background image
151
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
PROFIL
Dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG adalah anak kan-
dung Prof. Dr. Slamet Iman Santoso (alm) tokoh budayawan
dan bapak pendidikan. Beliau lahir di Jakarta, 19 Februari
1949 lalu, anak ke lima dari tujuh bersaudara.
Suryono memang nama Jawa tetapi beliau hidup di Betawi,
dan seluruh pendidikannya ditempuh di Jakarta, yaitu SD
Cikini Jakarta , SMP Kanisius Jakarta, dan SMA Kanisius Ja-
karta .
Setelah lulus SMA, Suryono tidak ragu masuk ke Fakultas
Kedokteran. "Memang cita-cita saya sejak kecil jadi dokter.
Bapak saya dan dua saudara saya dokter," ujar staf peng-
ajar FKUI ini."Dari tujuh bersaudara, tiga dokter yaitu satu
dari penyakit dalam, satu dokter umum dan satu dari kebi-
danan, saya sendiri," tutur Suryono.
Suryono lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indo-
nesia tahun 1973. Kemudian tanpa mengikuti PTT, beliau
langsung mengikuti program pendidikan spesialis kebidan-
an. Ia lulus pada tahun 1979.
Ketika ditanya mengapa kebidanan, karena Suryono mera-
sa kasihan melihat ibu-ibu hamil, awalnya mereka sehat na-
mun pada saat melahirkan terlihat susah benar, mengeluar-
kan ba yinya. Ada juga yang sampai meninggal pada saat
melahirkan.
MENOLONG KAKAK MELAHIRKAN
Pengalaman adalah guru terbaik. Saat masih mahasiswa be-
liau mempunyai pengalaman menarik. "Kakak saya sedang
hamil anak ke empat, mendadak ingin melahirkan, " tutur
Mantan Kepala Klinik Raden Saleh FKUI ini. Dalam keada-
an panik dan bingung, Suryono ingin membawa kakaknya
ke rumah sakit atau klinik terdekat. "Tetapi kehendak takdir
lain, kakak saya sudah tidak tahan, sehingga terpaksa saya
tangani sendiri. Dengan hati-hati saya coba untuk meno-
long kakak saya," ujar Suryono.
"Alhamdulillah saya berhasil walaupun kakak saya menga-
lami sedikit robekan pada rahimnya," tutur Mantan Ketua
PKMI Cabang Jakarta tersebut. Walaupun demikian Su-
ryono meminta bantuan bidan terdekat karena takut-takut
kesalahan fatal akibat melahirkan secara dini tersebut.
Kemudian Suryono dengan semangat menceritakan kem-
bali pengalaman lain. Ketika itu Suryono sudah menjadi
Dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG
Hidup Jangan Terlalu Ngoyo
FOTO-FOTO: DOKUMEN PRIBADI
CDK Maret April DR.indd 151
CDK Maret April DR.indd 151
2/23/2010 4:17:13 AM
2/23/2010 4:17:13 AM
background image
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
152
PROFIL
dokter dan bertugas di
Rumah Sakit Tangerang
(1976). Kondisi rumah sakit
saat itu belum memadai,
peralatan RS pun sangat
sederhana, alat transfusi
belum ada. Saat itu rumah
sakit terkunci, paramedis
yang memegang kunci
belum datang, padahal
ada pasien yang harus
dioperasi.
"Maka saya berinisiatif
segera mengambil kunci
RS ke rumah paramedis,"
tuturnya. Untuk memper-
cepat maka Suryono men-
jadi supir ambulans dada-
kan. Ia menjemput suster
di rumahnya, lalu menuju
ke rumah paramedis ter-
sebut untuk mengambil
kunci. "Rumahnya cukup jauh, di luar kota Tangerang," tu-
tur Suryono mengakhiri kisahnya.
MEMBAGI WAKTU
Membagi waktu untuk keluarga adalah yang terpenting
bagi Suryono. "Bagaimana pun sibuknya kita, tetap ha-
rus sisihkan waktu untuk keluarga," tutur Mantan Ketua
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) Cabang
Jakarta ini.
Dr. Suryono tidak praktek di banyak tempat. Pagi di RSCM,
praktek swasta hanya beberapa hari saja dalam seminggu,
sehingga waktu untuk keluarga lebih banyak. "Pagi hari
saya menyempatkan waktu mengantarkan anak ke sekolah,
baru ke rumah sakit," tutur Suryono.
Suryono mempunyai tiga anak -- semuanya perempuan --
dan dua cucu. Salah satu anaknya menjadi dokter dan se-
dang dalam pendidikan spesialis mata.
"Yang terpenting dalam hidup ini adalah kita harus beru-
saha untuk mencapai sesuatu. Namun bila sudah berusaha
tapi tetap tidak berhasil, maka jangan kecewa. Hidup tidak
perlu terlalu ngoyo, hiduplah dengan sederhana, tetapi kita
tetap berusaha," tutur Bapak yang hobinya berkebun ini.
Pendidikan Tambahan
Banyak pelatihan atau kursus yang pernah Dr. Suryono ikuti,
seperti Course Management of Infertile Couple, Johns Hop-
kins University Baltimore di USA pada tahun 1980, Pelatihan
Endoskopi di Manila 1980, Management of Reversal Pro-
gram Course, Korean Association for Voluntary Sterilization
tahun 1991 di Korea Selatan, dan banyak lagi.
Dr. Suryono juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai
seminar atau pertemuan ilmiah seperti Kursus Penyegar:
Penanganan Kegawatan dan Kasus Penting Bagi Dokter
Umum, Simposium Reproduksi Remaja. Pertemuan Ilmiah
Tahunan X Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia
Indonesia di Ujung Pandang tahun 1997. Dengan segala
kesibukannya, Suryono masih sempat menulis berbagai ar-
tikel ilmiah yang pernah dipublikasi.
Harapan
Menyikapi perkembangan kedokteran yang cukup pesat
saat ini, Suryono mengingatkan bahwa yang terpenting
adalah bagaimana rakyat kecil tetap dapat memperoleh
pelayanan kesehatan terbaik. "Jangan sampai rakyat ke-
cil terbengkalai, tidak bisa diobati cuma gara-gara tidak
mampu bayar," ujarnya.
Dr. Suryono saat ini masih menjabat Ketua Umum Perkum-
pulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Ia mengharapkan
POGI di masa depan makin baik, kualitasnya harus bertam-
bah, karena jumlahnya makin bertambah."Dengan adanya
panduan praktek kedokteran, maka kita lebih solid, dan le-
bih terkoodinasi. Fungsi organisasi pun menjadi lebih pen-
ting, sehingga anggota-anggotanya menjadi lebih dekat
dengan organisasinya," tutur dokter yang pernah menda-
pat penghargaan Dokter Teladan tersebut.
Anggota POGI sampai saat ini berjumlah 1.490 orang yang
tersebar dalam 24 cabang di seluruh Indonesia. Di Jakarta
sendiri berjumlah 579 orang. Sampai saat ini program pen-
didikan kedokteran spesialis obstetri dan ginekologi ada di
beberapa pusat pendidikan yaitu di Jakarta, Palembang,
Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali,
Makassar dan Manado.
CDK Maret April DR.indd 152
CDK Maret April DR.indd 152
2/23/2010 4:17:19 AM
2/23/2010 4:17:19 AM