriksaan patologi anatomi yaitu:
- Pada hemangioma kapiler terlihat sel endotel yang mem-
bengkak dan membesar dan tersusun berlapis-Iapis. Bila
proliferasi endotel menghebat sampai menutup lumen, di-
sebut hemangioma endotel.
- Hemangioma kavernosum mempunyai struktur seperti ja-
ringan erektil dan terdiri atas ruangan pembuluh darah yang
lebar dilaposi oleh sel endotel.
- Hemangioma perisitoma terdiri atas jaringan kapiler yang
dikelilingi oleh sel berbentuk bundar atau fusiform yang
tumbuh ke arah luar. Mungkin merupakan derivat pe-
risit dari Zimmermann. Sel perisit ini merupakan modifi-
kasi dari sel-sel otot polos pada dinding kapiler yang mem-
punyai sifat kontraktil dan mengatur diameter lumen,
tetapi sel perisit ini tidak mempunyai miofibril'~
2
.
Untuk mendiagnosis hemangioma, biasanya penderita me-
ngeluh hidung tersumbat, sering epistaksis, biasanya tidak
nyeri kecuali disertai infeksi. Pada pemeriksaan te.riihat tu-
mor polipoid yang bertangkai, warna agak kemerahan, kadang-
kadang putih abu-abu. Tumor teraba kenyal, batas tegas dan
tertutup kapsul sebagian, kalau disentuh mudah berdarah'.
Pertumbuhan tumor lambat seakan-akan tidak bertambah
berat' .
TERAPI
Hemangioma termasuk tumor yang radioresisten, maka pe-
ngobatan yang terbaik adalh eksisi radikal yang cukup luas
sampai tidak terlihat sisanya untuk mencegah residif. Meng-
ingat bahaya perdarahan yang hebat sewaktu operasi, preo-
peratif dapat dilakukan penyinaran.
Selama tahun 1983--1985 hanya terdapat 2 penderita
hemangioma, yaitu seorang hemangioma kapiler (1983)
dan seorang lagi hemangioma kavernosum (1984), keduanya
pria dan telah dilakukan eksisi.
TUMOR GANAS HIDUNG YANG BERDARAH
Salah satu masalah dari tumor ganas rongga hidung dan
sinus paranasal adalah terlambatnya diagnosis dibuat, sehingga
datang sudah dalam stadium lanjut. Ini karena tidak terdapat
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988 5
keluhan atau gejala awal yang khas, sehingga penderita ter-
lambat datang berobat ke dokter, atau keliru dan dianggap se-
bagai penyakit hidung yang lain, seperti sinusitis, polip, epis-
taksis biasa
4
'
7
'
10
Keluhan dan gejala bervariasi tergantung letak, bentuk,
perluasan tumor dan ada tidaknya destruksi tulang.
Terdapat lima keluhan yang menonjol yaitu:
1.
Hidung tersumbat
2.
Rinore
3.
Rasa sakit lokal
4.
Epistaksis atau perlukaan dengan perdarahan
5.
Pembengkakan di pipi.
Keluhan lain yaitu edema periorbital, lakrimasi, gangguan
penglihatan atau pendengaran, proptosis, parestesi dan tris-
mus'
7
'
10
. Hidung tersumbat adalah keluhan yang tersering,
terutama pada tumor yang berasal dari rongga hidung atau
dinding medial sinus maksila. Rinore karena ulserasi dan infeksi
dari masa tumor yang sering disertai perdarahan dari pembuluh
darah tumor yang pecah. Rasa sakit lokal, terjadi sebagai
akibat tekanan atau invasi ke arah maksila di bawah dinding
posterosuperior sinus maksila dan dasar orbita
4,1,10
Pengobatan tumor ganas rongga hidung dan sinus paranasal
cukup sulit karena waktu diagnosis dibuat keadaannya sudah
lanjut. Pada umumnya cara pengobatan adalah :
1.
Radiasi
2.
Operasi
3.
Kombinasi radiasi dan operasi
,
4.
Kombinasi radiasi dan kemoterapi
Radiasi biasanya diberikan pada:
1.
Tumor yang radiosensitif
2.
Penderita yang tidak dapat dioperasi karena pertimbangan
umur atau problem medis lain.
3.
Penderita yang menolak operasi.
Operasi dikerjakan pada :
1.
Tumor yang radioresisten
2.
Tumor primer yang diperkirakan mudah untuk operasi
4,7,10
Karsinoma nasofaring
Pada stadium dini gejala klinis sangat tidak khas, mirip de-
ngan penyakit hidung lainnya seperti rinitis, epistaksis, polip
atau sinusitis, Muljono Djojopranoto
s
mengingatkan adanya
kemungkinan karsinoma nasofaring sebagai berikut:
1.
Setiap ada benjolan di leher, terutama yang terletak di
bawah prosesus mastoid dan belakang angulus mandibula,
ingatlah selalu akan adanya karsinoma nasofaring.
2.
Dugaan karsinoma nasofaring diperkuat bila gejala tumor di
leher ditambah dengan gejala hidung atau gejala telinga atau
gejala mata dan gejala kranial.
3.
Dugaan karsinoma nasofaring hampir pasti, bila ada gejala
lengkap
s
''
Pada stadium lanjut, di mana sudah ada penyebaran, ter-
dapat lima gejala klinis yang dikemukakan oleh penderita
karsinoma nasofaring, yaitu :
1.
Gejala hidung, biasanya penderita mulai dengan keluhan
seperti pilek-pilek, keluar ingus encer, atau kental dan ber-
bau, epistaksis kadang-kadang terjadi sewaktu mengeluar-
kan ingus atau bisa spontan, dan bila tumor cukup besar
dapat mengeluh hidung tersumbat.
2.
Gejala telinga, biasanya berupa berkurangnya pendengaran,
tinitus atau nyeri di daerah telinga. Gejala ini disebabkan
tumor meluas ke sekitar muara tuba Eustachii, sehingga ter-
jadi penyumbatan saluran tuba dan terjadi tuli konduktif.
3.
Gejala pembesaran leher, berupa pembesaran kelenjar limfe
ujung prosesus mastoid dan di belakang angulus mandibula,
sebagai akibat penyebaran secara limfogen dari karsinoma
nasofaring.
4.
Gejala mata, berupa gangguan visus atau diplopia atau
oftalmoplegia. Diplopia terjadi karena saraf otak ke VI yang
letaknya tepat di atas foramen lacerum menjadi korban
lebih dahulu. Bila proses makin melanjut akan terken juga
n.III dan IV yang menyebabkan kelumpuhan mata atau
oftalmoplegia.
5.
Gejala kranial, di sini terdapat kelumpuhan saraf kranial,
biasanya di dahului gejala subyektif berupa nyeri kepala
dan minum keluar ke hidung.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan biopsi yang diambil dari
nasofaring setelah timbul kecurigaan berdasarkan keluhan
penderita dan gejala. Di Bagian THT RS Dr Kariadi Semarang,
cara biopsi dilakukan dengan memakai alat nasofaringoskop
yang memberikan hasil lebih baik daripada blind biopsy.
Selama tahun 1983-1985 terdapat 290 penderita karsionoma
nasofaring yang dirawat di RS Dr Kariadi.
Pengobatan yang paling tepat pada karsinoma nasofaring
ialah radioterapi, terutama yang radiosensitif. Tetapi terapi
kombinasi dengan sitostatika sering dipergunakan, sedang
tindakan operatif baik terhadap tumor primer maupun ter-
hadap kelenjar leher yang membesar tidak dilakukan.
Karsinoma sinus maksila
Keluhan karsinoma sinus maksila hampir sama dengan
keluhan tumor ganas'hidung lainnya, biasanya keluhan dan
gejalanya tergantung dari lokasi dan perluasan dari tumor.
Keluhan hidung tersumbat dan epistaksis biasanya terjadi
pada tumor dari dinding medial antrum sedangkan pem-
bengkakan pipi dan rasa sakit lokal yang menetap terjadi bila
tumor terletak pada dinding lateral antrum. Keluhan pem-
bengkakan pipi, merupakan tanda stadium penyakit sudah
lanjut dan sebagai petunjuk adanya destruksi dinding antrum
anterior dan. lateral. Sedangkan bila gigi sakit dan tanggal,
menunjukkan adanya perluasan keganasan ke bawah. Bila per-
luasan ke posterior menjalar ke m. pterigoid menyebabkan
trismus.
Pemeriksaan radiologik penderita karsinoma sinus maksila,
menunjukkan perselubungan pada antrum, perubahan densitas
tulang, destruksi tulang atau hilangnya kontinuitas tulang.
Ohngren (1933) membagi keganasan antrum berdasarkan
anatominya dengan menggunakan malignancy plane, yang
penting dalam pengobatan dan prognosis keganasan. Yang
disebut garis Ohngren ialah garis yang ditarik dari sudut man-
dibula ke arah kantus mata bagian medial. Gans ini membagi
sinus maksila menjadi dua bagian anterior-inferior dan poste-
rior-superior. Tumor yang letaknya anterior-inferior prognosis-.
nya lebih baik daripada yang letaknya posterior-superior.
Karena tumor yang letaknya posterior-superior akan cepat
masuk meningen dan susunan saraf pusat
2
'
4,10
Lederman mengemukakan klasifikasi berdasarkan klasifikasi
Sebileau yang lebih memenuhi persaratan sistim TNM
2
. Dua
garis sejajar horisontal ditarik melalui potongan frontal kepala.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 52, 1988
6
Garis yang atas melalui dasar orbita dan yang bawah melalui
dasar sinur maksila. Septum membagi sinus etmoid dan rongga
hidung dalam bagian kanan dan kiri. Dengan demikian akan
terbentuk daerah: supra, meso dan infra struktur. Pertumbuh-
an tumor ganas di infrastruktur prognosis baik, sebaliknya
suprastruktur prognosisnya buruk.
Simson membagi menurut TNM sistim sebagai berikut:
T : Tumor.
T--1 : a. Tumor pada dinding anterior antrum.
b. Tumor pada dinding nasoantral inferior.
c.
Tumor pada palatum bagian anteromedial.
T--2 a. Invasi ke dinding lateral tanpa mengenai otot.
b. Invasi ke dinding superior tanpa mengenai orbita.
T--3 : a. Invasi ke m. pterigoid.
b. Invasi ke orbita
c.
Invasi ke selule etmoid anterior tanpa mengenai
lamina kribrosa.
d.
Invasi ke dinding anterior dan kulit diatasnya.
T--4 : a. Invasi ke lamina kribrosa.
b.
Invasi ke fosa pterigoid.
c.
Invasi ke rongga hidung atau sinus maksila kontra
lateral.
d.
Invasi ke lamina pterigoid.
e.
Invasi ke selule etmoid posterior.
f.
Ekstensi ke resesus etmo-sfenoid.
N : Kelenjar getah bening regional.
N--1 : Klinis teraba kelenjar, dapat digerakkan.
N--2 : Tidak dapat digerakkan.
M : Metastasis.
M--1 : Stadium dini, tumor terbatas di sinus.
M--2 : Stadium lanjut, tumor meluas ke struktur yang ber-
dekatan.
Terapi karsinoma maksila sampai sekarang belum ada yang
memuaskan, oleh karena penderita biasanya datang sudah da-
lam stadium lanjut. Perawatan konservatifpun biasanya gagal.
Tetapi dapat berupa radiasi, operasi, sitostatika atau kombinasi
dari ketiganya. Menurut Harisson, Sisson dan Sakai, kombinasi
antara radiasi dan operasi menaikkan five year survival rate
dari 12,5% menjadi 44%.
Selama tahun 1983-1985 terdapat hanya 7 penderita karsi-
noma sinus maksila yang dirawat di RS Dr. Kariadi.
KESIMPULAN
Telah dibicarakan tumor-tumor berdarah di hidung di
bagian THT RS Dr Kariadi, cara diagnosis dan penanganannya.
Epistaksis ternyata dapat berasal dari tumor jinak maupun
ganas. Pada stadium awal gejala tumor hidung biasanya hampir
mirip dengan penyakit hidung lainnya.
Diagnosis pasti harus berdasarkan hasil pemeriksaan histo-
patologis. Pada Juvenile angiofibroma nasofaring, untuk
diagnosis perlu dilakukan juga angiografi.
Penanganan tumor yang jinak pada umumnya dilakukan
dengan pembedahan. Tumor yang ganas dirawat dan diobati
dengan terapi kombinasi.
SARAN
Bila menghadapi epistaksis yang berulangkali, hendaknya
diingat kemungkinan tumor dari dalam hidung dan sinus
paranasal maupun dari daerah nasofaring. Sebaiknya dikonsul-
kan ke bagian THT, mengingat cara diagnosis dan penanganan-
nya yang berbeda-beda dan khusus.
KEPUSTAKAAN
1.
Budi Susanto S dan Hoedijono R. Tumor-tumor Hidung yang Ber-
darah di RS Dr Kariadi Semarang. Kumpulan Konas PERHATI III
Yogyakarta 1973.
2.
Harrison DFN. Tumors of the Nose and Sinuses. In: Scott-Brown
Diseases of The Ear, Nose and Throat. 4th ed. London: Butter-
worths. 1979; 357-84.
3.
Session RB. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Am J Dis
Child. 1981; 13 : 535-7.
4.
Gosal ID. Beberapa Aspek Tumor Ganas Hidung dan Sinus Maksila
di Bagian THT FK UNHAS Ujung Pandang. Kumpulan naskah
Konas PERHATI VI Medan 1980; 405-12.
5.
Muljono D. Beberapa Segi Tumor Ganas Nasopharynx di Jawa
Timur. Tesis Universitas Airlangga, Surabaya: Gitakarya 1960.
6.
Nikmah R, Nusirwan R. Tindakan Rhinotomi Lateralis pada Inver-
ted Papilloma. Kumpulan Naskah Konas PERHATI V, Semarang
1977; 794-801.
7.
Pandi PS. Aspek Klinis Tumor Ganas dalam Bidang THT. Sim-
posium Diagnostik dan Terapi Tumor Kepala dan Leber, Jakarta
1983 : 63-79.
8.
Vrabec DP. The Inverted Sdhneiderian Papilloma: A Clinical and
Pathological Study. The Laryngoscope 1975; 186-220.
9.
Budi Susanto- dan Hoedijono R. Papiloma Inversum di Hidung.
MKI No. 7-8-9, 1978.
10 Birt D, Briant D. The Management of Malignant Tumors of
The Maxillary Sinus. The Otolaryngol Clin of North Am Vol 9-1,
1976; 249-54.
11. Bambang SS. Frekuensi Carcinoma Nasopharynx di Bagian THT
RS Dr Kariadi Semarang, Oto Laryngologica Indonesiana No. 3,
1977.