background image
Pembinaan Rumah Sakit melalui
Instrumen Penilaian Penampilan Kerja
dan Instrumen Pengukur Kemampuan
SK. Poerwani dr, MARS
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan
RI
Surabaya
ABSTRAK
Instrumen Penilaian Penampilan Kerja Rumah Sakit telah dikembangkan pada tahun
1984, sedangkan Instrumen Pengukur Kemampuan Rumah Sakit pada tahun 1990
.
Pengembangan kedua instrumen tersebut dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI
bersama-sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan Dinas Kese-
hatan Dati I Propinsi Jawa Timur
.
Maksud pengembangan kedua instrumen tersebut adalah untuk memperoleh suatu
sarana atau alat guna membina dunia perumahsakitan di Indonesia pada umumnya dan di
daerah tingkat I dan II tempat rumah-rumah sakit berada di wilayah kerjanya pada
khususnya. Demikian pula pembinaan pimpinan Rumah Sakit yang bersangkutan ter-
hadap pelayanan Rumah Sakit itu sendiri
.
Ruang lingkup kedua instrumen tersebut meliputi a) kelompok manajemen rumah
sakit, b) kelompok pelayanan medik rumah sakit, c) kelompok penunjang pelayanan
medik, dan d) kelompok pemeliharaan sarana, pendidikan/latihan/penelitian di rumah
sakit.
Penilaian penampilan kerja rumah sakit dilakukan setiap tahun sekali, dengan
kategori baik sekali, baik, cukup, kurang dan kurang sekali. Sedangkan untuk pengukuran
kemampuan rumah sakit adalah rumah sakit dengan kategori di atas 60% dari standar,
antara 30­60% dari standar dan di bawah 30% dari standar
.
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25 November 1993.
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994
123
background image
Gambaran penampilan kerja rumah sakit di Jawa Timur dengan menggunakan
instrumen penilaian penampilan kerja pada 3 tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah
rumah sakit dengan kategori baik sekali dari sebuah rumah sakit pada tahun 1990 men-
jadi 2 buah pada tahun 1992. Kategori baik dari 9 rumah sakit menjadi 19 rumah sakit pada
tahun 1991 dan 24 rumah sakit pada tahun 1992. Sedangkan untuk kategori cukup dan
kurang menunjukkan jumlah yang menurun. Untuk kemampuan rumah sakit pada tahun
1991, nampaknya yang mencapai di atas 60% dari standar baru 5 buah rumah sakit,
kurang dari 30% dari standar hanya sebuah rumah sakit dan sisanya dari 35 rumah sakit
di Jawa Timur masuk kategori antara 30­60% dari standar
.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kedua instrumen tersebut dapat digunakan
sebagai alat pembinaan dalam dunia perumahsakitan. Hal tersebut karena dapat di-
lakukannya suatu pemetaan penampilan kerja maupun kemampuan rumah sakit dalam
penyediaan sarana.
Dengan demikian pembinaan terhadap perumahsakitan baik secara menyeluruh di
Indonesia ataupun di tingkat propinsi dapat lebih terarah, rumah sakit mana yang patut
mendapat perhatian. Sedangkan untuk pimpinan rumah sakitpun dapat memutuskan
kelompok yang perlu dibenahi untuk ditingkatkan penampilannya maupun sarananya
.
PENDAHULUAN
Rumah sakit adalah institusi yang memberikan pelayanan
kepada mereka yang sakit. Dalam menjalankan kewajibannya,
rumah sakit pada dasarnya tidak terlepas dari batasan Badan
Kesehatan Dunia (WHO, 1957), yaitu: "The hospital is an
integral part of social and medical organization, the function
of which is to provide for the population complete health
care both curative and preventive, and whose out patient
service reach out to the family and its home environment; the
hospital is also a centre for training of health workers and
for bio-social research"
.
Batasan di atas memberikan kesimpulan bahwa peran ru-
mah sakit tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pelayanan
kesehatan. Hal mana rumah sakit merupakan back up sistim
dari pelayanan puskesmas yang menjadi ujung tombak pe-
layanan kesehatan pada masyarakat.
Dengan demikian rumah sakit selayaknya menyediakan
atau menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan penun-
jang medik, pelayanan perawatan, rehabilitasi, preventif dan
promotif. Di samping itu suatu rumah sakit perlu menyedia-
kan diri untuk menjadi tempat pendidikan tenaga kesehatan
dan penelitian ilmu dan teknologi kesehatan dan aplikasinya,
serta menjadi tempat rujukan bagi instansi kesehatan yang
kurang mampu menyelesaikan upaya penyembuhan penderita
dikarenakan kemampuan yang ada tidak memungkinkan. Un-
tuk menunjang pelaksanaan pelayanan rumah sakit, sumber
daya baik tenaga, keuangan, sarana fisik, peralatan dan lain-
lain perlu sekali suatu penanganan yang efisien dan efektif.
Oleh karena itu rumah sakit merupakan suatu institusi yang
kompleks dan unik, karena sifat dari rumah sakit adalah pa-
dat karya, padat modal dan padat ilmu serta teknologi. De-
ngan demikian biaya operasional suatu rumah sakit menjadi
mahal. Atas dasar itu pulalah rumah sakit sedikit "dilupakan
"
dalam strategi WHO.
Sesuai dengan kesepakatan baru dalam mencapai health
for all by the year 2000, beberapa parameter baru perlu di-
tambahkan guna memperjelas tujuan tersebut. Parameter ter-
sebut adalah dengan pemerataan, efisiensi dan efektif. De-
ngan demikian apapun yang terjadi pelayanan rumah sakit
harus dapat menjangkau seluruh masyarakat dan dijalankan
secara efisien dengan program yang efektif.
Uraian di atas menyimpulkan bahwa rumah sakit itu me-
rupakan salah satu mata rantai pelayanan yang penting dan
rumit, sehingga penanganannya bukan sekedar dari bidang
medik saja, tetapi segi manajerialnya. Walaupun demikian
tidak berarti bahwa strategi pembangunan kesehatan harus
di arahkan ke rumah sakit semata-mata. Tetapi paling tidak
perhatian pemerintah terhadap perumahsakitan perlu diting-
katkan, terutama bila dikaitkan dengan tersedianya sarana dan
cakupun agar dapat memberikan pelayanan yang diharapkan
.
Untuk maksud itulah pada kesempatan ini penulis men-
coba untuk memberika
n masukan dalam upaya pembinaan
pelayanan rumah sakit di Indonesia yang lebih terarah agar
pelayanan rumah sakit dapat lebih efisien dan efektif. Mat
yang dapat digunakan untuk maksud tersebut adalah "instru-
men penilaian penampilan kerja rumah sakit" dan "instrumen
pengukur kemampuan rumah sakit". Maksud dan tujuan in-
strumen tersebut secara umum adalah untuk mengetahui se-
berapa jauh penampilan kerja dan kemampuannya dalam
menyediakan sarana prasarana untuk dapat menjalankan
fungsinya. Sedangkan secara khusus instrumen tersebut di-
124
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus No. 91, 1994
background image
harapkan dapat memperluas wawasan para pengelola rumah
sakit baik
rumah sakit pemerintah maupun swasta dalam
mengelola rumah sakitnya. Instrumen tersebut telah dikem-
bangkan dan ditetapkan di seluruh Indonesia dalam rangka
menentukan rumah sakit yang berprestasi. Namun pada ke-
sempatan ini penulis hanya membatasi penerapannya di Dati
I Propinsi Jawa Timur. Sedangkan rumah sakit yang di-
maksud adalah rumah sakit umum Dati II, karena rumah sa-
kit inilah yang paling banyak jumlahnya, baik itu secara
menyeluruh di Indonesia maupun di Dati I Propinsi Jawa
Timur.
INSTRUMEN PENILAIAN PENAMPILAN KERJA
RUMAH SAKIT
Instrumen ini telah diterapkan mulai th. 1984, yang setiap
3 tahun disempurnakan. Untuk periode thn. 1990, 1991 dan
1992 instrumen ini terdiri dari 4 kelompok, yaitu:
1. Kelompok
A :
Manajemen Rumah Sakit
:
28
indikator
2. Kelompok
B :
Pelayanan Medik
:
112
indikator
3. Kelompok
C :
Penunjang Pelayanan Medik :
30
indikator
4. Kelompok
D :
Pemeliharaan :
29
indikator
Jumlah indikator
:
119
indikator
A. Metoda Penilaian
Metoda penilaian dilakukan dengan kesepakatan antar
anggota tim penyusunan instrumen, yaitu menggunakan sis-
tem pembobotan. Bobot untuk masing-masing kelompok ada-
lah sebagai berikut: A : B : C : D = 20.000 : 60.000 : 30.000
: 20.000. Sedangkan bobot tiap indikator untuk masing-ma-
sing kelompok adalah sama. Sebagai contoh: Kelompok A
terdiri dari 28 indikator, jadi tiap indikator dari kelompok ini
nilainya 1/28 X 20.000 = 714.3. Dengan demikian total skor
20.000 + 60.000 + 30.000 + 20.000 = adalah 130.000.
Penilaian dilakukan serentak setiap tahun sekali oleh
Dinas Kesehatan Dati I untuk seluruh RS yang ada di wilayah
kerjanya. Sebelumnya pihak rumah sakitpun menilai penam-
pilannya sendiri dengan menggunakan instrumen yang sama.
Dengan cara demikian diharapkan adanya komunikasi yang
baik dalam rangka pembinaan/pengawasan baik terhadap ru-
mah sakit maupun seluruh staf rumah sakit terkait.
B. VARIABEL YANG DINILAI
1) Kelompok A: Penatalaksanaan RS (Manajemen RS)
1. Unit Ketenagaan................................................. 7 indikator
2. Unit Keuangan .................................................... 5 indikator
3. Unit Pelayanan Medik........................................7 indikator
4. Unit Penyusunan Program dan Logistik ...........6 indikator
5. Unit.Lingkungan.................................................3 indikator
2) Kelompok B: Pelayanan Medik RS
1. Unit Rawat Jalan................................................ 9 indikator
2. Unit Gawat Darurat............................................7 indikator
3. Unit Kesehatan Gigi dan Mulut........................6 indikator
4. Unit Pelayanan Spesialis dan Rujukan ...........19 indikator
5. Unit Pcnyakit Dalam........................................15 indikator
6. Unit Pelayanan Bedah......................................14 indikator
7. Unit Kesehatan Anak....................................... 16 indikator
8. Unit Pelayanan Kebidanan Kandungan......15 indikator
9. Unit PKBRS........................................................7 indikator
10. Unit Pelayanan Imunisasi..................................9 indikator
11. Unit PKMRS.......................................................5 indikator
(Catatan: Unit 1 - 4 adalah kelompok Pelayanan medik se-
cara keseluruhan.
Unit 5 - 8 adalah kelompok Pelayanan medik spe-
sialis.
Unit 9 - 11 adalah kelompok Pelayanan terintegrasi.
3) Kelompok Penunjang Pelayanan Medik
1. Unit Laboratorium..............................................8 indikator
2. Unit Radio Diagnostik ....................................... 6 indikator
3. Unit Pelayanan Farmasi.....................................6 indikator
4. Unit Pelayaan Gizi.............................................4 indikator
5. Unit Rekam Medik .............................................6 indikator
4) Kelompok Penunjang Pemeliharaan dan Pelayanan
1. Unit Hygiene Sanitasi RS................................17 indikator
2. Unit Pemeliharaan Sarana dB..........................12 indikator
C. HASIL
Dalam menerapkan instrumen penilaian penampilan
kerja RS Dati II di Dati I Jawa Timur, kebijakan yang dise-
pakati dalam penilaian penampilan kerja masing-masing ru-
mah sakit adalah sebagai berikut: Penampilan kerja ditampil-
kan dalam angka presentase pencapaian di lihat dari total
skor, kemudian dikelompokkan menjadi 5 kategori yaitu:
Baik sekali bila mencapai di atas 81,94 persen; Baik, bila
mencapai 69,68% - 81,93%; Cukup bila mencapai 57,41% -
69,67%; Kurang, bila mencapai 45,15% - 57,40% dan Kurang
sekali, bila pencapaiannya di bawah 45,15%.
Secara keseluruhan penilaian terhadap penampilan kerja
35 RS di pati I Propinsi Jawa Timur tampak dalam tabel 1:
Tabel 1. Penampilan Kerja RS di Jawa Timur Tahun 1990, 1991 dan
1992.
Kategori penampilan
1990
1991
1992
Baik Sekali
(BS)
1
1
2
Baik
(B)
9
19
26
Cukup
(C)
21
13
6
Kurang
(K)
4
2
1
Kurang sekali
(KS)
-
-
-
Jumlah Rumah Sakit
35
35
35
Dengan pola pembinaan oleh Dinas Kesehatan Dati I
Propinsi Jawa Timur yang mengacu pada instrumen penilai-
an penampilan kerja, nampaknya pada 3 tahun terakhir, di-
sertai oleh upaya masing-masing rumah sakit untuk men-
capai kriteria yang disarankan, peningkatan pencapaian se-
cara keseluruhan dapat nampak pada tabel di atas. Terlihat
bahwa rumah sakit yang masuk kategori baik meningkat dari
9 RS tahun 1990, kemudian 19 RS tahun 1991 dan 26 RS
pada tahun 1992. Demikian pula dengan sendirinya RS de-
Cermin Dunk. Kedokteran Edisi Khusus No. 91, 1994
125
background image
ngan kategori kurang tahun 1992 tinggal sebuah RS saja.
Untuk masing-masing variabel juga menunjukkan hal serupa,
dengan rincian yang terdapat pada tabel 2.
Tabel 2. Penampilan Kerja RS di Jawa Timur tahun 1990, 1991 dan
1992 dilihat dari tiap kelompok variabel.
Kategori
Kelompok A Kelompok B Kelompok C Kelompok D
Penampilan
90 91
92
90
91
92
90
91
92
90
91
92
Baik sekali
4
3
6
1
10
1
3
11
2
8
16
Baik
6
7
22
15
21
32
13
20
14
6
15
11
Cukup
10 19
5
14
13
3
15
9
10
12
8
7
Kurang
-10
4
2
5
0
0
6
3
0
11
1
1
Krg sekali
5
2
0
0
0
0
0
0
0
0
4
3
Jumlah RS
35 35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
35
Kecenderungan peningkatan penampilan kerja RS untuk
tiap kelompok variabel di atas, pada tahun 1991 dan 1992
berdasarkan tabel 3 berikut ini menunjukkan bahwa pe-
ningkatan penampilan untuk Kelompok A (Manajemen RS)
ada 4 buah RS, Kelompok B (pelayanan Medik) ada 10 buah
RS, Kelompok C (Penunjang pelayanan Medik) ada 4 buah
RS dan kelompok D (Pemeliharaan) ada 6 buah RS
.
Tabel 3. Kecenderungan peningkatan penampilan kerja RS untuk tiap
kelompok variabel tahun 1991 dan 1992.
Kelompok A
Kelompok B
Kelompok C
Kelompok D
RS dg kiteria
RS
%
RS
%
RS
%
RS
%
Ada peningkatan
29
82,85
24
68,57
32
91,42
27
74,14
Kondisi statis
2
5.71
1
2.85
-
-
2
5.71
Penurunan
4
11.44
10
28.58
3
8.58
6
17.15
MANFAAT
1) Bagi Dinas Kesehatan Dati I
Selaku instansi yang bertanggung jawab atas terlaksana-
nya layanan rumah sakit di wilayah kerjanya, melalui pene-
rapan instrumen penilaian penampilan kerja RS Dati II, dapat
melakukan suatu pemetaan dalam keseluruhan Dati I Pro-
pinsi Jawa Timur.
Melihat adanya peningkatan penampilan kerja dari ru-
mah sakit yang ada dalam binaannya (tabel 3), instrumen
tersebut dapat dipakai sebagai alat pembinaan. Adanya ins-
trumen tersebut memudahkan pihak Dati I Propinsi Jawa
Timur untuk menetapkan rumah sakit berprestasi dalam rang-
ka lomba HKN maupun Karya Utama Nugraha.
Dengan menerapkan instrumen tersebut, melalui suatu
kegiatan stratifikasi rumah sakit, paling sedikit semua rumah
sakit Dati II yang ada dalam wilayah binaannya berkesem-
patan mengadakan dialog dengan mereka dari Dinas Kese-
hatan Dati I Jawa Timur. Hal ini dapat dikatakan adanya
suatu pengawasan terhadap pengelolaan rumah sakit.
2) Bagi Rumah Sakit yang bersangkutan
Pimpinan Rumah Sakit yang bersangkutan memperoleh
126
Cermin Dania Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994
arahan dalam mengelola rumah sakit yang dipercayakan, apa
saja yang harus dilakukan untuk meningkatkan penampilan
kerjanya, khususnya dalam hal manajemen RS, pelayanan me-
dik yang diberikan, penunjang medik serta pemeliharaan sa-
rana RS. Adanya telaah tentang apa yang telah dikerjakan
dalam kurun waktu paling sedikit setahun, dapat menetapkan
prioritas kegiatan yang perlu ditingkatkan, dengan sendiri-
nya memudahkan pembuatan perencanaan yang matang,
mulai dari tiap unit kegiatan hingga secara menyeluruh ke-
giatan rumah sakit. Hal ini dan didukung dengan data yang
ada, memudahkan pihak rumah sakit bemegosiasi dengan
pemerintah daerah selaku pengelola/pemilik RSU Dati II
.
Hal ini memudahkan pihak yang berkepentingan untuk lebih
memahami bcrbagai kendala yang dialami oleh rumah sakit
bersangkutan. Akhirnya dengan berbagai informasi yang di-
peroleh melalui instrumen penilaian penampilan kerja RS,
proses penatalaksanaan RS dapat meningkat. Mulai dari
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan
serta pengendalian.
Instrumen tersebut dapat menimbulkan persaingan sehat
antara rumah sakit dalam berbagai lomba-lomba yang dise-
lenggarakan oleh pemerintah.
INSTRUMEN PENGUKUR KEMAMPUAN RUMAH
SAKIT
Instrumen ini ditujukan untuk melihat seberapa jauh
kemampuan suatu rumah sakit dalam menyediakan sarana/
prasarana dalam rangka memberikan pelayanan kepada ma-
syarakat, yang terdiri dari 4 kelompok variabel yaitu:
1. Kelompok A: Penatalaksanaan (Manajemen)
RS.......................................................................28 indikator
2. Kelompok B: Pelayanan Medik.....................166 indikator
3. Kelompok C: Penunjang Medik/Non me-
dik.................................................................... 166 indikator
4. Kelompok D : Penelitian, pendidikan,
latihan................................................................ 37 indikator
Masing-masing kelompok variabel tersebut terdiri dari 5
unsur, yaitu:
1. Unsur Tenaga
2. Unsur Jenis/kemampuan pelayanan
3. Unsur Sarana fisik
4. Unsur Peralatan
5. Unsur Prosedur Kerja Tetap (Protap)
Instrumen ini baru dikembangkan pada tahun 1990, dan
ditetapkan di Indonesia pada tahun 1991/1992 termasuk di
Dati I Propinsi Jawa Timur.
A. METODA PENGUKURAN/PENILAIAN
Metoda pengukuran atau penilaian dengan mengguna-
kan instrumen ini sama halnya dengan instrumen penilaian
penampilan kerja yang telah diuraikan, yaitu dengan sistem
skoring dan pembobotan, yang merupakan kesepakatan um
penyusun.
Pembobotan untuk masing-masing kelompok variabel
adalah sebagai berikut: Kelompok A: Kelompok B: Kelom-
background image
pok
C: Kelompok D = 2 : 4 : 3 : 1. Untuk memudahkan per-
hitungan, total skor ke 4 kelompok variabel adalah 11.000,
dengan rincian: Kelompok A: 2.200, Kelompok B: 4.400,
Kelompok C: 3.300, Kelompok D: 1.100.
Pembobotan untuk tiap unsur dalam setiap kelompok variabel
adalah sebagai berikut:
Tenaga : Kemampuan : Sarana Fisik : Peralatan : Protap =
3:3:2:2:1.
Oleh karena total skor setiap kelompok variabel berbeda
sesuai dengan bobotnya, maka total skor untuk tiap unsurnya
pun berbeda. Sebagai contoh, misalnya: Total skor unsur te-
naga dalam kelompok A: 3/11 X 2.200, sedangkan untuk
kelompok B: 3/1 X 4.400, kelompok C: 3/11 X 3.300, ke-
lompok D: 3/11 X 1.100.
Setiap unsur terdiri dari serangkaian indikator yang
mempunyai nilai skala antara 1 - 5. Nilai indikator tergan-
tung dari bobot masing-masing indikator bersangkutan. Bobot
tersebut dapat sama untuk setiap indikator atau berbeda se-
suai dengan pertimbangan faktor kecanggihan, kesulitan mau-
pun kwalitas. Dengan demikian nilai indikator tersebut ada-
lah: nilai skala X bobot.
Contoh:
Unsur Ketenagaan kelompok Manajemen RS:
Jenis tenaga/Skala
1
2
3
4
5
Robot
Nilai
Sarjana/Sarj. muda
SLTA
SLTP
SD
x
x
x
x
4
3
2
1
3 X 4
4 X 3
3 X 2
5 X 1
Nilai kclompok manajcmcn RS
:
1321
Nilai kclompok Pelayanan Medik
:
3000
Nilai kclompok Penunjang
:
2300
Nilai kclompok diklat penelitian
:
300
Total nilai kemampuan RS
:
6921
Dengan demikian Pencapaian skor kemampuan rumah sakit
adalah: 6921 X 11000 X 100% = 63%.
B. VARIABEL/SUBVARIABEL YANG DINILAI/DI-
UKUR
Variabel/subvariabel
yang diukur/dinilai
Jumlah Indikator
Tenaga Kemam-
Sarana Alat
Protap
puan
l. Penatalaksanaan RS
5
5
5
8
5
2. Pelayanan Medik
10
a. Rawat Jalan
3
6
13
2
b. Gawai darurat
6
5
7
2
c. Penyakit dalam
7
3
3
2
d. Kesehatan Anak
9
3
3
2
e. Bedah
7
3
3
2
f. Kebidanan
4
3
4
2
kandungan
g. Kes. Mata
3
2
2
2
h. Kes. THT
3
3
2
2
i. Kulit dan Kelamin
3
3
2
2
j. Gigi Mulut
6
3
3
2
k. Peny. syaraf
2
3
2
2
3. Penunjang Pelayanan
1. Penunjang Medik
5
a. Laboratorium
8
3
3
2
b. Radiologi
3
3
3
2
c. Farmasi
4
3
2
2
d. Gizi
3
3
2
2
e. Km. Operasi
8
3
12
2
f. Rehabilitasi Mcdik
1
3
6
2
g. PKMRS
2
2
2
2
2. Pemeliharaan
13
8
9
5
8
3. Penunjang lain
9
4
3
4
4
4. Pendidikan, Latihan,
Penelitian
l. Pendidikan/latihan
4
6
5
8
1
2. Penelitian
7
2
2
1
1
C. HASIL PENERAPAN INSTRUMEN PENGUKUR
KEMAMPUAN RS di JATIM
Hasil penerapan instrumen tersebut disajikan dalam 3
kategori, yaitu Kategori I pencapaian skor di atas 70%, kate-
gori II di antara 50 - 70% sedangkan kategori III pencapaian-
nya berada di bawah 50%. Penerapan instrumen tersebut di
Dati I Propinsi Jawa Timur pada tahun 1991, dan gambaran
secara umum peneapaian skor kemampuan rumah sakit dapat
dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Pencapaian Skor Kemampuan RS pada 35 RS di Dati I Pro-
pinsi Jawa Timur. Th. 1991
Kategori Pencapaian skor
Kemapuan RS
Jumlah Rumah Sakit
l.
2.
3.
Kategori I (di atas 70%)
Kategori II (50 - 70%)
Kategori III ( di bawah 50%)
3
9
23
Total
35
Sedangkan gambaran untuk tiap kelompok variabel, da-
pat digambarkan melalui tabel 5.
Tabel 4 menunjukkan bahwa rumah sakit di Dati I Jawa
Timur sebagian besar pcneapaian skor untuk kemampuan-
nya dalam menyediakan sarana/prasarana untuk mendukung
tugas dan fungsinya masih berada di bawah 50%. Baru 3
Jumlah nilai = 12 + 12 + 4+ 5= 33
Nilai maksimal untuk unsur tenaga tsb: 5 X 10 = 50
Dengan demikian pencapaian skor unsur tenaga:
33/50 X Total skor X 100%
33/50 X 3/11 X 2200 X 100% = 66%
Demikian seterusnya hingga didapatkan peneapaian skor
untuk kelompok manajemen RS yang terdiri dari ke 5 unsur
yang telah dikemukakan, dengan menjumlahkan nilai tiap
unsur dan dikalikan dengan total skor untuk kelompok ma-
najemen RS. Sebagai c ontoh:
Nilai unsur tenaga
:
396
Nilai unsur kemampuan
:
300
Nilai unsur sarana
:
250
Nilai unsur peralatan
:
300
Nilai unsur protap
:
75
Total Nilai
:
1321
Ini berarti peneapaian skor untuk kelompok Manajemen
RS = 1321/2200 X 100% = 60%
Dengan cara perhitungan yang sama akan didapatkan
total nilai masing-masing kelompok variabel dan peneapaian
skor kemampuan rumah sakitpun diperoleh. Misalnya:
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994
127
background image
Tabel 5. Pencapaian Skor kemampuan RS ditinjau dari masing-ma-
sing kelompok variabel.
Kategori pencapaian/Kelompok
skor variabel
A
B
C
D
l.
Kategori I
2.
Kategori II
3.
Kategori III
7
21
7
4
7
24
2
16
17
-
-
35
Jumlah Rumah sakit
35
35
35
35
buah rumah sakit yang kemampuannya mencapai di atas
70%. Sesuai dengan salah satu tujuan dari penerapan instru-
men ini di setiap rumah sakit di Indonesia, maka dapat di-
katakan bahwa dari 35 rumah sakit di Jawa Timur, tampak-
nya baru 3 buah rumah sakit yang memenuhi persyaratan
untuk ditingkatkan kelasnya dari RS kelas C menjadi Kelas
B non pendidikan. Sedangkan lainnya masih perlu ditingkat-
kan kemampuannya.
Hal ini merupakan salah satu asupan bagi kebijakan pe-
merintah dalam memutuskan rumah-rumah sakit yang sudah
dapat ditingkatkan kelasnya dan yang masih memerlukan
bantuan dan binaan.
Sedangkan tabel 5 lebih ditujukan pada Dinas Kese-
hatan Dati I untuk lebih mengarahkan pembinaannya ter-
hadap rumah sakit dalam setiap kelompok variabel yang di-
nilai. Namun demikian, nampaknya untuk kelompok D, ter-
nyata ke 35 RS yang ada di Jawa Timur pencapaiannya ma-
sih di bawah 50%. Padahal fungsi rumah sakit sebagai
tempat pendidikan, latihan tenaga kesehatan serta penelitian
ilmu dan teknologi kedokteran adalah fungsi yang tidak
dapat ditinggalkan begitu saja. Dan ini memerlukan pembi-
naan lebih lanjut.
Sedangkan untuk rumah sakit yang bersangkutan, dapat
menetapkan kelompok variabel mana yang mendapatkan
prioritas untuk ditingkatkan kemampuannya. Baik upaya ru-
mah sakit sendiri, maupun melalui pemerintah (pemda) atau-
pun Depkes.
MANFAAT INSTRUMEN PENGUKUR KEMAMPUAN
RUMAH SAKIT
Instrumen ini dapat digunakan di pelbagai tingkat pem-
binaan, mulai dari rumah sakit bersangkutan, Pemerintah
daerah Tk. II, Pemerintah Daerah Tk.I
maupun Pemerintah
Pusat. Pembinaan tersebut baik terhadap rumah saki yang
dikelola pemerintah, maupun swasta. Khususnya pembinaan
ini ditekankan pada penyediaan tenaga, sarana fisik, per-
alatan serta prosedur kerja tetap yang digunakan untuk pe-
natalaksanaan rumah sakit, pelayananm medik rumah sakit,
pelayanan penunjang medik dan non medik rumah sakit
serta pendidikan/latihan dan penelitian di rumah sakit. Ke-
semuanya ini merupakan tugas dan fungsi rumah sakit yang
telah ditetapkan. Seeara khusus, kegunaan instrumen ini pada
tingkat-tingkat pembinaan rumah sakit di Indonesia adalah
sebagai berikut:
1) Rumah sakit
Pimpinan rumah sakit dapat menilai kemampuan rumah
sakit yang dipimpinnya dalam penyediaan sarana terhadap
ketentuan yang telah ditetapkan. Sebagai akibatnya, pimpin-
an rumah sakit dapat menentukan prioritas kegiatan mana
yang perlu baik yang diupayakan oleh rumah sakit sendiri,
maupun melalui pengajuan pada supra sistemnya.
2) Tingkat II/Kabupaten/Kodaya
Pemda tk. II/Kabupaten/Kodya dapat memperoleh gam-
baran situasi rumah-rumah sakit yang ada di wilayahnya baik
yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Dengan de-
mikian pola pembinaan lebih terarah dalam pengadaan
sarana untuk meningkatkan kemampuan pelayanan rumah
sakit, khususnya sebagai back-up system dari instansi pe-
layanan kesehatan yang bersifat dasar.
3) Tingkat Propinsi/Daerah Khusus/Pusat (Depkes)
Memperoleh gambaran (peta) dari keadaan perumah-
sakitan yang ada dalam wilayah kerjanya dilihat dari peng-
adaan tenaga, sarana fisik, peralatan dan protap untuk tiap
fungsi rumah sakit. Mulai dari keadaan manajemennya, pe-
layanan medik yang diberikan, pelayanan penunjang medik/
non medik, maupun pendidikan/latihan dan penelitian di ru-
mah-rumah sakit. Dengan demikian dapat menetapkan rumah
sakit yang dapat diusulkan untuk ditingkatkan kelasnya.
PENUTUP
Telah diuraikan tentang Instrumen Penilaian Penampilan
Kerja dan Pengukur Kemampuan Rumah Sakit. Diharapkan
dapat bermanfaat untuk perluasan wawasan berbagai pihak
yang berkepentingan dalam pembinaan maupun pengelolaan
pelayanan rumah sakit di Indonesia, walaupun eontoh yang
dikemukakan adalah penerapan di salah satu
Propinsi di
Indonesia yaitu Propinsi Jawa Timur
.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Keschatan, Dircktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta
.
1990
.
2.
Dinas Kesehatan Daerah Jawa Timur, Sub Dinas Pemulihan Kesehat-
an dan Rujukan. Analisa Stratifikasi RS thn. 1992 dan Evaluasi tahun 1990,
1991 dan 1992
.
3.
Prayoga et al. Penerapan Insirumen Akreditasi RS Kelas C, D dan
setara. Dep Kes. RI. Puslitbang Surabaya, 1992, RRS 92
.
4.
SK. Poerwani et at. Pengembangan Instrumen Akreditasi RS kelas C,
D dan setara Dep. Kes. RI. Puslitbang Yankes. Surabaya 1990. RSS 77
.
5.
Pedoman Akreditasi RS Kelas C, D dan setara RRS 78.
6.
Untung Suseno Sutardjo. Peran Rumah sakit. Maj. Kedokt. Indonesia
(Mar.) 1993; 43(3).
128
Cermin Dunia Kedokteran Edisi Khusus
No. 91, 1994