background image
L A P O R A N K H U S U S
443
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
L A P O R A N K H U S U S
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
442
P
ada tanggal 1-4 Oktober 2008 di kawasan Seoul, Korea,
tepatnya di Sheraton Grande Walkerhill Hotel, telah berlangsung
acara 8th Asian Dermatological Congress (8
th
ADC 2008).
Acara yang diikuti oleh sekitar 1080 peserta khususnya dokter
spesialis dan residen Kulit dan Kelamin dari 26 negara tersebut
diselenggarakan atas kerjasama Korean Dermatological Asso-
ciation dan Asian Dermatological Association.
Acara dengan tema "Shaping the Future : Dermatology in Asia"
dengan pembicara dari berbagai negara tersebut diselengga-
rakan dengan latar belakang adanya peningkatan ketertarikan
dermatologis maupun publik dalam kesehatan kulit dan pera-
watannya. Diharapkan dengan acara tersebut, dokter tidak hanya
melihat masa depan, tetapi juga membantu membentuk masa
depan dermatologi di Asia. Acara tersebut juga diharapkan
dapat menjadi daya dorong untuk mempercepat penelitian
dan perkembangan di bidang dermatologi. Acara 8
th
ADC
2008 ini antara lain dibuka oleh ketua panitia 8
th
ADC, Prof.
Jai-Il Youn, Ketua Korean Dermatological Association, Eil-Soo
Lee, M.D, Ph.D dan Ketua Asian Dermatological Association,
Kunihiko Tamaki, M.D, Ph.D.
Berbagai topik di bidang dermatologi dibahas dalam acara ini,
salah satunya adalah mengenai Atopic Dermatitis : Recent
Advances in the Pathophysiology and Their Clinical Relevance
oleh Prof. Thomas Bieber, M.D dari Jerman. Dalam presenta-
sinya, Prof.Bieber menyebutkan bahwa dermatitis atopik meru-
pakan penyakit kulit inflamasi kronik yang dibagi minimal dalam
2 bentuk yang berbeda yaitu atopik (berkaitan dengan IgE,
ekstrinsik) dan non-atopik (tidak berkaitan dengan IgE, intrinsik).
Saat ini, mutasi pada gen yang mengkode Filaggrin (FLG) telah
dilaporkan sangat berkaitan dengan bentuk tertentu dermati-
tis atopik dengan onset dini. Mutasi FLG dikaitkan dengan
disfungsi barier epidermal pada dermatitis atopik. Oleh karena
itu, dermatitis atopik dapat timbul dengan latar belakang gen
yang berkaitan dengan protein strutural yang terlibat dalam
fungsi barier epidermal atau yang berkaitan dengan mekanisme
imunologi yang terlibat dalam peningkatan sintesis IgE. Dermatitis
atopik pada kebanyakan pasien (70%) ditandai dengan adanya
peningkatan kadar IgE serum total, namun 30% pasien atopik
menunjukkan kadar IgE yang normal. Dalam presentasi ini juga
disebutkan mengenai penatalaksanaan yang lebih kuat dan pro-
aktif yaitu diagnostik alergologikal, terapi dasar untuk meng-
koreksi disfungsi barier epidermal, mengkontrol kolonisasi bakteri
dan mengkontrol inflamasi dengan lebih efektif dengan aplikasi
intermiten steroid topikal atau penghambat kalsineurin topikal.
Topik lainnya adalah mengenai Psoriasis-Why Does It Really
Matter? And How Have We Managed This Condition oleh
Prof. Jean-Paul Ortone, M.D dari Perancis. Dalam presenta-
sinya, Prof. Ortone menyebutkan bahwa psoriasis merupakan
kondisi yang cukup sering terjadi. Kulit kepala merupakan
lokasi yang paling sering terkena (80%). Psoriasis kulit kepala
ditandai dengan lesi eritroskuamosa berbatas tegas dengan sisik
putih perak yang mengenai garis rambut di atas wajah atau
retroaurikuler. Dapat timbul plak yang sangat tebal khususnya
di daerah oksipital, yang bila berlangsung lama dapat meng-
akibatkan alopesia jaringan parut. Terapi psoriasis meliputi terapi
fotosistemik dan topikal, dan kebanyakan pasien menggunakan
kombinasi terapi tersebut.
Zat aktif yang paling penting untuk terapi psoriasis adalah
kortikosteroid seperti betamethasone dipropionate, betame-
thasone valerate dan clobetasol propionate. Derivat vitamin
D3 dan coal tar atau derivatnya juga sering digunakan. Foto-
terapi dan radioterapi juga telah digunakan untum terapi
psoriasis kulit kepala (sinar UV, PUVA, excimer laser, dan sinar
grenz). Juga terdapat data penggunaan obat imunosupresif
seperti alefacept, dll.
Sedangkan Prof. Feldman dari USA dalam presentasinya yang
berjudul Problem and Challenges in the Management of
Scalp Psoriasis menyebutkan bahwa masalah utama dalam
terapi psoriasis sehingga respon terapi tidak seperti yang di-
harapkan adalah buruknya kepatuhan pasien terhadap terapi.
Cara untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi
adalah memberikan obat topikal dalam bentuk sediaan yang
mudah dan nyaman digunakan serta tidak memerlukan waktu
terapi yang lama, contohnya adalah bentuk sediaan shampo
untuk psoriasis kulit kepala.
Topik lain yang mendapat antusias yang besar dari peserta
adalah mengenai melasma. Kembali Prof. Ortone dalam presen-
tasinya dengan judul What is New on Melasma? menyebutkan
bahwa melasma merupakan kondisi hiperpigmentasi yang
sangat sering dijumpai yang biasanya mengenai daerah wajah
yang terpapar. Kemungkinan faktor genetik terlibat dalam
melasma dan kejadian familial kelainan ini tidaklah jarang (21-
47%). Prevalensi melasma sangat tinggi pada kelompok etnik
tertentu dan paling sering mengenai tipe kulit III-VI.
Penemuan saat ini menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi
alpha-MSH pada keratinosit epidermis makula melasma me-
nunjukkan bahwa hormon ini dan reseptornya terlibat dalam
induksi hipermelanosis dan dalam patogenesis melasma.
Sedangkan radiasi UV menyebabkan keratinosit epidermis mem-
produksi faktor melanogenik termasuk alpha-MSH sehingga
menyebabkan melanogenesis.
Saat ini juga telah ditunjukkan adanya peningkatan ekspresi
SCF (Stem Cell Factor) yang disekresi oleh fibroblas dermis dan
c-kit dalam epidermis kulit melasma. Hal ini menunjukkan
bahwa SCF dan c-kit reseptornya telibat dalam mekanisme
hipermelanosis pada melasma. Estrogen dan progesteron juga
telah dipertimbangkan sebagai faktor etiologi melasma. Ditun-
jukkan bahwa 17-beta-estradiol menstimulasi keratinosit untuk
memproduksi GM-CSF, suatu faktor melanogenik dan faktor
pertumbuhan melanosit yang terlibat dalam hipermelanosis yang
diinduksi oleh UVA. Semua penemuan tersebut menyebabkan
pengertian yang lebih baik terhadap regulasi melanosit dan
keratinosit oleh hormon dan sinar matahari serta menyebabkan
perkembangan strategi terapi baru.
Menurut Dr.Krisada Duangurai dari Bangkok dalam presenta-
sinya yang berjudul Medical Therapy in Melasma, pigmen
dermis dapat diterapi dengan menghancurkan pigmen misalnya
dengan laser. Sedangkan pigmen epidermis dapat diterapi
dengan obat depigmentasi topikal atau dengan pengelupasan
epidermis. Obat depigmentasi meliputi :
· Senyawa phenolic (hydroquinone dan derivatnya)
· Obat keratolitik (tretinoin, glycolic acid, salicylic acid)
· Kortikosteroid
· Lain-lain (Licorice extract, azelaic acid, kojic acid, ascorbic
acid,
arbutin).
(EKM)
8th Asian Dermatological Congress
8th Asian Dermatological Congress
8th Asian Dermatological Congress
background image
L A P O R A N K H U S U S
443
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
L A P O R A N K H U S U S
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
442
P
ada tanggal 1-4 Oktober 2008 di kawasan Seoul, Korea,
tepatnya di Sheraton Grande Walkerhill Hotel, telah berlangsung
acara 8th Asian Dermatological Congress (8
th
ADC 2008).
Acara yang diikuti oleh sekitar 1080 peserta khususnya dokter
spesialis dan residen Kulit dan Kelamin dari 26 negara tersebut
diselenggarakan atas kerjasama Korean Dermatological Asso-
ciation dan Asian Dermatological Association.
Acara dengan tema "Shaping the Future : Dermatology in Asia"
dengan pembicara dari berbagai negara tersebut diselengga-
rakan dengan latar belakang adanya peningkatan ketertarikan
dermatologis maupun publik dalam kesehatan kulit dan pera-
watannya. Diharapkan dengan acara tersebut, dokter tidak hanya
melihat masa depan, tetapi juga membantu membentuk masa
depan dermatologi di Asia. Acara tersebut juga diharapkan
dapat menjadi daya dorong untuk mempercepat penelitian
dan perkembangan di bidang dermatologi. Acara 8
th
ADC
2008 ini antara lain dibuka oleh ketua panitia 8
th
ADC, Prof.
Jai-Il Youn, Ketua Korean Dermatological Association, Eil-Soo
Lee, M.D, Ph.D dan Ketua Asian Dermatological Association,
Kunihiko Tamaki, M.D, Ph.D.
Berbagai topik di bidang dermatologi dibahas dalam acara ini,
salah satunya adalah mengenai Atopic Dermatitis : Recent
Advances in the Pathophysiology and Their Clinical Relevance
oleh Prof. Thomas Bieber, M.D dari Jerman. Dalam presenta-
sinya, Prof.Bieber menyebutkan bahwa dermatitis atopik meru-
pakan penyakit kulit inflamasi kronik yang dibagi minimal dalam
2 bentuk yang berbeda yaitu atopik (berkaitan dengan IgE,
ekstrinsik) dan non-atopik (tidak berkaitan dengan IgE, intrinsik).
Saat ini, mutasi pada gen yang mengkode Filaggrin (FLG) telah
dilaporkan sangat berkaitan dengan bentuk tertentu dermati-
tis atopik dengan onset dini. Mutasi FLG dikaitkan dengan
disfungsi barier epidermal pada dermatitis atopik. Oleh karena
itu, dermatitis atopik dapat timbul dengan latar belakang gen
yang berkaitan dengan protein strutural yang terlibat dalam
fungsi barier epidermal atau yang berkaitan dengan mekanisme
imunologi yang terlibat dalam peningkatan sintesis IgE. Dermatitis
atopik pada kebanyakan pasien (70%) ditandai dengan adanya
peningkatan kadar IgE serum total, namun 30% pasien atopik
menunjukkan kadar IgE yang normal. Dalam presentasi ini juga
disebutkan mengenai penatalaksanaan yang lebih kuat dan pro-
aktif yaitu diagnostik alergologikal, terapi dasar untuk meng-
koreksi disfungsi barier epidermal, mengkontrol kolonisasi bakteri
dan mengkontrol inflamasi dengan lebih efektif dengan aplikasi
intermiten steroid topikal atau penghambat kalsineurin topikal.
Topik lainnya adalah mengenai Psoriasis-Why Does It Really
Matter? And How Have We Managed This Condition oleh
Prof. Jean-Paul Ortone, M.D dari Perancis. Dalam presenta-
sinya, Prof. Ortone menyebutkan bahwa psoriasis merupakan
kondisi yang cukup sering terjadi. Kulit kepala merupakan
lokasi yang paling sering terkena (80%). Psoriasis kulit kepala
ditandai dengan lesi eritroskuamosa berbatas tegas dengan sisik
putih perak yang mengenai garis rambut di atas wajah atau
retroaurikuler. Dapat timbul plak yang sangat tebal khususnya
di daerah oksipital, yang bila berlangsung lama dapat meng-
akibatkan alopesia jaringan parut. Terapi psoriasis meliputi terapi
fotosistemik dan topikal, dan kebanyakan pasien menggunakan
kombinasi terapi tersebut.
Zat aktif yang paling penting untuk terapi psoriasis adalah
kortikosteroid seperti betamethasone dipropionate, betame-
thasone valerate dan clobetasol propionate. Derivat vitamin
D3 dan coal tar atau derivatnya juga sering digunakan. Foto-
terapi dan radioterapi juga telah digunakan untum terapi
psoriasis kulit kepala (sinar UV, PUVA, excimer laser, dan sinar
grenz). Juga terdapat data penggunaan obat imunosupresif
seperti alefacept, dll.
Sedangkan Prof. Feldman dari USA dalam presentasinya yang
berjudul Problem and Challenges in the Management of
Scalp Psoriasis menyebutkan bahwa masalah utama dalam
terapi psoriasis sehingga respon terapi tidak seperti yang di-
harapkan adalah buruknya kepatuhan pasien terhadap terapi.
Cara untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi
adalah memberikan obat topikal dalam bentuk sediaan yang
mudah dan nyaman digunakan serta tidak memerlukan waktu
terapi yang lama, contohnya adalah bentuk sediaan shampo
untuk psoriasis kulit kepala.
Topik lain yang mendapat antusias yang besar dari peserta
adalah mengenai melasma. Kembali Prof. Ortone dalam presen-
tasinya dengan judul What is New on Melasma? menyebutkan
bahwa melasma merupakan kondisi hiperpigmentasi yang
sangat sering dijumpai yang biasanya mengenai daerah wajah
yang terpapar. Kemungkinan faktor genetik terlibat dalam
melasma dan kejadian familial kelainan ini tidaklah jarang (21-
47%). Prevalensi melasma sangat tinggi pada kelompok etnik
tertentu dan paling sering mengenai tipe kulit III-VI.
Penemuan saat ini menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi
alpha-MSH pada keratinosit epidermis makula melasma me-
nunjukkan bahwa hormon ini dan reseptornya terlibat dalam
induksi hipermelanosis dan dalam patogenesis melasma.
Sedangkan radiasi UV menyebabkan keratinosit epidermis mem-
produksi faktor melanogenik termasuk alpha-MSH sehingga
menyebabkan melanogenesis.
Saat ini juga telah ditunjukkan adanya peningkatan ekspresi
SCF (Stem Cell Factor) yang disekresi oleh fibroblas dermis dan
c-kit dalam epidermis kulit melasma. Hal ini menunjukkan
bahwa SCF dan c-kit reseptornya telibat dalam mekanisme
hipermelanosis pada melasma. Estrogen dan progesteron juga
telah dipertimbangkan sebagai faktor etiologi melasma. Ditun-
jukkan bahwa 17-beta-estradiol menstimulasi keratinosit untuk
memproduksi GM-CSF, suatu faktor melanogenik dan faktor
pertumbuhan melanosit yang terlibat dalam hipermelanosis yang
diinduksi oleh UVA. Semua penemuan tersebut menyebabkan
pengertian yang lebih baik terhadap regulasi melanosit dan
keratinosit oleh hormon dan sinar matahari serta menyebabkan
perkembangan strategi terapi baru.
Menurut Dr.Krisada Duangurai dari Bangkok dalam presenta-
sinya yang berjudul Medical Therapy in Melasma, pigmen
dermis dapat diterapi dengan menghancurkan pigmen misalnya
dengan laser. Sedangkan pigmen epidermis dapat diterapi
dengan obat depigmentasi topikal atau dengan pengelupasan
epidermis. Obat depigmentasi meliputi :
· Senyawa phenolic (hydroquinone dan derivatnya)
· Obat keratolitik (tretinoin, glycolic acid, salicylic acid)
· Kortikosteroid
· Lain-lain (Licorice extract, azelaic acid, kojic acid, ascorbic
acid,
arbutin).
(EKM)
8th Asian Dermatological Congress
8th Asian Dermatological Congress
8th Asian Dermatological Congress