background image
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
P R A K T I S
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
P R A K T I S
451
452
S
ejak tahun 1977, Joint National Committee on the Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(JNC) telah memberikan arahan bagi para tenaga medis perihal
pencegahan dan penatalaksanaan hipertensi. JNC terakhir
adalah JNC 7 yang dipublikasikan pada tahun 2003.
Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7
Pasien dengan tekanan darah 130-139/80-89 mmHg dalam
JNC 7 dimasukkan dalam kategori prehipertensi, karena pasien-
pasien dengan tekanan darah tersebut risiko menjadi hipertensi
dua kali lebih besar dibandingkan pasien-pasien dengan tekanan
darah normal (pasien dengan tekanan darah <115/75 mmHg).
Terapi Hipertensi
Selain terapi dengan obat antihipertensi (terapi farmakologis),
modifikasi gaya hidup (terapi nonfarmakologis) merupakan
bagian yang paling penting dari terapi hipertensi. (diagram 1)
Modifikasi gaya hidup
Modifikasi gaya hidup sangat membantu menurunkan tekanan
darah, (tabel 2)
Tabel 2. Modifikasi gaya hidup untuk Pengendalian Tekanan Darah
Hipertensi tanpa indikasi penyerta
Bila modifikasi gaya hidup tidak dapat mencapai target tekanan
darah, perlu diberi terapi obat antihipertensi. Dari algoritma
terapi hipertensi, pasien tanpa indikasi penyerta dengan hipertensi
stadium I dapat diberi 1 atau 2 macam obat antihipertensi.
Pada pasien stadium 2 diberikan 2 macam obat antihipertensi.
Tabel 3. Obat antihipertensi
Hipertensi dengan indikasi penyerta
Indikasi penyerta merupakan kondisi risiko tinggi yang dapat
secara langsung memperburuk hipertensi, seperti gagal jantung,
penyakit jantung iskemik, penyakit ginjal kronik, stroke berulang,
atau kondisi-kondisi yang biasanya menyertai hipertensi seperti
diabetes. Pada pasien-pasien ini diperlukan terapi obat antihiper-
tensi pilihan berdasarkan pada penelitian klinik yang mem-
perlihatkan manfaat obat antihipertensi tertentu pada kondisi-
kondisi tersebut. (tabel 4).
Tabel 4. Pilihan terapi antihipertensi pada pasien dengan indikasi penyerta
Penyakit jantung koroner
Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, tekanan darah
perlu diturunkan dengan cepat. Untuk itu dapat diberi obat
antihipertensi golongan beta-blocker dan/atau CCB. Bila CCB
diberikan sebagai tambahan terapi beta blocker yang sudah
ada, dapat diberikan CCB golongan dihydropyridine dengan
masa kerja lama; jenis kerja cepat tidak diberikan karena
peningkatan risiko kematian, terutama pada keadaan infark
miokard akut. Pada pasien dengan angina pektoris stabil dapat
diberi BB atau CCB.
Gagal jantung
Pada pasien dengan disfungsi ventrikel asimptomatik, dapat
diberi obat antihipertensi golongan ACEi dan beta-blocker.
Bagi pasien dengan disfungsi ventrikel simptomatik atau dengan
penyakit jantung stadium akhir, dapat diberi obat antihiper-
tensi golongan ACEi, beta-blocker, ARB, aldosterone blocker
dan juga loop diuretic.
Diabetes melitus
Obat antihipertensi golongan ACEi (angiotensin converting enzyme
inhibitor) dan ARB (angiotensin receptor blockers) direkomen-
dasikan pemberiannya bagi pasien hipertensi yang menderita
diabetes melitus, karena ACEi dan ARB terbukti menghambat
progresifitas nefropati diabetikum dan menurunkan albumin-
uria. Penelitian-penelitian seperti IRMA memperlihatkan bahwa
ARB irbesartan memiliki efek renoproteksi pada pasien
hipertensi dengan diabetes tipe 2 dan mikroalbuminuria.
Penyakit ginjal kronik
Tujuan terapi hipertensi pada pasien dengan PGK adalah
memperlambat penurunan fungsi ginjal dan mencegah penya-
kit kardiovaskular. Pada pasien PGK perlu penurunan tekanan
darah dengan agresif dan kadang diperlukan 3 macam obat
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah (<130/80
pada pasien dengan PGK). Terapi dengan ACEi dan ARB
mampu menghambat progresifitas penyakit ginjal diabetik
maupun penyakit ginjal non-diabetik.
Hasil penelitian retrospektif yang dipublikasikan dalam Journal
of the American Board of Family Medicine 2008 memperlihat-
kan bukti adanya tendensi perbaikan kontrol tekanan darah
sejak JNC 7 dipublikasikan, sehingga para klinisi dapat terus
melakukan penatalaksanaan hipertensi menurut JNC 7.
Kesimpulan:
· Risiko penyakit kardiovaskular dari 115/75 mmHg meningkat
2 kali lipat setiap peningkatan 20/10 mmHg.
· Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau
dengan tekanan darah diastolik 80-89 mmHg termasuk
kriteria prehipertensi dan memerlukan modifikasi gaya hidup
untuk menurunkan risiko kardiovaskular.
· Diuretik golongan tiazida dapat diberikan pada pasien
hipertensi tanpa komplikasi, baik sebagai terapi tunggal
maupun kombinasi. Pada pasien dengan indikasi penyerta,
dapat diberi obat antihipertensi lain sebagai terapi lini utama,
seperti ACEi, ARB, CCB atau beta blocker.
· Pada umumnya pasien hipertensi memerlukan 2 macam
obat
antihipertensi
untuk
mencapai
target
terapi.
· Target terapi hipertensi adalah <140/90 mmHg atau
<130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes atau penyakit
ginjal
kronik.
· Dokter harus dapat memotivasi pasien untuk melakukan
modifikasi gaya hidup dan hal ini akan meningkatkan
kepercayaan dokter terhadap pasien.
(YYA)
Daftar Kepustakaan ada pada redaksi
Penatalaksanaan Hipertensi
Klasifikasi tekanan darah
TDS mmHg
TDD mmHg
Normal
Prehipertensi
Hipertensi tingkat 1
Hipertensi tingkat 2
<120
120-139
140-159
>=160
dan <80
atau 80-89
atau 90-99
atau >=100
Modifikasi
yang
disarankan
Rekomendasi
Penurunan
tekanan darah
sistolik yang
dapat tercapai
Penurunan berat badan
Menjalankan perencanaan
makan DASH (Dietary
Approaches to Stop
Hypertension)
Kurangi konsumsi
natrium
Aktifitas fisik
Mengurangi
konsumsi alkohol
Pertahankan berat badan
normal dengan indeks masa
tubuhantara 18,5-24,9 kg/m2
Mengkonsumsi buah, sayur,
dan produk rendah lemak
Mengurangi asupan natrium
hingga kurang dari 2,4 gram
natrium atau 6 gram
natrium klorida
Menjalankan aktifitas fisik rutin
seperti berjalan (paling tidak 30
menit sehari dan beberapa
hari seminggu)
Batasi asupan tidak lebih dari 2
minuman sehari untuk pria (30
ml etanol) dan tidak lebih dari 1
minuman sehari untuk wanita
5-20 mmHg tiap
penurunan 10 kg
8-14 mmHg
2-8 mmHg
4-9 mmHg
2-4 mmHg
Golongan
Obat
Kisaran
dosis dalam
mg/hari
Frekuensi
pemberian
per hari
Thiazide diuretics
Loop diuretics
Potassium sparing diuretics
Aldosterone receptor blockers
Beta Blockers
ACE inhibitor
ARB
CCB
Alpha 1 blocker
Central alpha 2 agonist
and other centrally acting
drugs
Direct vasodilator
Hydrochlorothiazide
Chlorthalidone
Indapamide
Furosemide
amiloride
Spironolactone
Atenolol
Bisoprolol
Carvedilol
Propanolol
Captopril
Enalapril
Ramipril
Losartan
Valsartan
Irbesartan
Amlodipine
Nifedipine long acting
Diltiazem extended
release
Doxazosin
Clonidine
Methyldopa
Hydralazine
Minoxidil
12,5-50
12,5-25
1,25-2,5
20-80
5-10
25-50
25-100
2,5-10
12,5-50
40-160
25-100
5-40
2,5-20
25-100
80-320
150-300
2,5-10
30-60
180-420
1-16
0,1-0,8
250-1000
25-100
2,8-80
1
1
1
2
1-2
1
1
1
2
2
2
1-2
1
1-2
1-2
1
1
1
1
1
2
2
2
1-2
background image
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
P R A K T I S
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
P R A K T I S
451
452
S
ejak tahun 1977, Joint National Committee on the Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(JNC) telah memberikan arahan bagi para tenaga medis perihal
pencegahan dan penatalaksanaan hipertensi. JNC terakhir
adalah JNC 7 yang dipublikasikan pada tahun 2003.
Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7
Pasien dengan tekanan darah 130-139/80-89 mmHg dalam
JNC 7 dimasukkan dalam kategori prehipertensi, karena pasien-
pasien dengan tekanan darah tersebut risiko menjadi hipertensi
dua kali lebih besar dibandingkan pasien-pasien dengan tekanan
darah normal (pasien dengan tekanan darah <115/75 mmHg).
Terapi Hipertensi
Selain terapi dengan obat antihipertensi (terapi farmakologis),
modifikasi gaya hidup (terapi nonfarmakologis) merupakan
bagian yang paling penting dari terapi hipertensi. (diagram 1)
Modifikasi gaya hidup
Modifikasi gaya hidup sangat membantu menurunkan tekanan
darah, (tabel 2)
Tabel 2. Modifikasi gaya hidup untuk Pengendalian Tekanan Darah
Hipertensi tanpa indikasi penyerta
Bila modifikasi gaya hidup tidak dapat mencapai target tekanan
darah, perlu diberi terapi obat antihipertensi. Dari algoritma
terapi hipertensi, pasien tanpa indikasi penyerta dengan hipertensi
stadium I dapat diberi 1 atau 2 macam obat antihipertensi.
Pada pasien stadium 2 diberikan 2 macam obat antihipertensi.
Tabel 3. Obat antihipertensi
Hipertensi dengan indikasi penyerta
Indikasi penyerta merupakan kondisi risiko tinggi yang dapat
secara langsung memperburuk hipertensi, seperti gagal jantung,
penyakit jantung iskemik, penyakit ginjal kronik, stroke berulang,
atau kondisi-kondisi yang biasanya menyertai hipertensi seperti
diabetes. Pada pasien-pasien ini diperlukan terapi obat antihiper-
tensi pilihan berdasarkan pada penelitian klinik yang mem-
perlihatkan manfaat obat antihipertensi tertentu pada kondisi-
kondisi tersebut. (tabel 4).
Tabel 4. Pilihan terapi antihipertensi pada pasien dengan indikasi penyerta
Penyakit jantung koroner
Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, tekanan darah
perlu diturunkan dengan cepat. Untuk itu dapat diberi obat
antihipertensi golongan beta-blocker dan/atau CCB. Bila CCB
diberikan sebagai tambahan terapi beta blocker yang sudah
ada, dapat diberikan CCB golongan dihydropyridine dengan
masa kerja lama; jenis kerja cepat tidak diberikan karena
peningkatan risiko kematian, terutama pada keadaan infark
miokard akut. Pada pasien dengan angina pektoris stabil dapat
diberi BB atau CCB.
Gagal jantung
Pada pasien dengan disfungsi ventrikel asimptomatik, dapat
diberi obat antihipertensi golongan ACEi dan beta-blocker.
Bagi pasien dengan disfungsi ventrikel simptomatik atau dengan
penyakit jantung stadium akhir, dapat diberi obat antihiper-
tensi golongan ACEi, beta-blocker, ARB, aldosterone blocker
dan juga loop diuretic.
Diabetes melitus
Obat antihipertensi golongan ACEi (angiotensin converting enzyme
inhibitor) dan ARB (angiotensin receptor blockers) direkomen-
dasikan pemberiannya bagi pasien hipertensi yang menderita
diabetes melitus, karena ACEi dan ARB terbukti menghambat
progresifitas nefropati diabetikum dan menurunkan albumin-
uria. Penelitian-penelitian seperti IRMA memperlihatkan bahwa
ARB irbesartan memiliki efek renoproteksi pada pasien
hipertensi dengan diabetes tipe 2 dan mikroalbuminuria.
Penyakit ginjal kronik
Tujuan terapi hipertensi pada pasien dengan PGK adalah
memperlambat penurunan fungsi ginjal dan mencegah penya-
kit kardiovaskular. Pada pasien PGK perlu penurunan tekanan
darah dengan agresif dan kadang diperlukan 3 macam obat
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah (<130/80
pada pasien dengan PGK). Terapi dengan ACEi dan ARB
mampu menghambat progresifitas penyakit ginjal diabetik
maupun penyakit ginjal non-diabetik.
Hasil penelitian retrospektif yang dipublikasikan dalam Journal
of the American Board of Family Medicine 2008 memperlihat-
kan bukti adanya tendensi perbaikan kontrol tekanan darah
sejak JNC 7 dipublikasikan, sehingga para klinisi dapat terus
melakukan penatalaksanaan hipertensi menurut JNC 7.
Kesimpulan:
· Risiko penyakit kardiovaskular dari 115/75 mmHg meningkat
2 kali lipat setiap peningkatan 20/10 mmHg.
· Pasien dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau
dengan tekanan darah diastolik 80-89 mmHg termasuk
kriteria prehipertensi dan memerlukan modifikasi gaya hidup
untuk menurunkan risiko kardiovaskular.
· Diuretik golongan tiazida dapat diberikan pada pasien
hipertensi tanpa komplikasi, baik sebagai terapi tunggal
maupun kombinasi. Pada pasien dengan indikasi penyerta,
dapat diberi obat antihipertensi lain sebagai terapi lini utama,
seperti ACEi, ARB, CCB atau beta blocker.
· Pada umumnya pasien hipertensi memerlukan 2 macam
obat
antihipertensi
untuk
mencapai
target
terapi.
· Target terapi hipertensi adalah <140/90 mmHg atau
<130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes atau penyakit
ginjal
kronik.
· Dokter harus dapat memotivasi pasien untuk melakukan
modifikasi gaya hidup dan hal ini akan meningkatkan
kepercayaan dokter terhadap pasien.
(YYA)
Daftar Kepustakaan ada pada redaksi
Penatalaksanaan Hipertensi
Klasifikasi tekanan darah
TDS mmHg
TDD mmHg
Normal
Prehipertensi
Hipertensi tingkat 1
Hipertensi tingkat 2
<120
120-139
140-159
>=160
dan <80
atau 80-89
atau 90-99
atau >=100
Modifikasi
yang
disarankan
Rekomendasi
Penurunan
tekanan darah
sistolik yang
dapat tercapai
Penurunan berat badan
Menjalankan perencanaan
makan DASH (Dietary
Approaches to Stop
Hypertension)
Kurangi konsumsi
natrium
Aktifitas fisik
Mengurangi
konsumsi alkohol
Pertahankan berat badan
normal dengan indeks masa
tubuhantara 18,5-24,9 kg/m2
Mengkonsumsi buah, sayur,
dan produk rendah lemak
Mengurangi asupan natrium
hingga kurang dari 2,4 gram
natrium atau 6 gram
natrium klorida
Menjalankan aktifitas fisik rutin
seperti berjalan (paling tidak 30
menit sehari dan beberapa
hari seminggu)
Batasi asupan tidak lebih dari 2
minuman sehari untuk pria (30
ml etanol) dan tidak lebih dari 1
minuman sehari untuk wanita
5-20 mmHg tiap
penurunan 10 kg
8-14 mmHg
2-8 mmHg
4-9 mmHg
2-4 mmHg
Golongan
Obat
Kisaran
dosis dalam
mg/hari
Frekuensi
pemberian
per hari
Thiazide diuretics
Loop diuretics
Potassium sparing diuretics
Aldosterone receptor blockers
Beta Blockers
ACE inhibitor
ARB
CCB
Alpha 1 blocker
Central alpha 2 agonist
and other centrally acting
drugs
Direct vasodilator
Hydrochlorothiazide
Chlorthalidone
Indapamide
Furosemide
amiloride
Spironolactone
Atenolol
Bisoprolol
Carvedilol
Propanolol
Captopril
Enalapril
Ramipril
Losartan
Valsartan
Irbesartan
Amlodipine
Nifedipine long acting
Diltiazem extended
release
Doxazosin
Clonidine
Methyldopa
Hydralazine
Minoxidil
12,5-50
12,5-25
1,25-2,5
20-80
5-10
25-50
25-100
2,5-10
12,5-50
40-160
25-100
5-40
2,5-20
25-100
80-320
150-300
2,5-10
30-60
180-420
1-16
0,1-0,8
250-1000
25-100
2,8-80
1
1
1
2
1-2
1
1
1
2
2
2
1-2
1
1-2
1-2
1
1
1
1
1
2
2
2
1-2