background image
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
137
S
etiap hari agenda acara menampilkan 3-4 simposia, 1 meet
the expert, 1 kuliah umum, 1 state of the art, presentasi makalah
bebas dan 1 sesi makalah yang dipertandingkan dalam young
investigator award.
Beberapa materi yang disampaikan selama kongres:
State of the Art
Cardio Renal Syndrome (CRS).
Penanganan pasien CRS meliputi optimalisasi terapi gagal
jantungnya, evaluasi struktur dan fungsi ginjal, optimalisasi
dosis diuretik, terapi spesifik terhadap ginjalnya (misalnya
dengan renal dose dopamine, nesiritide, ultrafiltrasi dan
atau hemodialisis, vasopresin antagonist).
ABO Incompatible Transplantation (AIT).
AIT merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah
ginjal donor, dan telah dilakukan di berbagai negara seperti
Jepang, Amerika dan Eropa, tetapi tiap negara menjalani
protokol yang berbeda. Amerika dan Jepang menggunakan
plasmaferesis, sedangkan Eropa menggunakan cara imuno-
adsorpsi antigen spesifik untuk mengeluarkan antibodi.
Humoral Rejection (HR).
Strategi terapi untuk HR yaitu dengan memindahkan
antibodi, mencegah sintesis alloantibodi lebih lanjut,
menghambat proliferasi sel B dan aktivitas dari sel T.
Simposia:
Bone and Mineral Disorders.
Pencegahan/penghambatan sindrom osteodistrofi ginjal
meliputi 2 penanganan yaitu menangani hiperfosfatemia
dan hiperparatiroidismenya. Hiperfosfatemia ditangani
dengan cara mengontrol asupan fosfat melalui diet rendah
fosfat dan obat pengikat fosfat, sedangkan hiperpara-
tiroidisme dikontrol dengan vitamin D3 (atau analognya),
calcimimetic atau paratiroidektomi.
Renal Anemia 2008 Update.
Kasus anemia defisensi Fe kerap dijumpai pada pasien
penyakit ginjal kronik (PGK), kondisi ini sering mengakibat-
kan resistensi terapi EPO. Terapi Fe parenteral lebih dijadikan
pilihan bagi pasien yang mendapatkan terapi EPO
Should We Still Prescribe a Reduction in Protein for CKD
Patients. Diet rendah protein dapat menghambat progre-
sifitas PGK, aman dan tidak menyebabkan hilangnya massa
otot, kelemahan atau menjadi pencetus malnutrisi pada
pasien PGK pre dialisis.
Ketoacid-Proven Therapy to Slowdown the Progression
of CKD. Diet rendah protein ditambah dengan suple-
mentasi asam keto dapat mengurangi simptom uremi,
mencegah asidosis metabolik, meningkatkan sensitivitas
Kongres Nasional Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10 berlangsung selama 3 hari;
selain menampilkan materi perkembangan dalam bidang nefrologi juga menyampaikan kuri-
kulum pendidikan, masalah etik dan pelayanan di bidang nefrologi. Selain itu untuk pertama
kalinya di Indonesia, panitia juga menyelenggarakan Course on Critical and Interventional
Nephrology yang dilaksanakan sebelum acara kongres yaitu pada 26-27 November 2008.
Kongres Nasional Perhimpunan
Kongres Nasional Perhimpunan
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
Kongres Nasional Perhimpunan
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
·
·
·
·
·
·
·
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
138
insulin dan metabolisme fosfat-kalisum, menurunkan derajat
protenuria tanpa efek antiproteinuria.
Patophysiology and Clinical Aspect of Hypetensive
Emergency.
Krisis hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu hipertensi
emergensi (TD harus diturunkan dalam waktu <1 jam)
dan hipertensi urgensi (TD harus diturunkan dalam waktu
24 - 48 jam). Pencetus kejadian ini belum diketahui; ter-
gantung bermacam kondisi dan penyebab hipertensinya.
Kerusakan organ yang cepat dan beratnya peningkatan
tekanan darah merupakan faktor utama terjadinya kegagalan
fungsi autoregulasi dan meningkatnya tahanan perifer.
Management of Hypertensive Emergency.
Kunci keberhasilan penanganan adalah dapat membedakan
antara hipertensi emergensi dengan hipertensi urgensi.
Ingat bahwa yang ditangani adalah pasien bukan angkanya.
Kasus hipertensi emergensi menggunakan obat antihiper-
tensi intravena, utamakan keuntungan pengobatan terhadap
perfusi jaringan terutama otak, jantung dan ginjal.
The Role of Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAA) Systems
in Regulating Concentrations of Electrolites.
Regulasi elektrolit oleh sistem RAA penting untuk pemeli-
haraan homeostasis tubuh dan terutama dipengaruhi oleh
faktor ginjal dan hormonal. Peranan sistem RAA adalah
dalam memengaruhi tekanan arterial, perfusi jaringan dan
volume ekstraseluler untuk mempertahankan keseimbangan
air dan elektrolit terutama garam.
Hypertension: The Gateaway to Reduce Cardiovascular Risk.
Penelitian PERNEFRI di 4 kota (Jakarta, Surabaya, Jogjakarta
dan Denpasar) mendapatkan hipertensi di daerah rural
mencapai 20.8 %. Bukti klinis menunjukkan bahwa pengo-
batan satu faktor risiko saja adalah suboptimal; pengendalian
semua faktor risiko akan menurunkan kejadian kardiovas-
kular lebih optimal dibandingkan satu faktor risiko saja.
Guideline European Society of Hypertension European
Society of Cardiology (ESH-ESC) merekomendasikan
penurunan tekanan darah 140/90 mmHg pada semua
penderita hipertensi, atau lebih rendah lagi jika mungkin.
Jika terdapat DM atau risiko tinggi termasuk PGK target
TD adalah130/90 mmHg.
Semua penderita hipertensi dengan risko penyakit
kardiovaskular atau DM harus diberi statin dengan target
kolesterol <175 mg/dL dan kolesterol LDL <100 mg/dL.
Target gula darah puasa <108 mg/dL dan A1c<6,5%.
Beyond BP Control: The Role of ARB in Controlling
Microalbuminuria.
Studi O.S.C.A.R menunjukkan bahwa ARB Olmesartan
dapat mencegah mikroalbuminuria primer.
The Breakthrough in Renal Anemia Management : Focus
on (Methoxy Polyethylene Glycol-Epo ).
Saat ini teknologi rekombinan EPO makin berkembang
dengan adanya CERA (Continuous Erythropoetin Receptor
Activator). Keunggulan CERA adalah kemampuan merang-
sang reseptor eritropoiesis secara berulang sehingga lama
kerjanya lebih panjang.
Target Stability: A New Era in Anemia Management.
Risiko komorbiditas, hospitalisasi dan mortalitas terendah
pada pasien PGK dengan kadar Hb 11-12,5 g/dL. Mencapai
target Hb saja belum cukup, yang tak kalah penting adalah
menjaga agar kadar Hb target yang telah tercapai tetap
stabil.
Systemic Lupus Erythematous (LES) : imunopatogenesis
Kelainan sistem imun pada LES ditandai dengan berbagai
faktor dan lingkungan yang mampu mengubah sistem
imun yang mungkin didasari kelainan genetik.
Data terakhir mengemukakan bahwa hampir 85% LES
diawali dengan adanya otoantibodi yang diperkirakan
muncul 2-3 tahun sebelum gejala klinis muncul.
Clinical Diagnostic Approach of Lupus Nephristis.
Lupus nephritis secara klinis diidagnosis berdasarkan
perubahan pada sistem renal seperti adanya proteinuria
> 500 mg/hari (atau test dipstick +3) atau ditemukannya
selular cast (eritrosit, Hb, granul, sel tubular).
Induction and Maintenance Therapy for Lupus Nephritis.
Tidak semua lupus nephritis memerlukan terapi induksi,
yang memerlukan terapi induksi adalah kelas III, V dan
terutama IV menurut kriteria WHO.
Belum ada kesepakatan yang diterima semua pihak
untuk terapi lupus nephritis ini.
Penelitian jangka panjang menunjukkan hanya
cyclosphopamide yang efektif; pada penelitian jangka
pendek dan menengah MMF memiliki efektivitas yang
setara dan profil toksisitas yang lebih rendah.
Medical Chronobiologic Approach for New Algorithm in
Diagnosis of True Hypertension.
Medical chronobiology memfokuskan pada mekanisme
pengaruh bioperiodisitas terhadap kejadian hipertensi.
Cyclic and Cicardian Variations in Cardiovascular Events:
Focus on Sympathetic Over Activity.
Insiden kardiovaskular lebih sering terjadi pada saat pagi
hari. Fenomena ini terkait dengan sistem saraf simpatis,
serta pengaruh faktor endogen dan eksogen.
Renal Physiology in Pregnancy.
Pada kehamilan normal ginjal mengalami perubahan
fisiologik struktur vaskular dan hemodinamik.
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
L A P O R A N K H U S U S
L A P O R A N K H U S U S
background image
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
137
S
etiap hari agenda acara menampilkan 3-4 simposia, 1 meet
the expert, 1 kuliah umum, 1 state of the art, presentasi makalah
bebas dan 1 sesi makalah yang dipertandingkan dalam young
investigator award.
Beberapa materi yang disampaikan selama kongres:
State of the Art
Cardio Renal Syndrome (CRS).
Penanganan pasien CRS meliputi optimalisasi terapi gagal
jantungnya, evaluasi struktur dan fungsi ginjal, optimalisasi
dosis diuretik, terapi spesifik terhadap ginjalnya (misalnya
dengan renal dose dopamine, nesiritide, ultrafiltrasi dan
atau hemodialisis, vasopresin antagonist).
ABO Incompatible Transplantation (AIT).
AIT merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah
ginjal donor, dan telah dilakukan di berbagai negara seperti
Jepang, Amerika dan Eropa, tetapi tiap negara menjalani
protokol yang berbeda. Amerika dan Jepang menggunakan
plasmaferesis, sedangkan Eropa menggunakan cara imuno-
adsorpsi antigen spesifik untuk mengeluarkan antibodi.
Humoral Rejection (HR).
Strategi terapi untuk HR yaitu dengan memindahkan
antibodi, mencegah sintesis alloantibodi lebih lanjut,
menghambat proliferasi sel B dan aktivitas dari sel T.
Simposia:
Bone and Mineral Disorders.
Pencegahan/penghambatan sindrom osteodistrofi ginjal
meliputi 2 penanganan yaitu menangani hiperfosfatemia
dan hiperparatiroidismenya. Hiperfosfatemia ditangani
dengan cara mengontrol asupan fosfat melalui diet rendah
fosfat dan obat pengikat fosfat, sedangkan hiperpara-
tiroidisme dikontrol dengan vitamin D3 (atau analognya),
calcimimetic atau paratiroidektomi.
Renal Anemia 2008 Update.
Kasus anemia defisensi Fe kerap dijumpai pada pasien
penyakit ginjal kronik (PGK), kondisi ini sering mengakibat-
kan resistensi terapi EPO. Terapi Fe parenteral lebih dijadikan
pilihan bagi pasien yang mendapatkan terapi EPO
Should We Still Prescribe a Reduction in Protein for CKD
Patients. Diet rendah protein dapat menghambat progre-
sifitas PGK, aman dan tidak menyebabkan hilangnya massa
otot, kelemahan atau menjadi pencetus malnutrisi pada
pasien PGK pre dialisis.
Ketoacid-Proven Therapy to Slowdown the Progression
of CKD. Diet rendah protein ditambah dengan suple-
mentasi asam keto dapat mengurangi simptom uremi,
mencegah asidosis metabolik, meningkatkan sensitivitas
Kongres Nasional Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10 berlangsung selama 3 hari;
selain menampilkan materi perkembangan dalam bidang nefrologi juga menyampaikan kuri-
kulum pendidikan, masalah etik dan pelayanan di bidang nefrologi. Selain itu untuk pertama
kalinya di Indonesia, panitia juga menyelenggarakan Course on Critical and Interventional
Nephrology yang dilaksanakan sebelum acara kongres yaitu pada 26-27 November 2008.
Kongres Nasional Perhimpunan
Kongres Nasional Perhimpunan
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
Kongres Nasional Perhimpunan
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ke 10
Hotel Horison Bandung, 28-30 November 2008
·
·
·
·
·
·
·
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
138
insulin dan metabolisme fosfat-kalisum, menurunkan derajat
protenuria tanpa efek antiproteinuria.
Patophysiology and Clinical Aspect of Hypetensive
Emergency.
Krisis hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu hipertensi
emergensi (TD harus diturunkan dalam waktu <1 jam)
dan hipertensi urgensi (TD harus diturunkan dalam waktu
24 - 48 jam). Pencetus kejadian ini belum diketahui; ter-
gantung bermacam kondisi dan penyebab hipertensinya.
Kerusakan organ yang cepat dan beratnya peningkatan
tekanan darah merupakan faktor utama terjadinya kegagalan
fungsi autoregulasi dan meningkatnya tahanan perifer.
Management of Hypertensive Emergency.
Kunci keberhasilan penanganan adalah dapat membedakan
antara hipertensi emergensi dengan hipertensi urgensi.
Ingat bahwa yang ditangani adalah pasien bukan angkanya.
Kasus hipertensi emergensi menggunakan obat antihiper-
tensi intravena, utamakan keuntungan pengobatan terhadap
perfusi jaringan terutama otak, jantung dan ginjal.
The Role of Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAA) Systems
in Regulating Concentrations of Electrolites.
Regulasi elektrolit oleh sistem RAA penting untuk pemeli-
haraan homeostasis tubuh dan terutama dipengaruhi oleh
faktor ginjal dan hormonal. Peranan sistem RAA adalah
dalam memengaruhi tekanan arterial, perfusi jaringan dan
volume ekstraseluler untuk mempertahankan keseimbangan
air dan elektrolit terutama garam.
Hypertension: The Gateaway to Reduce Cardiovascular Risk.
Penelitian PERNEFRI di 4 kota (Jakarta, Surabaya, Jogjakarta
dan Denpasar) mendapatkan hipertensi di daerah rural
mencapai 20.8 %. Bukti klinis menunjukkan bahwa pengo-
batan satu faktor risiko saja adalah suboptimal; pengendalian
semua faktor risiko akan menurunkan kejadian kardiovas-
kular lebih optimal dibandingkan satu faktor risiko saja.
Guideline European Society of Hypertension European
Society of Cardiology (ESH-ESC) merekomendasikan
penurunan tekanan darah 140/90 mmHg pada semua
penderita hipertensi, atau lebih rendah lagi jika mungkin.
Jika terdapat DM atau risiko tinggi termasuk PGK target
TD adalah130/90 mmHg.
Semua penderita hipertensi dengan risko penyakit
kardiovaskular atau DM harus diberi statin dengan target
kolesterol <175 mg/dL dan kolesterol LDL <100 mg/dL.
Target gula darah puasa <108 mg/dL dan A1c<6,5%.
Beyond BP Control: The Role of ARB in Controlling
Microalbuminuria.
Studi O.S.C.A.R menunjukkan bahwa ARB Olmesartan
dapat mencegah mikroalbuminuria primer.
The Breakthrough in Renal Anemia Management : Focus
on (Methoxy Polyethylene Glycol-Epo ).
Saat ini teknologi rekombinan EPO makin berkembang
dengan adanya CERA (Continuous Erythropoetin Receptor
Activator). Keunggulan CERA adalah kemampuan merang-
sang reseptor eritropoiesis secara berulang sehingga lama
kerjanya lebih panjang.
Target Stability: A New Era in Anemia Management.
Risiko komorbiditas, hospitalisasi dan mortalitas terendah
pada pasien PGK dengan kadar Hb 11-12,5 g/dL. Mencapai
target Hb saja belum cukup, yang tak kalah penting adalah
menjaga agar kadar Hb target yang telah tercapai tetap
stabil.
Systemic Lupus Erythematous (LES) : imunopatogenesis
Kelainan sistem imun pada LES ditandai dengan berbagai
faktor dan lingkungan yang mampu mengubah sistem
imun yang mungkin didasari kelainan genetik.
Data terakhir mengemukakan bahwa hampir 85% LES
diawali dengan adanya otoantibodi yang diperkirakan
muncul 2-3 tahun sebelum gejala klinis muncul.
Clinical Diagnostic Approach of Lupus Nephristis.
Lupus nephritis secara klinis diidagnosis berdasarkan
perubahan pada sistem renal seperti adanya proteinuria
> 500 mg/hari (atau test dipstick +3) atau ditemukannya
selular cast (eritrosit, Hb, granul, sel tubular).
Induction and Maintenance Therapy for Lupus Nephritis.
Tidak semua lupus nephritis memerlukan terapi induksi,
yang memerlukan terapi induksi adalah kelas III, V dan
terutama IV menurut kriteria WHO.
Belum ada kesepakatan yang diterima semua pihak
untuk terapi lupus nephritis ini.
Penelitian jangka panjang menunjukkan hanya
cyclosphopamide yang efektif; pada penelitian jangka
pendek dan menengah MMF memiliki efektivitas yang
setara dan profil toksisitas yang lebih rendah.
Medical Chronobiologic Approach for New Algorithm in
Diagnosis of True Hypertension.
Medical chronobiology memfokuskan pada mekanisme
pengaruh bioperiodisitas terhadap kejadian hipertensi.
Cyclic and Cicardian Variations in Cardiovascular Events:
Focus on Sympathetic Over Activity.
Insiden kardiovaskular lebih sering terjadi pada saat pagi
hari. Fenomena ini terkait dengan sistem saraf simpatis,
serta pengaruh faktor endogen dan eksogen.
Renal Physiology in Pregnancy.
Pada kehamilan normal ginjal mengalami perubahan
fisiologik struktur vaskular dan hemodinamik.
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
L A P O R A N K H U S U S
L A P O R A N K H U S U S
background image
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
139
L A P O R A N K H U S U S
Perubahan hemodinamik adalah aktivasi simpatik dan
volume plasma yang meningkat; terlihat dari aliran plasma
ginjal dan LFG yang meningkat.
Pathophysiology of Preeclampsia: the latest evidence.
Plasenta merupakan penyebab utama preeklampsia; implan-
tasi abnormal dan tidak adekuatnya invasi trofoblas pada
arteri uterus menyebabkan turunnya perfusi sehingga terjadi
kondisi iskemia/hipoksia.
Treatment of Hypertension in Pregnancy:
Obat antihipertensi yang dipakai terbatas pada beberapa
obat seperti methyldopa, hydralazine, nifedipine, anta-
gonist-1, adrenoreceptors, labetalol dan magnesium sulfat.
Meet the Expert
Acute Kidney Injury.
Definisi istilah gagal ginjal akut yang tidak seragam meng-
akibatkan diagnosis dan penanganan yang terlambat.
Maka istilah gagal ginjal akut diseragamkan menjadi
gangguan ginjal akut = GgGA (Acute Kidney Injury).
Klasifikasi tingkat gangguan ginjal akut menurut metoda
RIFLE (Risk, Injury, Failure, Loss, ESRD).
Penanganan GgGA meliputi:
a. Menentukan diagnosis, etiologi dan komplikasi GgGA
b. Pemilihan jenis pengobatan yang tepat waktu.
c. Memilih jenis pengobatan yang tepat.
Preventing Hypertensive Disease.
Kombinasi anti hipertensi dosis tetap diharapkan dapat
memperbaiki efikasi, mengurangi efek samping dan harga
yang lebih ekonomis sehingga memperbaiki persistensi
dan kepatuhan. Renoproteksi dapat dupayakan dengan
penurunan tekanan darah mencapai target. Pengendalian
tekanan darah akan memelihara fungsi ginjal pasien
hipertensi.
(DHS)
·
·
·
·
Ralat :
Pada berita/laporan khusus : National Symposium on Vascular Medicine ke-4 (ANVIN) pada CDK 166 hal. 438, acara
dibuka oleh dr. Aulia Sani, SpJP(K) bukan oleh dr. H. Murnizal Dahlan, SpBV(K). Mohon maaf atas kekeliruan ini.
Pada tanggal 16-17 Januari 2009 telah dilakukan seminar 2 hari bertemakan Lactic Acid and Culture
Collection: their role in food, health, industry and the importance of management of culture collection,
bertempat di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Seminar ini
dioorganisir oleh beberapa badan yaitu ISLAB (Indonesian Society Lactic Acid Bacteria), PSPG UGM (Pusat
Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada) dan FORKOMIKRO (Forum Komunikasi Kurator Koleksi
Mikroorganisme Indonesia) bekerjasama dengan PATPI (Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia)
Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia.
S
eperti diketahui, Indonesia merupakan negara tropis yang
kaya akan mikroorganisme termasuk bakteri penghasil asam
laktat (BPAL), BPAL saat ini semakin diyakini manfaatnya
karena memiliki fungsi fisiologis bervariasi dengan potensi
yang besar untuk digunakan dalam bidang pangan, industri
dan kesehatan. Di bidang kesehatan peranan BPAL ini telah
diaplikasikan sebagai probiotik dengan manfaat yang telah
dikenal luas dalam mengatasi masalah saluran pencernaan.
Melalui seminar ini peserta dapat semakin menggali informasi
baru mengenai potensi, mengetahui hasil-hasil penelitian
yang telah dilakukan dan meningkatkan manajemen koleksi
kultur BPAL.
Seminar ini juga mengundang beberapa pembicara luar seperti
Dr.Yuan Kuan Lee dari National University of Singapore yang
menyampaikan informasi mengenai mekanisme probiotik
dalam memodulasi sistem imun tubuh, Prof.Yoshimmi Benno
yang membahas koleksi berbagai isolat BPAL yang dimiliki Japan
Culture Microbiology, dan Prof. Fusao Tomita mengenai berbagai
potensi lain probiotik di masa datang untuk ke pentingan manusia.
Potensi lain ini antara lain adalah dalam bidang kosmetik,
pencegahan gejala alergi, sebagai vaksin hingga sebagai
antihipertensi.
Pembicara dari Indonesia sendiri di antaranya adalah Dr. M.
Juffrie dengan topik penggunaan probiotik untuk kasus diare
dan Prof.Yati Soenarto mengenai diare rotavirus di Indonesia
serta penatalaksanaannya. Menurut Prof Yati, meskipun peng-
gunaan probiotik belum dimasukkan ke dalam guideline
pentalaksanaan diare tetapi potensi probiotik untuk kasus diare
cukup menjanjikan, sayangnya evidence penggunaannya masih
sedikit sehingga masih membutuhkan studi lebih lanjut.
Seminar ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari maha-
siswa, pengajar, peneliti hingga industri baik industri pangan
maupun farmasi; ditutup oleh ketua ISLAB Prof.Dr. Endang.
S. Rahayu yang pada tahun ini terpilih kembali untuk mengetahui
organisasi ini.
(DHS)
Seminar Probiotik
Seminar Probiotik
Seminar Probiotik
Yogyakarta, 16 -17 Januari 2009
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
140
L A P O R A N K H U S U S