554
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
A
cara simposium yang digabung-
kan dengan mini-workshop ini
merupakan kesempatan yang
sangat baik bagi farmasis dan juga
perawat untuk mengetahui dasar dan
juga memperdalam aspek keamanan
pemberian kemoterapi di rumahsakit.
Acara dibuka oleh ketua Hisfarsi Ja-
karta Drs.Masrial, dilanjutkan dengan
3 topik seminar dan diakhiri dengan
kegiatan workshop.
Dasar Kemoterapi dan Pengoba-
tan Kanker dibawakan dr.Nugroho
Prayogo SpPD KHOM. Dalam waktu
sekitar 1 jam, dasar penyakit kanker,
konsep kemoterapi, faktor-faktor yang
menentukan pemberian kemoterapi
hingga efek samping kemoterapi diba-
has dengan cukup rinci. Dijelaskan
bahwa tujuan kemoterapi adalah men-
gendalikan atau mengurangi jumlah
sel kanker. Kemoterapi dapat diberikan
tunggal dan kombinasi, namun pem-
berian tunggal makin jarang dilakukan,
kecuali untuk tujuan paliatif.
Beberapa pokok bahasan :
· Saat pemberian / interval siklus
adalah hal yang kritis. Jika terlalu
cepat, tidak memberikan cukup
waktu bagi sel tubuh normal untuk
pulih, dan jika terlalu lama akan
kurang efektif.
· Sebelum pemberian kemoterapi
harus diperiksa keadaan umum
pasien meliputi fungsi organ dan
kondisi emosional.
· Untuk insersi vena, harus dipas-
tikan aliran infus lancar. Hindari
lokasi bekas operasi mastektomi,
dekat luka dan kaki.
· Referensi yang baik :
o Rachel Airley. Cancer Chemother-
apy, Basic Science to the Clinic.
Wiley Blackwell.2009
o Terry Presitman.Cancer Chemo-
therapy in Clinical Practice.Spring-
er.2009
Pharmacy Intravenous Admixture
Services disajikan oleh Drs.Masrial
Mahyudin, Apt,MM (ketua Hisfarsi Ja-
karta, ketua Hisfarsi Nasional)
· Terdapat sejumlah kadar obat ke-
moterapi pada hingga 40% par-
tisipan dan kesalahan persiapan
(preparation eror) tersering yaitu
kesalahan dosis (47,3%). Penyebab
kesalahan medikasi (medication
eror) dapat berupa kesalahan per-
esepan, persiapan, pemberian,
pemantauan, dan komunikasi, ter-
masuk kesalahan pelaporan. Pem-
berian obat intravena merupakan
yang tersering dalam kesalahan
medikasi.
· Pajanan obat kemoterapi kepada
petugas medis dapat melalui in-
halasi, absorpsi kulit, dan tertelan.
Percikan obat kemoterapi sering
tidak terlihat kasat mata, namun
dapat diperlihatkan dengan teknik
foto tertentu.
· Persiapan dan pelarutan obat ke-
moterapi menurut prinsip PIVAS
dilakukan oleh farmasis di instalasi
farmasi ruangan khusus kemoter-
api; cara ini telah dilakukan di RS
Dharmais.
Tujuan PIVAS : melindungi produk dari
kontaminasi, melindungi petugas me-
dis dan lingkungan dari pajanan sito-
toksik, mengefisienkan biaya terapi,
dan meningkatkan efisiensi waktu per-
awat agar lebih fokus dalam melayani
pasien. Selain itu, data juga menunjuk-
kan bahwa di ruang rawat banyak ter-
dapat koloni kuman sehingga dinilai
kurang steril. Setelah obat kemoterapi
dipersiapkan, maka diserahkan kepa-
da perawat di ruangan dengan wadah
khusus.
Seminar dan Mini Workshop : Safety
Handling Chemotherapy
Seminar ini dilaksanakan pada Kamis 29 Juli 2010; pk. 08.30 16.00 WIB di Aula
RS Dharmais, Jakarta dan diikuti oleh ± 200 farmasis (sebagian besar) dan perawat.
LAPORAN KHUSUS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 554
8/26/2010 3:40:54 PM
555
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
· Standar prosedur kerja meliputi :
fasilitas fisik, perlengkapan pelind-
ung, personel yang mengerjakan,
prosedur rekonstitusi, prosedur
pembuatan label, pengemasan,
transportasi dan pembuangan
limbah sitotoksik, serta prosedur
penanganan kecelakaan (ter-
masuk chemotherapy spill kit).
· Pemeriksaan rutin terhadap petu-
gas meliputi pemeriksaan darah
lengkap, fungsi hepar dan ginjal
secara periodik tiap 6 bulan. Pe-
meriksaan laboratorium juga har-
us dilakukan jika terjadi paparan
obat sitostatik.
· Alat pelindung diri yang harus dike-
nakan meliputi : baju pelindung,
penutup kepala, masker kemot-
erapi, sarung tangan, dan sepatu.
Baju pelindung harus berlengan
panjang dan bermanset dengan
bahan yang tidak menyerap cairan.
Sarung tangan latex tebal dan tidak
mengandung bedak, dianjurkan di-
gunakan ganda / double.
· Strategi farmasi untuk mengim-
plementasi PIVAS, yaitu meliputi
pengenalan kepada perawat dan
dokter,
benchmark dengan nega-
ra lain, menyiapkan dan membuat
clean room, membuat prosedur
standar, pelatihan staf farmasi,
menjalankan program PIVAS, dan
evaluasi serta pelaporan.
Safe Handling of Chemotherapy
Ms Wong Yuet Peng (Principal Phar-
macist Cancer Centre Pharmacy, Na-
tional University Hospital, Singapore)
· Mekanisme terpajannya obat ke-
moterapi kepada petugas medis
dapat melalui berbagai cara, yaitu
: inhalasi aerosol / uap obat, ab-
sorpsi kulit, tertelan, absorpsi kon-
jungtiva dan tertusuk jarum.
· Tidak diketahui adanya ambang
batas pajanan terhadap obat si-
totoksik. Pajanan yang rendah
sekalipun harus dihindari. Imple-
mentasi standar keamanan meli-
puti alat pelindung diri, peralatan
teknis, dan cara kerja yang baik.
· Alat pelindung diri dijelaskan de-
ngan lebih rinci, yaitu :
o Sarung tangan : digunakan set-
iap waktu dan diganti tiap 30-60
menit. Sarung tangan di-double,
tidak mengandung bedak, berba-
han lateks, nitrile, karet neoprene
atau poliurethane.
o Baju pelindung : sekali pakai (ide-
alnya), berbahan tidak tembus air,
dan berlengan panjang.
o Masker : tidak boleh menggu-
nakan
surgical mask, melainkan
masker respiratori, sebab surgical
mask tidak melindungi terhadap
terhirupnya aerosol.
· Teknik rekonstitusi : prinsipnya
adalah meminimalkan terben-
tuknya aerosol. Gunakan teknik
tekanan negatif dengan menarik
sedikit udara dari
vial ketika jarum
dimasukkan ke dalam vial, gu-
nakan jarum ukuran cukup besar
(19G atau lebih besar). Teknik teka-
nan negatif merupakan keharusan
dalam rekonstitusi obat kemoter-
api untuk mencegah terbentuknya
aerosol yang kasat mata.
· Alamat website yang direkomen-
dasikan untuk teknik keamanan
persiapan obat kemoterapi yaitu:
www.asia4safehandling.org.
Guideline yang tercantum melipu-
ti aspek persiapan, penyimpanan
dan pembuangan, teknik persia-
pan, kontrol kualitas, dan peman-
tauan mikrobiologi.
· Pengelolaan tumpahan obat ke-
moterapi : untuk dekontaminasi
digunakan sodium hipoklorit yang
merupakan agen pengoksidasi
kuat. Alkohol 70% tidak dapat
menginaktifkan obat kemoterapi.
· Obat kemoterapi oral memiliki
potensi risiko yang serupa dengan
sediaan injeksi, sehingga perlu di-
hindari pajanannya. Untuk mem-
persiapkan obat kemoterapi oral,
prinsipnya adalah menghindari
kontak dengan kulit atau terhirup,
hindari potensi mengkontaminasi
obat lain, dan selalu cuci tangan
setelah menyiapkan obat. Obat ke-
moterapi oral tidak boleh digerus
atau dihancurkan. Pada kondisi
perlu melarutkan obat (misal akan
diberikan melalui sonde), pelaru-
tan dilakukan di dalam syringe.
Cabut penarik syringe, masukkan
tablet dan tambahkan air seban-
yak 5 10 mL, dan tutup syringe
pada saat pelarutan.
· Rekomendasi keamanan dasar da-
lam persiapan obat kemoterapi,
meliputi : hindari terbentuknya
partikel aerosol, gunakan masker
yang sesuai, hindari kontak dengan
kulit, hindari tumpahan dan perci-
kan, bersihkan permukaan secara
menyeluruh, hindari kontaminasi
ke orang lain, adanya prosedur
dan kebijakan serta standarisasi,
dan perlu pelatihan serta validasi.
(LHS)
LAPORAN KHUSUS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 555
8/26/2010 3:40:57 PM