background image
L A P O R A N K H U S U S
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
63
PIN PAPDI VI telah diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya, Jakarta 30 Okt - 2 Nov 2008.
Acara ini diikuti oleh kurang lebih 500 peserta dari berbagai daerah di Tanah Air.
PIN PAPDI VI
PIN PAPDI VI
PIN PAPDI VI
S
elain simposium/seminar dan kuliah umum, juga diselenggarakan
puluhan workshop untuk meningkatkan mutu, kemampuan dan
pengetahuan peserta; workshop dilaksanakan di Hotel Sahid dan
RSCM sedemikian rupa, hingga terjadi komunikasi dua arah antara
pembicara dan peserta.
Setiap hari simposium dibuka dengan seminar, yang membahas 1-2
topik, kemudian dilanjutkan dengan workshop. Peserta workshop di
RSCM langsung diantar oleh panitia ke tempat tujuan.
Beberapa bahasan acara :
· Diabetes melitus meningkatkan angka kematian pasien infark
miokard, baik yang STEMI dan Non STEMI. Perbaikan pasca infark
lebih banyak pada pasien yang tidak menderita diabetes dibanding-
kan dengan pada pasien diabetes melitus.
· Target tekanan darah pada pasien DM adalah <130/80 mmHg
dan pasien harus mendapatkan terapi diabetes yang intensif.
Penelitian
PROACTIVE
memperlihatkan
bahwa
pioglitazone
bermakna menurunkan risiko CVD pada pasien risiko tinggi yang
sudah mendapatkan terapi maksimal (untuk hipertensi dan
diabetes). Pioglitazone juga dapat menghambat progresifitas
atherosklerosis.
· Obat-obat golongan ARB (angiotensin receptor blocker) sangat
bermanfaat dalam menurunkan risiko kejadian kardiovaskular.
Dalam
penelitian
LIFE,
risiko
stroke pada kelompok losartan lebih
kecil dibandingkan dengan kelompok atenolol. Dalam IRMA II,
irbesartan terbukti menurunkan proteinuri dan bersifat renoproteksi.
· Pengarahan cara membaca hasil EKG, terutama pada pasien
STEMI dan nonSTEMI. Dalam workshop ini ditekankan bahwa
pemeriksaan EKG perlu dikuasai oleh dokter karena peningkatan
kejadian penyakit jantung di masyarakat. Kasus yang dibahas di-
antaranya adalah mengenai sindrom koroner akut, STEMI non
STEMI dan angina pektoris tidak stabil. Selain itu peserta dilatih
membaca hasil EKG pada fibrilasi atrium dan takikardi.
· Dalam konsensus ADA 2007 mengenai terapi diabetes, yang
pertama harus dilakukan adalah lifestyle modification dan
langsung diberi terapi OHO (obat hipoglikemik oral) metformin.
Dokter harus menganjurkan/mendorong pasien untuk melakukan
modifikasi gaya hidup. Ketetapan baru ADA indikasi pemberian.
insulin adalah untuk pasien yang kadar gula darahnya 250mg/dL,
atau gula darah sewaktunya >300 mg/dL / A1Cnya di atas 10%,
atau ada ketonuria atau gejala diabetes yang sangat khas.
· Penelitian terakhir di Taiwan (dipublikasikan di Diabetes Care)
memperlihatkan bahwa pemberian insulin selama 6 bulan
memberikan manfaat pada pankreas lebih banyak dibandingkan
dengan pemberian OHO. Pada pasien diabetes tipe 2 lama,
kontrol gula darah tidak baik, ada proteinuri atau angiopati,
respon terhadap pengobatan kurang baik, pemberian insulin
dapat
dilanjutkan.
· Penelitian Heart Protection Study memperlihatkan bahwa statin
lebih bermanfaat dibandingkan plasebo pada pasien dengan
risiko tinggi kardiovaskular. Manfaat ini tidak tergantung pada
kadar LDL. Pemberian statin juga menurunkan kejadian stroke.
Penelitian PROVE-IT, A to Z dan TNT, menunjukkan bahwa
menurunkan kadar LDL dengan agresif akan menurunkan risiko
penyakit jantung koroner dan infark miokard. Obat golongan
statin dapat menurunkan LDL, meningkatkan HDL, dan selain itu
mempunyai efek pleiotropik, seperti menurunkan tromboxan,
menurunkan hsCRP, menurunkan inflamasi koroner, serta dapat
meningkatkan
nitric oxide. Studi ASAP memperlihatkan bahwa
atorvastatin menurunkan Intima Media Thickness lebih baik
dibandingkan
dengan
simvastatin.
· Pada tahun 2025 diperkirakan akan ada 1,56 miliar orang
penderita hipertensi (meningkat 50% dari sekarang). Target
tekanan darah <140/90 mmHg sangatlah sulit dicapai dan hanya
30% yang mencapai target terapi; jika perlu dengan terapi kombinasi.
· Obat antihipertensi golongan CCB (Calcium Channel Blocker
sangat baik dalam menurunkan tekanan darah, dan sangat
fleksibel untuk dikombinasikan dengan obat antihipertensi lain;
juga ternyata dapat mengurangi proteinuri. Pemberian bersama
dengan obat antihipertensi yang sudah jelas renoproteksi seperti
golongan ACEi dan ARB dapat memberikan manfaat pada
hipertensi
dengan
gangguan
ginjal.
(YYA)