378
PRofIl
|
a g u s t u s 2 0 0 9
PRAKTIS
379
|
a g u s t u s 2 0 0 9
P
rof. Djoko mengakui, bahwa
sejak kecil cita-citanya adalah
dokter, karena dari keluarga-
nya belum ada yang menjadi
dokter. "Apalagi ketika saya
kecil saya sering ke dokter, sampai akhir-
nya oleh orangtua saya, nama saya diubah"
ujar Djoko.
Untuk mendapatkan sekolah yang baik
Djoko harus pindah ke Solo, tinggal ber-
sama Bu Denya. Beliau berhasil masuk SD
sampai SMA yang terbaik di Solo. Akhirnya
pada tahun 1967, cita-citanya masuk ke-
dokteran tercapai walaupun ketika itu ada
dua pilihan yaitu kedokteran dan teknik.
"Kebetulan kakak saya juga masuk tahun
1967 di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia dan akhirnya bareng lulus tahun
1972. Kakak saya mengambil spesialis THT
dan pernah menjadi kepala bagian THT RS
Persahabatan Jakarta," tutur Djoko.
"Setelah lulus kedokteran, langsung
meneruskan ke spesialis Ilmu Penyakit Da-
lam, saya lulus Spesialis Ilmu Penyakit Da-
lam tahun 1979, dan mengambil konsultan
Subspesialisasi Tropiko Infeksiologi (Kon-
sultan Penyaki Tropik dan Infeksi) FKUI
tahun 1986."
Beliau telah mengumpulkan 9 arti-
kel karya ilmiah hasil penelitian, 6 artikel
karya ilmiah hasil penelitian dan banyak
lagi tulisan ilmiah sebagai penulis utama
dan pembantu. Beliau dikukuhkan sebagai
Guru Besar FKUI pada tahun 2004.
CME
Sampai saat ini dokter kelahiran Bo-
yolali ini masih menjabat Ketua Continu-
ing Medical Education (CME) di FKUI
Jakarta. CME ini adalah unit pendidikan
kedokteran Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan di Fakultas Kedokteran Uni-
versitas Indonesia. Salah satu tujuannya
adalah menyelenggarakan dan mengem-
bangkan program kegiatan pendidikan ke-
dokteran dan pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PK-PKB) yang berkuali-
tas tinggi dan profesional, didukung oleh
hasil-hasil penelitian yang sesuai dengan
perkembang an ilmu dan teknologi kedok-
teran mutakhir dan berorientasi pada ke-
pentingan masyarakat.
Sejak tahun 2001 sampai saat ini
Prof. Djoko diamanahkan sebagai Ketua
Pengurus Pusat Perhimpunan Pengenda-
lian Infeksi Indonesia (PP PERDALIN).
Ia mengakui, bahwa untuk pengendalian
infeksi di RS banyak yang harus diperha-
tikan.
"Karena infeksi di RS sangat berkaitan
dengan peningkatan morbiditas, mortalitas
dan juga meningkatnya biaya perawatan.
Infeksi nosokomial juga akan menurun-
kan citra RS, kualitas pelayanan dianggap
turun; juga ada aspek medikolegal, dan
akhirnya ada tuntutan dari pasien," tutur
Profesor yang murah senyum ini.
Prof. Djoko juga menjabat sebagai De-
wan Guru Besar dengan masa tugas 2007
2012.
Tanda Penghargaan
Prof. Djoko mendapatkan penghar-
gaan atas dharmabakti pada KTT Gera-
kan Non Blok ke 10 sebagai staf kesehat-
an pada tahun 1992, penghargaan atas
dharmabakti sebagai staf kesehatan pada
Apec (1996), Piagam Karya Satya Len-
cana Karya Satya dari Presiden RI, atas
dharma bakti 20 tahun berturut-turut se-
bagai pegawai negeri (1999). Pada tahun
2000 mendapat penghargaan Sudjono
Djuned Pusponegiri dari PB IDI atas
prestasi sebagai juara I penulisan utama
dalam kelompok Tinjauan Pustaka di Ma-
jalah Kedokteran Indonesia.
Pada akhir wawancara Prof. Djoko
berpesan: "bahwa setiap saat dalam kedok-
teran tidak hanya ilmu tetapi juga seni, kita
harus melayani pasien sebagai individu dan
manusia seutuhnya, pasien yang satu ber-
beda dengan pasien lain, oleh sebab itu kita
harus belajar terus sesuai dengan kaidah
keilmuan dan kita terapkan kepada pasien
yang sifatnyaberbeda-beda." n
REDAKSI
"Pasien adalah Sumber Ilmu
yang Tidak Terbatas"
Bagi dokter muda yang melanjutkan ke jenjang Spesialis Klinik, Ilmu Penyakit Dalam merupakan pilihan favorit.
Anggota Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) sudah berjumlah 1800 dokter lebih dari seluruh
Indonesia. Jumlah tersebut paling banyak dibandingkan dengan spesialis lainnya. Tidak heran jika Prof. Dr. Djoko
Widodo, DTM&H, SpPD-KPTI lebih memilih Ilmu Penyakit Dalam dibandingkan spesialis lainnya karena menurut
Prof. Djoko (nama panggilannya) banyak disiplin ilmu yang dipelajari di spesialisasi tersebut.
Profil: Prof. Dr. Djoko Widodo, DTM&H, SpPD-KPTI
Pencegahan & Pengobatan
Rekomendasi WHO & CDC :
Golongan adamantane : amanta-
ˇ
dine, remantadine.
Golongan penghambat neuramin-
ˇ
idase influenza :
oseltamivir, zanamivir. (saat ini
ˇ
yang ada di Indonesia adalah Os-
eltamivir)
Virus influenza A (H1N1) yang ditemukan
di AS :
Sensitif terhadap oseltamivir &
ˇ
zanamivir.
Umur/kelompok
Pengobatan
Profilaksis
Oseltamivir
Dewasa
75 mg 2x/hari untuk 5 hari
75 mg 1x/hari untuk 10 hari
Anak 12 bulan atau lebih
15 kg
60mg/hari terbagi 2 dosis
30mg 1x/hari
15-23 kg
90mg/hari terbagi 2 dosis
30mg 1x/hari
24-40 kg
120mg/hari terbagi 2 dosis
60mg 1x/hari
> 40 kg
150mg/hari terbagi 2 dosis
75mg 1x/hari
Zanamivir
Dewasa
2x5mg inhalasi (10mg total)
2x/hari
2x5mg inhalasi (10mg total)
1x/hari
Anak
2x5 mg inhalasi (10mg total 2x/
hari (umur 7 tahun atau lebih)
2x5mg inhalasi (10mg total) 1x/
hari (umur 5 tahun atau lebih)
Tabel 1. Dosis Antiviral pada influenza A H1N1
Tabel 2. Dosis pengobatan antiviral oseltamivir untuk bayi di bawah 1 tahun
Tabel 3. Dosis profilaksis antiviral oseltamivir untuk bayi di bawah 1 tahun
UMUR
Dosis pengobatan direkomendasikan untuk 5 hari
< 3 bulan
12 mg (2x sehari)
3-5 bulan
20 mg (2x sehari)
6-11 bulan
25 mg (2x sehari)
UMUR
Dosis profilaksis direkomendasikan untuk 10 hari
< 3 bulan
Tidak direkomendasikan jika situasi tidak kritis karena data terbatas pada
kelompok umur ini
3-5 bulan
20mg (1x sehari)
6-11 bulan
25 mg (1x sehari)
Penatalaksanaan Influenza A H1N1
Priyanti Z Soepandi. Diagnosis dan penata-
1.
laksanaan influenza A H1N1 baru. Makalah
simposium Latest Update on A New Influenza
Viral H1N1 (Swine Flu/Blu Babi) Mei 2009.
CDC (Centers for Disease Control and preven-
2.
tion). Interim guidance on antiviral recom-
mendations for patients with novel influenza A
(H1N1) virus infection and their close contacts.
2009.
Referensi
Resisten terhadap amantadine &
ˇ
remantadine.
Harus diberikan dalam waktu 48
ˇ
jam setelah gejala flu pertama kali
ditemukan
Pencegahan & Pengobatan Bagi
yang Terpapar Influenza A H1N1
(WHO & CDC)
Oseltamivir 1 x 75 mg/hari selama
1.
5 atau 10 hari
Terapi simptomatik : parasetamol,
2.
obat flu, obat batuk, dsb.
Terapi suportif : vitamin C,
3.
imunomodulator
Antibiotika kalau perlu.
4.
Pencegahan
Cuci tangan (paling penting) :
ˇ
Air dan sabun selama 40-60 de-
ˇ
tik.
Jel antiseptik untuk mencuci tan-
ˇ
gan yang mengandung alkohol.
Jaga kondisi badan/kesehatan :
ˇ
Cukup istirahat.
ˇ
Cukup minum.
ˇ
Makan makanan bergizi.
ˇ
Hindari kontak dengan penderita
ˇ
flu.
Hindari tempat ramai.
ˇ
Gunakan masker jika perlu
ˇ
Makan daging yang telah dimasak
ˇ
dengan matang ( 70ēC)
n
MML