Patogenesisnya melibatkan kompleks rangkaian refleks yang
bermula dari stimulasi reseptor iritan, yang sebagian besar
terdapat di sistim pernafasan.
Penatalaksanaan sinusitis kronis menggunakan dekongestan
oral & topikal, steroid topikal/sistemik serta antibiotik. Tindakan
operatif dapat dilakukan bila perlu. Terhadap batuk kronis, perlu
dievaluasi riwayat penyakit dan obat untuk mencari penyebab;
secara empirik menghindari zat iritan seperti rokok. Identifikasi
kelainan paru dengan X-ray serta spirometri. Penggunaan
antitusif kodein, noskapin serta dekstrometorfan untuk menekan
batuk kurang bermanfaat, kecuali jika batuk sangat meng-
ganggu; kelemahannya dapat meretensi sputum. Ekspektoran
seperti ambroxol, gliseril guaiakolat digunakan untuk mening-
katkan volume sputum; sedangkan mukolitik seperti N-acetyl
cystein dan bromhexin untuk mengurangi viskositas sputum.
Rinosinobronkitis pada anak
Dr. Finny Fitry Yani SpA
United Airway Disease (UAD) menunjukkan keterkaitan
inflamasi saluran respiratori atas yang meliputi hidung, sinus,
laring dan trakea dengan saluran respiratori bawah yaitu bronkus.
Sinonim UAD mencakup rinosinusitis, kombinasi rinitis alergi dan
asma atau rinosinobronkitis akibat proses alergi. UAD dikemuka-
kan berdasarkan peningkatan bukti sistemik keterkaitan saluran
respiratori atas dan bawah. Dampak negatif rinosinobronkitis
akut pada anak berupa gang- guan emosi, aktivitas, ketidakhadi-
ran di sekolah serta kompli- kasi serius seperti selulitis orbita.
Penelitian selama 23 tahun menunjukkan pada anak rinitis
alergi terdapat hiperresponsivitas bronkus dengan risiko 3 x
lebih besar untuk berkembang menjadi asma. Rinosinusitis
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis dan radiologik, terdapat
pada 30-50% anak dengan asma.
Beberapa faktor risiko rinosinobronkitis :
· Riwayat atopi keluarga
· Serum IgE > 1000 IU / ml pada usia di bawah 6 tahun.
· Pajanan terhadap indoor allergens
· Uji kulit positif
· Ibu perokok
· Susu formula atau makanan padat dini.
Pada anak biasanya ditandai dengan keluhan nyeri wajah, hidung
tersumbat, ingus purulen, post nasal drip (batuk berdehem)
serta demam.
Manajemen berupa pemberian antihistamin oral generasi ke
dua yang lebih efektif daripada generasi pertama. Dapat diberi
Cetirizine 1 kali perhari dengan dosis 0,25 mg/kgbb/hari. Selain
itu dekongestan intranasal lebih efektif dibandingkan oral.
Mukolitik dapat diberikan terutama pada rinitis dengan sekret
kental dan gejala batuk produktif atau bersamaan dengan
serangan asma. Penggunaan kortikosteroid dianjurkan secara
intranasal.
Pemakaian Fexofed® pada Rinitis Alergi
dr. Irwan Widjaja M.Biomed
Fexofed® merupakan kombinasi antihistamin generasi ke tiga
dengan dekongestan; berbentuk kaplet bilayer mengandung
Fexofenadine HCl 60 mg immediate-release dan Pseudoephedrine
HCl 120 mg extended-release.
Fexofenadine HCl merupakan metabolit terfenadine yang relatif
tidak kardiotoksik / memperpanjang QT interval dibandingkan
terfenadine apabila diberikan bersamaan dengan eritromisin,
ketokonazol. Pseudoephedrin HCl merupakan simpatomimetik
aktif, berfungsi dekongestan dan efektif meredakan sumbatan
hidung akibat rinitis. Bioavailabilitas fexofenadine dan pseudo-
ephedrine tablet lepas lambat sama dengan pemberian
terpisah masing-masing komponen.
Fexofed
®
efektif meredakan gejala rinitis terutama untuk
mengatasi hidung tersumbat, dengan efek samping minimal
bila digunakan pada dosis tepat. Berdasarkan beberapa studi
klinis, Fexofenadine efektif meredakan reaksi alergi dan dapat
digunakan untuk jangka waktu relatif panjang.
(IWA)
P
ertemuan ini merupakan pertemuan duatahunan Perhimpunan
Dokter Spesialis Saraf Indonesia, yang kali ini dilangsungkan di
hotel JW Marriott, Medan pada 24-26 Juli 2009. Pertemuan ini
didahului oleh sejumlah workshop mengenai neurointervensi,
advanced neurological life support (ANLS), epilepsi dan neuro-
sonologi pada 22-23 Juli 2009 di tempat yang sama.
Pada sidang plenary lecture di awal acara, Prof.dr.Jusuf Misbach
SpS(K), FAAN kembali menguraikan langkah penanganan stroke
pada fase akut yang tetap mengandalkan diagnosis sedini
mungkin dan menentukan indikasi/kontraindikasi penggunaan
rtPA yang diakui efektif jika diberikan pada 3-6 jam pertama;
selang waktu yang relatif singkat ini masih merupakan kendala
utama, terutama di Indonesia.
Masalah stroke masih tetap merupakan topik bahasan penting,
baik jenis iskemik, perdarahan maupun perdarahan subarakh-
noid ; belasan pakar mengupasnya dari berbagai aspek, baik
dari segi faktor risiko hipertensi, diabetes melitus, lipid, maupun
dari segi neuroimunologi.
Topik lain yang mendapat perhatian ialah masalah afasia
suatu gangguan fungsi luhur yang mengganggu kualitas hidup
penderitanya. Topik ini dibahas dalam lokakarya khusus mengenai
teknik diagnostik, screening dan prinsip penatalaksanaannya
oleh Prof. dr. Sidiarto Kusumoputro SpS(K) dan dr. Lily Sidiarto
SpS(K) - para pakar senior di bidang fungsi luhur, ditambah
dengan simposium neurobehavior yang mengetengahkan aspek
klinis dan tes neuropsikologi pada demensia.
Pemeriksaan neurobehavior yang lengkap terdiri dari pemeriksaan
atas atensi, memori, bahasa, kemampuan visuospasial, fungsi
eksekutif ditambah dengan pemeriksaan fungsi non kognitif
meliputi gejala neuropsikiatri seperti depresi dan cemas. Masih
terkait dengan masalah ini, Prof. Sidiarto memberikan kuliah
menarik tentang brain plasticity kemampuan otak untuk meng-
adaptasi perubahan melalui pembentukan jaras/ sirkuit baru.
Faktor genetik epilepsi merupakan masalah pelik yang dibahas
oleh dr. Endang Kustiowati SpS(K) ; beberapa studi anak kembar
menunjukkan rasio epilepsi sebesar 50-60% pada kembar
monozigot dan 15% pada kembar dizigot; rasio ini lebih tinggi
untuk jenis epilepsi umum (65-82% pada kembar monozigot
dan 12-27% pada kembar dizigot) dibandingkan dengan
epilepsi parsial (9-36% pada kembar monozigot dan 5-10%
pada kembar dizigot). Juga, sampai 94% kembar monozigot
dan sampai 71% kembar dizigot mengalami sindrom epilepsi
yang sama. Peranan gen hanya merupakan salah satu faktor
saja, mengingat epilepsi merupakan gejala klinis yang penye-
babnya multifaktorial, termasuk trauma dan penyakit susunan
saraf pusat lain. Juga dibahas tentang pentingnya tindakan
agresif pada status epileptikus dan beberapa masalah lain
epilepsi anak, autisme dan sindrom Rett.
Penyakit Parkinson juga mendapat perhatian; diawali dengan
tinjauan neuroanatomi neruotransmiter oleh Prof.Dr.dr. Aboe
Amar Joesoef SpS(K), strategi pengobatan dan perkembangan
mutakhir, termasuk penggunaan obat: levodopa, pramipexole
dan kombinasi entacapone/levodopa untuk mengurangi efek
The 7
th
Biennial Meeting PERDOSSI
Medan, 24 - 26 Juli 2009
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
459
L A P O R A N K H U S U S
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
460
L A P O R A N K H U S U S
samping pada penggunaan obat tunggal. Pada session terpisah,
juga dibicarakan mengenai kemungkinan terapi stemcell untuk
penyakit ini.
Bahasan yang juga menarik ialah mengenai rasa gatal
dikatakan bahwa mekansime rasa gatal mempunyai banyak
persamaan dengan rasa nyeri, yaitu mempunyai pola sensitisasi
sentral dan perifer; dalam keadaan normal keduaya berinter-
aksi antagonis; tetapi pada keadaan patologis telah terjadi
sensitisasi perifer maupun sentral, dan kedua sensasi tersebut
saling berinteraksi; dalam hal ini obat-obat seperti gabapentin
dan klonidin yang bekerja sentral dapat digunakan baik untuk
mengatasi rasa nyeri maupun gatal kronik.
Masalah nyeri, nyeri kepala, gangguan tidur dan vertigo masing-
masing dibahas dalam session khusus. Juga mengenai sklerosis
multipel, penyakit yang semula dianggap jarang dijumpai di Asia,
khususnya di Indonesia.
Pada diskusi panel mengenai kematian berlangsung tukar
pendapat menarik mengenai aspek medis dan hukumnya; di
sini ditekankan peranan penting para spesialis saraf dalam hal
penentuan kematian seseorang. Pedoman resminya dalam
waktu singkat akan dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan
agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam hal kriteria dan siapa
yang berkompeten.
Pertemuan ini juga dilengkapi dengan presentasi makalah
bebas dan presentasi poster sebagai ajang para peneliti muda
untuk menampilkan hasil penelitiannya, sekaligus berkompetisi
untuk menjadi yang terbaik.
(BRW)
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
461
L A P O R A N K H U S U S