CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
223
KEGIATAN ILMIAH
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
224
LAPORAN KHUSUS
4
th
International Symposium and 7
th
Inter-
national Course on Metabolism & Clinical
Nutrition, Jakarta, 12-13 Februari 2009
Berkat kerjasama FKUI dengan Universitas Joseph Fourier
Grenoble Perancis, pada tanggal 12 dan 13 Februari 2009
telah terselenggara kursus tentang metabolisme dan nutrisi
klinik, yang dilaksanakan di Ruang Senat Fakultas Kedokteran
UI. Acara diikuti oleh sekitar 50 dokter yang berasal dari
seluruh Indonesia. Acara dibuka oleh Pembantu Dekan
FKUI Prof. Pradana Soewondo SpPD, KEMD; dihadiri oleh
Dr. Marcellus Simadibrata Sp.PD, PhD. sebagai Ketua
Panitia dan oleh Dr. Sun Sunatrio, serta Prof. Xavier Laverve
PhD sebagai wakil dari Universitas Joseph Fourier Perancis
beserta Dr. Noel Cano. Selain itu, wakil pihak sponsor turut
hadir dan memberikan sambutan. Peserta kursus adalah
dokter Ahli Gizi Klinik, Ahli Gizi, Dokter Penyakit Dalam
serta Dokter Umum dari seluruh Indonesia. Acara ini dihadiri
sekitar 50 peserta kursus dan 200 peserta simposium.
Organisasi CIMSA Universitas Nasional Sebelas Maret (UNS)
Solo mengundang IKCC ( Indonesia Kidney Care Club ) untuk
bekerjasama dalam acara Half Day Symphosium Renal
Disease Induced By Nefrotoxic Agents: Early Detections,
Prevention and Holistic Management.
Simposium yang diadakan pada Minggu, 19 April 2009
di Orient Convention Hall lantai 2 Solo dari pukul 07.00 -
15.30 WIB ini diikuti oleh sekitar 250 peserta, terdiri dari
mahasiswa kedokteran, dokter muda, dokter umum, dokter
spesialis dan masyarakat awam.
Setelah dilakukan registrasi peserta, acara dibuka dengan
sambutan dari ketua panitia dan dekanat Fakultas Kedok-
teran UNS. Acara dibagi dalam 3 (tiga) sesi. Sesi pertama dan
kedua merupakan sesi ilmiah, sedangkan sesi ketiga yang
merupakan sesi IKCC disajikan dalam bentuk Talk Show.
Round Table Discussion Totilac, Gran Melia
Jakarta, 20 Februari 2009
PT Kalbe Farma Tbk. mensponsori sesi Meet The Expert
pada 6th Annual Meeting of ISOA - ISRA, 20 Februari
2009. Acara ini bertema All About Hypertonic Lactate,
menampilkan pembicara Prof. Xavier Laverve dari Perancis.
RTD ini dibuka oleh dr. Susilo Chandra, SpAn, ketua Ikatan
Dokter Spesialis Anestesi Indonesia (IDSAI) dan dihadiri
oleh lebih kurang 20 dokter, sebagian besar dari RSCM
dan beberapa rumah sakit lain. Acara ini dihadiri juga oleh
tim Innogene Kalbiotech (IGK) dan tim Kalbe.
Simposium "Renal Disease Induced By Nephrotoxic
Agents: Early Detections, Prevention and Holistic
Management", Solo, 19 April 2009.
CIMSA (Center for Indonesian Medical Students» Activties) merupakan
organisasi nasional mahasiswa kedokteran yang berbasis aktivitas
dan bersifat non politik atau nirlaba.
Molekul kecil (tyrosine kinase inhibitors; TKIs) bersama zat
biologik (monoclonal antibodies; mAb) telah dievaluasi dalam
berbagai kombinasi dengan kemoterapi (CT) dan/atau
radioterapi (RT). TKIs (gefitinib, imatinib, sorafinib, sunitinib)
dan mAb (cetuximab, trastuzumab, bevacizumab, nimotu-
zumab) ternyata lebih bermanfaat untuk mengikat masing-
masing sasaran dan terjadi peningkatan angka respons
dalam perawatan. Beberapa percobaan klinis dengan terapi
target telah menunjukkan peningkatan kemajuan progression-
free survival (PFS) dan juga angka Overall Survival pada
kanker payudara, kepala dan leher, dll. Sayangnya beberapa
agen anti-EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) yang
ada memiliki efek samping yang berat pada pasien kanker.
Selama acara berlangsung, nimotuzumab (telah dipasarkan
di Indonesia dengan nama dagang TheraCIM
®
) mendapat
banyak perhatian dari para ilmuwan dan onkologist dari ber-
bagai belahan dunia karena "Affinity-optimized
TM
" properti
terhadap EGF receptor. Dr Rikrik Ilyas, direktur, Innogene-
Kalbiotech, Singapura menjelaskan mengenai perkembangan
dan efikasi pengobatan dari nimotuzumab dalam mengobati
pelbagai tumor dengan ekspresi EGFR yang tinggi. Nimotu-
zumab adalah human monoclonal anti-EGFR antibody yang
memiliki angka toksisitas dan immunogenicity (kemampuan
untuk menimbulkan reaksi imun/alergi) yang rendah. Nimo-
tuzumab telah disetujui (approved) untuk perawatan kanker
nasofaring (nasopharyngeal cancer/NPC), kanker kepala dan
leher (Squamous Cell Cancer of the Head and Neck/SCCHN)
dan tumor jaringan otak (glioma). Kombinasi nimotuzumab
dan radioterapi (RT) secara signifikan meningkatkan angka
respon keseluruhan pada pasien-pasien NPC dan kanker-
kanker tahap lanjut kepala dan leher lainnya.
Pada simposium satelit yang disponsori Innogene-Kalbiotech,
Prof Mark Vincent dari University of Western Ontario, Kanada
menjelaskan bahwa "efikasi/keberhasilan nimotuzumab pada
perawatan tumor yang EGFR over-expressed sama dengan
agen anti-EFGR yang lain, seperti: cetuximab dan panitu-
mumab. Sehubungan dengan toksisitasnya, nimotuzumab
hanya mengikat sel-sel tumor yang ekspresi EGFR sangat
tinggi (over expresif), sementara cetuximab dan panitumumab
mengikat semua jaringan yang EGFR expresif.
Pengikatan nimotuzumab terhadap EGFR memerlukan
ikatan yang bivalen, yang mana ini bisa terjadi jika konsen-
trasi EGFR meningkat. Sebaliknya, saat konsentrasi EGFR
rendah, seperti pada jaringan sehat, cetuximab dan panitu-
mumab masih terus/ tetap berinteraksi secara kuat dengan
EGFR melalui ikatan monovalen. Itulah sebabnya nimotu-
zumab tidak menyebabkan keracunan pada jaringan yang
sehat. Profil keamanan "affinity- optimized
TM
" nimotuzumab
telah menunjukkan keunggulan dibandingkan dengan
terapi-terapi anti-EGFR mAbs yang lain. Kekurangan magne-
sium darah (hipomagnesium) yang hebat dan ruam kulit
(skin rash) merupakan hal yang umum terjadi pada terapi
dengan cetuximab dan panitumamab. Angka kejadian
infeksi kulit (dermatitis) berat selama terapi radiasi telah
dilaporkan pada pasien-pasien yang diterapi dengan cetuximab
untuk pengobatan kanker kepala dan leher.
Hubungan yang positif antara adanya ruam kulit yang parah
yang berhubungan dengan terapi, secara terus menerus telah
diamati terhadap pemanfaatan agen anti-EGFT yang telah
disetujui untuk penggunaan klinik. Temuan ini menunjukkan
bahwa ruam mungkin berguna sebagai tanda keberhasilan
menghambat EGFR. Oleh karenanya hal ini bisa digunakan
untuk memandu para dokter menyesuaikan dosis pengobatan.
Namun, tidak adanya ruam kulit dengan perawatan nimotu-
zumab menjadikan agen ini unik di antara kelas terapi anti-
EGFR mAb.
Dalam pernyataan yang diberikan oleh Prof Randolph HJ, UCLA,
"ruam tidak hanya tidak sedap dipandang, namun bagi pasien,
sangat menyakitkan bahkan bisa menimbulkan infeksi serius.
Saya mempunyai pengalaman dengan pasien yang memerlukan
tindakan bedah segera (untuk pengaliran cairan nanah/abses)
yang berhubungan dengan ruam-kulit-yang-disebabkan-oleh-
EGFR. Penghambat EGFR dengan aktifitas antikanker namun
tanpa ruam kulit, bisa sangat menyenangkan pasien".
Karenanya, nimotuzumab merupakan terapi yang menjanjikan
pagi pasien-pasien dengan tumor jaringan epitel tingkat lanjut.
Asian Oncology Summit kedua, direncanakan akan diselengga-
rakan di Bali Indonesia, 9 - 11 April 2010. (DHS)