background image
Simposium
Diagnosis & Penatalaksanaan Terkini
Rinosinusitis Kronis & Komorbid
Padang, Sumatera Barat
B
ertempat di Hotel Pangeran Beach, Padang pada hari Sabtu,
18 Juli 2009 diselenggarakan simposium diagnosis & penatalaksa-
naan terkini Rinosinusitis kronis & komorbid oleh Persatuan Dokter
Spesialis THT-Kepala Leher (PERHATI-KL) regional Sumatera Barat.
Simposium ini menurut ketua panitia Dr. Yan Edward, SpTHT-KL
diikuti oleh kurang lebih 250 orang peserta dokter spesialis THT
maupun dokter umum. Acara ini resmi dibuka oleh DR.dr. Masrul,
MSc, SpGK sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas, Padang, Sumatera-Barat.
Beberapa topik simposium yang cukup menarik :
Rinitis alergi : Faktor risiko rinosinusitis kronis
Dr. Effy Huriyati SpTHT-KL
Rinitis alergi merupakan gejala kelainan hidung karena proses
inflamasi yang dimediasi Ig E setelah mukosa hidung terpapar
alergen. Prevalensi global mencapai 15-20 % dan International
Study of Asthma & Allergies in Children (ISAAC) mencatat
bahwa di sebagian negara kasus usia 6-7 tahun mencapai
0,8%-14,9% dan usia 13-14 tahun : 1,4-39,7% .
Di Indonesia: pada usia 6-7 tahun 3,8% dan 5,3% pada usia
13-14 tahun. Prevalensi meningkat dipengaruhi faktor lingkungan
(alergen, polutan), perubahan gaya hidup, pola makan serta
infeksi. Patofisiologinya terdiri dari tahap sensitisasi dan provo-
kasi (disebut juga reaksi alergi)
Reaksi alergi bisa cepat serta lambat; reaksi cepat terjadi 1 jam
setelah kontak alergen sedangkan yang lambat berlangsung
2-4 jam, puncaknya 6-8 jam setelah pemaparan dan berlang-
sung 24-48 jam. Beberapa ko-morbiditas rinitis alergi : sinusitis,
polip hidung dan otitis media.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis berupa gejala pada
hidung seperti bersin berulang, rinorea, tersumbat dan gatal,
mata berair, merah dan gatal. Pemeriksaan fisik : stigmata alergi
dan hidung serta dengan rinoskopi anterior dan posterior.
Pemeriksaan penunjang lainnya : skin test, PRIST, RAST, muco-
ciliary transport time.
Penatalaksanaan rinosinusitis alergi berupa: menghindari alergen,
antibiotik serta pemakaian antihistamin generasi 2 dan 3 yang
umumnya bebas efek antikolinergik. Dekongestan, mukolitik,
mast cell stabilizer dan kortikosteroid juga dapat digunakan
Batuk kronis pada sinusitis kronis
Dr. Oea Khairsyaf SpP
Batuk kronis merupakan keluhan yang banyak membuat
pasien datang berobat. Beberapa keadaan yang menyebabkan
batuk kronis pada dewasa adalah post nasal drip, bronchitis
kronis, asma serta GERD.
Post nasal drip merupakan faktor pencetus batuk kronis yang
cukup sering ditemukan secara klinis sehari-hari.
L A P O R A N K H U S U S
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
458
background image
Patogenesisnya melibatkan kompleks rangkaian refleks yang
bermula dari stimulasi reseptor iritan, yang sebagian besar
terdapat di sistim pernafasan.
Penatalaksanaan sinusitis kronis menggunakan dekongestan
oral & topikal, steroid topikal/sistemik serta antibiotik. Tindakan
operatif dapat dilakukan bila perlu. Terhadap batuk kronis, perlu
dievaluasi riwayat penyakit dan obat untuk mencari penyebab;
secara empirik menghindari zat iritan seperti rokok. Identifikasi
kelainan paru dengan X-ray serta spirometri. Penggunaan
antitusif kodein, noskapin serta dekstrometorfan untuk menekan
batuk kurang bermanfaat, kecuali jika batuk sangat meng-
ganggu; kelemahannya dapat meretensi sputum. Ekspektoran
seperti ambroxol, gliseril guaiakolat digunakan untuk mening-
katkan volume sputum; sedangkan mukolitik seperti N-acetyl
cystein dan bromhexin untuk mengurangi viskositas sputum.
Rinosinobronkitis pada anak
Dr. Finny Fitry Yani SpA
United Airway Disease (UAD) menunjukkan keterkaitan
inflamasi saluran respiratori atas yang meliputi hidung, sinus,
laring dan trakea dengan saluran respiratori bawah yaitu bronkus.
Sinonim UAD mencakup rinosinusitis, kombinasi rinitis alergi dan
asma atau rinosinobronkitis akibat proses alergi. UAD dikemuka-
kan berdasarkan peningkatan bukti sistemik keterkaitan saluran
respiratori atas dan bawah. Dampak negatif rinosinobronkitis
akut pada anak berupa gang- guan emosi, aktivitas, ketidakhadi-
ran di sekolah serta kompli- kasi serius seperti selulitis orbita.
Penelitian selama 23 tahun menunjukkan pada anak rinitis
alergi terdapat hiperresponsivitas bronkus dengan risiko 3 x
lebih besar untuk berkembang menjadi asma. Rinosinusitis
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis dan radiologik, terdapat
pada 30-50% anak dengan asma.
Beberapa faktor risiko rinosinobronkitis :
· Riwayat atopi keluarga
· Serum IgE > 1000 IU / ml pada usia di bawah 6 tahun.
· Pajanan terhadap indoor allergens
· Uji kulit positif
· Ibu perokok
· Susu formula atau makanan padat dini.
Pada anak biasanya ditandai dengan keluhan nyeri wajah, hidung
tersumbat, ingus purulen, post nasal drip (batuk berdehem)
serta demam.
Manajemen berupa pemberian antihistamin oral generasi ke
dua yang lebih efektif daripada generasi pertama. Dapat diberi
Cetirizine 1 kali perhari dengan dosis 0,25 mg/kgbb/hari. Selain
itu dekongestan intranasal lebih efektif dibandingkan oral.
Mukolitik dapat diberikan terutama pada rinitis dengan sekret
kental dan gejala batuk produktif atau bersamaan dengan
serangan asma. Penggunaan kortikosteroid dianjurkan secara
intranasal.
Pemakaian Fexofed® pada Rinitis Alergi
dr. Irwan Widjaja M.Biomed
Fexofed® merupakan kombinasi antihistamin generasi ke tiga
dengan dekongestan; berbentuk kaplet bilayer mengandung
Fexofenadine HCl 60 mg immediate-release dan Pseudoephedrine
HCl 120 mg extended-release.
Fexofenadine HCl merupakan metabolit terfenadine yang relatif
tidak kardiotoksik / memperpanjang QT interval dibandingkan
terfenadine apabila diberikan bersamaan dengan eritromisin,
ketokonazol. Pseudoephedrin HCl merupakan simpatomimetik
aktif, berfungsi dekongestan dan efektif meredakan sumbatan
hidung akibat rinitis. Bioavailabilitas fexofenadine dan pseudo-
ephedrine tablet lepas lambat sama dengan pemberian
terpisah masing-masing komponen.
Fexofed
®
efektif meredakan gejala rinitis terutama untuk
mengatasi hidung tersumbat, dengan efek samping minimal
bila digunakan pada dosis tepat. Berdasarkan beberapa studi
klinis, Fexofenadine efektif meredakan reaksi alergi dan dapat
digunakan untuk jangka waktu relatif panjang.
(IWA)
P
ertemuan ini merupakan pertemuan duatahunan Perhimpunan
Dokter Spesialis Saraf Indonesia, yang kali ini dilangsungkan di
hotel JW Marriott, Medan pada 24-26 Juli 2009. Pertemuan ini
didahului oleh sejumlah workshop mengenai neurointervensi,
advanced neurological life support (ANLS), epilepsi dan neuro-
sonologi pada 22-23 Juli 2009 di tempat yang sama.
Pada sidang plenary lecture di awal acara, Prof.dr.Jusuf Misbach
SpS(K), FAAN kembali menguraikan langkah penanganan stroke
pada fase akut yang tetap mengandalkan diagnosis sedini
mungkin dan menentukan indikasi/kontraindikasi penggunaan
rtPA yang diakui efektif jika diberikan pada 3-6 jam pertama;
selang waktu yang relatif singkat ini masih merupakan kendala
utama, terutama di Indonesia.
Masalah stroke masih tetap merupakan topik bahasan penting,
baik jenis iskemik, perdarahan maupun perdarahan subarakh-
noid ; belasan pakar mengupasnya dari berbagai aspek, baik
dari segi faktor risiko hipertensi, diabetes melitus, lipid, maupun
dari segi neuroimunologi.
Topik lain yang mendapat perhatian ialah masalah afasia
suatu gangguan fungsi luhur yang mengganggu kualitas hidup
penderitanya. Topik ini dibahas dalam lokakarya khusus mengenai
teknik diagnostik, screening dan prinsip penatalaksanaannya
oleh Prof. dr. Sidiarto Kusumoputro SpS(K) dan dr. Lily Sidiarto
SpS(K) - para pakar senior di bidang fungsi luhur, ditambah
dengan simposium neurobehavior yang mengetengahkan aspek
klinis dan tes neuropsikologi pada demensia.
Pemeriksaan neurobehavior yang lengkap terdiri dari pemeriksaan
atas atensi, memori, bahasa, kemampuan visuospasial, fungsi
eksekutif ditambah dengan pemeriksaan fungsi non kognitif
meliputi gejala neuropsikiatri seperti depresi dan cemas. Masih
terkait dengan masalah ini, Prof. Sidiarto memberikan kuliah
menarik tentang brain plasticity kemampuan otak untuk meng-
adaptasi perubahan melalui pembentukan jaras/ sirkuit baru.
Faktor genetik epilepsi merupakan masalah pelik yang dibahas
oleh dr. Endang Kustiowati SpS(K) ; beberapa studi anak kembar
menunjukkan rasio epilepsi sebesar 50-60% pada kembar
monozigot dan 15% pada kembar dizigot; rasio ini lebih tinggi
untuk jenis epilepsi umum (65-82% pada kembar monozigot
dan 12-27% pada kembar dizigot) dibandingkan dengan
epilepsi parsial (9-36% pada kembar monozigot dan 5-10%
pada kembar dizigot). Juga, sampai 94% kembar monozigot
dan sampai 71% kembar dizigot mengalami sindrom epilepsi
yang sama. Peranan gen hanya merupakan salah satu faktor
saja, mengingat epilepsi merupakan gejala klinis yang penye-
babnya multifaktorial, termasuk trauma dan penyakit susunan
saraf pusat lain. Juga dibahas tentang pentingnya tindakan
agresif pada status epileptikus dan beberapa masalah lain
epilepsi anak, autisme dan sindrom Rett.
Penyakit Parkinson juga mendapat perhatian; diawali dengan
tinjauan neuroanatomi neruotransmiter oleh Prof.Dr.dr. Aboe
Amar Joesoef SpS(K), strategi pengobatan dan perkembangan
mutakhir, termasuk penggunaan obat: levodopa, pramipexole
dan kombinasi entacapone/levodopa untuk mengurangi efek
The 7
th
Biennial Meeting PERDOSSI
Medan, 24 - 26 Juli 2009
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
459
L A P O R A N K H U S U S
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
460
L A P O R A N K H U S U S