Makalah Lain
Pengiriman dan Pengelolaan
Jaringan untuk Diagnosis
Penyakit secara Histopatologik
Joko, S. Lukito, H. Soekimin, Delyuzar, T. Kemala Intan
Laboratorium Patologi-
Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan
PENDAHULUAN
Minat para klinisi untuk memeriksakan jaringan baik yang
diperoleh dengan cara biopsi atau operasi semakin meningkat.
Pengelolaan jaringan tersebut umumnya sudah memadai, namun
masih ada jaringan yang pengelolaannya tidak memadai se-
hingga bahan tersebut tidak sempurna sampai ke laboratorium
patologi. Data yang lengkap, pengelolaan jaringan yang baik
akan sangat membantu menegakkan diagnosis oleh laboratorium
patologi.
Informasi yang kurang, sediaan yang tidak adekuat dan
pengelolaan jaringan yang tidak baik akan memberikan basil
yang kurang sempurna dari Patologi-Anatomi.
Maksud dari tulisan ini mengemukakan beberapa faktor
yang perlu menjadi perhatian para klinisi pengelolaan spesimen/
sediaan biopsi atau operasi.
PENGIRIMAN FORMULIR
Formulir permintaan pemeriksaan Patologi-Anatomi berisi
identitas penderita yaitu nama, kelamin, umur, serta alamat.
Lokasi jaringan dan cara jaringan diambil misalnya biopsi,
operasi, kerokan, insisi, oleh karena lokasi yang berbeda akan
membuat interpretasi yang berbeda pula. Kesimpulan dan saran
dan Patologi juga akan berbeda apabila bahan tersebut diambil
secara biopsi dengan suatu operasi radikal, misalnya mastek-
tomi, atau pengangkatan uterus beserta adnexanya.
Keterangan klinik pemeriksaan penunjang laboratorium,
foto, USG, dan diagnosis sementara sangat diperlukan untuk
melengkapi data yang akurat sehingga membantu diagnosis pa-
tologinya. Misalnya kelainan tulang hendaknya disertai dengan
foto rontgen dari tulang tersebut.
Untuk menentukan apakah batas sayatan operasi telah bebas
dan tumor, hendaknya klinisi membuat tanda-tanda mana
bagian atas, bawah, kiri, kanan permukaan atau dasar dari tumor
138 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
dengan menggunakan sutra, cat gut atau tinta cina. Terutama
untuk lambung, usus, mana yang bagian anal dan mana bagian
kaudal; ovarium kanan atau kiri.
PENGIRIMAN SPESIMEN
Bahan operasi dan biopsi sebaiknya seluruhnya dikirim ke
laboratorium Patologi atau dipilih bagian yang paling represen-
tatif. Apabilaklinisi ingin membandingkan diagnosis yang dibuat
oleh laboratorium Patologi bersangkutan, klinisi dapat meminta
kembali bahan tersebut setelah selesai diperiksa maupun slide
mikroskopiknya, baik untuk diperiksakan ke laboratorium lain
atau sebagai kenang-kenangan pasien.
Beberapa cara pengiriman :
1)
Bahan operasi dari usus, sebaiknya kotorannya dicuci dahulu
dan ikatannya dibuka, juga kalau jaringannya banyak mengan-
dung darah oleh karena akan menghalangi bahan fiksasi ke
jaringan sehingga jaringan akan cepat lisis.
2)
Apabila bahan terlalu besar maka jaringan tersebut harus
dipotong lameller dengan jarak 4 -- 5 mm tapi bagian bawahnya
tidak sampai lepas agar dapat direkonstruksi kembali.
3)
Bila uterus yang dikirim maka pemotongan lameller harus
sesuai dengan porosnya.
4)
Apabila yang dikirim berupa kista misalnya dari thyroid atau
testis, dapat dikeluarkan dahulu isinya dan dicatat cairan yang
dibuang mengenai warna, banyak dan konsistensinya.
5)
Jaringan yang banyak dan besar sebaiknya bagian bawahnya
diganjal dengan kain kasa supaya jaringan tidak melekat dengan
dasar botol sehingga fiksasi tidak dapat masuk ke dalam jaringan.
Namun apabila tidak mungkin dikirim maka dapat dilakukan
beberapa pemotongan sample yang dapat mewakili organ ter-
sebut.
Setelah bahan operasi dimasukkan ke dalam botol (stoples)
kaca, atau plastik sebaiknya tutup botol dilak atau ditutup dengan
plaster supaya bahan fiksatif tidak tumpah di jalan. Jangan lupa
memberikan label yang ditulisi identitas pasien dan nama bahan
yang dikirim agar tidak tertukar dengan bahan lain.
FIKSASI
Maksud dan tujuan fiksasi adalah mempertahankan morfo-
logi jaringan atau scl tubuh seperti dalam keadaan hidup; se-
hingga untuk mencapai maksud tersebut bahan fiksasi harus
dapat:
1) Menghentikan proses enzimatik sel tubuh secepatnya untuk
mencegah autolisis; autolisis adalah pengrusakan sel sendiri se-
sudah terjadi kematian sel, disebabkan oleh kerja enzim yang
terdapat di dalam sel itu sendiri.
Autolisis ini dapatdihambatdengan mendinginkan jaringan
dalam ternperatur di bawah 0°C atau dalam udara panas lebih dari
57°C, namun dalam suhu kamar akan dipercepat. Selain auto-
lisis, kerusakan jaringan dapat terjadi akibat bakteri, baik di-
sebabkan oleh bakteri yang ada (septikemi) ataupun bakteri ko-
mensial.
2)
Mengkoagulasi protein jaringan sehingga menjadikan sel
insoluble
yang mencegah masuk atau keluarnya zat-zat dalam
sel.
3)
Membuat jaringan mudah diwarnai.
Jaringan harus dimasukkan ke dalam larutan fiksasi secepat
mungkin setelah diambil dari tubuh, apalagi bila organ tersebut
mudah membusuk misalnya otak, hati, paru, usus dan organ
dalam lainnya; jangan ditunggu sampai operasi selesai. Daya
penetrasi larutan fiksasi juga terbatas. Formalin akan menembus
jaringan sedalam 2--2,5 cm dalam waktu 24 jam. Sedang jaring-
an lunak lebih cepat dan lebih dalam penetrasinya. Oleh karena
itu bila jaringan cukup besar maka jaringan ini harus dipotong
lameller dengan jarak 4--5 cm, tapi bagian bawahnya tidak
sampai dipotong lepas agar dapat direkonstruksi kembali.
Banyaknya larutan fiksasi minimal jaringan dapat berenang
di dalamnya dan yang ideal jumlah larutan 10 x besar jaringan.
Bahan fiksasi
1) Formaldehid
Formaldehid adalah suatu gas yang larut dalam air. Larutan
ini bersifat asam dan tersedia dalam bentuk formaldehid 40%
atau formalin, namun dengan konsentrasi ini tidak dapat dipakai
untuk fiksasi karena terlalu cepat mengeraskan jaringan. Sebagai
larutan fiksasi harus dicampurkan dalam air biasa atau larutan
garam fisiologis, dengan perbandingan 1 bagian formalin dengan
9 bagian pelarut menjadi formal saline 10% atau lebih dikenal
dengan formalin 10%. Untuk penyimpanan dalam jumlah besar
dan waktu yang lama maka formal saline 10% harus diberi garam
buffer
atau magnesium atau kalsium karbonat supaya tidak
terjadi pembentukan endapan asam formik. Formalin mempu-
nyai bau yang tidak enak dan dapat mengiritasim kulit, selaput
lendir dan mata. Oleh karena itu dianjurkan memakai sarung
tangan dengan udara terbuka waktu kita sedang mengelola ma-
teri berformalin.
2) Alkohol
Merupakan larutan dengan daya dehidrasi yang kuat dan
menyebabkan pengerasan dan pcngerutan jaringan. Alkohol
dapat mengkoagulasi protein dan.presipitasi glukogen dan me-
larutkan lemak.
Fungsi alkohol yang utama adalah sebagai bahan fiksasi
sediaan sitologi namun dalam keadaan terpaksa dapat digunakan
sebagai fiksasi sediaan histopatologi. Hal ini disebabkan daya
tembus alkohol yang kurang baik oleh karena jaringan cepat
menjadi keras dan mengkerut sehingga sediaan sukar dipulas.
BEBERAPA CARA PENGIRIMAN
1)
Fiksasi basah (Wet fixation)
Maksud dari fiksasi basah adalah sediaan segar yang baru
saja diperoleh segera dicelupkan ke dalam fiksasi selama 3040
menit. Kemudian dikirim ke laboratorium Patologi-Anatomi
serta botol perendamnya.
Untuk mengatasi risiko pengiriman yang sulit dengan botol
yang berisi cairan yang mungkin tumpah, maka setelah sediaan
tersebut difiksasi selama 30 menit, dikeluarkan dari cairan dan
dikeringkan di udara kamar. Setelah kering sediaan dapat dimasuk-
kan ke dalam tabung atau di dalam karton yang telah disiapkan.
Bahan fiksasi sebaiknya digunakan alkohol yang mudah didapat.
Fiksasi yang mula-mula digunakan adalah campuran larut-
an diethylether (ether) dan ethanol ethyl alkohol 95% dalam per-
bandingan satu banding satu tapi karena ether dapat menimbul-
kan bahaya dan bau yang merangsang sekarang jarang dipakai.
Alkohol (ethanol) 95% selalu tersedia di Puskesmas, R.S.
ataupun Praktek swasta, merupakan cairan fiksatif yang ideal.
Sedang methanol; isopropanol, propanol dan alkohol denaturasi
juga dapat dipakai sebagai alternatif ke dua. Pengerutan metha-
nol lebih kecil dibanding dengan ethanol. Oleh karena itu me-
thanol 100% mempunyai pengaruh yang sama seperti ethanol
95%. Isopropanol lebih banyak menyebabkan pengerutan di-
bandingkan dengan methanol dan ethanol maka dianjurkan
isopropanol 80% untuk bahan pengganti ethanol 95%. Alkohol
denaturasi adalah campuran ethanol methanol dan isopropanol
dan perbandingan 90:5:5 dan dilarutkan sampai 95%.
2)
Fiksasi pelapis (coating fixative)
Zat-zat ini adalah campuran dari alkohol basa yang mem-
fiksasi sel-sel dan bahan seperti lilin yang membentuk lapisan
pelindung yang tipis di atas sel.
a)
Aerosol yang dipakai dengan cara menyemprotkannya
pada sediaan.
Hair spray
dengan kadar alkohol tinggi dan tidak
mengandung inolin atau bahan minyak lain dapat digunakan
sebagai bahan pengganti, namun hasilnya tidak begitu me-
muaskan.
b)
Liquid basa diteteskan di atas sediaan sesegera mungkin.
Larutan polietilen glikol (carbonat 1540) adalah fiksasi pelapis
yang dapat dipersiapkan di laboratorium.
c)
Mempersiapkan preparat sitologi yang lain.
1.
Dahak (sputum)
Pengambilan sputum yang terbaik apabila malam hari sebe-
lumnya diberikan ekspektoran; pagi hari penderita disuruh tank
nafas dalam-dalam kemudian membatukkannya secara kuat
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No.
80, 1992 139
expulsif supaya kita dapatkan sekret bronchus.
Apabila diperkirakan dapat diperiksa dengan segera maka
sputum tidak perlu difiksasi. Kemudian dipilih sputum yang
berdarah atau padat; kalau tidak ada yang kental maka cairan
sputum sebagian dihisap airnya dengan kertas absorban dan
dihapus ke-objek glass dan difiksasi dengan alkohol 95%.
Apabila jarak laboratorium jauh maka sputum dimasukkan
dalam tempat penampung yang sudah diisi terlebih dahulu de-
ngan alkohol 50-70%. Jangan dipergunakan alkohol 95% karena
dapat mengakibatkan terjadinya pengerasan jaringan.
Sputum tidak perlu dicentrifuge dan pengambilan yang
terbaik pada waktu pagi hari selama 3 hari berturut-turut.
2.
Smear bronchus cairan pleura dan cairan ascites
Objek glass harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan
memberikan lapisan albumin (Mayer
'
s albumin) atau putih telur
di atas objek glass dan dikeringkan di udara kamar.
Cairan yang diperoleh dari bronchoskopi atau bronchial
brushing dan bronchial washing kita centrifuge selama 10 menit
dengan kecepatan 800 rpm dan endapannya dioleskan ke objek
glass yang sudah diberi albumin dan langsung dicelupkan ke
dalam alkohol 95%. Apabila laboratorium jauh maka untuk
fiksasi cairan ini ditambah dengan 50% ethyl alkohol dalam
jumlah yang sama.
3.
Smear lambung
Sel-sel dari lambung dan duodenum amat mudah meng-
alami proses enzimatik yang akan merusak set. Sebelum intubasi
dilakukan maka sudah dipersiapkan botol yang mengandung
95% etil alkohol 1/4 sampai 1/3 volume botol. Botol tersebut
diletakkan dalam batu es di satu tempat, temperatur yang rendah
akan menghalangi proses enzimatik.
4.
Smear urine
Untuk pemeriksaan sitologi urine tidak diambil urine per-
tama pagi hari oleh karena penimbunan garam pada malam hari
Bagan Pemotongan Organ
Uterus
140
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
dapat mengkristal dan merusak sel epitel. Sampel terbaik diper-
oleh mid stream dan setelah dilakukan dehidrasi.
Dehidrasi dapat dilakukan dengan pemberian air minum 2
sampai 3 gelas dalam 2 jam, kemudian penderita disuruh lari-lari
atau loncat-loncat di tempat.
Kemudian urine dicentrifuge, sebaiknya ditambahkan 12
Mayer
'
s albumin selama 15 menit, dengan kecepatan 1500 rpm.
Apabila laboratorium jauh maka pada urine dapat ditambahkan
50% ethyl alkohol dalam jumlah yang sama.
5.
Cairan cerebrospinal
Cairan yang diperoleh secara pinksi sebanyak 23 ml
langsung dioleskan di atas objek glass yang sudah diberi albu-
min.
Apabila laboratorium jauh maka cairan ini dapat difiksasi
dengan etil alkohol 50% dalam jumlah yang sama.
KEPUSTAKAAN
1. Drury RAB, Wellington EA. Carlton's Histological Technique. 4th Ed. New
York: Oxford University Press, 1967.
2. Farmer ER, Hodd AF. Pathology of the Skin. Prentice Hall International Inc.
1990.
3. Hopps HC. Principle of Pathology, 2nd Ed. New York: Appleton -Century -
Croft. 1964.
4. Koss LG. Diagnostic Cytology and its Histopatologic Basic. 3rd Ed. Phila-
delphia: Lippicott, 1979.
5. Lubis HMDN. Peranan Perawat dalam mempersiapkan sediaan Patologi.
Naskah lengkap penataran Perawat. Medan.
6. Tambunan G. Penuntun biopsi aspirasi. Jarum halus, Aspek klinik dan
sitologi neoplasma. Jakarta: Penerbit HIPOKRATES, 1990.