CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
221
LAPORAN KHUSUS
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
222
LAPORAN KHUSUS
T
erdapat enam kelas paralel yang membahas pelbagai topik
seperti: kanker hemato-onkologi, kanker kepala dan leher,
kanker gastrointestinal (saluran cerna), kanker payudara, kanker
paru, dan kanker alat reproduksi wanita. Dalam event ini, bisa
ditemui informasi mengenai perkembangan klinik terbaru di
Asia dan juga terdapat banyak kesempatan untuk pertukaran
ide dan pemikiran yang akan membantu para klinisi. Tak
ketinggalan presentasi dari para ahli internasional terkemuka
seperti Prof Harald zur Hausen (peraih hadiah Nobel).
Selama AOS berlangsung, para ahli onkologi berbagi pengalaman
tentang usaha mereka menurunkan angka kesakitan serta
menjalankan strategi pengobatan dalam berbagai jenis kanker.
Diperkirakan di dunia ada 58,8 juta orang meninggal karena
kanker pada tahun 2004 (WHO 2008).
Bagaimana dengan di Indonesia? Sementara beberapa negara
telah giat mengembangkan sel punca, Indonesia masih
tergolong tertinggal. Pengembangan sel punca di Tanah Air
masih terbentur persoalan dana dan sumber daya manusia.
Sejumlah perguruan tinggi dan rumah sakit di Indonesia
terus melakukan penelitian dan pengembangan sel punca.
Penelitian sel punca di antaranya dilakukan di Institut Teknologi
Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas
Indonesia (UI), Universirtas Airlangga (Unair) dan Universitas
Diponegoro (Undip), dan Stem Cell and Cancer Institute (SCI).
Sementara itu rumah sakit yang terus mengembangkan dan
meneliti sel punca adalah RS Cipto Mangunkusumo, RS
Harapan Kita, RS Dhamias, RS Hasan Sadikin, RS Pusat Pertamina,
dan RS Medistra.
Pada diskusi pakar yang bertajuk Etika Penelitian Sel Punca di
Indonesia, para pakar setuju Indonesia memerlukan riset
terintegrasi antarpusat penelitian sel punca. Dengan jejaring
antarpusat riset sel punca, diharapkan akan terjadi pertukaran
dan penyebaran informasi. "Kami akan mengadakan riset
bersama sehingga kegiatan penelitian tidak tumpang tindih
antarpusat penelitian sel punca," kata Ketua Dewan Pelaksana
Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) Ferry Sandra PhD.
Ferry mengatakan, manfaat serba bisa dari sel punca membuat
banyak pemasar senang melabel produknya dengan sel
punca dan dijual baik ke tenaga kesehatan maupun langsung
ke pengguna. Padahal, pemanfaatan sel punca secara klinik
masih dikategorikan sebagai terapi eksperimental, yaitu boleh
dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tetapi membutuhkan
pengawasan ketat.
Ketua Komisi Bioetika Nasional (KBN) DR. Umar Jeni me-
ngatakan, penelitian sel punca bukan embrio dapat dilakukan
oleh peneliti dalam negeri maupun luar negeri, sepanjang
memenuhi peraturan perundangan di Indonesia. Sementara
itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Prof. DR. Dr. Agus Purwadianto, SpF SH berpendapat,
masalah sel punca harus diatur dengan undang-undang (UU)
supaya rakyat tidak dirugikan.
Menurut Prof. Agus, sebelum ada undang-undang, pemerintah
dapat mengeluarkan peraturan menteri kesehatan (Permenkes)
yang sifatnya sementara, karena Permenkes tidak dapat men-
jangkau penelitian sel punca yang dilakukan Fakultas Kedokteran.
Mengingat pemanfaatan sel punca di Indonesia masih
menimbulkan kontroversi, Prof Agus menyatakan semua
pihak terkait perlu duduk bersama untuk merumuskan regulasi
yang jelas agar pengembangan sel punca tidak merugikan
masyarakat sebagai pengguna sel punca. Dan ASPI harus
terlibat aktif dalam penyusunan regulasi.
Prof. Dr. Sjamsuhidajat dari Komisi Nasional Etik Penelitian
Kesehatan menambahkan, semua pihak juga perlu mencari
kesepakatan di antara para peneliti agar bisa menyuarakan
keinginan para peneliti sel punca di Indonesia; dengan
demikian bisa tersusun suatu pedoman yang disepakati
bersama. Tujuannya, agar penelitian sel punca bisa terus
berkembang dan menjadi terapi unggulan bagi bangsa dan
negara Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya.
Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Kantor
Menneg Ristek Prof. DR. Dr. Amin Soebandrio mendukung
pembentukan jejaring tersebut karena dengan demikian,
masalah keterbatasan dana dan sumber daya manusia dapat
diatasi bersama.
Sementara itu Chairman Stem Cell and Cancer Institute (SCI),
Dr. Boenjamin Setiawan, PhD, mengatakan perlu ada kesamaan
persepsi mengenai sel punca. Ia juga berharap peneliti,
pelaku usaha, dan pemerintah perlu menjalin kerjasama
dalam mengembangkan sel punca. "Negara tetangga
kita, Singapura, Korea, India, dan China sudah melang-
kah jauh mengembangkan sel punca. Indonesia jangan
sampai ketinggalan. Jangan sampai ada peraturan yang
menghambat penelitian," katanya.
(Indra Bustomi)
Di Asia Tenggara, pada tahun 2008 diperkirakan terdapat
1.589.000 kasus kanker (758.000 berjenis kelamin laki-laki
dan perempuan 831.000 kasus), 1.072.000 kematian (557,000
laki-laki dan 515.000 perempuan). Pada pria, kanker yang
paling sering terjadi adalah kanker paru yang diikuti oleh
kanker mulut sedangkan pada wanita yang paling sering terjadi
adalah kanker leher rahim diikuti dengan kanker payudara.
Dalam salah satu diskusi panel, terdapat pembahasan mengenai
pengobatan terkini kanker dengan kombinasi terapi target
dengan pengobatan konvensional, dan terapi obat berjenjang
sehubungan dengan penyakit kanker yang disebabkan oleh
keturunan (genetika). Terapi berjenjang telah mendorong
kepuasan para ahli kanker dalam bidang pengobatan tumor
darah dan organ / solid.
1
st
Asian Oncology Summit (AOS) 2009 diselenggarakan di Suntec Singapore
International Convention & Exhibition Center, Singapura. Acara ini diselenggarakan
bersama dengan 2
nd
South East Asian Oncology Forum & 3
rd
Singapore Society of
Oncology Board Review. Pertemuan yang mencakup serangkaian kuliah pari-
purna meliputi berbagai topik kanker darah dan solid/padat.
Nimotuzumab menarik perhatian
Nimotuzumab menarik perhatian
pada 1
pada 1st
st Asian Oncology Summit di
Asian Oncology Summit di
Singapura, 3-5 April 2009
Singapura, 3-5 April 2009
Nimotuzumab menarik perhatian
pada 1st Asian Oncology Summit di
Singapura, 3-5 April 2009
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
223
LAPORAN KHUSUS
Molekul kecil (tyrosine kinase inhibitors; TKIs) bersama zat
biologik (monoclonal antibodies; mAb) telah dievaluasi dalam
berbagai kombinasi dengan kemoterapi (CT) dan/atau
radioterapi (RT). TKIs (gefitinib, imatinib, sorafinib, sunitinib)
dan mAb (cetuximab, trastuzumab, bevacizumab, nimotu-
zumab) ternyata lebih bermanfaat untuk mengikat masing-
masing sasaran dan terjadi peningkatan angka respons
dalam perawatan. Beberapa percobaan klinis dengan terapi
target telah menunjukkan peningkatan kemajuan progression-
free survival (PFS) dan juga angka Overall Survival pada
kanker payudara, kepala dan leher, dll. Sayangnya beberapa
agen anti-EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) yang
ada memiliki efek samping yang berat pada pasien kanker.
Selama acara berlangsung, nimotuzumab (telah dipasarkan
di Indonesia dengan nama dagang TheraCIM
®
) mendapat
banyak perhatian dari para ilmuwan dan onkologist dari ber-
bagai belahan dunia karena "Affinity-optimized
TM
" properti
terhadap EGF receptor. Dr Rikrik Ilyas, direktur, Innogene-
Kalbiotech, Singapura menjelaskan mengenai perkembangan
dan efikasi pengobatan dari nimotuzumab dalam mengobati
pelbagai tumor dengan ekspresi EGFR yang tinggi. Nimotu-
zumab adalah human monoclonal anti-EGFR antibody yang
memiliki angka toksisitas dan immunogenicity (kemampuan
untuk menimbulkan reaksi imun/alergi) yang rendah. Nimo-
tuzumab telah disetujui (approved) untuk perawatan kanker
nasofaring (nasopharyngeal cancer/NPC), kanker kepala dan
leher (Squamous Cell Cancer of the Head and Neck/SCCHN)
dan tumor jaringan otak (glioma). Kombinasi nimotuzumab
dan radioterapi (RT) secara signifikan meningkatkan angka
respon keseluruhan pada pasien-pasien NPC dan kanker-
kanker tahap lanjut kepala dan leher lainnya.
Pada simposium satelit yang disponsori Innogene-Kalbiotech,
Prof Mark Vincent dari University of Western Ontario, Kanada
menjelaskan bahwa "efikasi/keberhasilan nimotuzumab pada
perawatan tumor yang EGFR over-expressed sama dengan
agen anti-EFGR yang lain, seperti: cetuximab dan panitu-
mumab. Sehubungan dengan toksisitasnya, nimotuzumab
hanya mengikat sel-sel tumor yang ekspresi EGFR sangat
tinggi (over expresif), sementara cetuximab dan panitumumab
mengikat semua jaringan yang EGFR expresif.
Pengikatan nimotuzumab terhadap EGFR memerlukan
ikatan yang bivalen, yang mana ini bisa terjadi jika konsen-
trasi EGFR meningkat. Sebaliknya, saat konsentrasi EGFR
rendah, seperti pada jaringan sehat, cetuximab dan panitu-
mumab masih terus/ tetap berinteraksi secara kuat dengan
EGFR melalui ikatan monovalen. Itulah sebabnya nimotu-
zumab tidak menyebabkan keracunan pada jaringan yang
sehat. Profil keamanan "affinity- optimized
TM
" nimotuzumab
telah menunjukkan keunggulan dibandingkan dengan
terapi-terapi anti-EGFR mAbs yang lain. Kekurangan magne-
sium darah (hipomagnesium) yang hebat dan ruam kulit
(skin rash) merupakan hal yang umum terjadi pada terapi
dengan cetuximab dan panitumamab. Angka kejadian
infeksi kulit (dermatitis) berat selama terapi radiasi telah
dilaporkan pada pasien-pasien yang diterapi dengan cetuximab
untuk pengobatan kanker kepala dan leher.
Hubungan yang positif antara adanya ruam kulit yang parah
yang berhubungan dengan terapi, secara terus menerus telah
diamati terhadap pemanfaatan agen anti-EGFT yang telah
disetujui untuk penggunaan klinik. Temuan ini menunjukkan
bahwa ruam mungkin berguna sebagai tanda keberhasilan
menghambat EGFR. Oleh karenanya hal ini bisa digunakan
untuk memandu para dokter menyesuaikan dosis pengobatan.
Namun, tidak adanya ruam kulit dengan perawatan nimotu-
zumab menjadikan agen ini unik di antara kelas terapi anti-
EGFR mAb.
Dalam pernyataan yang diberikan oleh Prof Randolph HJ, UCLA,
"ruam tidak hanya tidak sedap dipandang, namun bagi pasien,
sangat menyakitkan bahkan bisa menimbulkan infeksi serius.
Saya mempunyai pengalaman dengan pasien yang memerlukan
tindakan bedah segera (untuk pengaliran cairan nanah/abses)
yang berhubungan dengan ruam-kulit-yang-disebabkan-oleh-
EGFR. Penghambat EGFR dengan aktifitas antikanker namun
tanpa ruam kulit, bisa sangat menyenangkan pasien".
Karenanya, nimotuzumab merupakan terapi yang menjanjikan
pagi pasien-pasien dengan tumor jaringan epitel tingkat lanjut.
Asian Oncology Summit kedua, direncanakan akan diseleng-
garakan di Bali Indonesia, 9 - 11 April 2010. (RED)