L A P O R A N K H U S U S
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
60
Kemoterapi pada penderita kanker paru
oleh Prof.DR.Dr. Benjamin PM SpP(K)
Kemoterapi pada kanker paru, bisa bermanfaat pada 90% kasus
kanker paru, baik sebagai kemoterapi induksi, neo-adjuvan, adjuvan,
1st line, maupun 2nd line atau lebih. Tidak bisa dipungkiri kenyataan
bahwa pada saat ini kemoterapi tidak bisa menjanjikan kesembuhan
dan pada fase lanjut hanya mampu memperpanjang median survival
sekitar 4 bulan, namun dibanding perawatan suportif terbaik (best
supportive care), masih lebih baik dalam kontrol gejala dan survival
yang bisa dinikmati penderita (meaningful survival). Didasari evidence
based medicine ACCP 2003 dan panduan kanker paru PDPI, maka
regimen kemoterapi yang dianjurkan adalah doublet, dimana satu
komponennya merupakan senyawa platinum, sejumlah 3-4 siklus,
dengan persyaratan skor ECOG masih 0-1, pada skor 2 dipertimbang-
kan berdasarkan kasusnya.
Meningitis tuberculosis
oleh Dr. B. Rianawati Sp.S
Meningitis subakut/kronis merupakan meningitis dimana onset penyakit-
nya lebih dari 4 minggu, dapat juga sekitar 2-8 minggu. Diantara
penyebab yang paling sering adalah Mycobacterium Tuberculosa.
Onset penyakitnya terselubung serta progresif. Fokus infeksinya berada
di organ lain seperti paru-paru yang kemudian menyebar ke kelenjar
regional dan duktus thorasikus kemudian masuk kedalam sirkulasi
darah yang akan mencapai susunan saraf pusat.
Penatalaksanaan:
Pada Meningitis Tuberkulosis dipakai 4 kombinasi tuberkulostatik yang
dapat menembus BBB.
Isoniazid membunuh paling banyak bacillus yang bereplikasi secara
cepat dalam 2 minggu terapi, dengan beberapa bantuan tambahan
dari streptomicyn dan ethambutol. Setelahnya rifampisin dan pirazina-
mid menjadi penting karena mereka mensterilkan lesi yang dibunuh
oleh organisme. Kedua obat ini penting untuk keberhasilan terapi 6
bulan. Rifampisin membunuh kuman di tempat hostile untuk penetrasi
dan aksi dari obat lain. Penggunaan kortikosteroid tambahan masih
kontroversial; diperkirakan mengurangi inflamasi CSF yang merupakan
komplikasi neurologis dan mempengaruhi waktu penyembuhan.
Pemberian kortikosteroid apabila didapatkan keadaan :
· Penderita dalam keadaan shock
· Ada tanda tanda kenaikan TIK
· Ada tanda tanda araknoiditis.
· Timbul tanda tanda neurologis yang progresif
Diagnosis dan Penatalaksanaan Penderita Tuberkulosis
Paru Dewasa
oleh dr. Teguh Rahayu Sartono Sp.P(K)
Terapi kausatif TB berdasarkan program DOTS adalah:
Kategori I : 2 RHEZ / 4RH (4R3H3)
Yang termasuk didalamnya: kasus baru, BTA (+), foto torak: lesi
berat, TB ekstra paru berat.
Kategori II: 2 RHEZ / RHEZS / 5 RH (5R3H3)
Termasuk di dalamnya: gagal terapi, DO, after default
Kategori III: 2 RHZ / 4 RH (4R3H3)
Termasuk di dalamnya: BTA (-), foto torak lesi ringan, TB ekstra paru
ringan (KGB, kulit)
Kategori IV : OAT lini ke 2 + OAT masih sensitif
Terapi kausatif untuk penderita TB khusus:
Ibu hamil : regimen sama tanpa S
Ibu menyusui : regimen sama
Penderita HIV : regimen sama
TB + hepatitis akut :
ZRH : hepatotoksik, stop obat
OAT ditunda sampai hepatitis membaik atau diberi 3 SE / 6RH
Gangguan hepar kronis
SGOT, SGPT meningkat > 3 kali : OAT stop
SGOT, SGPT meningkat < 3 kali : 2 RHES / 6 RH tanpa Z, penga-
wasan ketat, diet tinggi protein.
Gangguan ginjal
2 RHZ / 6 RH tanpa SE
TB + DM
2RHEZ / 4 RH , E hati-hati
Regulasi gula : diet, insulin
Diagnosis dan Tatalaksanaan TB pada anak
Oleh dr. Lucia Landia SpA.
Seorang anak dapat terinfeksi TB tanpa menjadi sakit TB: uji tuber-
kulin positif tanpa kelainan klinis, radiologis dan laboratoris. TB primer
pada anak kurang membahayakan masyarakat karena kebanyakan
tidak menular, tetapi bagi anak itu sendiri cukup membahayakan,
karena dapat menimbulkan TB ekstratorakal yang sering menjadi
sebab kematian, kecacatan, TB milier, meningitis TB dan TB tulang.
Masalah yang dihadapi dalam penanggulangan TB anak meliputi sulitnya
menegakkan diagnosis, lamanya pengobatan, evaluasi pengobatan,
belum adanya vaksin yang benar-benar dapat melindungi anak dari
TB serta meningkatkan insiden infeksi HIV-AIDS.
Gejala spesifik TB sesuai organ:
1. TB kulit / skrofuloderma
2. TB tulang dan sendi
3. TB otak dan saraf
4. TB mata
5. TB pada organ lain.
Bila didapat gejala seperti diatas harus dibuktikan bahwa TB sebagai
penyebabnya. Unit kerja koordinasi respirologi pengurus pusat IDAI
telah menyusun algoritma deteksi TB anak, mulai di tingkat keluarga
sampai rumah sakit, menggunakan sistem penilaian (skor) gejala
dan pemeriksaan penunjang TB.
Penatalaksanaan TB terutama terapi TB anak menggunakan OAT sesuai
dengan dosis pada anak. Penggunaan FDC sangat membantu kepatu-
han anak minum obat. (MML)
L A P O R A N K H U S U S
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
A
cara ini mengambil tema Pitfalls on Surgical Oncology, bertujuan
untuk berbagi pendapat, pengalaman, dan pengetahuan para pakar
dengan peserta khususnya dalam hal penanganan penderita kanker.
Dihadiri sekitar 150 dokter spesialis bedah onkologi, bedah umum,
dokter umum, dan beberapa dari spesialisasi lain (seperti patologi
anatomi, internis, dsb), acara ini dibuka secara resmi oleh Dr.Dradjad
R.Suardi, SpB(K)Onk.
Beberapa topik pilihan:
Strategi Pemakaian Epoetin Alfa sebagai Alternatif Pengganti
Transfusi dalam Mempertahankan Kesinambungan Pemberian
Kemoterapi Ajuvan Berbasis Antrasiklin pada Kanker Payudara
Operabel - Dr.Dimyati Achmad, SpB(K)Onk
Studi dimulai pada November 2006, bertujuan untuk mengetahui
strategi penggunaan epoetin alfa sebagai alternatif pengganti transfusi
dalam mempertahankan kesinambungan pemberian kemoterapi
ajuvan berbasis antrasiklin pada kanker payudara operabel. Epoetin
alfa yang digunakan pada studi ini adalah Hemapo
®
(Kalbe Farma).
Disampaikan oleh pembicara, bahwa masih terdapat risiko transmisi
infeksi HIV, hepatitis B, dan hepatitis C pada transfusi darah di Amerika
Serikat walaupun biaya skriningnya jauh lebih tinggi dibandingkan
Indonesia ($200 vs $10/unit). Selain itu, transfusi ternyata terbukti
secara bermakna menurunkan 5-year survival / 5-year disease free
survival rate pada pasien kanker. Oleh sebab itu, diperlukan obat
alternatif transfusi seperti epoetin alfa ini.
Studi yang bersifat acak, paralel, kontrol plasebo ini diadakan di
beberapa pusat kesehatan di 6 kota, yaitu : Bandung, Jakarta,
Surabaya, Semarang, Malang, dan Pontianak. Sebanyak 56 dari 64
pasien (yang direncanakan) kanker payudara operabel dilibatkan.
Kadar Hb awal pasien 10-11,9 g/dL dan mendapat kemoterapi
ajuvan AC/FAC atau EC/FEC. Hasilnya (preliminary result), di kelom-
pok Hemapo
®
tidak ada yang mendapat transfusi, sedangkan di
kelompok kontrol 9 pasien. Kenaikan kadar Hb 1,1 2,0 g/dL dan
umumnya terjadi pada minggu ke-9 -12. Tidak terlihat efek samping
pada pemberian Hemapo
®
selama studi ini.
Angiogenesis & Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) -
Prof.DR.dr.IB Tjakra W Manuaba, MPH SpB(K)Onk
Angiogensis merupakan hal yang penting bagi jaringan tumor
berukuran > 2 mm
3
untuk bertumbuh dan VEGF telah diketahui
berperan sangat penting terhadap proses tersebut. Hingga kini
diketahui terdapat 3 jenis reseptor VEGF (VEGFR), yaitu VEGFR-
1,2,dan 3, yang terpenting adalah VEGFR-2.
Aktivasi reseptor tersebut akan meningkatkan proliferasi, migrasi,
ketahanan hidup dan angiogenesis. Selain itu, VEGF juga diketahui
berperan menurunkan respon imun antitumor, terutama dengan
menghambat pematangan sel dendritik. Implikasinya, overekspresi
VEGF berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk berbagai
jenis tumor padat. Berbagai penelitian yang sedang berjalan saat ini
mencoba mencari lebih jauh tentang peran VEGF pada kanker.
Prinsip menghambat kerja VEGF adalah dengan menghambat produksinya,
menetralkan VEGF, atau menduduki reseptornya (VEGFR). Permasalahan
terapi anti-angiogenik adalah : kebanyakan kanker mengalami ekspresi
lebih dari 3 portein angiogenik, sehingga menghambat salah satu saja
tidak memadai untuk menghentikan proses angiogenesis. Oleh karena
itu mungkin diperlukan terpai kombinasi anti-angiogenesis atau kombinasi
anti-angiogenesis dengan kemoterapi (metronomic chemotherapy).
Controversies of Herbal Therapy in Cancer Treatment - Dr.Henry
Naland, SpB(K)Onk
Topik ini cukup unik, menarik, mengundang antusiasme serta pendapat
pro-dan kontra di antara peserta. Sebenarnya kedokteran timur/ tradi-
sional telah ada jauh sebelum kedokteran modern. WHO sendiri men-
dukung pengembangan obat tradisional, sebab di negara miskin dan
berkembang, hingga 80% penduduknya menggunakan obat tradisional.
Di Indonesia, jamu merupakan bentuk pengobatan tradisional yang
paling populer dan masih luas digunakan masyarakat untuk mendapat-
kan dan mempertahankan kesehatan. Ilmu pengobatan tradisional
di Indonesia cukup mendapat dukungan pemerintah dengan diakuinya
PDPKT tahun 2003, Permenkes RI no.1009/2007 tentang pengobatan
alternatif komplementer, dan adanya standar pelayanan medik herbal.
Masalah pada pengobatan tradisional ini adalah tidak adanya pengakuan
resmi dan minimnya data/studi tentang keamanan dan efektifitas,
karena umumnya berupa testimonial / kesaksian. Selain itu, pengobatan
timur jarang dipublikasikan atau dikenal dengan istilah eastern secrets.
Obat herbal umumnya terdiri dari berbagai jenis herbal dan terdiri
dari bermacam-macam zat aktif. Kerugiannya adalah tidak adanya
standar tanaman herbal, dan kandungan/konsentrasi zat aktif tergantung
dari tempat tanaman herbal tersebut tumbuh. Belum lagi adanya
kontaminasi logam maupun zat kimia lain (seperti pestisida).
Kalangan dokter sendiri terbagi menjadi 3 kelompok menurut
pendapatnya dalam menggunakan herbal, yaitu kelompok yang
menentang, skeptis, dan mendukung. Disimpulkan bahwa herbal
seyogyanya dapat menjadi suatu terapi komplementer (pelengkap)
dan bukan terapi alternatif (pengganti) bagi pasien kanker. (LHS)
61
Simposium Perhimpunan Ahli Bedah
Simposium Perhimpunan Ahli Bedah
Onkologi Indonesia (PERABOI) - PIT XVIII
Onkologi Indonesia (PERABOI) - PIT XVIII
Simposium Perhimpunan Ahli Bedah
Onkologi Indonesia (PERABOI) - PIT XVIII
Pitfalls on Surgical Oncology - Optimalisasi Penanganan
Penderita Kanker di Indonesia
Hotel Lor In, Solo, 30 Oktober - 1 November 2008