VII. DISKUSI PANEL
Masalah Penyakit Parasit di Indonesia
Sri Oemijati
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UI.
Di negara-negara yang sedang berkembang, penyakit-
penyakit yang disebabkan oleh parasit merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang cukup besar tetapi masih sangat
kurang mendapat perhatian, karena banyak masalah yang
harus ditanggulangi.
Infeksi dengan parasit kadang-kadang sedemikian banyak-
nya, sehingga sering dianggap normal, dan dianggap tidak
normal jika tidak ada. Infeksi dengan parasit biasanya tidak
menarik perhatian, kazena biasanya tidak menyebabkan
penyakit yang berat, angka kematiannya tidak tinggi dan
tidak menyebabkan
wabah-wabah yang cepat menyebar
seperti cacar dan kolera. Namun kerugian yang disebabkannya
secaza keseluruhan mungkin lebih besar daripada wabah-
wabah yang disebabkan oleh penyakit lainnya, jika dihitung
kehilangan jam kerja yang disebabkan oleh penyakit parasit.
Hal ini ditambah pula dengan keadaan kekurangan gizi yang
banyak ditemukan dan menyebabkan lebih cepat timbulnya
gejala infeksi parasit.
Species parasit yang dapat menghinggapi manusia sangat
besaz jumlahnya. Di Indonesia saja sejumlah 30 species parasit
cacing dan 17 species pazasit protozoa pernah ditemukan pada
manusia, tetapi untung tidak semua menyebabkan masalah
kesehatan masyarakat.
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT INTES-
TINAL
Cacing perut yang disebarkan melalui tanah (soil trans-
mitted helminths) masih sangat banyak ditemukan di Indone-
sia dan menyebabkan masalah kesehatan masyarakat. Parasit
yang banyak ditemukan adalah Ascaris lumbricoides, Trichu-
ris trichiura dan cacing tambang Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale. Selain daripada itu masih ada Stro-
ngyloides stercoralis yang lebih jarang ditemukan. Prevalensi
soil transmitted helminths didaerah pedesaan biasanya me-
lebihi 50% (1-9).
Meskipun parasit-parasit ini dapat ditemukan di seluruh wila-
yah Indonesia, prevalensi dan derajat infeksi dazipada species
masing-masing banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
keadaan tanah di daerah itu, keadaan lingkungan serta adat
kebiasaan penduduknya. Di daerah yang mengandung tanah
liat, prevalensi Ascaris lumbricoides biasanya melebihi yang
lain, sedangkan di daerah yang tanahnya lepas dan mengan-
dung banyak bahan organik seperti humus, banyak ditemukan
infeksi cacing tambang. Di
kampung-kampung di daerah
Jakarta (slum), semua anak yang telah mencapai umur 2 tahun
pada umumnya telah kena infeksi A. lumbricoides (10, 11).
Pada pemeriksaan para pekerja pembangunan (construction
labourers) di Jawa Barat, ternyata bahwa prevalensi cacing-
cacing ini di kota dan di daerah pedesaan tidak banyak me-
nunjukkan perbedaan, tetapi keadaan umum paza pekerja
lebih baik di daerah kota (7). Pada pekerja kebun karet di
Jawa Barat, infeksi cacing tambang pada umumnya lebih
berat, dan keadaan umumnya lebih jelek, jika dibandin
gkan
dengan paza pekerja pembangunan (8,12). Keadaan di luar
Jawa umumnya tidak banyak berbeda.
Pemberantasan soil transmitted helminths tidaklah mudah.
Berbagai cara telah dicoba untuk mematahkan rangkaian hidup
parasit itu, baik dengan cara memberantas parasit-parasit pada
manusia, maupun yang ada di dalam tanah. Pengobatan masal
masih banyak liku-likunya. Sampai sekarang tidak ada satu
obat yang baik untuk semua species parasit sehingga sekarang
dicoba untuk memakai berbagai campuran obat. Dalam
pengobatan masal sukar sekali untuk mencakup seluruh pen-
duduk, sehingga masih ada saja sumber infeksi. Pada umumnya
dalam beberapa bulan sesudah pengobatan, prevalensi menjadi
setinggi semula.
Perubahan lingkungan yang menyangkut keadaan sanitasi
dengan mengadakan jamban juga tidak mudah, karena sukar
sekali untuk mengubah kebiasaan penduduk. Penyuluhan ke-
sehatan harus dilakukan secara terus menerus dan hasilnya
baru dapat dilihat setelah lama sekali. Pada umumnya jika
keadaan ekonomi maju, semua akan menjadi lebih baik dan
prevalensi infeksi cacing akan menurun dengan sendirinya,
tapi hal ini juga tidak mudah untuk dicapai.
Untuk sementara yang perlu diperhatikan adalah cara-cara
untuk mengurangkan derajat penyakit (disease rate), dengan
menekan derajat infeksi serendah-rendahnya.
Di antara Nematoda intestinal yang tidak termasuk soil
transmitted helminths tetapi banyak ditemukan baik di daerah
kota maupun desa adalah Oxyuris vermicularis. Karena infeksi-
nya mudah ditularkan dari orang keorang lain dengan melalui
tangan dan alat-alat yang terkontaminasi dengan telur-telur di
sekitar anus, infeksi ini biasanya merupakan infeksi keluarga
dan banyak ditemukan di antara anak-anak di sekolah, asrama
dan rumah piatu (Suprapti Thaib). Karena diagnosisnya harus
memakai cara yang khusus maka infeksi ini jarang ditemukan
pada pemeriksaan rutin. Pemberantasannya juga tidak mudah,
karena sangat mudahnya reinfeksi baik di rumah, maupun
di sekolah atau tempat lain.
Di antaza Protozoa intestinal yang penting ialah Entamoeba
histolytica yang sering menyebabkan disenteri amubawi dan
abses hati, dan Giardia lamblia yang banyak ditemukan pada
anak-anak. Infeksi ditularkan dengan bentuk kista, sehingga
pengandung kista adalah penting untuk penyebarannya.
Prevalensi pengandung kista berbeda.
Cacing Trematoda dan Cestoda tidak menyebabkan masa-
lah kesehatan masyarakat secaza menyeluruh, tetapi terbatas
pada beberapa daerah tertentu saja. Schistosoma japonicum
hanya merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah
danau Lindu dan lembah Napu, dua daerah terpencil di pe-
gunungan di Sulawesi Tengah. Meskipun prevalensi infeksi
ini tinggi dan dapat menyebabkan kematian secara langsung
(6, 13, 14), tetapi masalah ini hanya meenyangkut beberapa
10 7
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
ribu penduduk saja, jumlah yang tidak besar jika dibanding-
kan dengan penduduk seluruh Indonesia. Tetapi dengan
adanya transmigrasi lokal dari daerah-daerah sekitarnya,
maka jumlah penduduk yang at risk menjadi lebih besar.
Ditambah lagi dengan diadakannya bendungan di sungai di
daerah bawah sungai yang mempunyai sumber di danau Lindu,
maka bahaya penyebaran penyakit ini selalu harus diperhati-
kan. Pengobatan serta pemberantasan pada waktu ini masih
dalam taraf permulaan (15).
Di antara cacing-cacing Cestoda, yang agak penting di
Indonesia adalah Taenia solium dan T. saginata. Taeniasis juga
tidak ditemukan di seluruh Indonesia, tapi merupakan masalah
kesehatan masyarakat di beberapa daerah tertentu saja seperti
di Bali, Tapanuli, Timor dan Irian Jaya(2,16,17,18,19,20 ).
Infeksi ini biasanya berhubungan erat dengan cara pemelihara-
an sapi dan babi, kebiasaan berdefekasi di kebun, ladang dan
sungai serta kebiasaan makan daging yang tidak dimasak
secara sempurna.
Di tempat tempat ditemukan T. solium, cysticercosis juga
menjadi masalah kesehatan seperti di Bali dan Irian Jaya. Di
Irian Jaya banyak yang menderita cysticercosis otak sehingga
menimbulkan gejala-gejala epilepsi (21,22).
Dalam pemberantasan dan pencegahan yang penting adalah
cara-cara pemeliharaan ternak sapi dan babi serta membiasakan
makan daging yang dimasak dengan baik.
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PARASIT DARAH
DAN JARINGAN
Di antara penyakit yang disebabkan oleh parasit extra in-
testinal yang penting di Indonesia adalah malaria dan filariasis.
Malaria masih tersebar luas dan menyebabkan penderitaan
serta kematian yang tidak sedikit. Derajat endemi di berbagai
daerah bervariasi antara non-endemik seperti di Jakarta Raya,
sehingga holoendemik diberbagai daerah di luar Jawa (23).
Orang-orang pendatang ke daerah endemi biasanya banyak
yang terserang malaria, seperti orang-orang yang bertugas
(Angkatan bersenjata dan pegawai), pedagang, orang-orang
yang berlibur dan sebagainya. Transmigran biasanya banyak
sekali yang menderita karena penyakit ini, terutama pada per-
mulaan pemukiman di daerah yang baru itu, jika tidak diada-
kan persiapan yang baik. Transmigrasi dapat mengalami ke-
gagalan karena serangan malaria (24). Suparmo dan Stoker me-
laporkan bahwa di suatu daerah transmigrasi di Sumatera
Selatan, spleen rate yang pada permulaan pemukiman hanya
5%, setelah 5 bulan menjadi 50%, dengan parasit rate 53-95%.
Partono dkk (25) menemukan bahwa di antara transmigran di
daerah Margolembo di Sulawesi Selatan, prevalensi malaria
8 bulan setelah pemukiman adalah 32,0% dan setelah 22 bulan
menjadi 23,2%.
Species yang ditemukan adalah Plasmodium falciparum, P.
vivax dan P. malariae, sedangkan P. ovale akhir-akhir ini juga
ditemukan di beberapa daerah.
Sebagai vektor malaria di Indonesia telah ditemukan ber-
bagai species Anopheles. Kalau di Indonesia telah ditemukan
lebih daripada 90 species Anopheles, yang pernah dilaporkan
sebagai vektor kira-kira 23 species.
Pemberantasan baru dilakukan di daerah Jawa dan Bali dan
daerah pembangunan serta daerah transmigrasi, tapi hasilnya
belum memuaskan.
Pemberantasan malaria harus ditanggulangi dari segi parasit-
nya maupun dengan pengobatan, atau pencegahan maupun
dari segi vektornya dengan pemberantasan nyamuknya. Hal ini
tidaklah mudah. Pengobatan masal biasanya sukar untuk
mencakup seluruh penduduk yang terkena. Selain daripada itu
dibeberapa daerah sudah ditemukan P. falciparum yang
resisten terhadap klorokuin seperti di Irian Jaya, Kalimantan
Timur dan beberapa daerah lainnya (26,27,28).
Pencegahan pendatang ke daerah yang endemik juga menemui
berbagai kesukaran, karena kekurangan obatnya dan disiplin
pendatang untuk makan prophylaxis. Dengan digalakkannya
transfusi darah, maka transfusi darah dengan donor yang tidak
diseleksi dengan baik telah berakibat timbulnya malaria, yang
juga perlu mendapat perhatian.
Pemberantasan vektor menemui banyak kesukaran, karena
tempat perindukan nyamuk seringkali sukar dicapai. Juga
timbulnya resistensi vektor terhadap insektisida menimbulkan
masalah yang tidak kecil.
Selain daripada itu pemakaian obat yang dapat cepat me-
nimbulkan resistensi mengandung bahaya untuk kemudian
hari.
Filariasis merupakan masalah baik di daerah kota maupun
di daerah pedesaan. Di antara negara-negara di Asia Tenggara,
masalah filariasis yang paling berat ialah di Indonesia. Di sini
ditemukan tiga species, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan species baru Brugia timori. Ketiga species dibagi
lagi dalam beberapa type yang masing-masing mempunyai
daerah distribusi serta vektor yang berlainan. W. bancrofti ter-
diri dari type urban yang ditemukan di daerah kota seperti di
Jakarta dan Semarang, dan type rural yang ditemukan di ber-
bagai daerah pedesaan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Irian Jaya dll. Di daerah kota yang merupakan vektor adalah
nyamuk Culex pipiens fatigans yang dapat menggunakan air
kotor seperti air saluran buangan serta septic tank sebagai tem-
pat perindukannya. Sedangkan yang merupakan vektor di
daerah pedesaan bermacam jenis nyamuk seperti Anopheles,
Aedes, Culex dan Mansonia.
Brugia malayi terdin dari dua type yang ditemukan di
daerah yang berlainan. Type periodik nokturna biasanya
ditemukan di daerah sawah di dataran rendah dan yang ber-
bukit dan mempunyai sebagai vektor Anopheles barbirostris
yang mempunyai tempat perindukan di sawah, sedangkan yang
subperiodik nokturna biasanya ditemukan di daerah yang
banyak rawanya, dan ditularkan oleh berbagai species Manso-
nia seperti M. uniformis, M. annulata, M. annulifera, M. india-
na dll. yang memerlukan tumbuh-tumbuhan air seperti Eu-
chornia crassipes, Salvinia dan Pistia untuk pertumbuhan
larvanya.
B. timori yang juga periodik nokturna, hingga sekarang
hanya ditemukan di Nusa Tenggara Timur, dan biasanya di-
temukan di daerah pesawahan. Vektornya baru ditemukan
A. barbirostris yang tempat perindukannya di sawah.
Hingga sekarang yang ditemukan mempunyai hospes reservoir
ialah B. malayi yang subperiodik dan ditemukan pada berbagai
binatang seperti kucing kera dll.
Prevalensi serta derajat infeksi bervariasi dari daerah ke
daerah, bahkan di suatu daerah mungkin terjadi perubahan-
perubahan (29). Juga gejala kliniknya berbeda menurut species
dan keadaan penduduk.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
10 8
Pendatang rupanya lebih sensitif terhadap penyakitnya se-
hingga lebih banyak menderita jika dibandingkan dengan pen-
duduk aseli. Di daerah transmigrasi derajat penyakit (disease
rate) serta derajat elephantiasis (Elephantiasis rate) lebih
tinggi daripada penduduk aseli (30,31,32). Serta derajat
infeksi dan derajat penyakit berhubungan erat dengan lama-
nya pemukiman yang berarti lamanya exposure terhadap
infeksi (25,30).
Pemberantasan filariasis juga menyangkut pemberantasan
parasit dalam manusia dan vektornya, dan pada
B. malayi
subperiodik juga terdapat pada hospes reservoir yang lebih
menyukarkan lagi usaha pemberantasan.
Obat yang hingga sekarang dianggap baik hanya Diethyl-
carbamazine. Tetapi pengobatan ini menimbulkan banyak
efek sampingan yang cukup berat terutama pada
B. malayi
dan
B. timori.
Percobaan pengobatan dengan dosis rendah pada infeksi
dengan
B. timori
memberikan hasil yang cukup mengesankan,
tetapi hal ini masih dalam taraf penyelidikan pada satu species
saja, dan masih perlu penyelidikan lebih lanjut. Sedangkan
pemberantasan nyamuk vektornya dianggap masih terlalu
sukar untuk dilakukannya.
KEPUSTAKAAN
1.Lie Kian Joe, Tan Kok Siang. 1959. Human intestinal helminths
obtained from autopsies in Jakarta, Indonesia. Am J Trop Med
Hyg 1959; 8 : 518 -- 523.
2. Sri Oemijati. Human intestinal helminths in Indonesia. Proceed.
Tenth Pacific Science Congress, Honolulu. 1961.
3.Cross JH, MD Clarke, GS. Irving, et al. Intestinal parasites and
malaria in Margolembo, Luwu regency, South Sulawesi, Indonesia.
SE Asian J Trop Med PH 1972; 587 -- 593.
4.Pinardi Hadidjaja, WP Carney, MD Clarke, Arbain Joesoef, Sri
Oemijati. Schistosoma japonicum and other intestinal parasites of
Lake Lindu, Sulawesi. SE Asian J Trop Med PH 1972; 3 : 594 --
599.
5.Clarke MD, JH Cross, JJ Gunning, et al. Human malaria and intes-
tinal parasites in Kresek, West Java. SE Asian J Trop Med PH 1973;
4 : 32 -- 34. Clarke MD, JH Cross, WP Carney, et al. A. Parasito-
logical survey in the Jogyakarta area of Central Java, Indonesia.
1973.
6.Clarke MD, WP Carney, JH Cross, P Hadidjaja, S Oemijati, A Jusuf.
Schistosomiasis and other human parasitosis of lake Lindu, Central
Sulawesi, Indonesia. Am J Trop Med Hyg 1974; 23 : 285 -- 372.
7.Sri Margono, Harun Mahfudin, Rumsah Rasad, Rochida Rasidi,
Bintari Rukmono. Different courses in the treatment of soil trans-
mitted helminths with pyrantel pamoate and mebendazole. 1979.
8.Rasidi R, HD Ilahude, Sri Oemijati, LS Dakung, Sri Margono.
Infeksi parasit usus pada buruh perkebunan karet di Sukabumi,
Jawa Barat. Maj Kedokteran Indonesia 1976; 1--2 : 801 -- 807.
9. Noerhayati S, 1978.
10.Bintari Rukmono, Sri Oemijati, Lie Kian Joe, Purnomo. The preva-
lence of intestinal parasitic infections in infants. Unesco Regional
Symposium on the scientific knowledge of tropical Parasites,
Singapore. 1962.
11.Lie Kian Joe, B Rukmono, Sri Oemijati, et al. Diarrhoea among
infants in a crowded area of Jakarta. WHO Bull 1966; 34 : 197 --
210.
12.Karyadi D, Tarwotjo I, Basta S, et al. Nutrition anemia and phy-
sical endurance among civil contruction workers. Bull Health stu-
dies in Indonesia 1974; 2 : 47 -- 55.
13.Pinardi Hadidjaja, Sri Margono, Sri Oemijati. Masalah schistosomia-
sis di danau Lindu, Sulawesi Tengah. Maj Kedokt. Indon. 1974;
5--6 : 334 -- 339.
14. Bonne, JH Sandground. Bilharzia japonicum aan het Lindoe meer.
Geneesk Tijdschr Nederland Indie 1940; 80 : 77 -- 481.
15.Daso BS, M Sudomo, L Hardjawidjaja, A Joesoef, Baroji. Control
of Schistosoma japonicum infection in Lindu valley, Central Su-
lawesi, Indonesia. SE Asian J Trop Med PH 1976; 7 (2) : 330 --
340.
16.Kosin E, A Depari, A Djohansjah. Taeniasis di pulau Samosir. Maj.
Kedokt. Univ. Sumatera Utara 1972; 5 : 11.
17.Tumada LR, Sri Margono. Cysticercosis in the area of the Wisse
Wissel Lakes, West Irian. SE Asian J Trop Med PH 1973; 4 : 371.
18 Ngurah IGNG. Cysticercosis dari susunan saraf pusat. Scientific
J Univ. Udayana 1975; 9 : 31.
19.Simanjuntak GM, Sri Margono, Rosad Sachlan, C Haryono, Ro-
chida Rasidi, Bambang Sutopo. An investigation on taeniasis and
cysticercosis in Bali. SE Asian J Trop Med PH 1977; 8 : 494 --
497.
20.Pinardi H, 1971.
21.Subianto DB, LR Tumada, Sri Margono. Burns and epileptic fits
associated with cysticercosis in mountain people of Irian Jaya.
Trop Geogr Med 1978; 30 : 275 -- 278.
22.Gunawan Tjahyadi dkk, 1978.
23. Soerono, 1971.
24.Mudarso, 1952.
25.Partono F, JH Cross, Borahima, JC Lien, Sri Oemijati, Malaria and
filariasis in a transmigration village eight and twenty--two months
after establishment. South East Asian J Trop Med Pub Hlth 1973;
4 (4) : 484 -- 486.
26. Verdrager J, Arwati. Resistant Plasmodium falciparum infection
from Samarinda, Kalimantan. Bull Health studies in Indonesia
1974; 11 (2) : 43 -- 50.
27.Verdrager J, Arwati, C Simanjuntak, Sulianti Saroso. Response of
falciparum malazia to a standard regiman of chloroquine in Jaya-
pura, Irian Jaya. Bull Health Studies in Indonesia 1976; IV (1.2)
: 19 -- 25.
28.Wita Pribadi, Legia S Dakung, Sri Oemijati, Is Suhariah Ismid,
Suspected transfusion malaria in Jakarta. Maj Kedokt Indon 1976;
9 -- 10 : 1050 -- 1055.
29. Sri Oemijati. The Changing pattern of Filariasis endemicity in In-
donesia. WHO Meeting of the Expert Commettee on F
i
lariasis
,
Athens. 1973.
30.Brug SL, JW Tesch. Parasitaire wormen aan het Lindoe Meer.
Geneesk Tijdschr Nederl Indie 1937; 77 : 2151 -- 2158.
31. Lie Kian Yoe, 1960.
32.Sri Oemijati. Filariasis in transmigration areas in Indonesia. Semi-
nar on Tropical and Parasitic diseases of man and animals in S.E.
Asia, Penang. 1970.
Usaha yang Telah Dilakukan Pemerintah
dalam Penanggulangan Penyakit Parasit di
lndonesia
Adhyatma MPH
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan RI.
1. Usaha pemberantasan sebelum Pelita I.
Pemberantasan malaria dimulai sejak sebelum perang dunia
ke-2 secara terbatas dengan pengobatan (pil kina) dan perbaik-
an lingkungan. Dengan ditemukannya DDT dan obat-obat
derivat dari 4-aminoquinoline dimulailah pembasmian malaria
pada tahun 1952. Usaha ini berhasil baik di Jawa/Bali tetapi
sejak 1965 mengalami kemunduran karena memburuknya
10 9
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980