CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
186
DIAGNOSIS
Croup biasanya diawali dengan gejala infeksi saluran nafas atas
ringan, seperti demam, pilek, dan batuk ringan.
4,7,9
Selanjutnya
dapat terjadi obstruksi saluran nafas akibat inflamasi daerah
subglotis, dengan gejala suara serak, batuk kering seperti meng-
gonggong (croupy/barky cough), dan stridor inspirasi dengan
atau tanpa demam, bahkan respiratory distress.
8,9,10
Pemeriksaan klinik dapat menemukan adanya nasofaringitis.
Meskipun croup merupakan self-limiting disease, tetapi jika udem
subglotis berlanjut akan terjadi kesulitan bernafas, yang ditandai
adanya stridor inspirasi. Retraksi supraklavikula, suprasternal,
dan interkostal dapat juga terjadi tergantung dari derajat distres
respirasinya.
7,11
Gambar 1. Perbandingan gambaran larings normal dengan penderita croup
8
.
Pemeriksaan foto polos leher menunjukkan adanya steeple
sign, yaitu penyempitan jalan nafas di area subglotis yang
terlihat pada penampakan anteroposterior. Daerah hipofarings
terlihat lebih lebar pada penampakan lateral.
7,8,9
tetapi gamba-
ran radiologis tersebut hanya ditemukan pada 50% kasus;
banyak kasus croup yang gambaran radiologisnya dalam
batas normal.
Gambar 2. Kiri : Gambaran daerah subglotis normal pada foto polos leher
anteroposterior. Kanan: Penyempitan subglotis (steeple sign) akibat udem pada
foto polos leher anteroposterior. (Krilov & Malhotra, 2001)
9
Inspiratory stridor
- None
0
- At rest, with stethoscope
1
- At rest, no stethoscope
2
Level of consciousness
- Normal
0
- Altered
5
Air entry
- Normal
0
- Decreased
1
- Severely limited
2
Cyanosis
- None
0
- Agitated
4
- At rest
5
Retractions
- None
0
- Mild
1
- Moderate
2
- Severe
3
Pada pemeriksaan analisis gas darah didapatkan tekanan parsial
CO
2
meningkat, tekanan parsial O
2
menurun dan pH darah
bergeser ke arah asam.
Laringoskopi langsung harus dipertimbangkan pada croup yang
tidak membaik dan untuk menyingkirkan penyebab obstruksi
lainnya.
1,7
Pada laringoskopi langsung tampak daerah subglotis
berwarna kemerahan difus, licin, dan udem serta adanya sekret
kental.
1,9
Daerah glotis dan supraglotis dapat berwarna kemera-
han tetapi umumnya dalam batas normal. Pipa endotrakea dan
alat trakeostomi harus tersedia sebelum laringoskopi dilakukan.
1
Ledwith & Rittichier (2000), mengklasifikasikan croup menjadi
tiga yaitu: (1) Ringan, jika terdapat batuk menggonggong, tanpa
adanya atau riwayat stridor atau retraksi, (2) Sedang, jika ditemu-
kan adanya serak, batuk menggonggong dan riwayat atau adanya
stridor inspirasi saat istirahat dan atau retraksi, (3) Berat, jika
terdapat gangguan status mental, retraksi berat dan sianosis.
4
Westley (1978), mendesain skor croup yang sampai saat ini
masih digunakan untuk mengklasifikasikan croup menjadi croup
ringan, sedang, dan berat. Croup ringan jika skor croup < 2,
sedang jika skor croup 2-7, dan berat jika skor croup 8-17.
15
(Tabel 3)
Tabel 3. Skor croup dari Westley
15
Diagnosis Banding
Untuk menegakkan diagnosis croup perlu dipikirkan penyakit-
penyakit lain sebagai diagnosis banding, seperti, epiglotitis akut,
dan benda asing larings.
9
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
243
RESENSI BUKU
Buku biografi plus
"Oei Ban Liang : Pelopor Bioteknologi,
Begawan Kimia dan
Sosok Guru yang Humanis",
terbitan CDK 2008
Siapa yang tidak mengenal Prof. Oei Ban Liang, Guru Besar Kimia dari
Institut Teknologi Bandung (ITB)? Pak Oei dikenal sebagai dosen yang ulet,
pantang menyerah sekalipun banyak rintangan yang menghadang.
(kutipan dari Kata Pengantar Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso M.Sc, Rektor ITB)
P
engakuan ini tidak hanya datang dari lingkungan ITB
saja. Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, PhD, Direktur
Jendral Pendidikan Tinggi pun mengakui Pak Oei sebagai
sosok yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
ilmu kimia di Indonesia. Konsistensi Prof. Oei dalam meng-
geluti ilmu kimia perlu dijadikan contoh bagi generasi
berikut atau penerusnya, jelas Prof Soemantri.
Kesemua hal di atas itulah yang menggerakkan hati dr
Boenjamin Setiawan, Chairman dan Founder Grup Kalbe
Farma untuk memprakarsai penulisan biografi Prof. Oei Ban
Liang Ph.D. Dalam sambutannya, Dr Boen menjelaskan
tujuan peluncuran buku biografi Oei Ban Liang adalah
memberikan penghargaan kepada para akademisi yang
telah banyak mencurahkan tenaga dan pikiran untuk
memajukan dunia akademis yang saat ini jauh tertinggal
dibandingkan dengan negara-negara tetangga: Singapura,
Malaysia, Filipina, Thailand dan sebagainya.
Dalam buku setebal 175 halaman ini, bisa dibaca riwayat
hidup Begawan Kimia Indonesia. Dimulai dari masa kecil
hingga dewasa (Bagian I), kemudian masuk ke bagian II.
Masa Pengabdian, bagian III. Menjadi Pelopor di Pusat
Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. PAU adalah suatu
badan bentukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia guna mendukung pendidikan pasca
sarjana di sepuluh universitas terkemuka dengan peralatan
modern dan canggih di semua bidang studi (hal. 65). Selan-
jutnya di Bagian IV, dijelaskan mengenai Menyongsong
Masa Depan. Pada bab ini, bisa dibaca pandangan dan
pikiran Prof Oei (78 tahun) tentang masa depan Kimia
Indonesia, Bioteknologi Indonesia dan pelbagai penelitian
dipandang dari sudut kualitas dan kreatifitas.
Meskipun buku ini cukup tebal, namun dengan gaya
penulisan yang cukup kreatif dan inovatif, membaca buku
biografi ini tidak hanya seperti membaca riwayat hidup
seseorang yang memberi banyak inspirasi saja.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
244
RESENSI BUKU
Dengan kekayaan kosa kata serta ilmu yang dimiliki oleh Ari
Wibowo (penyusun), banyak diselipkan istilah-istilah, kalimat
bahkan cerita yang kadangkala tidak terpikir oleh kita semua.
Tentu ini bisa membuat pembaca menjadi lebih penasaran
untuk menyelesaikan buku tersebut. Misalnya untuk me-
lukiskan bagaimana penuhnya perhatian serta cinta kasih
Pak Oei dalam membimbing murid-muridnya, Ari bercerita
mengenai perjalanan sang Kapak, Gergaji, Palu dan Nyala
Api bersama-sama. "Ada banyak hati yang
cukup keras untuk melawan kemur-
kaan dan amukan kemarahan demi
harga tinggi. Tapi jarang ada hati
yang tahan melawan nyala api cinta
kasih yang hangat. Betapa arif
bijak ada dalam sebuah kelembu-
tan dan kehangatan, seperti api men-
cairkan hati yang dingin", tulis
Ari di halaman 164.
Buku ini juga dilengkapi dengan pelbagai kesan dan pesan
dari para murid dan rekan sejawat seperti: Prof (Riset) Dr
Soefjan Tsauri, Debbie Sofie Retnoningrum Ph.D, Soetrisno
Ph.D, Dr Harjoto Djojosubroto, Dr Isnaini, Dr. Endang
Kumolowati, Prof. Dr. H. Abd. Rauf Patong, Prof. Dr. Ami
Soewandi.J.S., Dr. Darmadi Gunarso, Prof. Dr. Chandrawati
Cahyani, Ernawati Arifin Giri Rachman Ph.D., Dr. Sofyan
Yatim, Dr Florentina Maria Titin S, Dr. Tri Panji, Prof Hilda
Zulkifli, Ph.D., Ir. Yenny Ciawi Ph.D, Megawati Santoso
Ph.D., dan Prof. dr. Rully M.A. Roesli, SpPD PhD KGH,
sebagai dokter yang merawat Prof Oei saat ini yang telah
menjalani hemodialisis (sejak tahun 2002).
Kita semua berharap bahwa dengan terbitnya buku
biografi plus-plus ini semua pihak bisa terinspirasi dari
uletnya perjuangan Prof Oei serta sabarnya dalam
membimbing. Yang tertarik ingin memiliki buku
ini, bisa segera mengontak Medical Repre-
sentative Kalbe Farma terdekat. Buku ini
dicetak dalam jumlah terbatas. Sampai
ketemu pada penerbitan berikutnya...
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
185
PENDAHULUAN
Croup atau laringotrakeobronkitis akut (LTBA) merupakan
penyakit peradangan akut di daerah subglotis larings, trakea,
dan bronkus
1,2
Penyakit ini merupakan penyebab tersering
obstruksi saluran nafas atas pada anak-anak
3-6
dan biasanya
ditandai dengan suara serak, batuk kering seperti menggong-
gong, dan stridor inspirasi.
5,7,8
Croup sering diderita anak usia 6 bulan sampai 6 tahun. Puncak
insidensi croup kurang lebih 4,6 kasus per 100 anak usia 1
sampai 2 tahun; dan kurang lebih 1,3%-5% anak penderita
croup diharuskan rawat inap.
3
Ada beberapa peneliti yang
mengatakan bahwa di Amerika Serikat croup sering diderita
oleh anak usia 1-6 tahun dengan rata-rata usia 18 bulan.
9
Puncak insidensi kurang lebih 5 kasus per 100 anak pada
tahun kedua kehidupan anak.
7,8
Di Rumah Sakit Anak Westmead, New South Wales Australia
dalam satu tahun terdapat kurang lebih 1200 kunjungan croup,
dan 20 % di antaranya diharuskan rawat inap
10
Di luar negeri
penelitian-penelitian tentang croup juga sering dilakukan,
menunjukkan bahwa kasus croup sering dijumpai di klinik
ataupun di rumah sakit.
Tabel 1. Angka kejadian croup di beberapa rumah sakit di luar negeri.
Data di atas menunjukkan bahwa angka kejadian croup di luar
negeri masih cukup tinggi, sedangkan di Indonesia tidak didapat-
kan data yang jelas.
ETIOLOGI
Croup terutama disebabkan oleh parainfluenza virus tipe 1, 2,
dan 3
7,8,9
, yaitu pada kurang lebih 50 - 75% kasus
11
. Malhotra
dan Krilov mengisolasi parainfluenza virus pada kurang lebih
65% penderita croup.
9
Selain parainfluenza virus, virus influenza
tipe A, adenovirus, enterovirus, dan respiratory syncytial virus
juga ditemukan pada penderita croup.
7,8,9
Menurut Ewig, measles virus dapat menyebabkan croup berat
terutama pada anak kurang dari dua tahun. Gejala croup terjadi
paling sering dua hari setelah exanthem, tetapi dapat terjadi sebelum
erupsi kulit. Herpes simplex virus menyebabkan prolonged croup
khususnya jika dihubungkan dengan gingivostomatitis.
8
Bakteri juga dapat ditemukan pada penderita croup, jika ter-
jadi infeksi sekunder. Umumnya Streptococcus pyogenes, S.
pneumoniae, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae,
dan Moraxella catarrhalis.
9
Setelah infeksi virus berlangsung,
dapat terjadi infeksi bakteri sekunder oleh organisme yang
berasal dari hidung. Pada biakan bakteri yang paling sering
ditemukan yaitu Streptococcus hemolyticus, Streptococcus
viridans, Staphylococcus aureus, dan Pneumococcus.
1
PATOGENESIS
Infeksi virus pada croup dimulai dari nasofarings dan menyebar
ke epitel respiratorius larings dan trakea. Inflamasi difus, eritema,
dan udem berkembang di larings dan dinding trakea, sehingga
gerakan pita suara terganggu. Daerah subglotis merupakan bagian
yang paling sempit pada saluran nafas anak. Area subglotis ini
dikelilingi oleh kartilago, dan setiap pembengkakan di daerah
tersebut akan berpengaruh terhadap jalan nafas dan menyebab-
kan pengurangan aliran udara secara bermakna. Penyempitan
jalan nafas menyebabkan stridor inspirasi, dan pembengkakan
atau udem di daerah pita suara menyebabkan suara serak.
7,9
Dengan berlanjutnya penyakit, lumen trakea menjadi ter-
sumbat oleh sekret yang semula encer lalu kental, dan
menjadi krusta, sehingga penderita menjadi lebih sulit ber-
nafas. Usaha mengeluarkan krusta tersebut dengan cara
membatukkan, menghasilkan suara batuk yang khas seperti
menggonggong/bergema (croupy).
1,9
Croup (Laringotrakeobronkitis)
Anton B. Darmawan
Bagian THT Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman-RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto, Jawa Tengah
1 Donaldson
et al. (2003)
RS William Beaumont, AS
1/1/1999 - 31/12/ 1999
397
2 Chin
et al. (2002)
RS Anak Westmead, Australia
1/2/2000 31/7/2000
267
3 Neto
GM
et al. (2002)
RS Anak Eastern Ontario, Kanada
1/10/1998 31/12/2000
648
4 Luria
JW
et al. (2001)
RS Anak Medical Center, Cincinnatti, AS 1/9/1995 31/12/1997
264
5 Weber
JE
et al. (2001)
Hurley Medical Center, Michigan, AS
1/9/1997 1/3/1998
58
6
Rittchier dan Ledwith (2000) RS Anak Denver, Colorado, AS
1/10/1996 30/6/1999
1298
No Peneliti
Tempat Penelitian
Periode
Jumlah
pasien