Alergi dan Iritasi Kulit pada
Keadaan Sehari-hari
Dr. Diana Nasution
Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara/Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan
ABSTRAK
Jika dilihat sepintas alergi dan iritasi kulit dapat mirip satu dengan lainnya. Dan
sudut dermatologi terdapat perbedaan di antara keduanya yang dapat membantu klta
menangani pasien-pasien yang menderita alergi dan iritasi kulit.
Dalam makalah ini dibicarakan beberapa contoh alergi dan iritasi kulit yang
dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :
1.
Alergi terhadap perhiasan
2.
Reaksi kulit terhadap sabun dan detergensia
3.
Kepekaan terhadap sepatu, bahan pengawet, pakaian dan cat rambut.
PENDAHULUAN
Istilah alergi menunjukkan suatu reaksi yang berubah
(alergi) terhadap suatu bahan tertentu (alergen) yang melibat-
kan sistem imun tubuh; hanya terjadi pads orang-orang tertentu.
Iritasi kulit disebabkan oleh suatu bahan dapat terjadi pads
setiap orang, tidak melibatkan sistem imun tubuh dan ada be-
berapa faktor-faktor tertentu yang memegang peranan seperti
keadaan permukaan kulit, lamanya bahan bersentuhan dengan
kulit, usia pasien, adanya oklusi dan konsentrasi dari bahan.
Adakalanya suatu bahan kimiawi mempunyai kedua sifat
ini yaitu dapat menyebabkan reaksi alergis dan suatu respons
iritasi pads kulit; sebagai contoh : sabun yang berisi zat warns
atau parfum sebagai alergen jika disertai dengan mencuci beru-
lang-ulang dapat menyebabkan iritasi kulit.
Untuk membedakan reaksi kulit yang alergis dan iritasi kulit
dapat dilakukan percobaan tempel.
ALERGI TERHADAP PERHIASAN DAN LOGAM LAIN
Pads orang-orang tertentu dapat terjadi kelainan kulit setelah
mernakai perhiasan tertentu misalnya anting-anting, kalung,
jam tangan dan sebagainya. Kemungkinan penyebabnya adalah
126 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
nikel yang banyak terdapat dalam benda-benda logam antara lain
jam Langan, perhiasan, jepitan rambut, penggulung rambut,
gunting, cincin, mata uang, kepala ikat pinggang, bingkai kaca,
mata dan sebagainya. Di Amerika diperkirakan kepekaan
terhadap nikel ini mencakup± 10% dari penduduk dan terdapat
lebih banyak pads wanita dari pads pria dengan perbandingan
2 : 1. Hal ini disebabkan oleh karena wanita lebih banyak
memakai perhiasan dibandingkan dengan pria.
Keringat dapat memperhebat dermatitis oleh nikel ini,
gejala berupa rasa gatal dan mencucuk dapat timbul 15-20
menit setelah bersentuhan dengan kulit dan gejala-gejala kulit
dapat timbul dalam waktu satu jam. Apabila tidak berkeringat,
pasien yang sama dapat memakai perhiasan yang mengandung
nikel ini untuk beberapa jam tanpa adanya gejala.
Diagnosis dermatitis oleh nikel ini amat mudah oleh karena
is timbul pada tempat kulit berkontak dengan logam tersebut.
Apabila kontak dihilangkan maka gejala pada kulit akan sembuh
dalam beberapa hari. Di samping itu untuk memperkuat diagno-
sis dapat dilakukan uji tempel.
Untuk mendeteksi apakah suatu perhiasan berisi nikeldapat
dilakukan tes dengan dimetil-glioksim. Di samping itu jika
seorang yang peka terhadap nikel tetap ingin memakai per-
hiasannya tersebut, disarankan untuk melapisi perhiasan tersebut
dengan cat kuku yang berwana netral atau menyemprotkan
dengan bahan yang berisi kortikosteroid dan mengharuskan
pasien agar memakainya dalam keadaan sekitar yang sejuk untuk
menghindari keringat.
REAKSI KULIT TERHADAP BAHAN PENGAWET
Reaksi kulit terhadap bahan pengawet yang terdapat di
dalam kosmetika dan oba-obat oles, dapat berupa dermatitis
(eksema) dengan tanda-tanda kulit kering, bersisik, merah, ber-
lepuh sampai basah atau retak-retaknya kulit. Reaksi bisa ringan
atau berat dan biasanya disertai dengan rasa terbakar dan gatal.
Reaksi dapat timbul sebagai urtika atau kadang-kadang berupa
pembengkakan lokal.
Sering terjadi timbulnya reaksi kulit pada pemakaian per-
tama kali dari obat oles atau kosmetika pada kulit yang terluka
atau sedang mengalami iritasi.
Sedangkan bahan pengawet makanan dan obat-obatan
per-oral dapat menyebabkan reaksi kulit yang bersifat alergis
dan dapat menyebabkan terjadinya sensitisasi. Beberapa contoh
bahan pengawet di dalam kosmetika atau obat oles kulit : metil-
paraben, propil paraben, imidazolidinilurea, butil-paraben, qua-
ternium-15, formaldehid, Katon-cG, asam sorbic, Vit. E dan
Vit. c.
Terdapatnya bahan pengawet pada berbagai macam produk-
produk yang dipakai sehari-hari maka sudah tentu amat sulit
dihindari. Salah satu cara untuk mengetahui penyebab kelainan
kulit oleh pemakaian kosmetika atau obat kulit lainnya yaitu
dengan percobaan tempel.
REAKSI KULIT TERHADAP SABUN DAN DETERGEN
Reaksi kulit terhadap pemakaian sabun dan detergen dapat
terjadi berdasarkan iritasi kulit akibat pemakaian yang ber-
lebihan. Terjadinya iritasi kulit oleh pemakaian sabun
kemungkinan disebabkan oleh sifat alkalis sabun disertai dengan
daya menghapus minyak dari kulit dan sifat iritasi dari asam
lemak. Dapat juga terjadi kelainan kulit oleh karena alergi ter-
hadap bahan-bahan yang terdapat di dalam sabun seperti pewangi,
zat warna, bahan-bahan antimikroba dan sebagainya.
Pernah dilaporkan terjadinya depigmentasi kulit oleh
pemakaian sabun yang mengandung fenol.
Sabun sebagai iritan utama dapat merupakan faktor yang
memperlambat penyembuhan dari eksema pada tangan. Untuk
menghindari reaksi iritasi ini, kurangi pemakaian sabun.
KEPEKAAN KULIT TERHADAP SEPATU
Reaksi akergi kulit terhadap sepatu dapat berasal dari bahan
dasarnya yaitu kulit hewan yang telah diproses dengan bahan-
bahan tertentu seperti cat, bahan pengawet, bahan antimikroba
dan anti jamur, khrom, karet, bahan perekat, anti oksodan dan
bahan-bahan lainnya.
Reaksi kulit terhadap sepatu paling sering terjadi pada
mereka yang banyak berkeringat dan pads keadaan sekitar yang
panas dan lembab. Penting diperhatikan ialah bahwa sepatu
harus dipakai dalam keadaan kering.
Alergi terhadap sepatu ini sering mirip dengan gambaran
eksema, infeksi jamur dan penyakit kulit yang disebut psoriasis.
Terapi yang tepat didapat dengan mengetahui penyebabnya
yaitu dengan tes tempel kulit.
REAKSI KULIT TERHADAP PAKAIAN
Reaksi kulit terhadap pakaian paling sering terjadi pada
pakaian yang terbuat dari bahan dasar yang mudah diregang.
Sebagai bahan Penyebab yaitu adanya bahan karet di dalam kain
dan bahan-bahan kimiawi lainnya'yang terdapat di dalam karet
tersebut, juga serat-serat sintesis yang bersifat elastis. Semua
bahan-bahan ini mengandung bahan tambahan yang bersifat
sebagai sensitizer dan dapat menyebabkan reaksi alergi pads
kulit.
REAKSI KULIT TERHDAP CAT RAMBUT
Kepekaaan kulit terhadap cat rambut sebagian besar dise-
babkan oleh bahan kimiawi paraphenilendiamin (PPD) yaitu
zat warna dalam pewarna rambut yang permanen. Jika seorang
menjadi alergis terhadap PPD, maka is juga peka terhadap
bahan-bahan yang secara kimiawi mempunyai ikatan yang
sama melalui suatu proses sensitisasi silang.
Jadi bila alergis terhadap PPD, maka juga alergis terhadap
pewarna dari bahan anilin, Azo yang banyak dipakai untuk
memberi warna gelap pads pakaian (hitam, biru,.cokklat dan
abu-abu). Juga dapat terjadi kepekaan terhadap obat-obat peng-
hilang rasa seperti prokain, benzokain.
Kurang lebih 1/4 dari mereka yang peka terhadap PPD juga
peka terhadap prokain dan benzokain. Jadi orang yang peka
terhadap PPD jangan lupa memberi tabu dokter gigi anda se-
hubungan adanya kemungkinan pemakaian anastesi untuk
pencabutan gigi. Sebagai ganti prokain dan benzokain dapat
dipakai xylocaine dan mepivacaine.
Tabir surya yang mengandung PABS dapat juga bereaksi
silang dengan PPD, orang yang peka terhadap PPD hendaknya
menggunakan tabir surya yang bebas PABA.
KESIMPULAN
Telah dibicanakan beberapa kemungkinan alergi dan iritasi
kulit yang dapat dijumpai dalam keadaan sehari-hari. Untuk
menghindarinya perlu pengenalannya. Uji Tempel Kulit banyak
membantu dalam hal memperjelas diagnosis.
KEPUSTAKAAN
1. Adams. Occupational skin disease. 2nd ed. Saunders, 1990.
2. Corbett JF. Hair dye toxicity. Berlin : Springer-Verlag, 1990.
3. Groin E. Contact Dermatitis. Edinburgh : Churchill Livingstone, 1980.
4. Fisher A A. contact dermatitis. 3rd ed. Philadelphia : Lea & Febiger, 1986.
5. Maibach
H J Gellin GA. Occupational & Industrial Dermatology. Yearbook
Medical Publishers, 1982.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 127