background image
G
laukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua ter-
tinggi di Indonesia, namun saat ini penatalaksanaannya masih
terfokus pada penggunaan tetes mata yang menurunkan tekanan
bola mata/intraocular pressure; pasien glaukoma masih mungkin
menderita kerusakan mata progresif walaupun sudah mendapat-
kan pengobatan untuk menurunkan tekanan bola mata. Oleh
karena itu diperlukan penanganan lebih seksama untuk mencegah
hilangnya fungsi visual, yang terutama akibat kerusakan sel
ganglion retina.
Agen neuroprotektif seperti Citicoline, saat ini merupakan
salah satu alternatif pengobatan untuk mencegah kerusakan
progresif saraf penglihatan akibat glaukoma ini, demikian
topik ilmiah yang disampaikan oleh 2 orang pembicara yaitu
DR. dr. Ikke Soemantri, SpM(K) dan dr. Virna Dwi Oktariana,
SpM dari divisi Glaukoma, Departemen Ilmu Kesehatan Mata
FKUI/RS Ciptomangunkusumo - Jakarta pada acara Grand
Launching produk RG Choline
®
kaplet dan Cationorm
®
tetes
mata, yang diselenggarakan pada Sabtu 31 Oktober 2009,
bertempat di Flores Ballroom, Hotel Borobudur, Jakarta.
Didahului kata sambutan dan dibuka oleh Dr. Michael Buyung
Nugroho, Direktur Marketing Ethical Kalbe Farma, pada acara
ini juga dilakukan Video Conference langsung dari Perancis
dengan pembicara Dr. Mourad Amrane (Director of Medical
Affairs) serta Jean Sebastien Garrigue Pharm D, MSc, MBA dari
Novagali Pharma, France sebagai produsen Cationorm
®
, yang
merupakan emulsi kationik bagi pengobatan mata kering (dry
eye syndromes treatment).
Mr. Garrigue selaku direktur R&D Novagali Pharma menjelaskan
bahwa produk Cationorm
®
merupakan produk dalam bentuk
cairan emulsi mata yang mengandung minyak mineral (sebagai
lubrikan), surfaktan polimerik (emolien) serta agen kationik,
gliserin dan air. Pada keadaan mata kering, penggunaan tetes
mata emulsi kationik ini dapat membantu penyembuhan gejala
yang disebabkan mata kering.
Hasil studi klinik yang membandingkan Cationorm
®
dan tetes
mata lubrikan standar lainnya, menemukan bahwa Cationorm
®
lebih efektif dalam mengobati gejala mata kering tersebut.
Cationorm
®
memperbaiki stabilitas lapisan film air mata, hasil
test Schirmer dan pewarnaan korneal, memperpanjang secara
signifikan NIBUT (Non Invasive Break Up Time), perbaikan lebih
besar dalam pewarnaan hijau Lissamine (Van Bijsterfeld score)
serta mengurangi evaporasi air mata. Selain itu Cationorm
®
juga
memberikan kenyamanan yang lebih baik pada pengguna
dengan gejala mata kering tersebut. Secara keseluruhan menu-
rutnya, emulsi lipid Cationorm
®
lebih efektif dibandingkan
dengan tetes mata lubrikan yang sering digunakan dalam
pengobatan gejala mata kering (dry eye syndromes).
Sesudah video conference, acara sesi ilmiah yang dimoderatori
oleh Dr. Musfari Harun, Sp.M ini dilanjutkan dengan presentasi
ilmiah Dr.Virna Dwi Oktariana, SpM. Beliau menjelaskan bahwa
glaukoma merupakan neuropati optik yang termasuk neuropati
optik anterior. Dalam keadaan ini, terdapat defek lapangan
pandang akibat kerusakan serabut saraf, kematian sel ganglion
retina (Retinal Ganglion Cell / RGC) serta atrofi optik. Kerusakan
saraf mata ini bila tidak dicegah dapat menyebabkan kebutaan
karena kerusakan sel ganglion retina bersifat irreversible.
Dalam pengobatan glaukoma, beberapa preparat sering di-
gunakan; seperti Carbonic anhydrase inhibitor, Calcium Channel
Blocker, asam lemak Omega 3, serta antioksidan seperti vitamin
C & E; demikian juga Cacao beans, walaupun saat ini belum
ada studi yang established mengenai efektivitas cacao ini.
Dr. Virna menjelaskan perlunya pengobatan yang dapat men-
cegah kerusakan progresif ini. Agen neuroprotektif seperti Citi-
coline, berdasarkan beberapa penelitian klinik dapat mencegah
dan menghambat kerusakan saraf mata lebih lanjut; selain itu
Citicoline mempunyai efek antioksidan yang dapat mengurangi
stres oksidasi. Sehingga, menurutnya, Citicoline sebagai cell
membrane stabilizer dan prekursor phosphatidylcholine, dapat
menjadi pendekatan baru (new frontier), melengkapi penata-
laksanaan standar pengobatan Glaukoma, khususnya mencegah
kerusakan degeneratif saraf yang progresif karena meningkatnya
tekanan bola mata (Intra Ocular Pressure / IOP).
DR.Dr Ikke Sumantri, Sp.M(K) menyampaikan hasil penelitian
di bagian Mata RS Cipto Mangunkusumo: RG Choline
®
(Citicoline)
1000 mg perhari selama 1 bulan pada kasus glaukoma sudut
tertutup menghasilkan perbaikan dan peningkatan signifikan
P100 latency, sensitivitas kontras dengan pemeriksaan Pelli-
Robson dan Mean Defect pada pemeriksaan lapangan pandang
dengan HFA. Menurut beliau, secara umum penggunaan RG
Choline
®
dapat memperbaiki fungsi visual pada pasien glaukoma.
Grand Launching produk RG Choline
®
kaplet dan Cationorm
®
tetes mata dengan tema Kalbe and (Eye)I merupakan wujud
komitmen Kalbe untuk selalu menghadirkan produk-produk
kesehatan mata berkualitas serta pelayanan terbaik untuk
customernya. Acara yang terselenggara atas kerja sama tim Optha
PT. Kalbe Farma Tbk dengan Kalbe Vision serta Novagali Pharma
dari Perancis ini dihadiri oleh kurang lebih 150 orang dokter
spesialis mata dan keluarga, bukan hanya dari Jakarta dan sekitarnya,
namun juga dari beberapa kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
dan Bali. Para peserta acara dan tamu undangan dihibur dengan
acara nyanyi dan tarian, dan oleh Lucy Rahmawati sebagai
bintang tamu yang memeriahkan acara ini.
(IWA)
Grand Launching
Grand Launching
RG Choline
RG Choline
®
& Cationorm
& Cationorm
®
Hotel Borobudur - Jakarta
Hotel Borobudur - Jakarta
31 Oktober 2009
31 Oktober 2009
Grand Launching
RG Choline
®
& Cationorm
®
Hotel Borobudur - Jakarta
31 Oktober 2009
II.
Treat the Patient; not only the disease (Prof. dr. Teguh
AS Ranakusuma, SpS-K)
Sekitar 35% penderita stroke mengalami osteoporosis. Pada
gangguan tulang sering terjadi nyeri. Nyeri mempunyai beberapa
mekanisme: nociceptive, inflamasi dan neuropatik. Penanganan
nyeri akut yang tidak benar dapat menginduksi terjadinya nyeri
kronik yang dapat menurunkan kualitas hidup. Penatalaksanaan
osteoporosis harus komprehensif dengan menghilangkan nyeri, me-
lakukan exercise/gerak badan, jangan jatuh, mengubah pola/gaya
hidup seperti jangan merokok, minum alkohol; alternatif lain adalah
Hormonal Replacement Therapy (HRT),vitamin D, Kalsium dan Leptin.
III.
The role of Phytoestrogen in Osteoporosis (Prof. Dr.
Ichramsjah A Rahman, SpOG-K)
Pengobatan phytoestrogen dahulu dianggap sama dengan plasebo.
Namun pada Konsensus International Menopause Society (IMS)
2006, dinyatakan phytoestrogen memiliki efek dan tidak bersifat
plasebo. Berdasar penelitian Prof Santiago Palecios, Phytosoya
(nama lain: Phytoestrogen) direkomendasikan bagi perempuan
menopause yang tidak menggunakan Hormonal Replacement
Therapy (HRT). Penelitian klinis phytoestrogen oleh Prof Ichramsjah,
Dr. Susanti dan Dr. Tanya di Indonesia, menunjukkan hasil positif
dalam menanggulangi keadaan hipoestrogenik. Hasil penelitian
lengkap akan disampaikan dalam simposium IMS mendatang.
IV.
Clinical pharmacology of Genistein (Dr. Suharti K
Suherman, SpFK)
Secara definisi, phytotherapy adalah farmakoterapi yang berasal
dari herbal/tumbuhan; lidokain, aspirin, digoxin serta warfarin
adalah zat berasal dari tumbuhan. Genistein sebagai phytoes-
trogen mengandung isoflavone, mempunyai efek meningkatkan
BMD dan BMC tulang dan mengurangi CTX sebagai bone
resorption marker. Data studi kinetik, menunjukkan Tmax Genistein
adalah 5,5 jam sedangkan Daidzein 7,5 jam. (Bitto A et al
British J Pharmacol 2009).
V.
The role of Imaging in the diagnosis of osteoporosis
(Dr. Kahar Kusumawidjaya, SpRad)
DXA (Dual energy X-ray absorptiometry) membantu memantau
perubahan Bone mineral density (BMD). Selain itu, Sonodensi-
tometry juga alat deteksi osteoporosis yang relatif baik. Namun,
pemeriksaan sederhana menggunakan Singh index masih tetap
diperlukan untuk analisis kualitatif.
VI.
Central BMD DXA in Indonesia (Dr. Gunawan Tirta-
rahardja, CCD)
Saat ini alat BMD-DXA di Indonesia masih sangat terbatas; hanya 2
alat di seluruh Sumatera, 40 buah di pulau Jawa, hanya 1 di Pulau
Sulawesi, 2 di Kalimantan dan 2 di Bali. Sedangkan di Jepang,
jumlah alat BMD DXA 1963 buah. Perlu terobosan untuk pe-
nyediaan alat BMD DXA yang terjangkau di Indonesia, sekaligus
penambahan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang
mengoperasikan alat DXA tersebut.
VII.
Bone development and exercises through the ages to
prevent osteoporosis (Dr. Tanya TM Rotikan, SpKO)
Olahraga weight bearing lebih berguna dalam membentuk
kekuatan tulang; contohnya: basket, volley, lari, bulutangkis.
Renang kurang bermanfaat karena bersifat non weight bearing.
Latihan fisik yang baik, benar, teratur dan terukur (FITT) menurut
ACSM recommendation (US): frekuensi 3-5 hari, intensitas 60-
75% (maximum heart rate/HR = 220 ­ age), lamanya 20-60
menit dan tipe latihan: walking, jogging, dancing, aerobic.
Exercise/olahraga dapat meningkatkan densitas tulang (BMD),
mencegah osteoporosis, meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi
gejala menopause perempuan lanjut usia.
(IWA)
PIT PEROSI 2009
PIT PEROSI 2009
3
rd
rd
Annual Scientific Meeting
Annual Scientific Meeting
of Indonesia Osteoporosis
of Indonesia Osteoporosis
Association
Association
PIT PEROSI 2009
3
rd
Annual Scientific Meeting
of Indonesia Osteoporosis
Association
B
ertempat di hotel Novotel Mangga Dua, Jakarta pada tanggal
23 dan 24 Oktober 2009, diselenggarakan Pertemuan Ilmiah
Tahunan Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PIT PEROSI),
yang juga merupakan 3
rd
annual scientific meeting of Indone-
sia Osteoporosis Association.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Errol U. Hutagalung, SpB, SpOT-K
sebagai ketua PEROSI, didahului kata sambutan ketua panitia,
Dr. Nicolaas Budhiparama, SpBO, FICS. Simposium ini diikuti
oleh kurang lebih 200 orang,
Pada simposium ini disampaikan topik dari berbagai disiplin ilmu
seperti bedah, penyakit tulang, penyakit saraf, rheumatologi,
obstetri-ginekologi, farmakologi dll, serta pameran beberapa
perusahaan farmasi. Juga ada sesi workshop penanganan kasus
osteoporosis.
Beberapa topik simposium :
I.
HRT in Osteoporosis treatment (Prof. Dr. Ali Baziad, SpOG)
Kasus osteoporosis banyak ditemukan pada wanita, terutama
pasca menopause. Diagnosis osteoporosis biasanya menggu-
nakan BMD, namun kadang tidak sensitif.
Berdasarkan NORA (National Osteoporosis Risk Assesment),
diagnosis osteoporosis lebih tepat menggunakan alat DXA,
namun jumlah alatnya masih terbatas, di Amerika Serikat dengan
penduduk 300 juta tersedia 13.000 DXA, China dengan 1,3
miliar hanya memiliki 300 DXA sedangkan di India dengan
penduduk kurang lebih 1 miliar hanya ada sekitar 100 DXA.
Pemeriksaan kolagen melalui pengukuran kolagen kulit juga
dapat membantu diagnosis osteoporosis. Pengobatan osteo-
porosis pada wanita paska menopause, salah satunya Hormonal
Replacement Therapy (HRT) seperti estrogen, membantu me-
ngurangi kejadian patah tulang sebesar 30-40%. Manfaat lain
HRT dapat mencegah penyakit jantung koroner (PJK). Selain
ERT maupun HRT, masih dimungkinkan penggunaan golon-
gan bifosfonate, SERM, maupun Vitamin D, karena HRT kurang
bermanfaat jika sudah terjadi osteoporosis.
LAPORAN KHUSUS
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
68
67
LAPORAN KHUSUS