background image
Pemantauan Aspek Non Medik
Pelayanan Kontrasepsi Mantap
Radja Malem Kaban
Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia Cabang Sumatera Utara, Medan
PENDAHULUAN
Dalam sistim pelayanan kontrasepsi mantap, salah satu
unsur yang penting untuk mempertahankan atau bahkan me-
ningkatkan mutu pelayanan ialah pemantauan pelaksanaan sis-
tim pelayanan itu sendiri.
Ada tiga hal pokok dalam sistim tersebut, yaitu :
1) Pelaksanaan pelayanan di klinik kontrasepsi mantap.
2)
Pelayanan rujukan.
3)
Masalah pembiayaan termasuk pembayaran dana bantuan
pelayanan
(reimbursement).
Alur pelayanan di klinik kontrasepsi mantap dapat digam-
barkan seperti bagan 1.
Penerimaan dan Pendaftaran
Pelayanan Konseling
Pelayanan
screening
Prabedah
(termasuk pemeriksaan laboratorik)
Persiapan Prabedah
Pelayanan Pembedahan
Pelayanan Pascabedah
Pelayanan Kunjungan Ulang
Bagan 1. Alur pelayanan kontrasepsi mantap di klinik kontrasepsi man-
tap
Dalam setiap bagian dari alur pelayanan kontrasepsi mantap
tersebut tiga macam faktor yang menentukan mute pelayanan
dan harus dipantau ialah faktor :
tenaga pelaksana
sarana
tata-cara pelayanan.
Secara keseluruhan sistim pelayanan kontrasepsi mantap
mencakup dua aspek, yaitu aspek medik dan non medik. Jikalau
kita akan melakukan pemantauan salah satu atau kedua aspek
tersebut, maka setiap bagian dari alur pelayanan kontrasepsi
mantap harus dikaji mana yang termasuk aspek non medik dan
mana yang bukan, mencakup faktor tenaga pelaksan, sarana
kerja, dan tata-cara pelayanan. Selanjutnya untuk menentukan
mutu dari masing-masing faktor, sebelumnya harus ditentukan
terlebih dahulu kriteria standar, dan hal ini harus diketahui dan
dipahami oleh petugas pemantau.
PENERIMAAN DAN PENDAFTARAN
a)
Tenaga
Harus ada tenaga administrasi terlatih yang dapat melak-
sanakan pekerjaan penerimaan dan pendaftaran calon peserta
kontrasepsi mantap, serta mencatat dan melaporkan pelayanan
kontrasepsi mantap. Tenaga ini tidak harus tenaga khusus, ka-
rena dapat pula dirangkap oleh tenaga paramedik pendamping
dokter.
b)
Sarana kerja
Sarana kerja tempat penerimaan dan pendaftaran meliputi :
1) ruang tunggu, lengkap dengan kursi tunggu dan alat peraga
tentang kontrasepsi mantap termasuk poster,
leaflet, flipchart
dan lain-lain.
2)
ruang pendaftaran lengkap dengan meja, kursi, lemari kartu,
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No.
80, 1992 171
background image
dan kartu status kontrasepsi mantap.
c)
Tata-cara pelayanan
Petugas harus memahami tata-cara pelayanan mulai dari
saat calon akseptor datang, manfaat alat peraga, cara mengajukan
pertanyaan, menjelaskan, mencatat ke dalam status, jenis status,
cara penyimpanan status, dan cara membuat laporan.
PELAYANAN KONSELING
a)
Tenaga
Harus ada tenaga konselor yang terlatih untuk menyeleng-
garakan pelayanan konseling kontrasepsi mantap.
b)
Sarana kerja
Sarana kerja pelayanan konseling meliputi :
1) Ruang khusus untuk pelayanan konseling, yang diatur
dengan menjamin privacy, suasana nyaman dan sejuk, ling-
kungannya tidak terlalu gaduh, jauh dari suara yang dapat
mengganggu, dan dihindari adanya orang lain yang keluarmasuk
ruangan tersebut.
2)
Meja dan kursi.
3)
Alat peraga untuk digunakan dalam pelayanan konseling
termasuk poster, leaflet, flipchart, dan sebagainya.
4)
Formulir permohonan dan persetujuan pelayanan kontra-
sepsi mantap.
c)
Tata-cara pelayanan
Petugas harus memahami tata-cara pelayanan konseling
mencakup : saat pelayanan konseling (prabedah/pasca bedah),
tujuan konseling, pelaksanaan dan teknik konseling dan pela-
poran Berta rujukan konseling.
PELAYANAN PRABEDAH
Pengertian pelayanan prabedah termasuk pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan laboratorik. Sebenarnya dalam pelayanan pra-
bedah aspek medis lebih menonjol daripada aspek nonmedik,
namun beberapa sarana kerja termasuk dalam aspek nonmedik,
misalnya seperti :
1) Ruang (kamar) periksa
2)
Meja tulis dan kursi untuk tugas pencatatan
3)
Lemari reagen
4)
Leaflet nasehat prabedah.
PERSIAPAN PRABEDAH DAN PELAYANAN PEMBE-
DAHAN
Dalam persiapan prabedah dan pelayanan pembedahan,
lebih menonjol aspek medik daripada aspek nonmedik. Beberapa
sarana kerja yang termasuk aspek nonmedik ialah :
1)
Ruang ganti pakaian untuk dokter, paramedik, dan calon
peserta kontrasepsi mantap.
2)
Lemari pakaian dan gantungan pakaian.
3)
Sepatu/sandal untuk operasi.
4)
Tempat/ruangan untuk alat sterilisator/autoclave.
5) Lemari obat.
6)
Lemari obat alai-alat.
PELAYANAN PASCABEDAH
Aspek medis juga lebih menonjol dalam pelayanan pasca-
bedah daripada aspek nonmedik. Beberapa sarana kerja yang
termasuk aspek nonmedik ialah :
1)
Ruangan pascabedah lengkap dengan tempat tidur.
2)
Leaflet nasehat pascabedah untuk peserta kontrasepsi man-
tap.
3)
Formulir rujukan.
PELAYANAN KUNJUNGAN ULANG
Pelayanan kunjungan ulang juga lebih menekankan aspek
medik. Sarana kerja berupa kamar periksa dapat menggunakan
kamar periksa pelayanan prabedah asal alur pasien dapat diatur
agar tidak bercampur dengan pemeriksaan prabedah. Demikian
Pula kartu status, meja, kursi, dan alat-alat lainnya pada umum-
nya tidak memerlukan sarana khusus.
PELAYANAN RUJUKAN
Aspek nonmedik dalam pelayanan rujukan lebih banyak
ditekankan pads masalah tata-cara pelayanan daripada masalah
tenaga dan sarana kerja. Faktor sarana kerja yang mungkin
berperan ialah masalah transportasi dan pembiayaan.
TEKNIK PEMANTAUAN DI LAPANGAN
Memahami kriteria standar yang mencakup masalah tenaga,
sarana kerja dan tata-cara pelayanan kiranya belum cukup bagi
petugas pemantau untuk dapat melakukan tugas pemantauan
dengan baik seperti yang diharapkan. Masalah berikutnya ialah
bagaimana cara pemantauan itu dilakukan di lapangan. Teknik
pemantauan di lapangan menjadi amat penting terutama untuk
memantau tata-cara pelayanan, sehingga dapat diketahui hal-hal
yang menyimpang dari prosedur standar. Hal ini tidak selalu
mudah dilakukan oleh petugas pemantau karena beberapa
alasan, seperti :
·
Yang dipantau pada umumnya petugas medik (dokter atau
paramedik) yang dapat dikatakan satu profesi dengan petugas
pemantau.
·
Petugas pemantau pada umumnya seorang dokter (petugas
medik) yang usianya Bering tidak berbeda jauh dengan yang
dipantau.
·
Oleh karena pemantau dan yang dipantau berasal dari pro-
fesi yang sama, dapat timbul asumsi bahwa untuk hal-hal medik
tertentu tidak perlu dipantau karena dianggap sudah lazim, jadi
asumsinya petugas yang dipantau pasti sudah mahir akan hal itu,
padahal belum tentu benar.
·
Oleh karena alasan-alasan tersebut di alas, dapat timbul pe-
rasaan enggan dalam diri pemantau untuk melakukan tugasnya
dengan benar karena rasa tidak enak untuk menunjuk kesalahan-
kesalahan yang dilakukan oleh yang dipantau.
Selain itu, memang teknik-teknik pemantau di lapangan tidak
selalu dimiliki oleh petugas pemantau.
Dalam prinsip, petugas pemantau harus beranggapan bahwa
172 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
background image
yang dipantau itu tidak melakukan tata-cara pelayanan dengan
balk, sampai terbukti bahwa dia melakukannya dengan baik.
Untuk pembuktian, tidak cukup hanya dengan tanya-jawab atau
mendengarkan uraian saja, namun harus dili hat sendiri bagaimana
petugas yang dipantau itu melakukannya termasuk melihat sen-
diri alat-alat maupun catatan-catatan yang ditulis dalam kartu
status dan laporan (dapat dilakukan secara
random/acak).
Kejelian
pemantau sangat diperlukan. Contoh: seorang petugas yang
dimilikinya selalu digunakan untuk sterilisasi alat-alat. Dalam
pemantauan harus dilihat apakah benar pada bagian luar dasar
autoclave
terdapat bagian-bagian yang hangus.
PENUTUP
Dalam melaksanakan pemantauan di lapangan selain men-
catat masalah tenaga pelaksana, maka data yang harus dicatat
ialah tentang :
1) Kelengkapan sarana
2)
Cara menggunakan sarana
3)
Cara merawat sarana
yang harus dilaksanakan secara tepat dan benar.
Kalau diingat bahwa tujuan pemantauan itu ialah untuk
mempertahankan bahkan meningkatkan muiu, maka perasaan
enggan dalam dui petugas pemantau seharusnya dihilangkan.
Pemantauan memang untuk mencari kesalahan, menunjukkan
kesalahan itu, tetapi untuk diperbaiki. Masalahnya ialah
bagaimana pemantauan itu dilakukan, bagaimana kesalahan itu
diberitahukan tanpa menimbulkan rasa tidak enak bagi yang
dipantau, sehingga bersama-sama dapat dicari alternatif penye-
lesaian masalah, dan akhirnya tujuan pemantauan tercapai.
It is not doing the thing we like that makes fife happy,
it is the learning to like the thing we have to do
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 173