NICLOSAMIDE
Obat ini banyak mengganti obat-obat taeniasid lain karena
ternyata potent dan kurang toxis. Dapat diartikan sebagai
obat pilihan bagi macam-macam taeniasis.
Dasar efeknya adalah : (i) menekan pengambilan glukose, dan
(ii) menekan respirasi, mudah dihancurkan oleh enzim-enzim
proteolitik.
Penderita-penderita
yang obstipatif perlu diberikan juga
laxans 1 - 2 jam sesudah pemberian obat supaya telur-telurnya
dari usus, maka tidak toxis dan bahkan boleh diberikan pada
gravida dan penderita yang debil, juga tidak mengganggu
hepar, ren ataupun darah.
QUINACRINE
Suatu derivat acridine yang dulu digunakan sebagai obat
anti malaria. Dalam 1939 obat ini untuk pertama kali diguna-
kan untuk mengobati penyakit cacing pita.
Dasar plasmodisidnya diketahui, yaitu: menekan
sintesis
DNA (interkalasi ke dalam DNA) akan tetapi dasar taeniasid-
nya kurang diketahui dengan pasti.
Untuk pengobatannya diperlukan catharsis dengan Sulfas
magnesicus lebih dulu diikuti oleh puasa semalam sebelumnya
dan 1 - 2 jam sesudahnya. Pengobatannya dilakukan dengan
4 x 200 mg dengan antara 10 menit dengan mengikutsertakan
pada tiap 20 mg quinacrine: 600 mg bicarbonas natricus
supaya tak muntah.
Karena merupakan enzyme inhibitor terhadap primaquine,
maka quinacrine tak boleh diberikan bersama-sama dengan
primaquine. Quinacrine dapat memperberat penyakit psoriasis.
PAROMOMYCIN
Obat ini termasuk golongan aminoglycosides. Dasar meka-
nisme kerjanya: Penekanan sintesis protein melalui penekanan
reaksi-reaksi dari mRNA translation.
MEBENDAZOLE
Ada pemberitahuan singkat bahwa obat ini juga dapat di-
gunakan untuk pengobatan taeniasis.
TRYPANOSOMIASIS
SURAMIN
Obat ini berefek trypanosidal yang belum diketahui dengan
pasti mekanisme kerjanya. Karena obat ini dapat menekan
banyak sistem-sistem enzim dan dapat membentuk komplex-
komplex erat dengan protein, maka dasar inilah yang diper-
kirakan memberikan efek trypanosidal. Bukti tentang ini
belum ada. Akan tetapi Williamson dan Macadam (1965)
telah melihat kerusakan-kerusakan atau hilangnya struktur-
struktur membran intraseluler kecuali lysosomes.
Disamping trypanosidal, suramin juga aktif terhadap se-
macam filaria, yaitu
Onchocerca volvulus
Suramin digunakan terhadap filaria dewasa dan mikrofilaria
sesudah diethylcarbamazine yang lebih aman dan dapat di-
percaya efeknya. Suramin boleh dikatakan tidak mengalami
penguraian metabolik dan ikatannya pada protein menyebab-
kan suramin dapat bertahan lama di dalam badan karena
dilepaskan lambat. Di dalam organ-organ, terutama hepar dan
ren, suramin dapat bertahan lama, sampai 3 bulan. Oleh
karena itu suramin dapat digunakan sebagai profilaksis kausal
terhadap trypanosomiasis.
Pemberian obat ini dilakukan secara intravena lambat
dalam larutan 10% di dalam air. Dosis normal: 1 gram sekali
sehari. Untuk menjaga jangan sampai terjadi efek samping yang
tidak dikehendaki biasanya diberikan dulu dosis initialis yang
rendah, yaitu 200 mg. Kalau tidak terjadi apa-apa, maka dosis
1 gram diberikan pada hari-hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-14 dan ke-
21, kemudian diikuti oleh pemberian 1 x seminggu selama
5 minggu. Penderita yang lemah harus
diobati dengan hati-
hati pada minggu pertama.
Pengulangan kuur hanya boleh dilakukan setelah 3 bulan.
Sebagai profilaksis kausal diberikan 1 gram suramin sebagai
dosis tunggal dan ini dapat melindungi badan selama 3 bulan.
Cara pemberian pengobatan terhadap onchocerciasis dilakukan
juga sesuai dengan pada trypanosomiasis, hanya bedanya:
tidak diberikan tiap hari akan tetapi: 1 x seminggu selama
4 - 6 minggu.
KEPUSTAKAAN
1.Bintari et al. Treatment trial, minimum effective dose of Comban-
trin in ascariasis.
2.Djauhar Ismail., Utomo, Sugeng Yuwono, Noerhayati S. The use of
anthelmintics in the treatment of ascariasis. Paediat Indonesia
1976; 16 : 391 395.
3.Fierlafijn E. Mebendazole in enterobiasis. Jama. 1971; 2i8 : 1051.
4.Goodman LS, Gilman A. The pharmacological basis of therapeutics, 5
th ed New York: Macmillan Publishing Co. Inc, 1975; 1018 -- 1042.
5. Hsieh HC, Chen ER. Evaluation of anthelminthic activity of pyran-
tel pamoate (Combantrin) against ascaris and hookworm disease.
J Microb 1970; 3 : 126 -- 130.
6.Hsieh HC, Chen ER. Treatment of ascaris lumbricoides with a
small dose of pyrantel pamoate (Combantrin). South East Asian
J Trop Med Pub Hlth 1971; 2 : 362 364.
7.Juwono R, Tantular K. Pengalaman klinis dengan Mebendazole,
Anthelmintic baru dengan spektrum luas. Naskah lengkap Kongres
Persatuan Ahli Penyakit Dalam ke II, September 1973.
8. Kobayashi A et al. Anthelminthic effect of pyrantel pamoate
(Combantrin) againsl ascariasis. Japan J Parasit 1970; 19 : 296 --
300.
9.Partono F, Purnomo, Harun Mahfudin, Sutopo Widjaja. Usaha
untuk mencegah cacing usus dengan kombinasi mebendazole dan
pyrantel pamoate (laporan sementara). KPPIK KI FKUI 1979;
672 679.
10.Wagner ED, Chavarria AP. In vivo effects of a new anthelmintic
mebendazole ( R--17, 635 ) on the eggs of Trichuris trichiura and
hookworm. Am J trop Med Hyg 1974; 23 : 151 153.
Kerja Sama antara Perguruan Tinggi dan
Departemen Kesehatan dalam Program
Pelayanan Kesehatan Khususnya Penyakit
Parasit
Noerhayati Soeripto , FA Soedjadi , Sutarti , Soepargio-
no , lsdiarto Hidayat , Hasan Sulaiman
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Tengah,
Dinas Kesehatan Kota
Madya Semarang.
Pembangunan bidang kesehatan di antaranya berupa pe-
ningkatan kesehatan masyarakat, dengan usaha meningkatkan
mutu dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dengan
Simnosium Masalah Penvakit Parasit
120
sasaran utama ditujukan kepada rakyat di desa dan penduduk
berpenghasilan rendah. Seperti diketahui, bahwa penduduk
yang tergolong dalam tingkat sosial ekonomis rendah dan
hidup di pedesaan, banyak yang terserang penyakit parasit.
Di antara berbagai macam penyakit parasit di Indonesia,
malaria, filariasis dan penyakit cacing usus yang ditularkan
melalui tanah (soil-transmitted helminth) merupakan masalah
penting kesehatan masyarakat.
Dalam usaha menanggulangi penyakit parasit untuk mem-
bantu program peningkatan kesehatan masyarakat tersebut,
perlu kiranya ditunjang dengan :
1. penelitian mengenai penyakit parasit, terutama yang
menjadi masalah kesehatan masyarakat, dan yang se-
lekasnya dapat dimanfaatkan (quick yielding research)
2. monitoring masalah penyakit parasit
3. pemberantasan penyakit parasit
Sebagai landasan dari pada usaha tersebut, diperlukan
data epidemiologis dengan diagnosis yang tepat. Karena di-
agnosis suatu penyakit parasit yang tepat di dalam masyarakat,
dapat memberikan gambaran keadaan endemisitas penyakit
tersebut, dan dapat digunakan sebagai patokan dalam me-
nentukan tindak lanjut seperti pengobatan dan evaluasi.
Namun dalam pelaksanaannya, hal ini sering terbentur
kepada terbatasnya sarana dan tenaga ahli yang trampil yang
diperlukan.
Sebagai contoh disajikan hasil pemeriksaan filariasis dengan
berbagai cara pemeriksaan oleh Bagian Parasitologi Fakultas
Kedokteran UGM. dan Dinas Kesehatan Propinsi Dati I Jawa
Tengah dan Dati II Semarang.
BAHAN DAN CARA KERJA.
Ada 4 macam cara pemeriksaan diagnostik yang dipakai
ialah :
1. Sediaan darah tepi ("finger-prick blood specimen").
Darah dari ujung jari, pada malam hari antara jam 20.00 -
22.00, diambil dengan mikropipet sebanyak 30 mm
3
,
dibuat sediaan tebal pada gelas obyek berbentuk oval/
bulatan dengan diameter ± 2 cm. Setelah dikeringkan,
dihemolisa kemudian dicat dengan Giemsa yang dilarutkan
dengan larutan "phosphatic buffer".
2. Cara konsentrasi dengan membran filter.
Waktu pengambilan darah di lapangan antara jam 20.00 -
22.00 malam hari. Sebanyak 2 ml darah vena diambil
dengan tabung suntik 10 cc, kemudian dimasukkan ke-
dalam tabung ("vacutainer") yang telah berisi 0,5 ml
larutan natrium sitrat 38%.
Di laboratorium, membran filter nuclepore dengan diame-
ter lubang saringan 3 µm dipasang di dalam alat yang di-
sebut "Swinney filter holder".
Dengan menggunakan tabung suntik 10 cc dipasang alat
pemegang filter tersebut, darah yang sudah tercampur
dengan natrium sitrat disemprotkan melewati membran
filter. Sesudah itu dibersihkan dengan aquadestilata sampai
bersih, kurang lebih sebanyak 3 kali. Sesudah jernih mem-
bran filter diangkat dengan pinset dan ditempelkan pada
gelas preparat, kemudian dilakukan pengecatan dengan
Giemsa (1,2).
3. Test provokatif dengan diethylcarbamazine (DEC) pada
siang hari.
Pada keadaan di mana pengambilan darah penduduk pada
malam hari tidak dapat dilaksanakan, pemeriksaan cara ini
dapat dilakukan pada siang hari.
Kepada penderita diberikan tablet diethylcarbamazine
5 mg/kg berat badan. Kira-kira 15 menit sesudah pemberian
obat, diambil darah tepi dari ujung jari dengan mikropipet
sebanyak 30 mm
3
.
4. Test provokatif dengan diethylcarbamazine (DEC) pada
malam hari.
Adapun cara pemeriksaan sama dengan test provokatif
pada siang hari.
Daerah penelitian.
Penelitian mengenai filariasis telah dilakukan di Semarang,
propinsi Jawa Tengah, di mana spesies filaria yang ditemukan
adalah Wuchereria bancrofti.
A. Di daerah Sendang Guwo, sejumlah 128 orang penduduk
yang berumur antara 11 tahun - 90 tahun diperiksa darah-
nya dengan 2 cara bersama-sama.
1. Sediaan darah tepi sebanyak 30 mm
3
pada malam hari
2. Sediaan darah vena sebanyak 2 ml dengan menggunakan
nuclepore filter 3 µm pada malam hari.
B. Di daerah Ngemplak Simongan dan Sendang Guwo.
Sebanyak 58 orang berumur antara 6 tahun - 50 tahun
dilakukan pemeriksaan darah dengan 2 cara :
1. sediaan darah tepi sebanyak 30 mm
3
pada malam hari
2. sediaan darah tepi sebanyak 30 mm
3
dengan DEC pro-
vokasi test pada siang hari. Pemeriksaan ini dilakukan
pada saat 1 bulan sesudah pemeriksaan pertama.
C. Di daerah Sendang Guwo dan Petompon.
Pada 77 orang berumur antara 3 tahun - 99 tahun dilakukan
pemeriksaan darah dengan 2 cara :
1. sediaan darah tepi sebanyak 30 mm
3
pada malam hari
2. sediaan darah tepi sebanyak 30 mm
3
dengan DEC pro-
vokasi test pada malam hari, yang dilakukan pada
minggu
berikutnya
sesudah
pemeriksaan
pertama.
HASIL PEMERIKSAAN.
A. Di daerah Sendang Guwo.
Prevalensi mikrofilaria ("microfilarial rate") ditemukan 7,0%
dengan sediaan darah tepi 30 mm
3
pada malam hari. Rata-rata
jumlah mikrofilaria per penderita adalah 9. Sedangkan bila
menggunakan cara konsentrasi dengan 2 ml darah vena dengan
nuclepore filter 3 um pada malam yang sama, prevalensi di-
peroleh sebesar 8,6%, dengan rata-rata jumlah mikrofilaria
per penderita 641 (Tabel 1).
Jumlah mikrofilaria .yang ditemukan pada penderita masing-
masing dengan kedua cara tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
B. Di daerah Ngemplak Simongan dan Sendang Guwo.
Diantara 64 orang yang diperiksa darahnya, 12 orang (19,0%)
positif dengan cara langsung. Sediaan darah tepi 30 mm
3
pada malam hari. Rata-rata jumlah mikrofilaria per penderita
15 ekor. Sedangkan pada bulan berikutnya, dengan cara sedia-
an darah tepi 30 mm
3
dengan DEC provokasi test pada siang
hari, hanya ditemukan 9 orang positif mikrofilaria (14,3%)
dan rata-rata jumlah mikrofilaria per penderita hanya 5 ekor
(Tabel 3).
121
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Tabel 1:"Microfilarial rate" dengan pemeriksaan 30 mm
3
darah
tepi dan 2 ml darah vena pada malam hari di Semarang,
Jawa Tengah.
Cara peme-
riksaan
Jumlah
diperiksa
Microfilaria
Rata-rata
W. bancrofi
Jumlah
jumlah MF
Jumlah Pos
%
MF
per pende-
pos.
rita
30 mm
3
darah tepi
128
9
7,0
83
9
malam hari
2 ml darah
vena 3 µm
128
11
8,6
7.049
641
filter
malam hari
Tabel 2
Jumlah mikrofilaria W. bancrofti dalam 30 mm
3
darah
tepi dan 2 ml darah vena pada malam hari, dari 11 pen-
derita di Semarang, Jawa Tengah.
Nomer penderita
Jumlah mikrofilazia
pos. mikrofilaria
30 mm
3
darah tepi
malam hazi
2 ml darah vena
malam hari
1.
0
414
2.
1
123
3.
0
58
4.
1
758
5.
2
1.685
6.
11
414
7.
18
704
8.
29
1.909
9.
1
184
10.
5
774
11.
15
26
Jumlah penderita
9
11
pos. mikrofilaria.
Tabel 3:"Microfilarial Rate" dengan pemeriksaan 30 mm
3
darah
tepi malam hari dan 30 mm darah tepi DEC provokasi
test siang hari, di Semarang, Jawa Tengah.
Cara peme-
Jumlah
Mikrofilaria
Jumlah
Rata-rata
riksaan.
diperiksa
W. bancrofti
MF
jumlah MF
Jumlah
pos.
%
pos.
per pend.
30 mm
3
dazah tepi
malam hari
64
12
19,0
177
15
30 mm
3
darah tepi
DEC provo-
kasi test,
siang hari.
64
9
14,3
48
5
Jumlah mikrofilaria pada masing-masing penderita, dapat dilihat
pada Tabel 4. Pada 1 orang ditemukan 1 mikrofilaria pada
sediaan darah tepi malam hari, tetapi 5 mikrofilaria pada
sediaan darah tepi dengan DEC provokasi test pada siang hari.
C. Di daerah Sendang Guwo dan Petompon.
Di antara 77 orang yang diperiksa, ditemukan 6 orang positit
mikrofilaria (7,8%) baik dengan cara sediaan darah tepi 30
mm
3
pada malam hari, maupun dengan sediaan darah tepi
30 mm
3
dengan DEC provokasi test pada malam hari, pada
saat seminggu kemudian. Rata-rata jumlah mikrofilaria ditemu-
kan sebesar 12 dan 1 pada masing-masing cara pemeriksaan
tersebut (Tabel 5).
Ternyata bahwa 2 orang di antara mereka yang negatif mikro-
filaria dengan pemeriksaan dengan sediaan darah tepi malam
hari, menjadi positif pada pemeriksaan dengan sediaan darah
tepi dengan DEC provokasi test pada malam hari.
Tabel 4 : Jumlah mikrofilaria W. bancrofti dalam 30 mm
3
darah
tepi malam hari dan 30 mm
3
dazah tepi DEC provokasi
test siang hari, dari 12 penderita di Semarang, Jawa
Tengah.
Jumlah mikrofilaria
Nomer penderita
pos. mikrofilaria
30 mm
3
darah tepi,
30 mm
3
darah tepi
malam hari
DEC provokasi test
siang hari.
1.
4
2
2.
4
1
3.
56
16
4.
1
1
5.
3
1
6.
8
1
7.
42
2
8.
1
5
9.
5
0
10.
33
19
11.
3
0
12.
17
0
Jumlah penderita
pos. microfilaria.
12
9
Tabel 5:"Microfilarial Rate" dengan pemeriksaan darah 30 mm
3
darah tepi malam hari dan 30 mm
3
darah tepi DEC
provokasi test malam hari, di Semarang, Jawa Tengah.
Cara peme- Jumlah
Mikrofilaria
Jumlah
Rata-rata
riksaan.
diperiksa
W. bancrofti
MF
jumlah MF
Jumlah
pos.
%
pos.
per pend.
30 mm
3
darah tepi
malam hari
77
6
7,8
70
12
30 mm
3
darah tepi
DEC provokasi
test siang hari
77
6
7,8
8
1
Simposium Masalah Penyakit Parasit
122
Sebaliknya, ditemukan 2 orang di antara mereka yang positif
dengan sediaan darah tepi pada malam hari, justru menjadi
negatif bila menggunakan DEC provokasi test pada malam hari.
Terbukti bahwa jumlah mikrofilaria yang ditemukan pada
masing-masing penderita, pada umumnya lebih sedikit pada
pemeriksaan dengan DEC provokasi test malam hari jika di-
banding dengan pada pemeriksaan sediaan darah tepi pada
malam hari
(Tabel 6).
Tabel 6
Jumlah mikrofilaria W. bancrofti dalam 30 mm
3
darah
tepi malam hari dan 30 mm
3
darah tepi DEC provokasi
test malam hari di Semarang, Jawa Tengah.
Jumlah mikrofilaria
Nomer penderita
pos. mikrofilaria
30 mm
3
darah tepi
malam hari
30 mm
3
darah tepi
DEC provokasi
test malam hari.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
7
0
1
12
10
26
14
0
0
1
1
1
2
1
0
2
Jumlah penderita
pos. mikrofilaria.
6
6
DISKUSI
Pada penelitian di beberapa daerah di Semarang, dengan
pelbagai cara pemeriksaan darah diperoleh prevalensi mikro-
filaria ("Microfilarial Rate") W. bancrofti yang berbeda-beda.
Dengan sediaan darah tepi 30 mm
3
pada malam hari,
di daerah Sendang Guwo ditemukan prevalensi sebesar 7,09%;
dan dengan sediaan darah vena 2 ml, dengan nuclepore 3
µ
m
sebesar 8,6%. Rata-rata jumlah mikrofilaria ada 9 per 30 mm
3
darah per penderita, dan 641 per 2 ml darah per penderita.
Tetapi jumlah mikrofilaria pada masing-masing penderita
dengan sediaan darah tepi dan sediaan darah vena tersebut
tidak ada korelasi (r = 0,462; P> 0,05).
Terbukti disini cara konsentrasi dengan nuclepore filter lebih
sensitif jika dibanding dengan cara langsung dengan sediaan
darah tepi. Dennis et al (3) menemukan prevalensi mikrofilaria
sebesar 51% dengan pemeriksaan darah vena 1 ml dengan
filter 3 um pore; dan sebesar 29% bilamana dengan 20 mm
3
sediaan darah tepi.
Pemeriksaan darah dengan menggunakan diethylcarbama-
zine provokasi test pada siang hari kurang sensitif jika di-
banding dengan sediaan darah tepi malam hari.
Dengan DEC provokasi test siang hari diperoleh prevalensi
sebesar 14,3% dengan rata-rata jumlah mikrofilaria 5 per
30 mm
3
darah per penderita. Sedangkan dengan sediaan darah
tepi malam hari secara langsung, ditemukan prevalensi 19,0%
dengan rata-rata jumlah mikrofilaria 15 per 30 mm
3
darah per
penderita. Di sini terbukti pula bahwa jumlah mikrofilaria
yang didapatkan pada masing-masing penderita dengan kedua
cara tersebut tidak ada korelasi (r = 0,70 ; P> 0,05). Namun
demikian tampak di sini bahwa mikrofilaria W. bancrofti di
daerah cukup responsif terhadap obat diethylcarbamazine,
maka jika, sekiranya pemeriksaan darah pada malam hari
sulit/tidak dapat dilakukan, pemeriksaan pada siang hari
dengan DEC provokasi test dapat memberikan hasil yang
cukup baik.
Willer Offesen (4) dalam penelitiannya di daerah pulau-
pulau Pasific, di mana
W. bancrofti bersifat sub periodik.
Dengan sediaan darah tepi malam hari rata-rata jumlah mikro-
filaria per penderita 945, tetapi dengan DEC test provokasi
pada siang hari, jumlah tersebut berkurang sampai hanya
75 (8%).
Pemeriksaan sediaan darah tepi dengan DEC test provokasi
pada malam hari memberikan hasil yang tidak memuaskan.
Prevalensi mikrofilaria yang ditemukan sama besar dengan
bilamana menggunakan sediaan darah tepi, secara langsung
pada malam hari, ialah sebesar 7,8%. Jumlah rata-rata mikro-
filaria ditemukan sebesar 12 per 30 mm
3
darah per penderita
pada pemeriksaan sediaan darah 30 mm
3
malam hari, dan
hanya 1 per 30 mm
3
darah per penderita, bilamana dilakukan
provokasi dengan DEC.
Jumlah mikrofilaria pada masing-masing penderita dengan
kedua cara terbukti tidak ada korelasi (r
- 0,234; P> 0,05).
Terbukti bahwa pemeriksaan darah pada malam hari tanpa
memakai provokasi dengan DEC memberikan hasil yang lebih
baik.
Mengenai jumlah microfilaria dengan berbagai cara pe-
meriksaan darah tersebut sangat variabel. Hal ini sesuai dengan
pendapat Manabu Sasa (5) yang mengatakan bahwa distribusi
dari kepadatan dan jumlah microfilaria memang tidak selalu
sama.
Dari hasil-hasil pengamatan microfilaria W. bancrofti di
Semarang dengan berbagai cara pemeriksaan darah ialah :
1. sediaan darah tepi 30 mm
3
malam hari.
2. sediaan darah vena 2 ml, dengan nuclepore filter 3 µm
malam hari.
3. sediaan darah tepi 30 mm
3
, dengan DEC provokasi test
siang hari.
4. Sediaan darah tepi 30 mm
3
, dengan DEC provokasi test
malam hari.
memberikan prevalensi mikrofilaria (MF rate) yang berbeda-
beda.
Demikian pula kepadatan mikrofilaria (MF density) pada
masing-masing penderita dengan berbagai cara pemeriksaan
tidak sama.
Selain filariasis, dalam penanggulangan penyakit parasit
dalam
masyarakat diperlukan pemeriksaan yang cermat
dengan tenaga ahli yang cakap serta sarana laboratorium yang
memadai. Oleh sebab itu, kerja sama yang baik antara Per-
guruan Tinggi, khususnya Fakultas Kedokteran Bagian Parasi-
tologi sebagai sumber tenaga ahli di mana tersedia fasilitas
laboratorium, dan Departemen Kesehatan sebagai pelaksana
penanggulangan penyakit parasit dalam masyarakat sangat
perlu ditingkatkan.
123
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
KESIMPULAN
Dalam usaha meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, penanggulangan penyakit parasit khususnya yang
menjadi masalah kesehatan yang penting, perlu ditingkatkan.
Agar penanggulangan penyakit parasit tersebut dapat men-
capai sasaran, perlu kiranya ditunjang dengan :
1. penelitian mengenai penyakit parasit yang segera dapat
dimanfaatkan (quick yielding research), dengan survai
epidemiologis dan diagnosis yang tepat
2. monitoring masalah penyakit parasit
3. pemberantasan penyakit parasit
Untuk mensukseskan program penanggulangan penyakit
parasit tersebut, diperlukan peningkatan :
1. tenaga yang trampil
2. sarana/fasilitas penunjang seperti alat laboratorium dan
sebagainya
Maka dari itu, kerja sama antara Perguruan Tinggi khusus-
nya Fakultas Kedokteran sebagai sumber tenaga ahli dimana
sarana laboratorium tersedia untuk kepantingan pembinaan
ilmu pengetahuan, dan Departemen Kesehatan sebagai apara-
tur Negara yang menjalankan pelayanan
kesehatan, sangat
perlu ditingkatkan.
KEPUSTAKAAN
1.W H O. WHO expert committee on Filariasis. W H O Tech Rep Ser
No. 542, 1974.
2. Ramachandran CP. A Guide to methods and techniques in
filariasis
investigators. Bulletin No. 15, Institute of Medical Research Kuala
Lumpur, 1970.
3.Dennis DT, Connel EM, White GB. Bancroftian filariasis and mem-
brane filters : are might surveys necessary ? Amer J Trop Med Hyg
1976; 25 : 257 - 262.
4.Weeler PF, Ottesen EA. Failure of diethyl carbamazine provocative
test in subperiodic Wuchereria bancrofti filariasis. Trans R Soc Trop
Med Hyg 1978; 71 : 31 - 32.
5.Manabu Sasa. Methods for estimating the efficiency of detection of
microfilariae in various volume of blood samples. Southeast Asian J
Trop Med Pub Hlth 1974; 5 : 197 - 210.
VIII. KESIMPULAN REKOMENDASI
KESIMPULAN
Simposium Masalah Penyakit Parasit Dalam
Program Pelayanan Kesehatan
1. Masalah penyakit parasit terutama :
1) malaria
2) filariasis
3) schistosomiasis
4) cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil
transmitted helminth)
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
Indonesia, terutama bagi rakyat pedesaan dan rakyat yang
berpenghasilan rendah di desa maupun di kota.
2. Perhatian Pemerintah cukup besar dalam menangani masa-
lah ini. Anggaran yang disediakan untuk pemberantasan
penyakit-penyakit parasit tersebut di atas untuk tahun
anggaran 1980/1981 mencapai 53% dari anggaran pem-
bangunan untuk seluruh pemberantasan penyakit menular
yang jumlahnya adalah Rp. 16,5 milyard. Mengingat luas
dan besarnya masalah yang harus dihadapi, anggaran
tersebut perlu ditingkatkan secara bertahap.
3. Mengingat adanya kaitan yang sangat erat antara masalah
penyakit parasit dengan berbagai masalah lainnya seperti
misalnya masalah gizi, lingkungan fisik dan biologis serta
tingkat sosial ekonomis dari rakyat, maka penanggulangan
penyakit parasit hendaknya merupakan salah satu kompo-
nen dalam Pembangunan Nasional bidang kesehatan.
4. Penanggulangan penyakit parasit tidak hanya menjadi
tanggung jawab Pemerintah saja, tetapi juga seluruh masya-
rakat di Indonesia. Berhasilnya penanggulangan penyakit
parasit ini tidak tergantung dari pemberantasan parasitnya
melulu, tetapi juga tergantung seberapa jauh sektor-sektor
lainnya dalam kegiatan di sektor masing-masing dapat
memberikan dampak yang positif bagi berkurangnya
penyakit parasit, dan seberapa jauh masyarakat dapat
diikutsertakan secara
aktif
dalam
pemberantasannya.
5. Agar sasaran penanggulangan masalah penyakit parasit
dapat dicapai, maka perlu kiranya ditunjang dengan ada-
nya:
1) penelitian, terutama yang dapat segera digunakan
untuk
memecahkan
persoalan
penyakit
parasit
(quick yielding research).
2) monitoring masalah penyakit parasit
3) pemberantasan penyakit parasit yang menjadi masa-
lah penting dalam kesehatan masyarakat.
4) perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan fisik
dan biologis yang menunjang pemberantasan.
5) Peningkatan pendidikan kesehatan khususnya penge-
tahuan penyakit parasit baik secara kurikuler mau-
pun secara program kesehatan sekolah.
6. Hambatan yang dijumpai dalam usaha penanggulangan
masalah penyakit parasit di Indonesia antara lain disebab-
kan oleh kurangnya :
1) tenaga yang trampil
2) tehnologi pemberantasan yang efektif dan efisien
3) sarana/fasilitas penunjang (laboratorium dan sebagai-
nya)
4) pengertian dan kesadaran masyarakat
Simposium Masalah Penyakit Parasit
124