LAPORAN KHUSUS
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
72
71
LAPORAN KHUSUS
A
cara simposium dan workshop KOPAPDI (Konperensi Ahli
Penyakit Dalam Indonesia) kali ini merupakan yang terbesar
dan diikuti oleh dokter SpPD dan dokter umum. Topik yang
dibahas meliputi berbagai sub spesialis ilmu penyakit dalam,
seperti : infeksi, diabetes, artritis, geriatri, kanker, jantung, dsb.
SIMPOSIUM (Subtopik : Kanker dan Kemoterapi)
13 November 2009
Diagnosis dan Tatalaksana Kanker Paru untuk Internis
Epidemiology of Lung Cancer Dr.Sumardi
Secara global, kanker paru merupakan jenis kanker tersering
dalam hal insiden dan mortalitas. Terdapat sekitar 1,35 juta
kasus baru dan 1,18 juta mortalitas tiap tahunnya. Di negara
Barat kanker ini merupakan jenis kanker terbanyak ke dua
dan merupakan penyebab kematian utama akibat kanker. Di
RS Sardjito,Yogyakarta, ditemukan 67 kasus baru tiap tahun-
nya dan usia rerata sekitar 57 59 tahun.
Populasi tersering yang menderita kanker paru yaitu populasi
usia > 50 tahun dan pernah merokok. Hal menarik dari pe-
rubahan epidemiologi kanker paru adalah turunnya angka mor-
talitas akibat kanker ini pada pria sebaliknya makin meningkat
pada wanita dalam dekade terakhir. Insiden kanker ini pada
wanita meningkat dari 6/100.000 pada tahun 1960 menjadi
30/100.000 pada tahun 1990.
Faktor-faktor yang meningkatkan angka ketahanan hidup 5 tahun
yaitu :
· Kemajuan dalam hal deteksi dini
· Kemajuan terapi sistemik
· Radioterapi pada stadium dini
Jika pasien telah mengalami gejala, maka mortalitasnya > 90%.
Rontgen dada bermanfaat mendeteksi kanker paru namun > 67%
terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka ketahanan hidup jika
kanker telah menyebar (metastasis) hanya sekitar 1 tahun.
Secara garis besar, jenis kanker ini dibagi dua, yaitu non-small
cell lung cancer (80,4%) dan small cell lung cancer (16,8%).
Pilihan terapi saat ini meliputi : kemoterapi (berbasis platinum,
taxane, gemcitabine), terapi target (erlotinib, gefitinib), operasi,
dan radioterapi.
Treatment Update of Lung Ca: The Role of Targeted Therapy
Dr. Amaylia Oehadian
Topik ini sebagian besar membahas terapi target (terapi yang
ditujukan pada molekul tertentu pada sel kanker yang ber-
fungsi dalam proliferasi dan angiogenesis).
Terapi target (targeted therapy) yang saat ini digunakan untuk
pasien kanker paru terdiri dari 2 klasifikasi, yaitu :
- Small molecule/tyrosine kinase inhibitor : erlotinib dan gefitinib
- Monoclonal antibody : bevacizumab (anti vascular endothelial
growth
factor) dan cetuximab (anti epidermal growth factor/EGFR)
EGFR terdeteksi pada sekitar 80 - 85% pasien kanker paru
jenis bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer / NSCLC).
Mutasi EGFR berupa delesi pada exon 19 dan 21 akan meningkat-
kan sensitivitas terhadap erlotinib dan gefitinib. Mutasi EGFR
pada populasi pasien NSCLC Asia lebih tinggi dibandingkan
ras Kaukasia (30-40% vs 10-15%).
Kombinasi bevacizumab/cetuximab dengan kemoterapi dapat
digunakan sebagai lini pertama NSCLC stadium lanjut.
Gefitinib dan erlotinib direkomendasikan sebagai terapi lini ke
dua atau ke tiga. Wanita, tipe adenokarsinoma, ras Asia, tidak
merokok dan adanya mutasi pada EGFR merupakan faktor
prediktor respon terapi yang baik untuk gefitinib dan erlotinib.
National Comprehensive Cancer Network tahun 2009 me-
rekomendasikan terapi NSCLC stadium lanjut sebagai berikut :
- Lini pertama : kemoradiasi, kemoterapi kombinasi (berbasis
platinum/tidak berbasis platinum, terapi target (bevacizumab/
cetuximab) + kemoterapi atau erlotinib
- Lini kedua : kemoterapi tunggal (docetaxel / permetrexed)
atau
erlotinib
- Lini ketiga : erlotinib
WORKSHOP -14 November 2009
Berbagai Macam Obat Antikanker Sistemik - Prof Abdul Muthalib
Salah satu topik pembahasan menarik yaitu revolusi terapi
kanker yang sedang terjadi saat ini. Berbagai modalitas terapi
kanker mengalami kemajuan pesat. Di antaranya :
- Pembedahan : kemajuan dalam hal organ sparing surgery,
laparoscopic
surgery, hingga robotic surgery
- Radioterapi : kemajuan dalam hal linear accelerator, IMRT,
IGRT,
dan
Tomo-RT
- Terapi sistemik : obat sitotoksik dan hormonal baru, molecular
targeted
drugs, transplantasi sel punca, dan obat suportif baru.
- Diagnostik mencapai kemajuan dalam hal radiodiagnostik
(CT scan, MRI, PET-CT scan), patologi molekular, dan biomarker
kanker
Coping Chemotherapy Side Effects : Current Strategies -
Dr. Johan Kurnianda
Data Globocan menunjukan pasien kanker baru sebanyak
10,9 juta per tahun di dunia. Proporsi pasien kanker terbanyak
terjadi di negara berkembang.
Saat ini, terapi sistemik berperan luas dan ini berhubungan
dengan toksisitas atau efek samping yang perlu ditangani/di-
cegah secara optimal agar kemoterapi diberikan seaman
mungkin. Karakteristik kemoterapi yang berbeda dari obat lain
yaitu : sangat toksik, indeks terapi sempit, kesalahan dosis
dapat menyebabkan kematian, dan membutuhkan pemaha-
man farmakologi yang lebih tinggi.
Dari berbagai literatur, diketahui bahwa efek samping kemo-
terapi yang paling ditakuti yaitu mual-muntah. Selain itu, dokter
umumnya kurang memperhatikan mual-muntah yang terjadi
pada fase lambat. Oleh sebab itu, diperlukan pencegahan
mual-muntah yang efektif.
Efek samping serius lain kemoterapi yaitu neutropenia. Lebih
dari separuh pasien demam neutropenia mengalami infeksi dan
lebih dari 1/5 pasien dengan kadar neutrofil < 100 sel/mm3
mengalami bakteremia. Infeksi jamur sekunder dapat menjadi
infeksi primer. Infeksi yang terjadi berbanding terbalik dengan
jumlah neutrofil. Makin rendah jumlah neutrofil, akan makin
tinggi insiden infeksi serius. EORTC merekomendasikan pem-
berian Granulocyte Colony Stimulating Factor (G-CSF) jika
risiko demam neutropenia 20%. Sedangkan sebagai terapi,
G-CSF direkomendasikan pada pasien yang tidak respon dengan
terapi antibiotik.
Disimpulkan bahwa dengan kontrol efek samping kemoterapi
yang baik, terapi kanker akan berjalan lebih mulus bagi pasien.
Peranan Internist dalam Penatalaksanaan Pasien Kanker
- Prof A.Harryanto Reksodiputro
Dalam topik ini dibahas penurunan berat badan dan nutrisi
untuk pasien kanker. Penurunan berat badan dengan insiden
yang bervariasi antar jenis kanker, terbanyak pada kanker lambung
(83%). Penurunan berat badan juga berhubungan dengan per-
burukan harapan hidup. Mediator terjadinya kaheksia terdiri dari
sitokin pro-inflamasi dan protein fase akut yang diproduksi oleh
tubuh maupun sel kanker. Pasien kanker yang mengalami kaheksia
lebih resisten terhadap intervensi pemberian nutrisi enteral maupun
parenteral. Namun, terapi nutrisi tetap penting untuk menunjang
fungsi imun yang baik, meningkatkan toleransi terhadap terapi,
dan terpenting meningkatkan kualitas hidup pasien.
Topik lain adalah anemia pada pasien kanker; sekitar 20 60
% pasien mengalami anemia. Kondisi anemia dapat dicetus-
kan/diperburuk oleh terapi kanker. Penyebab anemia pada pasien
kanker beragam, mulai dari penyakitnya sendiri (anemia of
chronic disease), metastasis kanker ke sumsum tulang, hingga
defisiensi nutrisi. Sitokin yang dihasilkan menyebabkan penurunan
produksi eritropoietin, gangguan pemanfaatan zat besi, dan
penurunan Burst Forming Unit dan Colony Forming Unit erythroid.
Jika kadar Hb seorang pasien kanker <12 g/dL, keluhan rasa
lelah akan meningkat secara bermakna. Suatu penelitian me-
nunjukkan bahwa pemberian eritropoietin rekombinan secara
bermakna meningkatkan kadar Hb, menurunkan kebutuhan
transfusi, meningkatkan kualitas hidup pasien dan cenderung
meningkatkan harapan hidup.
Topik lain yang tak kalah menariknya yaitu mengenai trombosis
pada pasien kanker, yang merupakan penyebab kematian
nomor 2 pada pasien kanker. Trombosis dapat berupa trombosis
vena dalam, mesenterial, maupun emboli paru. Suatu penelitian
menunjukkan terjadinya tromboemboli vena pada 35-50%
autopsi dan hingga 15% pada uji klinis.
(LHS)
SIMPOSIUM
SIMPOSIUM
KOPAPDI XIV
KOPAPDI XIV
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
13 - 14 November 2009
13 - 14 November 2009
Simposium
KOPAPDI XIV
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
13 - 14 November 2009
LAPORAN KHUSUS
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
72
71
LAPORAN KHUSUS
A
cara simposium dan workshop KOPAPDI (Konperensi Ahli
Penyakit Dalam Indonesia) kali ini merupakan yang terbesar
dan diikuti oleh dokter SpPD dan dokter umum. Topik yang
dibahas meliputi berbagai sub spesialis ilmu penyakit dalam,
seperti : infeksi, diabetes, artritis, geriatri, kanker, jantung, dsb.
SIMPOSIUM (Subtopik : Kanker dan Kemoterapi)
13 November 2009
Diagnosis dan Tatalaksana Kanker Paru untuk Internis
Epidemiology of Lung Cancer Dr.Sumardi
Secara global, kanker paru merupakan jenis kanker tersering
dalam hal insiden dan mortalitas. Terdapat sekitar 1,35 juta
kasus baru dan 1,18 juta mortalitas tiap tahunnya. Di negara
Barat kanker ini merupakan jenis kanker terbanyak ke dua
dan merupakan penyebab kematian utama akibat kanker. Di
RS Sardjito,Yogyakarta, ditemukan 67 kasus baru tiap tahun-
nya dan usia rerata sekitar 57 59 tahun.
Populasi tersering yang menderita kanker paru yaitu populasi
usia > 50 tahun dan pernah merokok. Hal menarik dari pe-
rubahan epidemiologi kanker paru adalah turunnya angka mor-
talitas akibat kanker ini pada pria sebaliknya makin meningkat
pada wanita dalam dekade terakhir. Insiden kanker ini pada
wanita meningkat dari 6/100.000 pada tahun 1960 menjadi
30/100.000 pada tahun 1990.
Faktor-faktor yang meningkatkan angka ketahanan hidup 5 tahun
yaitu :
· Kemajuan dalam hal deteksi dini
· Kemajuan terapi sistemik
· Radioterapi pada stadium dini
Jika pasien telah mengalami gejala, maka mortalitasnya > 90%.
Rontgen dada bermanfaat mendeteksi kanker paru namun > 67%
terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka ketahanan hidup jika
kanker telah menyebar (metastasis) hanya sekitar 1 tahun.
Secara garis besar, jenis kanker ini dibagi dua, yaitu non-small
cell lung cancer (80,4%) dan small cell lung cancer (16,8%).
Pilihan terapi saat ini meliputi : kemoterapi (berbasis platinum,
taxane, gemcitabine), terapi target (erlotinib, gefitinib), operasi,
dan radioterapi.
Treatment Update of Lung Ca: The Role of Targeted Therapy
Dr. Amaylia Oehadian
Topik ini sebagian besar membahas terapi target (terapi yang
ditujukan pada molekul tertentu pada sel kanker yang ber-
fungsi dalam proliferasi dan angiogenesis).
Terapi target (targeted therapy) yang saat ini digunakan untuk
pasien kanker paru terdiri dari 2 klasifikasi, yaitu :
- Small molecule/tyrosine kinase inhibitor : erlotinib dan gefitinib
- Monoclonal antibody : bevacizumab (anti vascular endothelial
growth
factor) dan cetuximab (anti epidermal growth factor/EGFR)
EGFR terdeteksi pada sekitar 80 - 85% pasien kanker paru
jenis bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer / NSCLC).
Mutasi EGFR berupa delesi pada exon 19 dan 21 akan meningkat-
kan sensitivitas terhadap erlotinib dan gefitinib. Mutasi EGFR
pada populasi pasien NSCLC Asia lebih tinggi dibandingkan
ras Kaukasia (30-40% vs 10-15%).
Kombinasi bevacizumab/cetuximab dengan kemoterapi dapat
digunakan sebagai lini pertama NSCLC stadium lanjut.
Gefitinib dan erlotinib direkomendasikan sebagai terapi lini ke
dua atau ke tiga. Wanita, tipe adenokarsinoma, ras Asia, tidak
merokok dan adanya mutasi pada EGFR merupakan faktor
prediktor respon terapi yang baik untuk gefitinib dan erlotinib.
National Comprehensive Cancer Network tahun 2009 me-
rekomendasikan terapi NSCLC stadium lanjut sebagai berikut :
- Lini pertama : kemoradiasi, kemoterapi kombinasi (berbasis
platinum/tidak berbasis platinum, terapi target (bevacizumab/
cetuximab) + kemoterapi atau erlotinib
- Lini kedua : kemoterapi tunggal (docetaxel / permetrexed)
atau
erlotinib
- Lini ketiga : erlotinib
WORKSHOP -14 November 2009
Berbagai Macam Obat Antikanker Sistemik - Prof Abdul Muthalib
Salah satu topik pembahasan menarik yaitu revolusi terapi
kanker yang sedang terjadi saat ini. Berbagai modalitas terapi
kanker mengalami kemajuan pesat. Di antaranya :
- Pembedahan : kemajuan dalam hal organ sparing surgery,
laparoscopic
surgery, hingga robotic surgery
- Radioterapi : kemajuan dalam hal linear accelerator, IMRT,
IGRT,
dan
Tomo-RT
- Terapi sistemik : obat sitotoksik dan hormonal baru, molecular
targeted
drugs, transplantasi sel punca, dan obat suportif baru.
- Diagnostik mencapai kemajuan dalam hal radiodiagnostik
(CT scan, MRI, PET-CT scan), patologi molekular, dan biomarker
kanker
Coping Chemotherapy Side Effects : Current Strategies -
Dr. Johan Kurnianda
Data Globocan menunjukan pasien kanker baru sebanyak
10,9 juta per tahun di dunia. Proporsi pasien kanker terbanyak
terjadi di negara berkembang.
Saat ini, terapi sistemik berperan luas dan ini berhubungan
dengan toksisitas atau efek samping yang perlu ditangani/di-
cegah secara optimal agar kemoterapi diberikan seaman
mungkin. Karakteristik kemoterapi yang berbeda dari obat lain
yaitu : sangat toksik, indeks terapi sempit, kesalahan dosis
dapat menyebabkan kematian, dan membutuhkan pemaha-
man farmakologi yang lebih tinggi.
Dari berbagai literatur, diketahui bahwa efek samping kemo-
terapi yang paling ditakuti yaitu mual-muntah. Selain itu, dokter
umumnya kurang memperhatikan mual-muntah yang terjadi
pada fase lambat. Oleh sebab itu, diperlukan pencegahan
mual-muntah yang efektif.
Efek samping serius lain kemoterapi yaitu neutropenia. Lebih
dari separuh pasien demam neutropenia mengalami infeksi dan
lebih dari 1/5 pasien dengan kadar neutrofil < 100 sel/mm3
mengalami bakteremia. Infeksi jamur sekunder dapat menjadi
infeksi primer. Infeksi yang terjadi berbanding terbalik dengan
jumlah neutrofil. Makin rendah jumlah neutrofil, akan makin
tinggi insiden infeksi serius. EORTC merekomendasikan pem-
berian Granulocyte Colony Stimulating Factor (G-CSF) jika
risiko demam neutropenia 20%. Sedangkan sebagai terapi,
G-CSF direkomendasikan pada pasien yang tidak respon dengan
terapi antibiotik.
Disimpulkan bahwa dengan kontrol efek samping kemoterapi
yang baik, terapi kanker akan berjalan lebih mulus bagi pasien.
Peranan Internist dalam Penatalaksanaan Pasien Kanker
- Prof A.Harryanto Reksodiputro
Dalam topik ini dibahas penurunan berat badan dan nutrisi
untuk pasien kanker. Penurunan berat badan dengan insiden
yang bervariasi antar jenis kanker, terbanyak pada kanker lambung
(83%). Penurunan berat badan juga berhubungan dengan per-
burukan harapan hidup. Mediator terjadinya kaheksia terdiri dari
sitokin pro-inflamasi dan protein fase akut yang diproduksi oleh
tubuh maupun sel kanker. Pasien kanker yang mengalami kaheksia
lebih resisten terhadap intervensi pemberian nutrisi enteral maupun
parenteral. Namun, terapi nutrisi tetap penting untuk menunjang
fungsi imun yang baik, meningkatkan toleransi terhadap terapi,
dan terpenting meningkatkan kualitas hidup pasien.
Topik lain adalah anemia pada pasien kanker; sekitar 20 60
% pasien mengalami anemia. Kondisi anemia dapat dicetus-
kan/diperburuk oleh terapi kanker. Penyebab anemia pada pasien
kanker beragam, mulai dari penyakitnya sendiri (anemia of
chronic disease), metastasis kanker ke sumsum tulang, hingga
defisiensi nutrisi. Sitokin yang dihasilkan menyebabkan penurunan
produksi eritropoietin, gangguan pemanfaatan zat besi, dan
penurunan Burst Forming Unit dan Colony Forming Unit erythroid.
Jika kadar Hb seorang pasien kanker <12 g/dL, keluhan rasa
lelah akan meningkat secara bermakna. Suatu penelitian me-
nunjukkan bahwa pemberian eritropoietin rekombinan secara
bermakna meningkatkan kadar Hb, menurunkan kebutuhan
transfusi, meningkatkan kualitas hidup pasien dan cenderung
meningkatkan harapan hidup.
Topik lain yang tak kalah menariknya yaitu mengenai trombosis
pada pasien kanker, yang merupakan penyebab kematian
nomor 2 pada pasien kanker. Trombosis dapat berupa trombosis
vena dalam, mesenterial, maupun emboli paru. Suatu penelitian
menunjukkan terjadinya tromboemboli vena pada 35-50%
autopsi dan hingga 15% pada uji klinis.
(LHS)
SIMPOSIUM
SIMPOSIUM
KOPAPDI XIV
KOPAPDI XIV
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
13 - 14 November 2009
13 - 14 November 2009
Simposium
KOPAPDI XIV
Hotel Grand Hyatt, Jakarta
13 - 14 November 2009