background image
situasi politik. Angka malaria meningkat lagi dan mencapai
puncaknya pada tahun 1973. Dengan dimulainya Pelita I
maka perencanaan pemberantasan menjadi lebih mantap.
2. Usaha pemberantasan dalam Pelita I dan II.
Pemberantasan malaria di Jawa/Bali dilanjutkan dan mulai
1974 secara pelan dapat menurunkan API. Diluar Jawa/Bali
pemberantasan dimulai secara terbatas pada Pelita II. Semen-
tara itu dalam Pelita I dimulai survey-survey filaria, serta
dikembangkan metode pemberantasannya. Dalam Pelita II
survey-survey dilanjutkan sementara pemberantasannya dimulai
secara terbatas. Schistosomiasis di Sulawesi Tengah memerlu-
kan berbagai penelitian sebelum pemberantasannya dimulai.
Sementara itu sejak Pelita II survey-survey penyakit cacing
yang ditularkan lewat tanah dimulai dan dikembangkan pula
metode pemberantasannya, dan selanjutnya pemberantasannya
mulai secara terbatas.
3. Usaha pemberantasan dalam Pelita III
.
Dengan makin tersebarnya unit-unit pelayanan kesehatan
(Puskesmas) maka makin luas pula jangkauan pelayanan
kesehatan, termasuk pula pemberantasan berbagai penyakit
parasit. Pemberantasan malaria lebih diperluas di luar Jawa/
Bali dan diharapkan selama Pelita III dapat disemprot 29 juta
rumah dan dapat diobati 44 juta penderita/tersangka malaria.
Diperkirakan API di HCI areas di Jawa/B41i turun menjadi 7,5
perseribu sedang di daerah dengan endemisitas rendah men-
jadi 0,1 perseribu. Di luar Jawa/Bali di mana ada pemberantas-
an yang intensif PR menjadi 2% dan di daerah yang hanya
menjalankan pengobatan angkanya turun menjadi 5%. Pem-
berantasan filaria akan mencakup 1 juta penduduk dengan
jalan survey pendahuluan, pengobatan dan pengamatan pe-
nyakit. Pemberantasan Schistosomiasis dilanjutkan dan di-
harapkan angka kesakitan dapat diturunkan secara bertahap.
Pemberantasan cacing perut dilanjutkan dengan pemeriksaan
tinja, pengobatan massal dan pemeriksaan contoh tanah.
Diperkirakan angka kesakitan penyakit cacing perut akan
terus menerus menurun di daerah-daerah di mana diadakan
kegiatan pemberantasan.
4. Penyebaran kegiatan pemberantasan dan anggaran pem-
berantasan tahun I980/I98I.
Pada tahun 1980/1981 lokasi pemberantasan malaria telah
mencakup 26 propinsi, pemberantasan filaria mencakup 19
propinsi, penyakit schistosomiasis 1 propinsi dan pemberantas-
an penyakit-penyakit parasit tersebut di atas untuk tahun
1980/1981 adalah Rp. 8.86I.244.000,-- atau 53% dari ang-
garan untuk seluruh pemberantasan penyakit menular di
Indonesia.
Pelaksanaan Penanggulangan Penyakit
Parasit di Daerah lstimewa Yogyakarta
Soetrisno MPH, Sarwoko, Soenarto
Kantor
.
Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi DIY
PENDAHULUAN
Pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan ke-
makmuran dan kesejahteraan rakyat. Peningkatan taraf dan
kesejahteraan yang adil dan merata yang ingin diusahakan
melalui pembangunan itu, hanya dapat tercapai jika ada
peningkatan kemampuan ekonomi, yang harus dihasilkan oleh
usaha pembangunan itu sendiri.
Dengan demikian perlu adanya suatu investasi, baik yang
bersifat ekonomis secara langsung, maupun investasi non-
ekonomis, misalnya melalui peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Pemberantasan penyakit parasit, yang merupakan
sebagian
dari penyakit menular, adalah bagian yang tidak
terpisahkan dalam usaha perbaikan kesehatan rakyat, seperti
telah tercantum dalam pola umum Pelita Ketiga.
Di antara beberapa jenis penyakit parasit yang terdapat di
Indonesia ini, malaria merupakan salah satu diantaranya yang
metodologi pemberantasannya telah dikuasai dengan baik.
Pemberantasan
malaria dilaksanakan di seluruh wilayah
propinsi DIY. Pada 73 kecamatannya, tetapi pada 6 kecamat-
an di antaranya yang kebetulan terletak dalam wilayah kota-
madya Yogyakarta, hanya dilakukan pencarian penderita
secara pasif.
Pemberantasan penyakit cacing tambang dan parasit perut
lainnya dilakukan secara sangat terbatas, pada murid sekolah
dasar, dan hanya mencakup 7 buah sekolah dasar dikecamatan
Sleman kabupaten Sleman dan 19 buah sekolah dasar di
wilayah kecamatan Sewon kabupaten Bantul.
Daerah Istimewa Yogyakarta secara administratif terbagi
dalam 4 kabupaten dan satu Kotamadya, meliputi 73
ke-camatan dengan 556 desa atau yang setingkat desa. Luas
propinsi DIY adalah 3.I85,77 km
2
, dengan pola penggunaan
tanah sebagai berikut : sawah 20%, tegalan 38%, pekarangan
27%, hutan 5%, lain-lain (non produktif) 10%. .
Jumlah penduduk DIY dalam tahun 1979 adalah 2.744.734
orang atau kepadatan rata-rata 861 orang per kilometer per-
segi, dengan kisaran antara 451 dan 11.535 orang per kilo-
meter persegi.
Angka kesakitan malaria dalam tahun 1979 adalah 0,93%0
dan dari jumlah ini 87,50% merupakan penderita malaria yang
berpindah tempat, baik dari luar Jawa - Bali, maupun antar
daerah di Jawa dan antar daerah dalam propinsi DIY sendiri.
Dalam tahun 1979 prevalensi cacing tambang dan parasit
perut lainnya pada murid 19 SD kecamatan Sewon kebupaten
Bantul adalah : Ascaris lumbrioides 29,39%, Tricharis trichiu-
ra 86,73% dan Ancylostoma duodenale 8,96%, sedangkan pada
murid 7 buah SD kecamatan Sleman kabupaten Sleman
adalah sebagai berikut : A.lumbricoides 63,11%, T.trichiura
82,71%, dan A.duodenale 2,31%. (Tabel 3).
PRINSIP--PRINSIP PEMBERANTASAN
Pemberantasan malaria menitikberatkan pada pcmberantas-
an baik parasit, maupun vektornya dan secara garis besar men-
cakup .3 macam kegiatan, yakni penyemprotan rumah dengan
insektisida DDT secara fokal pada daerah yang masih terjadi
penularan, surveillance terhadap malaria (epidemiological sur-
veillance) dan penyelidikan entomologi.
Kegiatan surveillance terhadap malaria meliputi kegiatan
yang bermacam-macam, misalnya penemuan penderita secara
aktif dan pasif, pengumpulan sediaan darah dari para penderita
demam, pemeriksaan parasitologis terhadap sediaan tersebut,
pengobatan penderita, penyelidikan epidemiologi.
Pengobatan penderita demam dilakukan secara presumptive
Simposium Masalah Penyakit Parasit
110
background image
Tabel I
Keadaan ketenagaan kegiatan operasional Pemberantasan Penyakit Malaria
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tahun 1979.
Gambar I : Daerah penyemprotan DDT di DIY tahun 1979.
11 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
dan secara radical. Pengobatan presumptive diberikan pada
semua penderita demam atau yang pernah demam dan telah
diambil contoh darahnya, sedangkan pengobatan radical
diberikan terhadap mereka yang telah terbukti secara mikros-
kopis mengandung parasit malaria.
Follow-up penderita malaria dijalankan selama 1 tahun,
dengan cara melakukan pemeriksaan spesimen darah dalam
2 tahap.
Tahap pertama selama 6 bulan, spesimen darah diperiksa
sekali setiap bulan, dan tahap kedua 6 bulan sisanya, pe-
meriksaan spesimen darah hanya sekali setiap 3 bulan.
Pemberantasan penyakit cacing tambang dan parasit perut
lain meliputi kegiatan pemeriksaan laboratorik terhadap tinja
semua murid SD yang dipilih dan pengobatan murid yang
didalam tinjanya terdapat telur cacing, 3 kali selama setahun.
ORAGANISASI DAN PELAKSANAAN KEGIATAN
PEMBERANTASAN.
Pelaksanaan
pemberantasan dilakukan secara integrasi
dengan Puskesmas-puskesmas. Pada tingkat kecamatan pe-
nanggung jawab pemberantasan malaria adalah seorang Kepala
Pemberantasan Penyakit Malaria, yang merupakan pembantu
dokter Puskesmas. Kepala P.2 Malaria kecamatan tersebut
mengkoordinir antara 3 - 5 Kepala Pembantu Malaria Desa dan
masing-masing Kepala Pembantu Malaria Desa mengkoordinir
antara 3 - 5 orang Pembantu Malaria Desa (PMD). Tugas Pem-
bantu Malaria Desa adalah mengadakan kunjungan rumah
untuk membuat sediaan darah dari mereka yang dicurigai
menderita malaria, yaitu mereka yang demam, pernah demam
dan mereka yang datang dari daerah lain. Daerah kerja seorang
Pembantu Malaria Desa dibagi dalam 25 hari kerja, hingga pada
saatnya ia secara reguler mengunjungi suatu wilayah kerja
sekali dalam sebulan.
Jumlah Pembantu Malaria Desa tersebut adalah 382 orang
dan selama tahun 1979 mereka telah berhasil mengumpulkan
383.793 buah sediaan darah, jadi rata-rata seorang Pembantu
Malaria Desa dapat mengumpulkan 1.005 sediaan darah dalam
setahun. (Tabel 1)
Penyemprotan rumah dengan DDT menggunakan tenaga
lepas musiman, yang dipekerjakan dua kali dalam setahun,
yaitu putaran pertama antara Januari - Maret dan putaran
kedua antara Juli - September. (Gambar 1)
Penyemprotan tersebut dikelompokkan dalam regu-regu, yang
dipimpin oleh seorang Pembantu Malaria Desa dan terdiri dari
rata-rata 5 orang penyemprot.
Jumlah rumah yang telah disemprot dalam tahun 1979
adalah I37.875 buah dan dengan demikian telah terlindungi
664.305 orang, semuanya ada di luar kotamadya Yogyakarta.
Dalam waktu sehari rata-rata dapat disemprot 884 buah
rumah ( 6 hari kerja/minggu ).
Pemeriksaan laboratorik terhadap sediaan darah dilakukan
oleh juru mikroskopis, yang jumlahnya ada 20 orang untuk
4 kabupaten. Dalam tahun 1979 untuk 4 kabupaten tersebut
jumlah sediaan darah yang diperiksa adalah 354.328 buah,
berarti setiap hari kerja harus diperiksa 68 buah sediaan darah,
suatu jumlah yang melewati batas optimal yaitu 40 sediaan/
hari. (Tabel 2, Gambar 2).
PERANAN "PKMD" DALAMPEMBERANTASANMALARIA.
PKMD atau Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa
adalah bagian integral dari pembangunan desa dan pembangun-
an nasional secara keseluruhan.
Tujuan PKMD adalah untuk meningkatkan derajat kesehat-
an, namun kegiatannya tidak terbatas hanya pada bidang
kesehatan saja, karena sangat banyaknya faktor yang mem-
pengaruhi derajat kesehatan tersebut. Dengan demikian men-
cakup pula kegiatan-kegiatan yang relevan dan menunjang
kesehatan.
Pada saat PKMD telah berkembang penuh, peranannya
dalam pemberantasan malaria sangat besar, misalnya :
1).Membantu mempercepat penemuan penderita malaria.
Seorang kader sehat yang telah terlatih dapat diberi tugas
mengambil darah tersangka penderita malaria atau pendatang
di desanya, sebelum atau segera sesudah seorang Pembantu
Malaria Desa melakukan kunjungan rumah, mengingat jadwal
kunjungan rumah seorang Pembantu Malaria Desa di suatu
desa hanya sekali dalam sebulan. Dengan adanya seorang kader
sehat (kader desa) yang menetap di desanya maka pengamatan
terhadap penderita demam atau pendatang dapat dilakukan
dengan lebih teliti dan secara terus menerus dan penemuan
penderita dapat
dikerjakan dengan lebih cepat, hingga pe-
nularan dapat dibatasi.
Tabel 2
Hasil beberapa kegiatan operasional dalam Pemberantasan Penyakit Malaria.
di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1975 - 1979
EPIDEMIOLOGIS
PENYEMPROTAN
PENGOBATAN
TAHUN
JUMLAH
N
R
I
U
RUMAH
DDT ( Kg ) JIWA DILINDUNGI
PRESUMPTIVE
RADICAL
1
2
3
4 5
6
7
8
9
10
11
1 975
525
214
1065
20
1.824
185.546
145.276,7
889.526
380.152
2.985
1976
130
72
899
16
1.117
230.381
1 78.235
1.104.175
389.398
1.494
1977
54
87 1.163
2
I.306
218.784
165.263
1 .062.495
421.591
990
1978
97
167 1 .982
4
2.250
170.515
131.255,9
823.774
404.240
1.224
1979
17
300 2.249
4
2.570
137.875
106.565,3
664.305
385.230
2.175
Simposium Masalah Penyakit Parasit
112
background image
Gambaz 2: Annual Parasite Incidence di tiap kecamatan DIY tahun 1979.
Tabel 3
Prevalensi (%) Cacing Tambang dan Parasit Perut Lain pada murid beberapa S.D. kecamatan Sleman
kabupaten Sleman dan beberapa S.D. kecamatan Sewon kabupaten Bantul Tahun : 1976 - 1979.
TAHUN
TEMPAT
( kecamatan )
JUMLAH
DIPERIKSA
ASCARIS
LUMBRICOIDES
TRICHURIS
TRICHIURA
CACING
TAMBANG
KETERANGAN
1
2
3
4
5
6
7
1976
S l e m a n
397
84,13 %
85,14 %
30,23 %
Methode Kato
403
17,12 %
88,58 %
1 1,16 %
469
3,19 %
74,41 %
1 0,44 %
1977
Sleman
470
10,64%
87,23%
5,53%
457
71,65 %
86,65 %
3,28 %
Oktober 1977
1978
S e w o n
358
75,98 %
9
1,67 %
15,64 %
Nopember 1977
252
29,36 %
94,04 %
3,53 %
( I.
April
( II. Agustus
( III. Oktober.
S l e m a n
353
14,73 %
67,13 %
1,98 %
Pebruari.
339
21,83 %
87,91 %
2,36 %
Oktober.
1979
S e w o n
279
29,39 %
86,73 %
8,96 %
Januari.
S l e m a n
347
63,11 %
82,71 %
2,31 %
Pebruari.
S e w o n
243
1 2,76 %
90,12 %
1 0,29 %
M a r e t.
11 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
2). membantu pengobatan.
Oleh seorang kader desa secara selektif dapat diberikan peng-
obatan presumptive, yaitu pengobatan sekali pada mereka
yang telah diambil darahnya untuk pemeriksaan. Demikian
pula halnya dalam pengobatan radical, terutama apabila
jumlah penderita baru yang diketemukan besar jumlahnya
yang akan membuat Kepala Pembantu Malaria Desa kewalahan
menanganinya sekaligus.
3).pengamatan terhadap pendatang dapat lebih seksama.
Pengamatan terhadap para pendatang disuatu desa sangat
besar artinya dalam pemberantasan malaria di DIY, karena
dalam waktu 5 tahun terakhir ini angka-angka telah menunjuk-
kan bahwa penderita malaria yang berpindah tempat (penderita
i mport) jumlahnya terus meningkat.
HAMBATAN DALAM PEMBERANTASAN.
1).Jumlah penderita yang berpindah-tempat (penderita im-
port) selalu merupakan bagian terbesar (lebih dari 80%) dari
seluruh penderita malaria di DIY. Hal ini merupakan sumber
penularan yang potential dan di lain pihak jumlah pen-
datang tidak dapat dibendung berkat adanya kemajuan
di bidang transportasi antar daerah di lndonesia.
2). Vektor Anopheles aconitus di daerah persawahan telah
menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap DDT
sehingga
dampak penyemprotan yang fokal itu tidak begitu nampak.
3).Irigasi yang meningkat dan musim tanam yang tidak se-
rentak, mengakibatkan selalu tersedianya breeding places
bagi vektor An. aconitus.
4). Penyemprotan rumah yang terlampau sering di suatu daerah
dimana jumlah penderita dirasakan oleh masyarakat se-
tempat sebagai tidak terlalu membahayakan , acapkali
kurang mendapatkan tanggapan.
PEMBERANTASAN PENYAKIT CACING.
Kegiatan pemberantasan penyakit cacing tambang dan
parasit perut lain baru dimulai sejak 1976. Adapun tujuan
kegiatan ini adalah untuk menentukan penyebaran geografis,
menentukan besarnya masalah dan mengembangkan cara
pemberantasan yang sesuai dengan alam lndonesia
.
Pemberantasan penyakit parasit ini mencakup 2 macam ke-
giatan :
a). pengumpulan data dasar dengan cara pemeriksaan darah
dan tinja pada sekelompok sample murid sekolah dasar.
Gambar 3: Kecamatan pilihan dalam pemberantasan penyakit cacing di DIY tahun I979
Simposium Masalah Penyakit Parasit
1
14
background image
b).pemberantasan secara massal tetapi terbatas, dengan an-
thelmintica pyrantel pamoate dengan dosis 10 mg/kilogram
berat badan, sebanyak 3 kali dalam jangka waktu 1 tahun.
Sasaran pengobatan ini adalah murid-murid sekolah dasar
yang dipilih untuk menjadi sample.
Organisasi pemberantasan penyakit cacing tambang dan
parasit perut lainnya adalah jauh lebih sederhana apabila
dibandingkan
dengan
organisasi
pemberantasan
malaria.
Pada tingkat kecamatan, pelaksanaan pengobatan dikerjakan
oleh tenaga perawat kesehatan atau tenaga pengganti yang
ditunjuknya, dengan didampingi oleh tenaga kesehatan dari
Dinas Kesehatan kabupaten dan propinsi. Pemeriksaan darah
dan tinja dilakukan bersama-sama oleh tenaga dari Bagian
Parasitologi FK
UGM dan tenaga dari Balai
Laboratorium
Kesehatan Yogyakarta.
Dalam tahun 1976 telah berhasil diperiksa 971 spesimen
darah untuk mengetahui kadar haemoglobinnya dan 1725
spesimen tinja, di samping itu juga telah dilakukan pengobatan
massal terbatas terhadap 7144 orang murid sekolah dasar dari
7 buah SD di kecamatan Sleman kabupaten Sleman.
Dalam tahun 1979 telah diperiksa sejumlah 279 spesimen
tinja dari 19 buah SD di kecamatan Sewon, kabupaten Bantul
dan 347 spesimen dari 7 buah SD di kecamatan
Sleman,
kabupaten Sleman. (Tabel 3, Gambar 3).
Hambatan-hambatan yang dijumpai dalam pemberantasan
penyakit cacing tambang dan parasit perut lain adalah kepadat-
an penduduk di daerah pilihan dengan perilakunya yang mem-
buat derajat kesehatan lingkungan belum tinggi, hingga ke-
mungkinan reinfeksi sangat besar.
Seperti telah dimaklumi, daerah pilihan untuk pemberantas-
an penyakit cacing tambang dan parasit perut lain tersebut
adalah secara hidrologis termasuk dalam wilayah air dangkal,
dimana air tersedia dalam jumlah yang melimpah.
KESIMPULAN
1).Tenaga untuk operasional pemberantasan malaria masih
terasa kurang.
2). jumlah penderita yang berpindah tempat (penderita im-
port) masih tetap merupakan bagian terbesar dari seluruh
penderita malaria yang ada.
3).jumlah penderita baru terus dapat ditekan hingga
merupa-
bagian terkecil saja dari seluruh penderita malaria.
4).PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) me-
megang peranan juga dalam segi-segi pemberantasan.
5).Pemberantasan penyakit cacing tambang dan parasit perut
lainnya perlu diperluas, baik mengenai daerahnya maupun
dalam hal jangkauannya, hingga mencakup seluruh golong-
an masyarakat diseluruh wilayah propinsi DIY.
KEPUSTAKAAN
1.Laporan tahunan Direktorat P3M Dinas Kesehatan DIY tahun 1976-
1979.
2.Statistik Penduduk Propinsi DIY tahun 1978 - 1979.
3.Propinsi DIY dalam angka tahun 1978.
4. Dinas Kesehatan DIY dalam angka selama Pelita II, 1979.
Penggunaan Obat-obat Anti Parasit dalam
Masyarakat
R H Yudono
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Suatu masalah yang sampai sekarang di negara berkembang
sulit dipecahkan ialah masalah pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular, termasuk penyakit parasit. Yang menjadi
sebab terutama ialah kurangnya kesadaran akan kesehatan dan
sanitasi lingkungan. Walaupun sudah sering diberikan pe-
nerangan-penerangan tentang kesehatan dan sanitasi lingkung-
an, masih saja orang senang berak di tegalan ataupun di sungai.
Tempat-tempat pembuangan air besar ini sering berhubungan
erat dengan penduduk (kota maupun desa), bahkan tak jarang
tangan dan kaki yang tak beralas dalam waktu yang lama
berada di tanah basah (tempat telur dan larva cacing) dan
sering sungai digunakan untuk menyiram sayuran dan buah-
buahan supaya tampak segar dan pada tempat-tempat tertentu
air sungai digunakan untuk berkumur.
Di desa makin kurang kesadaran penduduknya, karena
kurang kerapnya diberi penerangan dan hal ini meliputi se-
bagian besar dari rakyat Indonesia. Akan tetapi karena tetap
adanya arus pemindahan penduduk dari desa ke kota (urbani-
sasi) maka juga di kota-kota sanitasi makin memburuk dan
dengan sendirinya di antaranya akan membawa akibat mudah-
nya terjadi infeksi parasit.
Belakangan ini didapat kabar bahwa daerah-daerah trans-
migrasi yang tadinya relatif masih steril, mendapat kontamina-
si
karena
transmigran-transmigran
merupakan "carrier".
Selain dengan perantaraan tanah dan air sungai (kadang-
kadang juga air sumur yang dekat letaknya dengan kakus)
penyakit-penyakit parasit juga dapat ditularkan dengan pe-
rantaraan daging atau ikan dan binatang-binatang air lain yang
kurang dimasak atau dengan melalui vektor-vektor seperti
lalat, nyamuk, kecoak, semut, dsb.
Di antara parasit-parasit ada yang tergolong protozoa
(entamoeba, plasmodia,
Giardia lamblia,
dsb.) dan ada pula
yang tergolong metazoa (cacing).
Untuk menurunkan angka sakit, maka perlu diadakan
usaha jangka panjang berupa pendidikan kesehatan dan per-
baikan sanitasi lingkungan dan usaha jangka pendek berupa
penyuluhan kesehatan dan pembersihan kampung halaman
secara serentak (gotong royong) dan juga dengan pengobatan
masal ataupun individual. Karena sifatnya maka dalam peng-
obatan masal mudah timbul resistensi yang disebabkan karena:
pengobatan masal tak pernah dapat dilakukan secara
intensif, sehingga tak pernah mencapai cure rate yang
paling tinggi.
-- penderita, jika tak diberikan dosis tunggal, seringkali
"drop
out".
Obat-obat antiparasit pilihan :
OBAT--OBAT ANTIAMOEBIASIS
Amoebiasis tak hanya merupakan penyakit tropik, karena
penyakit ini juga terdapat di daerah beriklim sedang seperti
misalnya di Amerika. Terutama di daerah di mana keadaan
115
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980