Beberapa Aspek Deteksi Dini
Karsin
oma Paru
Luhur Soeroso, Gani W Tambunan
Bagian Pulmonologi dan Patologi
Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan
ABSTRAK
Karsinoma paru yang dijuluki penyakit moderen semakin meningkat. Sebagian
besar tumor ini ditemukan pad
a stadium lanjut. Karsinoma paru erat hubungannya
dengan merokok dan polusi udara. Pengenalan klinis yang cermat disertai pemeriksaan
radiologis, bronkhoskopi sekaligus sitologi brush dan biopsi, merupakan cara yang
biasa dipergunakan untuk menemukan tumor ini sedini mungkin. Tumor yang
letaknya di perifer dan sulit dicapai bronkhoskop, altematif alat diagnostik terbaik
adalah biopsi aspirasi transtorakal. apabila dengan cara ini gagal untuk memperoleh
spesimen, pilihan lain adalah biopsi dengan teknik mediastigostomi dan torakotomi.
Pada kasus yang diduga karsinoma paru dengan pembengkakan kelenjar getah
bening supraklavikuler, biopsi aspirasi sering merupakan kunci diganostik di camping
menentukan stadium tumor.
PENDAHULUAN
Kanker pare merupakan penyakit modern dan universal.
Sebelum perang dunia ke dua karsinoma paru jarang dijumpai.
Setelah perang dunia ke dua (1950) karsinoma pare semakin
meningkat terutama pads pria. Di negara maju, di antara
penyakit kanker, karsinoma paru merupakan penyebab
kematian terbanyak pads pria, sedang pads wanita merupakan
urutan ke tiga setelah karsinoma buah dada dan kolorektal.
Di Indonesia, karsinoma paru semakin meningkat dan
sebagian besar menimbulkan kematian. Insiden karsinoma
paru berhubungan erat dengan perokok, polusi udara dan
adanya cacat paru.
Pengamatan klinis yang cermat dan pemeriksaan
radiologik yang teliti dan dilanjutkan dengan pemeriksaan
bronkhoskopi sekaligus
biopsi ataupun sitologi brush merupakan
cara yang optimal untuk diagnosis karsinoma paru. Cara ini
diperkirakan dapat menemukan karsinoma sedini mungkin.
Kemajuan teknologi diagnostik dan terapetik diharapkan
dapat meningkatkan angka harapan hidup pasien. Pada
makalah ini dikemukakan berbagai aspek yang berkaitan
dengan diagnosis dini karsinoma paru.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
147
ETIOLOGI
Terjadinya karsinoma paru berkaitan erat dengan rokok,
polusi udara dan adanya cacat pads paru. Lebih kurang 80%
pasien karinoma paru diperkirakan karena rokok. Tar yang
dihasilkan rokok merupakan bahan karsinogenik, melengket
pada mukosa saluran nafas dan dalam waktu yang lama
menimbulkan perubahan sel epitel : silia epitel menghilang,
sel cadangan hiperplasia dan mengalami metaplasia sel skuamos.
Lambat laun sel epitel berubah dalam bentuk displasia dan
kemudian menjadi karsinoma dalam bentuk berbagai tipe
histopatologi.
Polusi udara atau perubahan lingkungan juga dikenal
sebagai faktor penyebab karsinoma para. Buruh yang bekerja
di pabrik asbes, nikel dan tambang, insiden karsinoma paru
meningkat. Cacat di paru misalnya parut karena kaverne yang
menyembuh merupakan tempat yang potensial timbul
karsinoma.
KLASIFIKASI HISTOPATOLOGI
Dalam penanganan paru, tipe histopatologi penting diketa-
hui, sebab ada kaitannya dengan aspek klinis yaitu terapi dan
prognosis. Klasifikasi histopatologi yang diajukan oleh WHO
dan WP-L (Working Party Lung Cancer System), pada dasarnya
sama :
1.
Karsinoma sel skuamos
2.
Karsinoma sel kecil
3.
Karsinoma sel besar
4.
Adenokarsinoma
Karsinoma sel skuamos lebih banyak di daerah hilus dan
erat kaitannya dengan rokok. Karsinoma sel kecil sifatnya
agresif, akan tetapi lebih peka terhadap radioterapi ataupun
khemoterapi. Adenokarsinoma lebih banyak di daerah perifer
dan sering asimtomatik.
MANIFESTASI KLINIK
Sebagian besar karsinoma paru ditemukan pads stadium
lanjut dengan simtom bervariasi. Penemuan dalam kondisi
asimtomatik sangat menguntungkan dari segi penanganan dan
prognosis.
SIMTOM
Simtom karsinoma paru tergantung pads letak tumor, karakter
biologis dan tingkatpertumbuhan/penyebaran tumor. Batuk iritatif
merupakan simtom permulaan, terutama tumor yang terletak
di daerah hilus. Batuk sering campur darah. Sesak nafas
dengan nafas nyaring (wheezing) dapat terjadi karena obstruksi
bronkhus berkaliber besar. Serangan pneumonitis disertai
demam dapat terjadi selama beberapa minggu. Rasa sakit di
dada merupakan manifestasi atelektasis karena obstruksi total.
Kira-kira 25% karsinoma paru asimtomatik dan ditemukan
secara kebetulan. Sebagian besar merupakan adenokarsinoma
yang letaknya di perifer. Penyumbatan bronkhioli tidak
menimbulkan simtom. Akan tetapi bila tumor meluas sentrifugal
akan timbul efusi pleura dengan gejala sesak nafas dan sakit.
148
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
Massa tumor yang terletak di apeks pare, dapat menekan
atau invasi ke pleksus brakhialis dengan simtom sakit pads
bahu, lengan dan sindrom Horner yang melibatkan saraf
simpatikus. Karsinoma ini disebut Pancoast's tumor dan gejala
yang timbul disebut sindrom Pancoast.
Bila tumor mengalami metastasis, timbul gejala klinik
yang bervariasi tergantung pada organ yang terlibat seperti
hati, tulang dan susunan saraf pusat dengan gejala neurologik.
DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang diarahkan pads
manifestasi klinik dapat memberi petunjuk kemungkinan
karsinoma para.
PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik, jari tangan berbentuk tabuh,
bentuk dinding toraks berubah dan trakhea mengalami deviasi.
Kadang-kadang tumor di daerah perifer meluas pads dinding
toraks dan muncul berupa penonjolan.
Pembesaran kelenjar getah bening di leher dan aksila
merupakan manifestasi metastasis karsinoma paru dan dalam
keadaan tertentu merupakan kunci untuk diagnostik tumor.
Adanya suara nafas nyaring mirip asma bronkhial merupakan
simtom karsinoma para.
Pada stadium lanjut, muncul gejala klinik lebih berat : suara
parau, sindrom Homer, sindrom vena cava, sindrom Pancoast
dan gejala neurologik.
RADIOLOGI
Pemeriksaan fluoroskopi atau foto paru merupakan alat
diagnostik menentukan. Perselubungan di paru sering mis-
diagnosis dengan proses spesifik tuberkulosis paru. Bila
pengobatan spesifik selama 4-8 minggu tidak membawa
perbaikan, sebaiknya dipikirkan kemungkinan karsinoma paru.
Perselubungan disertai kalsifikasi lebih banyak disebabkan
kelainan jinak. Pada kasus yang meragukan dianjurkan
pemeriksaan
CT
Scan.
BRONKHOSKOPI
Tumor yang letaknya di bronkhus merupakan indikasi
untuk bronkhoskopi. Dengan mempergunakan seperangkat
alat bronkhoskop fiberoptik, perubahan mukosa bronkhus
dapat dievaluasi berupa benjolan atau gumpalan daging.
Dalam waktu yang bersamaan dilakukan sitologi brush dan
biopsi pads massa tumor untuk diagnosis dan identifikasi tipe
karsinoma.
Tumor yang letaknya di bronkhus kaliber besar atau sedang,
pemeriksaan bronkhoskopi tidak banyak menemukan kesulitan.
Akan tetapi bila tumor terletak di perifer, ujung bronkhoskop
sulit mencapai massa tumor,pada kasus demikian, altematif
paling balk adalah biopsi aspirasi jarum halus transtorakal.
BIOPSI ASPIRASI TRANSTORAKAL
Metode biopsi aspirasi transtorakal merupakan salah satu
altematif untuk diagnosis karsinoma paru terutama yang letaknya
di perifer. Prosedur dan teknik sederhana dengan akurasi
diagnostik tinggi. Dengan ban tuan fluoroskopposisi tumordalam
rongga dada dapat ditentukan dan insersi jarum tidak sulit
dilakukan. Kemajuan teknologi radiologi, memungkinkan biopsi
aspirasi lebih mudah dilakukan dengan tuntunan fluoroskop-
TV. Pada kasus yang riskan, sering didahului pemeriksaan Cf Scan
dan kemudian insersi jarum dapat dilakukan sampai mencapai
sasaran yang tepat. Pada kasus demikian terdapat kerjasama
yang baik antara radiologist dan patologist.
Apabila pada palpasi kelenjar getah bening teraba nodul
besaratau kecil di supraklavikuler, biopsi aspirasi sangat berguna
untuk menentukan kemungkinan ada metastasis karsinoma
paru. Pada kasus tertentu, di mana bronkhoskopi atau biopsi
aspirasi transtorakal sulit dilakukan, biopsi aspirasi kelenjar
getah bening ini merupakan kunci diagnostik.
MEDIASTINOSTOMI DAN TORAKOTOMI
Kedua metode ini dilakukan untuk biopsi massa tumor,
apabila bronkhoskopi atau biopsi aspirasi gagal memperoleh
spesimen.
Stadium
Sebelum pengobatan biasa ditentukan stadium berda
g
arkan
sistem TNM. Klasifikasi stadium sistem TNM yang sering
dipakai adalah menurut AJC (American Joint Cancer for Stag-
ing) sbb. :
Stadium occult
:
TxNoMo
Stadium I
T1NoMo, T1N1Mo, T2NoMo
Stadium II
:
T2N1Mo
Stadium III
:
T3 dengan setiap N dan M
N2 dengan setiap T dan M
Ml dengan setiap T dan N.
KEPUSTAKAAN
1. Alsagaff YH. Pendekatan baru dari diagnosa dan klasifiikasi kanker para.
Suatu penelitian eksperimental komparatif mumi. Disertasi memperoleh
gelar Doktor. Universitas Airlangga, Surabaya 1988.
2. Greco FA, Hande KR. Lung Cancer : management progress and prospect.
Lederle Laboratorium, 1982.
3. Hakim T. Peranan bedah pada penatalaksanaan nodul pant soliter. Kanker
dan penatalaksanaannya. Naskah Muktamar Nasional III Perhimpunan Ahli
Bedah Tumor Indonesia, Jakarta 1987 : 49-58.
4. Malberger E, Lemberg S. Transthoracic fine needle aspiration biopsy cytol-
ogy. A study from 221 cases. Acta Cytol 1981; 25 : 675-7.
5. Tambunan GW. Penuntun Biopsi Aspirasi Jarum Halus. Aspek klinik dan
Sitologi Neoplasma. Penerbit Jakarta : Hipokrates, 1990.
6. Tambunan GW. Karsinoma paru. Dalam : Diagnosis dan Tatalaksana Sepuluh
Jenis Kanker Terbannyak di Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 1991 : 126-148.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80,1992 14 9