background image
Kriteria diagnostik untuk hepatic amoebiasis menurut Lamont
dan Pooler :
1. Pembesaran hati yang nyeri tekan pada orang laki dewasa.
2. Respons yang baik terhadap obat anti amoeba.
3. Hasil pemeriksaan hematologis yang menyokong : leukosi-
tosis.
4. Pemeriksaan Rontgen (PA Lateral) yang menyokong.
5. Trophozoit E. histolytica positif dalam pus hasil aspirasi.
6. "Scintiscanning" hati adanya "filling defect".
7.
"
Amoeba Hemaglutination" test positif (3).
Pada waktu ini scintiscanning dan haemaglutination indirect
untuk amoeba belum bisa dikerjakan di RS. UGM.
Masih ada perbedaan pendapat tentang keharusan menge-
luarkan pus dari dalam abses hati karena amoeba. Menurut
Powell (8) pada abses hati yang besar pengobatan dengan
metronidazole harus disertai dengan aspirasi untuk mencegah
relaps kemudian Beeler (9) menyelidiki 247 kasus dengan
penggunaan kombinasi metronidazole 4 x 500 mg sehari
untuk sebulan ternyata tak ada perbedaan hasil antara kasus
yang diaspirasi dan tidak diaspirasi (5).
Keampuhan metronidazole terhadap abses hati karena
amoeba sudah banyak dikenal orang apabila obat tersebut
diberikan selama 3 sampai 10 hari. (I0 - 13). Pada penderita
yang kami rawat diberikan dosis metronidazole 3 x 500 mg
selama 10 hari.
Dengan dosis kecil yaitu 2,4 gr metronidazole dan dengan
aspirasi pus Bunnag et al (I4) dapat menyembuhkan 15 pen-
derita dengan abses hati karena amoeba tanpa komplikasi (4).
Griffin (I5) menulis tentang kegagalannya dalam mengobati se-
orang penderita laki-laki umur 19 tahun dengan metronidazole.
Dosis metronidazole yang diberikan ialah 500 mg tiap 8 jam
per oral selama 10 hari. Karena hepar tetap membesar dan
perut dirasakan sakit sekali, maka pemberian metronidazole
dihentikan dan diganti dengan suntikan emetin hidroklorida
65 mg tiap hari selama 2I hari dan chloroquine diphosphate
4 x 250 mg tiap hari selama 2I hari. Meskipun metronidazole
merupakan obat pilihan untuk semua infeksi amoeba namun
kadang-kadang mengalami kegagalan juga yang sebabnya
belum diketahui. (13).
Prognosa amoebiasis hati tergantung dari :
1. Virulensi parasit dan daya tahan host.
2. Derajad dari infeksi.
3. Adanya infeksi sekunder dan komplikasi lainnya.
4. Terapi yang diberikan. (4).
RINGKASAN
Telah diteliti kembali status 14 penderita abses hati karena
amoeba yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam RS UGM,
selama 5 tahun. Penderita terdiri dari 6 Iaki-laki dan 8 wanita.
Umur penderita antara 20 - 60 tahun dengan peak incidence
pada umur 40 - 49 tahun. Keluhan terutama berupa panas
78,57%, sakit di hypochondrium kanan 71,42% dan pernah
buang air besar lendir darah 35,71%.
Pemeriksaan fisik kami dapatkan hepatomegali I00%,
panas 78,57%, nyeri tekan di hati 64,28%, fluktuasi tekan di
hati 64,28%, ikterus 28,57%, anemia (Hb kurang dani 10 gr%)
ada 64,28%, leukositosis 64,28%. Pada tinja penderita tak
diketemukan amoeba baik bentuk kista maupun trophozoid.
Ada 2 penderita dilakukan aspirasi pus secara terbuka
dengan hasil anchovy sauce dan pemeriksaan bakteriologis
trophozoid negatif. Semua penderita mendapat metronidazole
500 mg 3 x sehari selama I0 hari, dengan hasil semua pen-
derita menunjukkan respons yang baik terhadap obat-obat
anti amoeba.
KEPUSTAKAAN
1.Leevy CM Hans Popper, Sheila Sherlock. Diseases of the Liver and
billiary tract. Chicago, London : Year book medical Publishers, Inc.
2.Kasliwal RM. Clinical amoebiasis syndrome and case reports of a
few unusual cases of amoebiasis. Am J Proctol 1973; 24 : 326 - 336.
3.Sherlock S. Diseases of the Liver and Billiary System. Fifth Ed.
London : Blackwell Scientific Pub. I975; 613 - 621.
4.Moerdowo R et al. Beberapa segi klinis abscess hati amoebic di
RSUP. Sanglah Denpasar Bali. Simposium Penyakit Hati Menahun
di Jakarta. I979.
5.Akbar N. Amebiasis Hati. KPPIK X FKUI . I979.
6.Sing HVP et al. Amoebic Liver Abscess in Eastern Utar Pradesh,
India. Trop Geogr Med 1973; 25, 2I7 - 222.
7.Wilcocks Manson Bahr. Manson s Tropical Diseases I7 th ed.,
ELBS. London : Bailliere Tindall, I972; 174 - 185.
8.Powell SJ, Ibrahim M. Some new Metronidazole derivates. Clinical
trials in liver abscess. Amer J Trop Med Hyg 1973; 2I : 318 - 320.
9. Bieler ZU et al. The liver in amoebic disease, South Asia Med J
1975; 48 : 308 - 320.
10.Abio Sc PA. Tinidazole in the treatment of amoebic liver absces.
Curr Ther Res I974; 20 : 32 - 35.
II.Henn R, Collin D. Amoebic abscess of the liver. Treatment failure
with Metronidazole. JAMA. I973; 224 : I394.
I2.Javant A et al. Clinical evaluation of Metronidazole in hepatic
abscess. Amer J Trop Med Hyg I9 : 3, 762 - 766.
I3.Patton R. Treatment of amoebic abscess. New Eng J Med 1973;
288 : 869.
I4.Bunnag D et al. Clinical trial of Metronidazole low dosage in amoe-
bic liver abscess. South Asia J Trop Med Publ Health G. 99 - I02.
I5.Griffin FN Jr. Failure of Metronidazole to care hepatic abscess,
New Engl J Med 1973; 288 : 1297.
Amoebiasis lntestinal pada Karyawan RS
UGM dan Pengobatannya dengan
Metronidazole
Siti Moesfiroh ls ., Cholid AB , Sutarti A , Noerhayati S ,
Mufrodi
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, Bagian
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Amoebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya Entamoeba
histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik. Klasifikasi
amoebiasis menurut WHO I968 (I) di bagi dalam asimpto-
matik dan simptomatik, sedang yang termasuk amoebiasis
simptomatik
yaitu amoebiasis intestinal dan amoebiasis
extra intestinal. Yang termasuk amoebiasis intestinal yaitu :
dysentri, non-dysentri colitis, amoebic appendicitis amoe-
boma. Amoebiasis dapat ditularkan dari seorang ke orang lain
oleh pengandung kista Entamoeba histolytica yang mem-
punyai gejala klinik (simptomatik) maupun yang tidak (asimp-
tomatik), sehingga pengobatan pengandung kista E. histolytica
dipandang perlu, mengingat bahwa :
10 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
1. Pengandung kista
E. histolytica
merupakan sumber
penularan amoebiasis dalam masyarakat.
2. Pengandung kista yang tak mempunyai gejala tadi
dengan kondisi tubuh yang jelek akan menyebabkan
terjadinya disenteri amoeba bagi dirinya sendiri.
Pengobatan penderita pengandung kista (cyst passer/carrier)
E. histolytica
dengan metronidazole oleh beberapa peneliti
telah dibuktikan efektifitasnya (2,3), sehingga pengobatan
terhadap karyawan R.S. UGM akan mengurangi frekuensi
amoebiasisnya.
Penelitian di sini dikerjakan untuk menyelidiki prevalensi
amoebiasis pada karyawan R.S. UGM dan usaha pengobatan-
nya dengan metronidazole.
BAHAN PEMERIKSAAN DAN CARA KERJA.
Telah diperiksa pada bulan Agustus sampai dengan Nopem-
ber 1978 sebanyak 504 karyawan R.S. UGM terdiri atas Siswa
Perawat-Bidan, Siswa Bidan, Juru rawat, Bidan dan Penye-
lenggara makanan R.S. UGM. Pemeriksaan klinik meliputi
pemeriksaan jasmani dan anamnesa yang dilakukan pada
tempat-tempat yang sudah ditentukan, sedang pemeriksaan
laboratoris meliputi pemeriksaan tinja karyawan-karyawan
tadi. Tiap hari diperiksa 30 karyawan secara klinis oleh 2 orang
dokter, sedang pemeriksaan laboratoris dilakukan di Bagian
Parasitologi F.K. UGM dimana sehari diperiksa 20 spesimen
tinja dari karyawan tadi. Untuk menghindari kerusakan tinja,
ditambah formalin 10%. Pemeriksaan tinja dikerjakan dengan
2 macam cara yaitu secara langsung dengan garam fisiologis
dan larutan lugol, dan secara tak langsung dengan metoda
formol-eter (Ritchie) (3). Dua per tiga dari penderita dengan
positif kista
E. histolytica
pada tinjanya diberi pengobatan
dengan metronidazole (Elysol, Dumex) dosis 50 mgr/kg
BB/hr dibagi dalam 3 dosis, selama 5 hari, sedang pada 1/3
kasus diberikan placebo sebagai kontrol.
Gejala samping obat diperiksa setelah obat habis dan di kerja-
kan secara anamnestis. Pemeriksaan feces ulangan dikerjakan
bagi penderita amoebiasis setelah 1 minggu obat habis.
HASIL PEMERIKSAAN.
Pada Tabel I tampak bahwa di antara 504 karyawan R.S.
UGM yang mengandung kista
E. histolytica
sebanyak 86
orang, yang berarti prevalensi
Entamoeba histolytica
sebesar
I7,1% di mana pada karyawan laki-laki prevalensi 14,6%
sedang pada karyawan wanita 17,7%.
Prevalensi protozoa usus patogen yang lain yaitu
Giardia
lamblia
sebesar 4,8%, sedang prevalensi protozoa usus yang
terbesar yaitu
Entamoeba
coli
yang non-patogen pada manusia
sebesar I9,8%.
Prevalensi protozoa usus yang terkecil yaitu.
Chilomastix
mesnili
yang non-patogen pula sebesar 0,6%.
Hasil pemeriksaan gejala klinik pengandung kista
E. histoly-
tica
dapat dilihat pada Tabel 2, di mana jumlah pengandung
kista
E. histolytica
tak disertai parasit usus patogen lain se-
banyak 6I orang. Gejala klinik gastro-intestinal dari para
pengandung kista tadi hanya dimiliki oleh 25 orang (4I%)
dengan gejala antara lain kolik abdominal 40%, nausea 36%,
sedang obstipasi 28% dari seluruh penderita amoebiasis yang
mempunyai gejala klinik. Gejala-gejala ini tak dirasakan terus
menerus tetapi hanya kadang-kadang atau sering-sering terjadi.
Pengandung kista Amoeba histolytica yang tak mempunyai
gejala klinik gastro-intestinal sebanyak 36 karyawan (59%).
TABEL 1 : Prevalensi protozoa usus pada karyawan R.S. UGM
menurut jenis kelamin
.
Laki-laki
Perempuan
Total
(103)
(40)
(504)
No.
Parasit
Jum.
%
Jumlah. %
Jum.
%
pos.
pos.
pos.
1.
E. histolytica
15
14.6
71
17.7
86
17.
1
2.
E.
coli
17
16.5
83
20.7 100
19.8
3.
L. buetschlii
6
5.8
32
8.0
38
7.5
4.
G.lamblia
6
5.8
18
4.5
24
4.8
5.
Ch. mesnili
1
1 .0
2
0.5
3
0.6
6.
E. nana
1 3
12.6
58
14.5
71
14.1
7.
E. hartmani
5
4.9
22
5.5
27
5.4
Jumlah tinja yang diperiksa.
TABEL 2 : Gejala klinik pengandung kista E. histolytica tanpa infeksi
parasit usus patogen lain, menurut jenis kelamin.
Laki-laki
Perempuan
Total
(6)
(I9)
(25)
No.
Gejala
Jum.
%
Jum.
%
Jum.
%
pend.
pend.
pcnd.
1.
Nausea
3
50
60
31.6
9
36
2.
Kolik Abdominal 1
I6.7
9
47.4
I0
40
3.
Obstipasi
1
16.7
6
31.6
7
28
4.
Diare
1
I6.7
3
1 5.8
4
16
5.
Vomitus
0
0
3
1 5.8
3 12
6.
Anorexia
1
I6.7
2
10.5
3
12
7.
Meteorismus
1
I6.7
1
5.3
2
8
8.
Flatulensi
2
33.3
2
10.5
4
16
Jumlah penderita dengan positif kista E. histolytica yang mempunyai
gejala klinik gastro-intestinal.
Hasil pengobatan dengan metronidazole dapat dilihat pada
Tabel
3.
Pada 23 pengandung kista
E. histolytica
setelah satu
minggu obat habis, ternyata kista
E. histolytica
dalam tinja tak
didapatkan lagi, angka penyembuhan ("cure rate
"
) yang di-
dapat sebesar I00%. Pada pengandung kista yang diberi
placebo yaitu sejumlah I4 penderita, ternyata setelah satu
minggu obat habis terdapat I0 spesimen tinja penderita yang
negatif kista
E. histol
y
tica
.
TABLE 3 : Efektifitas obat I minggu pengobatan.
I minggu sesudah pengobatan
Jumlah
Macam obat
diobati
Juml. pos.
%
Juml. neg.
%
E. hist.
E. hist.
Metronidazole
23
0
0
23
I00
Placebo
I4
4
28.6
I0
7I.4
Gejala samping pengobatan metronidazole dapat dilihat
pada Tabel 4 : Jumlah penderita yang mendapat pengobatan
metronidazole dan dapat diikuti gejala sampingnya sebanyak
39 orang, jumlah penderita yang tak mengalami gejala sam-
ping : 7 orang, sedang mereka yang mengalami gejala samping
Simposium Masalah Penyakit Parasit
I02
background image
TABEL 4 : Gejala samping pada pengobatan pengandung kista
E. histolytica.
No.
Gejala samping
Laki-laki
Perempuan
Total
(4)
(28)
(32)
Jumlah
%
Jumlah
%
Jum.
%
pend.
pend.
pend.
1.
Nausea
3
75
16
57.1
19
59.4
2.
Nyeri kepala
2
50
11
39.3
I3 40.6
3.
kolik abdominal
2
50
9
32.1
1134.4
4.
Vomitus
1
25
5
17.9
6 18.8
5.
Diare
0
0
4
14.3
4
12.5
6.
Dizziness
1
25
3
10.7
4 1 2.5
7.
Meteorismus
1
25
0
0 1
3
.1
8.
Lumbago
1
25
0
0 1
3.
1
9.
Urticaria
0
0
1
3.6
1
3.1
Jumlah penderita yang mempunyai gejala samping.
sebanyak
32
orang
(82.05%).
Gejala samping yang didapat
antara lain nausea
59.4%,
nyeri kepala
40.6%,
kolik abdominal
34.4%,
sedang yang paling sedikit yaitu meteorismus, lumbago,
dan urticaria masing-masing
3.1%.
Gejala-gejala ini segera
hilang setelah pengobatan berakhir.
DISKUSI
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian karyawan
R.S. UGM merupakan pengandung kista
E. histolytica
dengan
prevalensi total sebesar I7.I%. Prevalensi ini lebih besar di-
banding dengan prevalensi
E. histolytica
yang ditemukan oleh
penemu-penemu yang lain misalnya di daerah Yogyakarta
prevalensi
E. histolytica I2.6% (4).
Di Boyolali
I968
prevalen-
si
E. histolytica 6.7% (5),
di Jakarta pada penderita dewasa di
R.S. Tjiptomangunkusumo
I 954,
prevalensi
E. histolytica
sebagai kista
13.2% (6).
Tetapi untuk penduduk yang kurang
mampu di Yoygakarta frekuensi
E. histolytica
lebih besar
yaitu
25.2% (7).
Dari pengandung kista
E. histolytica
ternyata
41% mempunyai gejala klinik gastro-intestinal dan sesuai
dengan WHO (I) di sini tak dapat ditemui gejala disenteri,
amoeboma maupun amoebic appendicitis, sehingga gejala
yang didapat hanya untuk non-dysenteric colitis di mana gejala
nya antara lain kolik abdominal
40%,
nausea
36%,
dan obstipa-
si
28%;
dan gejala ini tak dirasakan secara terus menerus tetapi
hanya secara kadang-kadang atau sering-sering terjadi. Sedang
pengandung kista
E. histolytica
tanpa gejala klinik gastro-
intestinal maupun gejala extra-intestinal sebesar
59%.
Pengobatan dengan metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr.
dibagi dalam
3
dosis selama
5
hari berturut-turut terhadap
karyawan R.S. UGM pengandung kista
E. histolytica
meng-
hasilkan angka penyembuhan yang lebih baik dari peneliti
yang Iain yaitu I minggu setelah obat habis sebesar 100%.
Hal yang serupa dikerjakan di Bangkok pada anak-anak yatim
dengan pengobatan metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr.
selama
5
hari berturut-turut
"
cure rate
"
sebesar
67% (2),
sedang Khambutla
(I979)
yang mencoba dengan metronidazo-
le
400
mg
3
kali sehari selama
6
hari, memperoleh "cure rate"
sebesar
83.3%.
Pada pemberian placebo terhadap I4 orang
pengandung kista
E. histolytica
ternyata setelah I minggu
dalam fesesnya tak didapat kista
E. histolytica,
ini bisa terjadi
karena kista
E. histolytica
pada pembawa kista sewaktu-waktu
tak dikeluarkan dalam feses meskipun tak diobati.
Penderita yang diobati dengan metronidazole yang meng-
alami gejala samping sebesar
82%.
Gejala samping yang didapat
antara lain yaitu nausea, nyeri kepala dan kolik abdominal
masing-masing sebesar
59,4%, 40.6%,
dan
34.4%.
KESIMPULAN
Prevalensi infeksi Amoebiasis intestinal pada karyawan
R.S. UGM cukup tinggi ialah sebesar
I7.I%.
Pengandung kista
E. histolvtica
pada karyawan R.S. UGM
ada yang mempunyai gejala klinik
(4I%),
antara lain gejala
tadi kolik abdominal, nausea, dan obstipasi masing-masing
40%, 36%
dan
28%,
ada pula yang tak mempunyai gejala
klinik
(59%).
Pengobatan pada pembawa kista
E. histolvtica
dengan
metronidazole dosis
50
mg/kg BB/hr. dibagi dalam
3
dosis
selama
5
hari berturut-turut memberikan angka penyembuhan
sebesar I00%.
Gejala samping yang terjadi karena pengobatan dengan
metronidazole terdapat pada sebagian besar penderita pem-
bawa kista
E. histolytica (82.5%).
Gejala samping tersebut
antara lain nausea, nyeri kepala dan kolik abdominal masing-
masing
59.4%, 40.6%,
dan
34.4%.
Gejala samping segera hilang
setelah pengobatan berakhir.
Ucapan terima kasih
Bersama ini disampaikan banyak terima kasih kepada : (1) Rockefeller
Foundation, dan (2) P.T. Dumex, yang telah memberikan bantuannya
sehingga penelitian Ini dapat berjalan dengan lancar.
KEPUSTAKAAN
1.World Health Organization. Report of a WHO Expert Committee on
Amoebiasis. 1968. Wld Hlth Org Tech Rep Ser 1969 No. 42I.
2.Siddhi TCS, Pairojboot N, Suangkasem Sin SC, Harinasuta T.
Treatment of Entamoeba histolytica cyst-passers with metronida-
zole. SEA J Trop Med Pub Hlth 1971; 2 (I) : 29 - 33.
3.Ritchie LS. An aether sedimentation technique for routine stool
examination. Bull US Army Med Dept 1948; 8: 326.
4.Clarke MD, Cross JH, Carney WP. A parasitological survey in Yogya-
kazta area of Central .iawa, Indonesia. SEA J Trop Med Pub Hlth
1973; 4 (2) : 195 - 201.
5.Cross JH, Gunawan S, Gaba A, Watten RH, Sulianti J. Survey for
human intestinal and blood parasites in Bojolali, Central Java
Indonesia. SEA J Trop Med Pub Hlth I970; I (3) : 354 - 60.
6.Bintazi S.Beberapa sudut dari masalah amoebiasis di Indonesia.
Thesis. Universitas Indonesia, Djakazta. 1956.
7.Noerhajati S.Masalah amoebiasis dan caza-caza mendiagnose labora-
toris. Symposium Penyakit Infeksi, Fakultas Kedokteran UGM
Yogyakarta, I975 : 22 - 25.
Giardiasis pada Anak
Yati Soenarto , Moenginah PA , Teluk Sebodo , Cholid
AB , Siti Musfiroh , Noerhayati Soeripto
Bagian flmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM,
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Dari penelitian-penelitian yang telah dikerjakan dapat
diketahui bahwa
Giardia lamblia
sering tidak terdiagnosis
10 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980