background image
Laboratorium Diagnostik Malaria
Masa Kini
Makmur Husaini
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Penyakit malaria sudah dikenal lebih seabad yang lalu.
Banyak hal yang sudah terungkap akan tetapi masih banyak yang
masih perlu mendapat perhatian karena masih banyak negara
yang belum terbebas dari penyakit ini. Banyak hal yang belum
terungkap baik tentang parasitologi, klinik, terapi, epidemiologi
dan juga diagnostiknya.
Penemuan parasit Plasmodium yang beredar pada darah tepi
hingga saat ini masih merupakan diagnosis pasti yang tak terban-
tahkan. Akan tetapi untuk memastikan bahwa seseorang tidak
mengandung parasit ini dalam darahnya akan menjadi sukar
karena mungkin parasit sedikit sekali beredar di darah tepi atau
dalam jaringan hati atau tidak jarang juga tidak dijumpai parasit
karena kekurangan dalam teknik pemeriksaan, pewamaan dan
juga teknisi pemeriksa kurang trampil. Sejak awal abad ini pe-
meriksaan laboratorium untuk menunjukkan adanya Plasmodia
pads darah tepi sudah menggunakan Metode Giemsa yang sen-
sitifitas dan spesifisitasnya cukup baik sehingga masih terus
dipakai sampai scat ini.
Akhir-akhir ini banyak penelitian yang dilakukan untuk
mendapatkan metode pemeriksaan laboratorium diagnostik
malaria yang lebili baik dari yang sudah ada. Hingga saat ini
masih terus diteliti metode-metode baru yang sesuai, lebih peka,
lebih mudah pelaksanaannya dan lebih murah.
Kemajuan yang pekat dari imunologi dan bioteknologi juga
menyumbangkan keikutsertaannya dalam laboratorium diag-
nostik malaria yang pada mulanya adalah merupakan usaha
untuk menemukan vaksin terhadap malaria.
LABORATORIUM DIAGNOSTIK MALARIA
1)
Metode Giemsa
Metoda ini menggunakan pewarnaan Giemsa yang klasik.
Dipakai larutan Giemsa pekat (stock solution) yang diencerkan
150
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 80, 1992
menjadi 5 -15% tergantung pada keperluannya.
a.
Pewarnaan cepat sediaan darah tebal :
--
Larutan Giemsa pengenceran 15% atau 3 tetes stock solution
untuk 1 ml buffer pH 6.6 - 6.8.
--
Pewarnaan selama 5
- 10 menit.
--
Cuci dan keringkan untuk dilihat di bawah mikroskop.
b.
Pewarnaan standard sediaan darah tebal :
--
Larutan Giemsa 5% atau dengan 1 tetes stock solution untuk
1 ml buffer pH 7.1.
--
Pewarnaan selama 45 menit.
--
Cuci dan keringkan.
c.
Pewarnaan standard sediaan darah tipis
--
Fiksasi dilakukan dengan metanol.
--
Larutan Giemsa 5% atau 1 tetes stock solution untuk 1 ml
buffer pH 7.1.
--
Pewarnaan selama 30 menit.
--
Cuci dan keringkan.
2)
Field's staining
Pewarnaan ini menggunakan 2 jenis larutan yang pewar-
naannya berlangsung cepat. Larutan Field A mengandung
methylene blue
dan
Azure blue dalam buffer. Larutan Field B
mengandung eosin dalam buffer.
Dilakukan dengan mencelupkan sediaan darah tersebut
pads larutan B selama 10
- 30 detik, kemudian mencucinya
dengan air dan berikutnya dicelupkan pada larutan A selama 3
-
5 detik, dicuci dan dikeringkan.
Pewarnaan ini berlangsung cepat dan sering dipergunakan
di lapangan pada waktu survai.
3)
J.S.B. Staining
Metode ini menggunakan dua larutan pewarna yang di-
lakukan berurutan seperti penggunaan Field
'
s staining. Larut-
an I berisi Polychromed methylene blue dan disodium hydrogen
background image
phosphate
(Na2HPO4). Larutan II bcrupa larutan eosin dalam
air.
Cara kerja :
­
Slide apusan darah dicelupkan ke dalam larutan II selama
1 ­ 2 detik.
Dicuci dcngan air pH 6.2 ­ 6.6.
Dicelupkan pada larutan I sclama 40 ­ 45 detik.
Dicuci dcngan air
buffer
pH 6.2 ­ 6.6 3 ­ 4 kali.
4)
Wright's staining
Metode ini menggunakan Wright
'
s solution tanpa
pengenceran. Kerjanya mudah, tetapi kurang baik untuk pewar-
naan Plasmodium.
5)
QBC System (Quantitative Buffy Coat analysis system)
Alat dan pewarnaan dengan Acridine Orange diperkenalkan
tahun 1983 untuk pemeriksaan darah putih, kern udian dikem-
bangkan pads tahun 1988 untuk pemeriksaan parasit darah dan
juga untuk malaria. Tahun 1989 Perrone menggunakan peralatan
fluoresens sederhana menggantikan alat fluoresens yang biasa.
Kepekaan dan spesifisitasnya mengimbangi metode kon-
vensional Giemsa dan lebih unggul dalam penggunaan waktu
dan mudah kerjanya (Jataporn 1990).
Cara kerja :
-
Digunakan pipa kapiler yang biasa untuk pemeriksaan
hematokrit yang sebelumnya dilapisi dengan pewarna
Acridine
Orange.
­
Pipa ditutup dengan lempeng plastik sesuai besar pipa dan
diberi penutup ujung pipa.
-
Sediaan disentrifuse selama 5 menit.
-
Sediaan diperiksa di bawah mikroskop fluoresens; eritrosit
yang mengandung parasit akan kelihatan berfluoresens karena
mengambil pewarna.
6)
Immunodiagnosis
Path dasarnya penggunaan imunologi untuk diagnosis ada-
lah menemukan antibodi spesifik malaria ataupun menemukan
antigen malaria, yang larut dalam darah.
a)
Untuk mendeteksi antibodi :
Untuk melengkapi reaksi antigen-antibodi, dipakai antigen
yang sudah diketahui, yang biasanya diperoleh dari darah pen-
derita yang sudah diketahui mengandung parasit, darah monyet
yang sudah dijangkiti dengan plasmodium, atau parasit dari hasil
kultur yang terus menerus.
Teknik yang dipakai antara lain :
­
Indirect Fluorescence Antibody (IFA).
- Indirect Haemagglutination (IHA).
- Enzyme Linked ImmunosorbentAssay (ELISA).
-- Radio-immune Assay.
-- Schizont-infected Cell Agglutination Test (SICA).
b)
Untuk mendeteksi antigen :
Dipergunakan metode pengembangan antibodi spesifik
dengan latar belakang antigen yang ada di darah dengan cara
bioteknologi hibridoma, DNA probe, dan lain-lain.
PEMILIHAN METODE PEMERIKSAAN
Banyak metode pcmcriksaan laboratorium untuk diagnostik
malaria yang tclah diperkenalkan dan digunakan. Untuk hal ini
tergantung pada kebutuhan apa hasil dari diagnosis itu diper-
gunakan.
Umumnya hasil dari pemeriksaan laboratorium untuk diag-
nosis dipergunakan untuk keperluan :
1.
Menentukan pengobatan terhadap penderita
2.
Penclitian Epidemiologi
3.
Penclitian Parasitologi
4.
Penclitian Imunologi.
Untuk keperluan pengobatan dan perawatan biasanya dibu-
tuhkan hasil yang cepat dan dapat segera diberikan pengobatan;
untuk kasus-kasus di klinik yang jumlahnya tidak banyak dapat
digunakan metode Giemsa.
Untuk keperluan penclitian epidemiologi yang biasanya
melibatkan banyak sampel darah dan umumnya hasilnya tidak
dibutuhkan segera, dapat dipakai metode Field
'
s staining atau
QBC system. Penelitian parasitologi biasanya bersama dengan
penelitian epidemiologi.
Pada penelitian imunologi tujuan utamanya adalah untuk
mendapatkan vaksin malaria, pads pemeriksaan imunologi yang
diperiksa adalah antigen terlarut maupun antibodi yang kadang-
kadang munculnya dalam darah penderita agak terlambat meng-
ikuti proses pembentukannya, walaupun kepekaan cara hibri-
doma dapat mendeteksi 1 parasit dalam 1.000.000 eritrosit.
KEPUSTAKAAN
1. Bruce Chwau LI. DNA probes for malaria diagnosis. Lancet 1984; 1: 795.
2. Cohen S, Warren KS. Immunology of Parasitic Infections, 2nd ed. Blackwell,
1982. 460
- 465.
3. Craig. Faust's Tect book of Parasitology.
4. Jaturapom Pomsilapatip et al. Detection of Plasmodia in acridine orange
stained capillary tubes (The QBC System), Southeast Asian J Trop Med
Public Health vol 21 no 4 December 1990; 21(4): 34
-540.
5. Dep Kes RI, Dit Jen PPM PLP. Malaria. 7. Pemeriksaan parasit malaria
secara mikroskopis. 1983.
6. Dep Kes RI, Dit Jen PPM PLP. Malaria, 9. Test resistensi in vivo dan in vitro
Plasmodium
falciparwn,
1983.
7. Thomas T Ho. A rapid and simple method for diagnosis of malaria utilizing
the QBC Malaria test, Proc. Simposium Malaria, Jakarta, 1991.
Cermin Dunia
Kedoiaeran, Edisi Khusus No. 80, 1992
151