Pelayanan Sosiomedik
Rumah Sakit PGI Cikini,
Jakarta
Dra Woro Setyanti, Agustina Makatika BSW, Dr Tunggul Situmorang DSPD, Emmy Sahertian, STh
Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta
PENDAHULUAN
"Sakit" bukan hanya masalah dunia medis semata-mata,
tetapi lebih luas dari itu adalah teraneamnya keutuhan hidup
seseorang. Dengan demikian, kepedulian terhadap mereka yang
sakit seharusnya perlu dilihat secara utuh dan menyeluruh pula.
Menyadari akan hal itu, maka RS PGI Cikini mulai mengem-
bangkan pola pelayanan terpadu yang disebut "Pola Pelayanan
Holistik". Pelayanan ini dilakukan oleh sebuah tim, yang terdiri
dari berbagai profesi. Kepelbagaian profesi di dalam tim ini
dimaksudkan untuk dapat menjangkau dan membantu mengatasi
masalah-masalah non-medis, yang kurang/belum dapat diatasi
oleh dokter maupun perawat di rumah sakit. Mereka tergabung
dalam suatu wadah yang dikenal sebagai Komisi Sosio Medik.
Pelayanan holistik oleh tim sosio medik ini sedang bertumbuh
dan terus diusahakan agar dapat makin berkembang, sehingga
kelak bisa menghasilkan suatu pola pelayanan yang baku.
Makalah ini ditulis dengan maksud untuk membagi penga-
laman dan memberikan sumbangan pikiran bagi peningkatan
pelayanan rumah sakit terhadap manusia. Diharapkan apa yang
dikemukakan dapat menjadi bahan masukan bagi rumah sakit
yang lain, agar kelak pelayanan seperti ini dapat pula dijalankan
dan dikembangkan. Di pihak lain, diharapkan melalui penyajian
makalah ini bisa diperoleh saran dan sumbangan pikiran yang
baru, yang bisa digunakan untuk lebih meningkatnya pelayaan-
an Sosio Medik di RS PGI Cikini.
PELAYANAN HOLISTIK SEBAGAI SALAH SATU CIRI
RS PGI CIKINI
Pengertian pelayanan holistik
Ide dasar suatu pelayanan holistik adalah bahwa dalam diri
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta.
21 - 25 November 1993.
manuais terdapat beberapa unsur/dimensi kehidupan yang tak
terpisahkan. Unsur/dimensi tersebut adalah : fisik, mental, sosial
dan spiritual, yang masing-masing saling mempengaruhi dan
saling bergantung (interdependensi). Apabila ada gangguan
pada salah satu dimensi kehidupan (misalnya : sakit)), maka
akibatnya dimensi yang lain (sosial, mental dan spiritual) juga
akan terganggu. Atau sebaliknya, jika dimensi sosial, mental
ataupun sosial terganggun, akibatnya orang tersebut akan sakit.
Keadaan yang tidak sehat (atau tidak seimbang) yang di-
alami oleh seseorang, akan mengakibatkan disfungsi. Itu berarti
orang tersebut tidak dapat menjalankan peran dan fungsinya,
baik di dalam keluarga, pekerjaan atau kehidupan berma-
syarakat. Ketidakmampuan untuk menjalankan fungsi dan peran
tersebut dapat pula mempengaruhi keadaan lingkungan. Pe-
nanganan yang hanya diarahkan pada satu dimensi saja, tidaklah
cukup. Sesuai dengan cara pandang holistik, penanganan yang
dilakukan idealnya dilakukan secara terpadu, memperhatikan
seluurh unsur. Dengan demikian,
"
kesembuhan: yang dialami
juga utuh/menyeluruh, yang akhirnya akan membuatnya bisa
berfungsi kembali dengan baik.
Sasaran pelayanan holistik bukan hanya orang yang me-
ngalami masalah saja, tetapi juga lingkungan sosialnya (baik itu
keluarga, tetangga, teman bekerja, gereja atau kelompok-
kelompok lain yang berhubungan dengan kehidupan pasien).
Lingkungan sosial harus juga diperhatikan, dan kalau perlu
dilibatkan dalam usaha pemberian bantuan. Ini semua sangat erat
kaitannya dengan proses pemenuhan kebutuhan secara utuh dan
menyeluruh.
Di rumah sakit PGI Cikini, upaya pelaksanaan pelayanan
holistik dimulai sejak pertamakalinya pasien masuk/dirawat.
Cermin Dun
ia
Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994
131
Pemantauan dilaksanakan, baik oleh perawat dan dokter di
bangsal, maupun oleh para pekerja sosial. Berdasarkan pengam-
matan maupun percakapan-percakapan yang mereka lakukan,
maka akan diketahui ada atau tidaknya masalah non fisik yang
dialami pasien. Kami percaya bahwa penanganan masalah
sejak dini, adalah cara yang terbaik untuk membantu pasien, agar
dapat mengalami kesembuhan secara utuh. Karenanya, setiap
kali ada rujukan yang tiba ke kantor Sosio Medik, secepat
mungkin diperiksa (melalui kunjungan ke bangsal dan wawan-
cara dengan pasien) dan terus menerus dipantau perkembang-
annya. Tindakan-tindakan pertolongan selanjutnya dilaksanakan
sesuai dengan kebutuhan pasien, dan penentuannya dibicarakan
bersama-sama dengan pasien.
Sudah barang tentu tidak semua pasien mengalami masalah
non fisik. Dengan demikian, tim sosio medik juga tidak mutlak
bekerja bersama-sama secara terus-menerus. Sejauh masalah
tersebut dapat diatasi oleh staf pelaksana (2 perawat dan 3 pekerja
sosial), maka profesi yang lain tidak banyak terlibat dalam
proses pemberian bantuan. Hal tersebut tergantung dari berat
atau ringannya masalah yang dialami oleh pasien; jika memang
ternyata masalah
yang
dialami tergolong berat, maka kasus itu
akan dibicarakan di dalam tim, dengan orang-orang yang memiliki
keahlian di bidang tersebut. Sedangkan jika masalah yang di-
alami masih tergolong ringan, maka bantuan akan langsung
diberikan oleh staf Komisi Sosio Medik, berdasarkan perspektif
holistik seperti di atas.
KOMISI SOSIO MEDIK RS PGI CIKINI SEBAGAI
SARANA PELAYANAN HOLISTIK
SEJARAH SINGKAT
Pelayanan Sosio Medik di RS PGI Cikini dimulai sejak
tahun 1987, dengan melibatkan orang-orang dari berbagai pro-
fesi (psikolog, pekerja sosial lulusan SMPS, rohaniwan, dokter,
perawat) serta unit-unit kerja yang terkait dengan masalah yang
harus ditangani. Pelaksana tugas-tugas harian hanya 1 orang
pekerja sosial, dan seorang psikolog yang merangkap sebagai
koordinator Tim Komisi Sosio Medik
.
Pelayanan pada saat itu dimulai dengan suatu pola pela-
yanan yang sederhana. Fokus utama pada saat itu adalah pada
masalah sosial-ekonomi, karena memang kebutuhan akan pela-
yanan dalam hal tersebut sangat tinggi. Banyak pasien yang
mengajukan permohonan agar mendapat keringanan biaya
(biasanya mereka yang keadaan ekonominya lemah, tapi harus
membayar biaya rumah sakit yang cukup tinggi). Saat itu, pe-
mantauan yang dirasakan paling baik dan efektif adalah peman-
tauan melalui nota keuangan pasien (disini dapat dilihat : siapa
belum membayar berapa). Selain itu, Sosio Medik juga bekerja
berdasarkan rujukan dari bagian keuangan yang mengalami
kesulitan dalam menghadapi pasien yang beluk juga menja-
lankan kewajibannya untuk membayar biaya pengobatan
.
Pada saat menangani masalah sosial-ekonomi pasien itulah,
lambat laun terpantau juga berbagai masalah di luar masalah
ekonomi, misalnya : masalah psikologis, pendidikan, spiritual,
relasional, tempat tinggal atau pekerjaan. Kebutuhan akan ada-
132
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994
nya pekerja sosial profesional sebagai pelaksana tugas harian
semakin dirasakan. Awal tahun 1993, Komisi Sosio Medik me-
nambah 2 tenaga pekerja sosial, yang diharapkan akan dapat
membantu melaksanakan tugas-tugas pelayanan kepada pasien.
Sampai saat ini, secara bertahap
Komisi Sosio Medik mulai
meningkatkan pelayanannya, lebih terorganisir dan terarah.
Kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar rumah sakit (baik
lembaga milik pemerintah maupun swasta) ditingkatkan, agar
bisa secepat mungkin merujuk pasien kepada lembaga yang
menyediakan pelayanan yang dibutuhkan. Sasaran pelayanan
juga secara bertahap akan dikembangkan; bukan hanya pasien,
keluarga dan masyarakat di luar RS, tetapi juga para masyarakat
hospitalia sendiri.
STRUKTUR ORGANISASI DAN FUNGSIONAL
Komisi Sosio Medik diketuai oleh seorang perawat senior,
dan wakilnya adalah juga seorang perawat senior. Tenaga pelak-
sana hariannya adalah tiga orang pekerja sosial profesional.
Komisi Sosio Medik bertanggung jawab langsung kepada Di-
rektur Medik.
Secara struktural, satuan kegiatan RS PGI Cikini dapat
dilihat sebagai berikut :
Rujukan
Konseling
Perawatan intensif
TUJUAN KOMISI SOSIO MEDIK
Pelayanan Sosio Medik di RS PGI Cikini diadakan dalam
rangka menerapkan pola pelayanan holistik kepada para pasien
yang dirawat di rumah sakit. Hal ini sesuai dengan tujuan rumah
sakit yang ingin mengembangkan 2 ciri umum, yaitu : asuhan
keperawatan dan asuhan dengan pendekatan holistik, dengan
pendekatan yang yang bersifat peningkatan (promotive), pen-
cegahan (preventive), Pengobatan (curative) dan pemulihan (re
-
habilitative).
Secara praktis, pelayanan sosio medik diadakan untuk
menolong pasien mengatasi masalah-masalah non-fisik yang
tidak dapat sepenuh nya ditangani oleh dokter maupun perawat,
yang diduga turut menentukan/mempengaruhi kesehatan pasien.
Tujuan mendasar dari pemberian pelayanan ini adalah mem-
bantu pasien (dan keluarganya) agar dapat mendapai keber-
fungsian sosial yang optimal. Sudah barang tentu pelaksanaan
pemberian bantuan tersebut berdasarkan kebutuhan pasien,
karena tanpa kesadaran, kemauan dan partisipasi aktif dari mereka
yang terlibat, maka masalah tidak akan dapat diselesaikan secara
tuntas.
FUNGSI-FUNGSI YANG DIJALANKAN
Fungsi-fungsi yang dijalankan oleh tim sosio medik di
antaranya adalah :
1) Mediator : bertindak sebagai penghubung, perantara atau
penengah antara pasien dengan pihak-pihak yang terkait di
rumah sakit (misal : dokter, perawat, bagian keuangan, bagian
kerohanian) ataupun dengan lembaga-lembaga di luar rumah
sakit yang terlibat dalam upaya pemberian bantuan.
2) Motivator/dinamisator : bertindak sebagai pendorong,
pemberi semangat dan pemberi dukungan kepada pasien maupun
keluarganya, agar dapat mengatasi sendiri masalah yang dialami.
3) Advokasi (pembelaan) : bertindak sebagai pembela, pada
kasus-kasus pasien maupun keluarganya (sebagai pihak yang
benar) dirugikan oleh pihak lain. Bantuan ini dilakukan, jika
memang pasien tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.
4) Fasilitator : bertindak sebagai penyedia informasi, jika
pasien kurang memahami sesuatu. Informasi yang diberikan
tidak terbatas (artinya, bisa mengenai hal apapun) sejauh yang
diketahui secara pasti oleh tim
.
Selain itu tidak kalah pentingnya adalah pendampingan se-
lama pasien dirawat di rumah sakit, di dalamnya terdapat unsur-
unsur : menghibur (penghiburan), menemani/berteman (per-
sahabatan), memperhatikan (perhatian), membimbing (kon-
seling) dan mendengarkan keluh kesah mereka mengenai apapun.
Fungsi khusus yang juga dilaksanakan tim sosio medik,
yaitu dalam penanganan kasus transplantasi ginjal, dengan ikut
serta mempersiapkan calon penerima (recipient) maupun pem-
beri ginjal (donor).Tim sosio medik terlibat pada awal, perte -
ngahan maupun akhir proses transplantasi, dengan men jalankan
fungsi-fungsi seperti disebutkan di atas.
FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT KELAN-
CARAN PELAYANAN SOSIO MEDIK
A) Faktor pendukung
·
Adanya dukungan dan peluang dari pimpinan rumah sakit,
agar pelayanan komisi dapat berkembang/dikenal, termasuk
kesempatan-kesempatan untuk mempresentasikan pelayanan
sosio medik pada peristiwa-peristiwa penting di rumah sakit.
·
Sudah mulai terlihat adanya minat dan pengertian dari
bagian perawatan dan para perawat pelaksana di bangsal-bangsal
perawatan, yang dapat memperlancar/meningkatkan upaya pen-
jaringan masalah pasien dari bangsal.
B) Faktor-fakt
or penghambat
·
Belum adanya pemahaman yang merata dari semua pihak
yang terlibat dalam pelayanan Komisi Sosio Medik. Dan untuk
mencapai pemahaman yang merata, akan memakan waktu yang
cukup lama dan proses yang tidak mudah.
·
Kurangnya tenaga pekerja sosial profesional sebagai staf
pelaksana harian.
·
Masih kurangnya hubungan dengan lembaga-lembaga luar
(belum ada jaringan kerja yang tetap), hingga penanganan masalah
terkadang terpaksa tertunda akibat tidak segera bisa dirujuk ke
lembaga yang menyediakan pelayanan yang dibutuhkan.
Contoh penanganan kasus holistik di RS PGI Cikini
P (wanita, 19 tahun) adalah seorang anak yatim piatu yang
sejak usia 4 tahun diadopsi oleh pasangan suami isteri pejabat
tinggi. Sejak kecil ia sudah bermasalah, sering pergi tanpa
pamit berhari-hari, bolos sekolah dan tidak menurut apa yang
diperintahkan orang tua. Akhirnya pada usia 13 tahun ia pergi
begitu saja dari rumah. Mulai saat itu, orang tua angkat memu-
tuskan hubungan, tidak mau menerimanya kembali tinggal di
rumah mereka, dan tidak lagi menganggapnya sebagai anak.
P tambah dalam terperangkap di dalam pergaulan bebas : hidup
bersama dengan teman lelaki yang berganti-ganti, merokok,
minum-minuman keras. Kehidupan malam dan diskotik akrab
dalam kehidupannya. Sekolah tidak lagi diteruskannya (P sudah
berhasil lulus SMP). Makan tidak teratur/tidak bergizi, dan
tidur kurang, menyebabkan P sering sakit.
Bulan Maret, ia sakit (diare dan paru-paru yang sudah sangat
parah), dan diantar kawannya ke RS PGI Cikini.
Berdasarkan rujukan dari pe
rawat, masalah ini segera diper-
hatikan. Kami melakukan pendampingan terus menerus, sambil
mengumpulkan dan mengidentifikasi masalah. Selain dokter dan
perawat, profesi yang terlibat dalam pemberian bantuan ada-
lah : pekerja sosial dan psikolog. Berikut ini kami kemukakan
apa yang sudah kami lakukan untuk mengatasi masalah-masalah
P:
Masalah tempat tinggal : kami rujuk ke sebuah yayasan yang
mau menampung P. Yayasan bersedia menolong, dan sampai
saat ini P tinggal di situ.
Masalah kesehatan : kami menghubungi suatu yayasan
pelayanan kesehatan untuk membantu pengobatan lanjutan.
Permohonan dikabulkan, dan P boleh berobat gratis sampai
sembuh. Sekarang P sudah hampir sembuh total. Keadaan fisiknya
sangat baik dan tampak sehat.
Masalah pendidikan : setelah keadaan kesehatan membaik,
dan dinyatakan boleh sekolah kembali, kami bantu mengambil
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. 91, 1994
13 3
ijazah di SMP TR. Pihak yayasan dimana P tinggal membantu
mencarikan sekolah, dan kami berhubungan dengan yayasan As.
B, untuk mencarikan beasiswa bagi P. Pihak yayasan bersedia
memberikan, dan mulai bulan ini P sudah bisa menerima beasiswa
tingkat SLTA.
Masalah relasi : secara terus-menerus kami memotivasi P
dan ibunya, agar bersedia untuk memperbaiki hubungan dan
memulai segala sesuatu dari awal. Saat ini, relasi mereka tampak
mulai mengalami perubahan yang baik. Ibu P sudah mau berbi-
cara dengan P melalui telepon, mau membalas surat P dan bahkan
menjanjikan untuk menengok P di tempat tinggalnya yang baru.
Ibu P sudah bersedia memaafkan P, dan P sendiri tampak sangat
puas dengan perubahan ini.
Masalah emosional/psikologis : berkat bimbinganan dan
perhatian bersama, kini P tampak bersemangat menghadapi
hidup, keadaan emosi mulai stabil dan terlihat P berani meng-
hadapi kenyataan. Hal tersebut bertolak belakang dengan keada-
annya ketika pertamakali bertemu dengan kami
.
Samapi saat ini, kami secara rutin masih mengadakan
pertemuan seminggu sekali dengannya, sebagai upaya untuk
memantau perkembangan kondisi P.
134
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. 91, 1994