Stroke Hemoragik : Perdarahan
Intraserebral
Darulkutni Nasution
Bagian Neurologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan
ABSTRACTS
Stroke, especially intraccerebral hemorrhage, is one of the neurologic emergencies
cases, but in the management still controversial. Strict indications for the surgical removal
of intracerebral hemorrhage by craniotomy are not avarilable. However, there are
two indications for acute surgery : 1) a patient with an intracerebral hemorrage that is
located in a superficial location and 2) a hemorrhage into the cerebellum. The role of
surgery in intraccrebral hemorrhage may be revived by the recent advent of stereotactic
techniques to remove intracranial blood.
PENDAHULUAN
Sebenarnya semua jenis stroke, baik hemoragik maupun
non-hemoragik termasuk gawat darurat neurologi pada fase
akut. Memang sebagian penderita dapat dirawat dengan pe-
rawatan biasa yaitu istirahat, pemeriksaan laboratorium rutin
dan ECG, observasi dan perawatan beberapa hari, fisioterapi
dan rehabilitasi, kemudian dipulangkan atau dirawat di rumah.
Tetapi untuk sebagian besar memerlukan perawatan intensif
pada fase akut, oleh karena sebenarnya stroke bukanlah suatu
untreatable disease seperti disangkakan beberapa dokter, tetapi
hams dipahami benar-benar proses penyakit ini, agar dapat
dihindari kerusakan jaringan otak yang lebih luas.
Hams diingat bahwa : 1) kerusakan jaringan otak akibat
stroke, tidaklah langsung menyebabkan kematian neuron, tetapi
sering progressivitasnya berlangsung dalam beberapa jam
pertama setelah kejadian, sehingga kemungkinan untuk pen-
cegahan dengan pengobatan progressif bisa didapati pada
beberapa kasus. 2) jaringan otak sekitar neuron yang mati
mengalami gangguan fungsional dapat dipertahankan sehingga
dapat berfungsi kembali setelah terjadi penyembuhan. 3) edema
serebri dan vasospasme kadang-kadang dapat diatasi dan diobati.
88
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
Walaupun belum ada pengobatan yang secara sempurna dapat
memperbaiki kerusakan jaringan otak akibat stroke,
namun
pengobatan intensif sedini mungkin, akan memberikan harapan
hidup dan penyembuhan yang lebih baik.
Pada kesempatan ini dipilih stroke hemoragik, khususnya
perdarahan intraserebral (PIS) sebagai topik untuk gawat darurat
neurologi, oleh karena belakangan ini sering dipertanyakan
oleh pars dokter, bahkan keluarga penderita mengenai
kemungkinan tindakan operatif pads penderita PIS ini.
PERDARAHAN INTRASEREBRAL
Perdarahan intraserebral umumnya diartikan sebagai per-
darahan dalam parenkin otak dengan pembentukan hematoma
fokal.
Etiologi
Kebanyakan PIS disebabkan oleh hipertensi, sehingga teori
aneurisma Charcot-Bouchard (1868) masih dianut untuk pa-
tofisiologi sebagian PIS. Akan tetapi, kira-kira 50% penderita
PIS akut tidak mempunyai riwayat hipertensi dan basil pe-
ngobatan yang baik terhadap hipertensi menyebabkan me-
nurunnya prevalensi pads penderita PIS dengan mantap dari
tahun ke tahun, antara 1945 - 1976 dari 98% menjadi 81%,
kemudian terus menurun sampai 1987 dari 80% menjadi kira-
kira46%. Oleh karena itu, belakangan ini etiologi PIS dibagi dua
yaitu Hypertensive Intracerebral Hemorrhage danNon-hyperten-
sive
Intracerebral Hemorrhage. Yang termasuk Honhyperten-
sive Intracerebral Hemorrhage adalah Cerebral amyloid
angiopaty (CAA), pemakai anti koagulansia/thrombolitik, neo-
plasma, drug abuse, aneurisma/AVM, idiopatik dan lain-lain.
DIAGNOSIS
Diagnosis PIS harus dipertimbangkan jika seorang dengan
faktor risiko perdarahan seperti hipertensi, bleeding diathesis,
pengobatan dengan antikoagulansia atau pemakai kokain, tiba-
tiba mendapat serangan gangguan neurologik fokal selama beber-
apa menit tanpa didahului tanda-tanda peringatan. Adanya tanda
peninggian tekanan intra-kranial seperti sakit kepala, muntah
dan penurunan kesadaran akan mendukung diagnosis PIS.
PIS harus dikonfirmasi dengan neuroimaging yaitu head CT
Scan, yang tidak hanya menunjukkan ukuran, lokasi dan tempat
hematom, tetapi juga memberikan informasi tentang perluasan
hematom ke sistem ventrikel, adanya edema sekitar hematom
dan adanya shift atau pendorongan. Jika tidak ada CT Scan, harus
dilakukan pungsi lumbal atau arteriografi serebral untuk alat
bantu diagnostik, atau ditunggu sampai keadaan penderita
stabil lalu dikirim ke tempat fasilitas
CT
Scan.
PENG OB
ATAN
Pengobatan pada prinsipnya konservatif, belum ada per-
sesuaian atau indikasi yang tegas mengenai pembedahan pada
stroke hemoragik.
Tindakan pertama adalah mempertahankan jalan nafas
yang baik dan pengobatan terhadap hipertensi jika sangat tinggi,
tetapi hams dihindari penurunan yang berlebihan sehingga
mengganggu autoregulasi dan pergusi jaringan otak.
Edema otak harus diatasi jika mengakibatkan penurunan
kesadaran atau mengancam herniasai, dianjurkanforced hyper-
ventilation, pemberian mannitol atau glyserol, sedangkan kon-
tikosteroid tidak dianjurkan oleh karena banyak menimbulkan
komplikasi.
Gangguan koagulasi harus dikoreksi, fresh frozen plasma,
vitamin K, protamine dan transfusi platelet dapat diberikan
tergantung defisit koabulasinya. Untuk PIS akibat pemakaian
streptokinase, urokinase dengan atau tanpa heparin, dapat di-
berikan protomine dan epsilon-amino-caproic acid, sedangkan
untuk warfarin dapat diberikan vitamin K atau fresh frozen
plasma.
Penggunaan antikonvulsan rutin nampaknya tidak diper-
lukan, tetapi banyak pasien dengan perdarahan kortikal atau
subkortikal diberikan antikonvulsan walaupun tidak kejang.
Belum ada suatu penelitian yang memastikan kelebihan
tindakan operatif pada HIS dibandingkan dengan pengobatan
konservatif. Dari suatu penelitian yang melibatkan 52 orang
penderita PIS yang tidak sadar atau dengan defisit neurologik
yang berat dibagi atas kelompok operatif dan konservatif, ter-
nyata hanya penderita dengan skala koma Glasgow 7 - 10 yang
mendapat perbaikan dengan tindakan operatif, tetapi perbaikan
fungsi neurologik jelek. Juga terlihat perluasan hematom ke
ventrikel dan penurunan skala koma Glasgow pada kelompok
bedah. F. Gotoh dan N. Tanahashi dari Jepang melaporkan dari
500 penderita PIS yang dirawat secara konservatif dibandingkan
dengan kasus yang lama dengan tindakan operatif, ternyata
tidak ada perbedaan antara kedua kelompok tersebut dan disim-
pulkan bahwa indikasi tindakan operatif terutama pads kasus
yang berat untuk life saving. Sampai saat ini secara umum hanya
ada 2 indikasi untuk tindakan operatif : 1) PIS dengan lokasi
superfisial seperti lobus frontalis, temporalis dan occipitalis jika
kondisi klinisnya membahayakan kehidupan untuk life saving,
2) perdarahan serebellum dengan ukuran lebih dari 3 cm; karena
perjalanan klinisnya sukar diramalkan, harus segera dioperasi
sebelum ada tanda-tanda kompresi batang otak yang berat.
Peranan tindakan operatif diharapkan akan lebih balk lagi
dengan dikembangkannya belakangan ini teknik stereotaktik
dengan tujuan dasar memperkecil invasi bedah.
PROGNOSIS
Secara umum mortalitas 26 - 50%, bertambah jelek pads
perdarahan dithalamus dan serebellum dengan diamter lebih dari
3 cm dan perdarahan pontine yang lebih dari 1 cm. Prognosis
lebih baik pads perdarahan lobar dengan mortalitas kira-kira 6 -
30%. Jika diukur dengan volume mortalitas kurang dari 10%
pads perdarahan yang kurang dari 20mm3 dan 90% pada per-
darahan yang lebih dari 60 mm3.
Gejala neurologis permulaan serangan juga merupakan
tanda prognostik penting, mortalitas bertambah jelek pads pasien
yang tidak sadar pada onset penyakit, perdarahan yang luas
dan dalam serta dengan perluasan ke ventrikel. Dilaporkan pula
bahwa penderita PIS dengan SKG lebih dari 9, perdarahan
kecil dan pulse pressure kurang dari 40 mm Hg, kemungkinan
survival dalam waktu 30 hari adalah 98%, tetapi pasien dengan
koma dan perdarahan luas serta pulse pressure lebih dari 65
mmHg, kemungkinan survival dalam 30 hari adalah 8%.
KEPUSTAKAAN
1. Caplan LR. Intracerebral haemorrhage Lancet 1992; 339 : 656-58.
2. Earnest MP. Emergency Diagnosis and Management of Brain Infarctions and
Hemorrhages. in : Earnest MP. Neulorogic Emergencies, Churchill Living-
stone, 1983.
3. Feldmann E. Intracerebral hemorrhage. Stroke 1991; 22 : 684-91.
4. Gotoh F, Tanahashi N. Emergency Management of Stroke : The Problem Of
Acute Cerebral Ilemorrhafe, World Congress Of Neurology, India, 1989.
5. Kase CS, Mohr JP. General features of intracerebral hemorrhage, in : Bamett
HJM, Mohr JP, Stein BM, Yatsu FM (eds) : Stroke, New York : Churchill
Livingstone, Inc, 1986, pp 497-523.
6. Marshall J. Should spontaneous cerebral haematomas be evacuated and if so
when?. In : Warlow C, Garfield J (eds). Dilemmas in the management of the
neurological patient, Churchill Livingstone, London, 1984.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
89