TABEL 4 : Gejala samping pada pengobatan pengandung kista
E. histolytica.
No.
Gejala samping
Laki-laki
Perempuan
Total
(4)
(28)
(32)
Jumlah
%
Jumlah
%
Jum.
%
pend.
pend.
pend.
1.
Nausea
3
75
16
57.1
19
59.4
2.
Nyeri kepala
2
50
11
39.3
I3 40.6
3.
kolik abdominal
2
50
9
32.1
1134.4
4.
Vomitus
1
25
5
17.9
6 18.8
5.
Diare
0
0
4
14.3
4
12.5
6.
Dizziness
1
25
3
10.7
4 1 2.5
7.
Meteorismus
1
25
0
0 1
3
.1
8.
Lumbago
1
25
0
0 1
3.
1
9.
Urticaria
0
0
1
3.6
1
3.1
Jumlah penderita yang mempunyai gejala samping.
sebanyak
32
orang
(82.05%).
Gejala samping yang didapat
antara lain nausea
59.4%,
nyeri kepala
40.6%,
kolik abdominal
34.4%,
sedang yang paling sedikit yaitu meteorismus, lumbago,
dan urticaria masing-masing
3.1%.
Gejala-gejala ini segera
hilang setelah pengobatan berakhir.
DISKUSI
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian karyawan
R.S. UGM merupakan pengandung kista
E. histolytica
dengan
prevalensi total sebesar I7.I%. Prevalensi ini lebih besar di-
banding dengan prevalensi
E. histolytica
yang ditemukan oleh
penemu-penemu yang lain misalnya di daerah Yogyakarta
prevalensi
E. histolytica I2.6% (4).
Di Boyolali
I968
prevalen-
si
E. histolytica 6.7% (5),
di Jakarta pada penderita dewasa di
R.S. Tjiptomangunkusumo
I 954,
prevalensi
E. histolytica
sebagai kista
13.2% (6).
Tetapi untuk penduduk yang kurang
mampu di Yoygakarta frekuensi
E. histolytica
lebih besar
yaitu
25.2% (7).
Dari pengandung kista
E. histolytica
ternyata
41% mempunyai gejala klinik gastro-intestinal dan sesuai
dengan WHO (I) di sini tak dapat ditemui gejala disenteri,
amoeboma maupun amoebic appendicitis, sehingga gejala
yang didapat hanya untuk non-dysenteric colitis di mana gejala
nya antara lain kolik abdominal
40%,
nausea
36%,
dan obstipa-
si
28%;
dan gejala ini tak dirasakan secara terus menerus tetapi
hanya secara kadang-kadang atau sering-sering terjadi. Sedang
pengandung kista
E. histolytica
tanpa gejala klinik gastro-
intestinal maupun gejala extra-intestinal sebesar
59%.
Pengobatan dengan metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr.
dibagi dalam
3
dosis selama
5
hari berturut-turut terhadap
karyawan R.S. UGM pengandung kista
E. histolytica
meng-
hasilkan angka penyembuhan yang lebih baik dari peneliti
yang Iain yaitu I minggu setelah obat habis sebesar 100%.
Hal yang serupa dikerjakan di Bangkok pada anak-anak yatim
dengan pengobatan metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr.
selama
5
hari berturut-turut
"
cure rate
"
sebesar
67% (2),
sedang Khambutla
(I979)
yang mencoba dengan metronidazo-
le
400
mg
3
kali sehari selama
6
hari, memperoleh "cure rate"
sebesar
83.3%.
Pada pemberian placebo terhadap I4 orang
pengandung kista
E. histolytica
ternyata setelah I minggu
dalam fesesnya tak didapat kista
E. histolytica,
ini bisa terjadi
karena kista
E. histolytica
pada pembawa kista sewaktu-waktu
tak dikeluarkan dalam feses meskipun tak diobati.
Penderita yang diobati dengan metronidazole yang meng-
alami gejala samping sebesar
82%.
Gejala samping yang didapat
antara lain yaitu nausea, nyeri kepala dan kolik abdominal
masing-masing sebesar
59,4%, 40.6%,
dan
34.4%.
KESIMPULAN
Prevalensi infeksi Amoebiasis intestinal pada karyawan
R.S. UGM cukup tinggi ialah sebesar
I7.I%.
Pengandung kista
E. histolvtica
pada karyawan R.S. UGM
ada yang mempunyai gejala klinik
(4I%),
antara lain gejala
tadi kolik abdominal, nausea, dan obstipasi masing-masing
40%, 36%
dan
28%,
ada pula yang tak mempunyai gejala
klinik
(59%).
Pengobatan pada pembawa kista
E. histolvtica
dengan
metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr. dibagi dalam
3
dosis
selama
5
hari berturut-turut memberikan angka penyembuhan
sebesar I00%.
Gejala samping yang terjadi karena pengobatan dengan
metronidazole terdapat pada sebagian besar penderita pem-
bawa kista
E. histolytica (82.5%).
Gejala samping tersebut
antara lain nausea, nyeri kepala dan kolik abdominal masing-
masing
59.4%, 40.6%,
dan
34.4%.
Gejala samping segera hilang
setelah pengobatan berakhir.
Ucapan terima kasih
Bersama ini disampaikan banyak terima kasih kepada : (1) Rockefeller
Foundation, dan (2) P.T. Dumex, yang telah memberikan bantuannya
sehingga penelitian Ini dapat berjalan dengan lancar.
KEPUSTAKAAN
1.World Health Organization. Report of a WHO Expert Committee on
Amoebiasis. 1968. Wld Hlth Org Tech Rep Ser 1969 No. 42I.
2.Siddhi TCS, Pairojboot N, Suangkasem Sin SC, Harinasuta T.
Treatment of Entamoeba histolytica cyst-passers with metronida-
zole. SEA J Trop Med Pub Hlth 1971; 2 (I) : 29 - 33.
3.Ritchie LS. An aether sedimentation technique for routine stool
examination. Bull US Army Med Dept 1948; 8: 326.
4.Clarke MD, Cross JH, Carney WP. A parasitological survey in Yogya-
kazta area of Central .iawa, Indonesia. SEA J Trop Med Pub Hlth
1973; 4 (2) : 195 - 201.
5.Cross JH, Gunawan S, Gaba A, Watten RH, Sulianti J. Survey for
human intestinal and blood parasites in Bojolali, Central Java
Indonesia. SEA J Trop Med Pub Hlth I970; I (3) : 354 - 60.
6.Bintazi S.Beberapa sudut dari masalah amoebiasis di Indonesia.
Thesis. Universitas Indonesia, Djakazta. 1956.
7.Noerhajati S.Masalah amoebiasis dan caza-caza mendiagnose labora-
toris. Symposium Penyakit Infeksi, Fakultas Kedokteran UGM
Yogyakarta, I975 : 22 - 25.
Giardiasis pada Anak
Yati Soenarto , Moenginah PA , Teluk Sebodo , Cholid
AB , Siti Musfiroh , Noerhayati Soeripto
Bagian flmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM,
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Dari penelitian-penelitian yang telah dikerjakan dapat
diketahui bahwa
Giardia lamblia
sering tidak terdiagnosis
10 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
dengan cara pemeriksaan tinja saja walaupun dilakukan secara
berulang. Pemeriksaan cairan duodenum, lebih-lebih dengan
pemeriksaan dari biopsi usus halus dan "smear
"
mukosa usus
(impression smear ofjejunal biopsy) dapat memberikan hasil
yang lebih baik (I 4). Di Indonesia, di mana diduga infestasi
parasit ini lebih tinggi dari pada di negara-negara maju, sedang-
kan fasilitas pemeriksaan terbatas, perlu dicari cara pemeriksa-
an yang cukup peka dan yang mudah dikerjakan.
Giardiasis memberikan gejala-gejala klinis yang bermacam-
macam, mulai dari tidak menunjukkan gejala, maupun yang
mengakibatkan diare akut, diare kronik dan bermacam-macam
gangguan absorpsi sampai terjadinya penurunan berat badan
(I 7).
Diare dan malnutrisi termasuk lima penyakit utama pada
anak-anak Indonesia dan negara-negara sedang berkembang
pada umumnya. Apabila angka-angka infestasi Giardia lamblia
di Indonesia sudah lebih banyak diketahui, di mana pengobat-
annya telah dibuktikan dapat memperbaiki diare dan menaik-
kan berat badan (I,4,6), maka dapat diharapkan suatu pe-
nanganan yang lebih baik terhadap anak-anak malnutrisi
dengan/dan diare yang disertai dengan atau disebabkan oleh
infestasi Giardia lamblia.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat diperoleh cara
diagnosis yang cukup dapat dipertanggungjawabkan hasilnya
dengan fasilitas yang tersedia, dan bisa didapat angka-angka
dari infestasi Giardia lamblia pada anak-anak dengan ber-
macam-macam manifestasi klinik.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dikerjakan pada :
· Tiga puluh tujuh anak tanpa gejala gastrointestinal dan 11
anak dengan diare akut berumur antara 6 bulan sampai
dengan 5 tahun, dan berat badan di atas 80% dari 50%-tile
Harvard. Mereka tinggal di suatu daerah pedesaan di Ke-
camatan Godean yang berjarak I0 km dari Yogyakarta.
Pemeriksaan dikerjakan pada tanggal I7 Desember 1978 di
rumah Kepala Desa.
· Empat belas anak dengan Protein Kalori Malnutrisi, dengan
berat badan kurang dari 60% dari 50%-tile Harvard, tanpa
diare. Sepuluh anak dengan diare kronik, di mana 3 anak
di antaranya menderita Protein Kalori Malnutrisi. Anak-
anak ini dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUGM
sejak bulan April sampai dengan bulan Juni 1976.
Terhadap
anak-anak di Godean dilakukan pemeriksaan-
pemeriksaan :
Kista dan tropozoit Giardia lamblia pada tinja secara
langsung dengan garam faali dan larutan KJ 1%.
Sekresi usus halus yang diambil dengan "Paediatric entero-
test duodenal capsule
"
/kapsul enterotest (8).
Cara :
Suatu kapsul dari gelatin berukuran 20 mm x 6 mm yang di
dalamnya terdapat suatu kantong karet silikon, di mana me-
lekat padanya dan berada di kapsul juga, suatu benang halus
sepanjang 90 cm, ditelankan pada anak dengan sedikit air.
Setelah tertelan, ujung benang difiksasi pada pipi dengan
plester. Anak diserahkan kembali kepada ibunya untuk me-
nunggu dalam waktu ± 2 jam. Sementara itu kapsul gelatin
akan hancur, kantong akan masuk ke duodenum dalam waktu
kira-kira 2 jam. Benang ditarik secara perlahan-lahan, dan
biasanya benang tersebut sepanjang 50 cm dari ujung distal
mengandung empedu, yang dapat dikontrol dengan kertas pH.
Sekresi usus halus diulaskan pada gelas obyek untuk kemudian
langsung diperiksa di bawah mikroskop, untuk dilihat ke-
mungkinan adanya Giardia lamblia.
Pemeriksaan-pemeriksaan yang dikerjakan pada anak-anak
yang dirawat di RSUGM. :
· Tinja diperiksa untuk mencari kista dan tropozoit Giardia
lamblia dengan cara seperti tersebut di atas dan dengan
cara tidak langsung; diputar dahulu (konsentrasi) dengan
seng sulfat dari Faust, kemudian diperiksa mikroskopis
secara (a) langsung, dan (b) dengan KJ 1%.
· Cairan duodenum diambil dan diperiksa dengan cara yang
sama dengan penderita di Godean, ditambah dengan cara
pemeriksaan
konsentrasi
(diputar
dahulu),
kemudian
endapan diperiksa dengan larutan KJ 1% atau dengan pe-
ngecatan Giemsa.
Pemeriksaan Clinitest (Ames Co., England) untuk diagno-
sis (screening test) terhadap adanya intoleransi gula (laktosa).
Cara :
Tinja yang ditampung dengan plastik dimasukkan ke dalam
tabung pemeriksaan sebanyak 5 tetes ditambah dengan I0
tetes air, diaduk. Kemudian diberi Clinitest tablet, dibiarkan
sebentar untuk kemudian warnanya dibandingkan dengan
warna standard. Diagnosis intoleransi gula ditegakkan, apabila
clinitest lebih dari
yang berarti bahwa gula dalam tinja
lebih dari ¼%
.
Diagnosis melabsorpsi lemak dikerjakan dengan adanya
butir-butir lemak secara mikroskopis dalam tinja dan Lipiodol
Absorption Test (LAT) menurut Jones (9).
Cara :
Lipiodol yang terdiri dari poppyseed oil ditambah dengan
hydroiodic acid oil yang mengandung jodium 40. Jumlah jo-
dium dalam air seni memperlihatkan presentase dan absorpsi
dari Lipiodol yang merupakan indikasi dari kemampuan untuk
mengabsorpsi lemak dalam makanan. Penderita tidak dibatasi
pemberian lemaknya selama 3 hari sebelum dan selama test.
Dosis lipiodol (oral) adalah 5 ml untuk penderita dengan berat
badan sampai dengan I0 kg dan I0 ml untuk yang berat
badannya di antara 10 kg sampai 20 kg.
Penderita tanpa steatorrhoea,
memberikan reaksi positif/
warna biru (karena Jodium) sampai dengan pengenceran 1/32
dari air seni. Penderita dengan steatorrhoea tidak memberikan
reaksi (tidak berwarna biru) pada semua pengenceran, atau
hanya membersihkan reaksi positif pada yang tidak diencer-
kan (1 : 1), atau sampai dengan pengenceran 1 : 4 dari air
seni., LAT negatif berarrti ada malabsorpsi lemak. LAT positif
berarti tidak ada malabsorpsi lemak.
HASIL
Tanpa gejala gastrointestinal
Diketemukan Giardia lamblia pada tinja dari 5 anak,
sedangkan pada cairan duodenum giardia didapat pada 5 anak,
di mana yang 4 termasuk 5 anak yang diketemukan pula pada
tinjanya. Jadi Giardia lamblia diketemukan pada 6 dari 37
anak (I6,2%) dari anak-anak yang tidak menunjukkan gejala-
gejala gastrointestinal (Tabel 1).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
104
Diare akut
Pada Tabel 1 tampak bahwa dari 11 anak diare akut,
Giardia lamblia ditemukan pada 6 anak (54,5%), di mana yang
1 terdapat pada pemeriksaan tinja saja, 1 pada cairan duode-
num dan 4 pada keduanya.
Tabel I : Hasil pemeriksaan Giardia lamblia pada tinja dan cairan
duodenum.
Pemeriksaan
Tinja
Jumlah
Persentase
Total penderita
yg diperiksa
cairan tinja
duodenum cairan
duodenum
tanpa gejala
.
1
14
6
37
. 16,2
diare akut
1
14
6
1 1
54,5
diare kronik
2
2
10
20
P C M
9
1
I0
14
71,5
TOTAL
13
3
8
24
72
33,3
Diare kronik
Dari I0 anak dengan diare kronik, didapatkan 2 (yang satu
PCM) di antaranya (20%) dengan Giardia lamblia dalam tinja,
sedang dalam cairan duodenum tidak ditemukan.
Steatorrhoea
dan malabsorpsi karbohidrat tidak ditemukan
pada semua penderita (LAT positif dan Clinitest negatif)
lihat Gambar 1.
Protein Kalori Malnutrisi
p
= yang diperiksa
gd =
Giardia lamblia
dalam cairan duodenum
gt
=
Giardia lamblia
dalam tinja
st
= steatorrhoea
ct
= clinitest positif.
Protein Kalori Malnutrisi (PCM)
Dari sejumlah 14 anak dengan PCM tanpa diare, ditemukan
seorang anak dengan Giardia lamblia pada cairan duodenum
dan 9 anak yang lain dalam tinja. Maka didapat 10 anak dari
I4 anak PCM dengan infestasi Giardia lamblia (71,5%).
Malabsorpsi lemak/steatorrhoea terdapat pada 4 anak (31%),
sedangkan Clinitest positif hanya pada satu anak (gambar 1).
PEMBICARAAN
Dengan menggunakan berbagai cara diagnosis, telah dibukti-
kan bahwa dengan pemeriksaan tinja dan aspirasi duodenum
secara bersama, semua penderita giardiasis dapat didiagnosis
(3). Dalam penelitian ini, dengan pemeriksaan tinja saja sudah
diperoleh angka infestasi yang tinggi (83%), bila dibandingkan
dengan hasil-hasil penelitian lain yang berkisar sekitar 50%
(3,4). Hal ini sangat menguntungkan mengingat bahwa pe-
meriksaan tinja mudah dan sederhana, sehingga dapat dikerja-
kan di Puskesmas-puskesmas di mana mikroskop tersedia.
Karena bentuk tropozoit banyak terdapat pada bagian
proximal usus halus, maka pemeriksaan aspirasi duodenum
merupakan cara diagnosis yang lebih unggul (3,4). Pada
penelitian kami ternyata hanya ditemukan sekitar 46% (I1
dari 24 anak) dan lebih rendah dari hasil pemeriksaan tinja
(Tabel 1). Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh cara peng-
ambilan yang berbeda, di mana peneliti-peneliti tersebut meng-
ambil aspirasi duodenum dengan kapsul bipsi peroral. Tetapi
bila dilihat hasil pemeriksaan di Godean (Tabel 2) ternyata
dalam carian duodenum ditemukan Giardia lamblia pada 10
dari 12 anak (83,3%), di mana pemeriksaan spesimen di sini
dilakukan langsung di tempat pengambilan spesimen.
Tabel 2 : Hasil pemeriksaan Giardia lamblia pada tinja dan cairan
duodenun di Godean.
Pemeriksaan
Giardia lamblia
(+)
Giardia lamblia
( )
Total
Tinja
10
2
I2
Cairan
duodenum
1
0
2
12
Tabel 3
Hasil pemeriksaan Giardia lamblia tinja dan cairan duo-
denum di rumah sakit.
Pemetiksaan
Giardia lamblia
(+)
Giardia lamblia
( )
Total
Tinja
11
13
24
Cairan
duodenum
1
23
24
Sedangkan di rumah sakit, pemeriksaannya dikerjakan di
Bagian Parasitologi yang butuh waktu tidak kurang dari satu
jam. Pada Tabel 3 tampak pemeriksaan cairan duodenal mem-
berikan hasil yang rendah. Kay dkk. (4) menemukan hasil
pemeriksaan pada cairan duodenum yang tinggi dengan me-
meriksa spesimen tidak lebih dari 10 menit setelah peng-
ambilan.
Dengan demikian dapat diharapkan bila diagnosis dikerjakan
dengan pemeriksaan tinja dan cairan duodenum, hampir semua
penderita giardiasis dapat didiagnosis, bila pemeriksaan di-
lakukan segera. Di tempat di mana pengambilan cairan duode-
num terlalu menyulitkan pemeriksaan tinja saja sudah mem-
berikan hasil yang baik, mungkin cukup dengan melatih tenaga
pemeriksa yang sudah ada.
Walaupun banyak peneliti yang menemukan bahwa dengan
biopsi mukosa usus semua penderita giardiasis dapat didiagno-
sis, tetapi beberapa peneliti tidak berhasil menemukan satupun
10 5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
parasit dalam biopsi mukosa usus pada penderita giardiasis
(2,I0).
Kecuali itu cara pemeriksaan ini sukar, butuh waktu banyak
dan fasilitas yang memadai. Juga pada pemeriksaan biopsi
mukosa usus pada 21 anak diare akut pada penelitian kami
yang terdahulu tidak berhasil ditemukan tropozoit
Giardia
lamblia.
Hal ini mungkin karena pemeriksaan hanya dikerjakan
pada satu kali pemotongan saja (II).
Kamath (3) menyarankan untuk melakukan pemeriksaan
smear mukosa usus pada setiap kali biopsi mukosa usus di-
kerjakan, karena kecuali hasilnya juga 100%, pemeriksaannya
lebih mudah dan cepat. Akan tetapi bagaimanapun juga di
tempat-tempat yang fasilitas terbatas, kedua pemeriksaan yang
terakhir ini tidak mungkin dikerjakan. Maka pemeriksaan tinja
merupakan cara pemeriksaan yang pertama-tama kami saran-
kan; apabila dengan cara ini diagnosis belum dapat ditegakkan
sedangkan klinis dicurigai adanya infestasi
Giardia lamblia,
maka pemeriksaan cairan duodenum dapat dikerjakan.
Infestasi
Giardia lamblia
pada penelitian ini ditemukan
sangat tinggi pada penderita PCM (7 I,5%); dan pada anak-
ariak PCM di rumah sakit kami oleh Soehadi dkk (7) telah
dibuktikan bahwa makin berat tingkat PCM, makin tinggi
infestasi
Giardia lamblia.
Maka dianjurkan untuk mencari
Giardia lamblia
pada semua penderita dengan PCM. Tigapuluh
delapan persen
(8
dari 21 anak) diare akut dan kronik men-
derita giardiasis, sedangkan pada anak-anak tanpa gejala, 16,2%
ditemukan
Giardia lamblia
pada tinja dan/atau cairan duode-
num. Angka-angka tersebut hampir sesuai dengan hasil-hasil
dari peneliti-peneliti lain (4,5,7).
Dengan hasil-hasil penelitian yang menunjukkan perbaikan
gejala-gejala klinis dan kerusakan mukosa usus setelah peng-
obatan terhadap giardiasis, orang makin cenderung meng-
anggap
Giardia lamblia
merupakan parasit yang patogen
(I,2,4).
Walaupun
Giardia lamblia
ditemukan juga pada anak-anak
tanpa gejala dan berat badan normal (16,2%) Barbieri (2)
dapat menunjukkan bahwa pada anak-anak tanpa gejala yang
diperiksanyapun ternyata
mengalami
perubahan
mukosa
jejunum dan malabsorpsi lemak yang ringan, maka sangat
mungkin bila anak-anak pada penelitian ini tidak diberi peng-
obatan yang baik suatu ketika akan mengalami penurunan
berat badan, diare ataupun gangguan malabsorpsi dan jatuh
pada keadaan kurang gizi.
Malabsorpsi lemak dan karbohidrat pada 2 anak diare
kronik dengan giardiasis tidak dijumpai. Tiga puluh satu per-
sen anak-anak PCM dengan giardiasis mengalami malabsorpsi
lemak, sedangkan malabsorpsi karbohidrat hanya didapat pada
satu anak. Gambaran ini berbeda dengan hasil dari penelitian-
penelitian lain, di mana anak-anak dengan giardiasis akan
mengalami malabsorpsi, di antaranya lemak dan karbohidrat
(I,2,4).
Pada penderita-penderita giardiasis ini diberikan pengobatan
metronidazol dengan dosis 40 mg/kg. berat badan/hari, dan
memberikan hasil yang baik.
Dengan ini disimpulkan bahwa pemeriksaan tinja untuk
diagnosis
Giardia lamblia
cukup peka dan mudah dikerjakan.
Pada kasus-kasus yang dicurigai menderita giardiasis tetapi
pemeriksaan tinja tidak menunjukkan hasil positif, pemeriksa-
an cairan duodenum dianjurkan. Infestasi
Giardia lamblia
dijumpai pada anak-anak yang tidak memberi gejala, anak
diare
akut dan kronik serta pada anak-anak dengan PCM.
Ada kesan bahwa infestasi ini tinggi pada anak dengan PCM.
Ucapan terima kasih
Terima kasih kepada :(I) dr. Retno Hastuti, dokter Puskesmas Godean
beserta stafnya, (2) dr. Suharjono, Kepala Sub Bagian Gastroenterologi,
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta. (3) dr. M. Gracey, dari
Princes Margareth Children Hopital, Perth, West Australia. atas bantuan
fasilitas dan cara-cara pemeriksaan dalam penelitian.
KEPUSTAKAAN
1. Ament ME, Rubin CE. Relation of giardiasis to abnormal intestinal
structure and function In gastrointestinal immunodeficiency syn-
dromes. Gastroenterology 1972 : 62 (2) : 216 - 226.
2.Barbieri D, De Brito T, Hoshino S et al. Giardiasis In childhood.
Arch Dis Childhood I970 ; 45 : 466 - 472.
3. Kamath KR, Murugasu R. A Comparative study of four methods
for detecting Giardia lamblia in children with diarrheal disease and
malabsorption. Gastroenterology I974 ; 66 (1) : 16 - 21.
4.Kay R, Barnes GL, Townley RRW. Giardia lamblia Infestation in
154 children. Australian Ped J 1977 ; 13 (2) : 98 - 104.
5.Bajoghli M, Maleki. Giardiasis in children. Environ Child Health
I974 ; 20 : I96 - I97.
6.Hoskins LC, Winawar SJ, Broitman SA, Gottlieb LS, Zamcheck N.
Clinical giardiasis and intestinal malabsorption. Gastroenterology
I967 ; 53 : 265.
7.Soehadi, Soeprapto, Moenginah PA, Ismangoen, Noerhayati S, Siti
Musfiroh. Giardiasis in protein calorie malnutrition at Gajah Mada
Hospital, Yogyakarta. Pediatr Indones 1980 ; 20 (7) : 7 - 12.
8.Thomas GE, Goldmid JM, Wichs ACB. Use of the enterotest duode-
nal capsule in the diagnosis of giardiasis, a preliminary study.
Am Med J 1974 ; 48 : 22I9 - 2220.
9.Jones WD, Sant Agness PD. Laboratory aids in the diagnosis of
malansorption in pediatrics. Lipiodol absorption test as a simple
test for steatorrchoea. J Pediatr 1963 ; 62 : 42 - 49.
I0.Brandborg LL, Tankersley CB, Gottliab S. Histological demonstra-
tion of mucosal invasion by Giardia lamblia in man. Gastroentero-
logy 1967 ; 52 : I43 - I50.
11.Yati Soenarto, Suprapto, Sutrisno DS, Teluk Sebodo, Radjiman,
Lahmuddin. Milk lactose : the amount tolerated in post diazrheal
children. Environ Child Health 1979 ; August, 105 - I07.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
106