304
| MEI - JUNI 2010
I. TERAPI CAIRAN
1. KOMPARTEMEN CAIRAN TUBUH
Tubuh orang dewasa terdiri dari: zat padat - 40 % berat ba-
dan dan zat cair - 60 % berat badan; zat cair terdiri dari:
cairan intraseluler - 40 % berat badan dan cairan ekstrase-
luler - 20 % berat badan; sedangkan cairan ekstraseluler ter-
diri dari : cairan intravaskuler - 5 % berat badan dan cairan
interstisial - 15 % berat badan
Ada pula cairan limfe dan cairan transeluler yang termasuk
cairan ekstraseluler. Cairan transeluler sekitar 1-3 % berat
badan, meliputi sinovial, pleura, intraokuler dan lain-lain.
Cairan intraseluler dan ekstraseluler dipisahkan oleh mem-
bran semipermeabel.
Neonatus
Bayi 3 bulan
Cairan Intraseluler
40 %
40 %
Cairan Intraseluler
· Plasma
5 %
5 %
· Interstisial
35 %
25 %
Jumlah cairan
80 % bb
70 % bb
Volume kompartemen cairan sangat dipengaruhi oleh Na-
trium dan protein plasma. Natrium paling banyak terdapat
di cairan ekstraseluler, di cairan intravaskuler (plasma) dan
interstisial kadarnya sekitar 140 mEq/L.
Pergerakan cairan antar kompartemen terjadi secara osmo-
sis melalui membran semipermeabel, yang terjadi apabila
kadar total solute di kedua sisi membran berbeda. Air akan
berdifusi melalui membran untuk menyamakan osmolalitas.
Pergerakan air ini dilawan oleh tekanan osmotik koloid. Te-
kanan osmotik koloid atau tekanan onkotik sangat dipen-
garuhi oleh albumin. Apabila kadar albumin rendah, maka
tekanan onkotik rendah sehingga tekanan hidrostatik domi-
nan mengakibatkan ekstravasasi dan terjadi edema.
Cairan ekstraseluler adalah tempat distribusi Na+, sedan-
gkan cairan intravaskuler adalah tempat distribusi protein
plasma dan koloid; juga tempat distribusi K+, PO4 .
Elektrolit terpenting di dalam cairan intraseluler: K+ dan
PO4- dan di cairan ekstraseluler: Na+ dan Cl
Kebutuhan air dan elektrolit perhari:
Dewasa:
·
Air 30 35 ml/kg
Setiap kenaikan suhu 1o C diberi tambahan 10-15 %
· K+ 1 mEq/kg ( 60 mEq/hari atau 4,5 g )
· Na+ 1-2 mEq/kg ( 100 mEq/hari atau 5,9 g )
Bayi dan Anak:
·
Air 0-10 kg: 4 ml/kg/jam ( 100 ml/g )
10-20 kg: 40 ml + 2 ml/kg/jam setiap kg di atas 20 kg
(1000 ml + 50 ml/kg di atas 10 kg)
> 20 kg : 60 ml + 1 ml/kg/jam setiap kg di atas 20 kg
(1500 ml + 20 ml/kg di atas 20 kg)
· K+ 2 mEq/kg (2-3 mEq/kg)
· Na+ 2 mEq/kg (3-4 mEq/kg)
2. JENIS CAIRAN INTRAVENA
1.
Cairan Kristaloid
·
BM rendah ( < 8000 Dalton ) dengan atau tanpa glukosa
·
Tekanan onkotik rendah, sehingga cepat terdistribusi ke
seluruh ruang ekstraseluler
·
Mengandung elektrolit: Ringer lactate, Ringer's solution,
NaCl 0,9 %
·
Tidak mengandung elektrolit: Dekstrosa 5 %
2.
Cairan Koloid
·
BM tinggi ( > 8000 Dalton )
· Tekanan onkotik tinggi, sehingga sebagian besar akan
tetap tinggal di ruang intravaskuler
· Termasuk golongan ini: Albumin, Plasma protein frac-
tion: Plasmanat, Produk darah : sel darah merah,
Koloid sintetik: Dekstran, Hydroxyethyl starch
3.
Cairan Khusus
·
Dipergunakan untuk indikasi khusus atau koreksi; misal:
NaCl 3 %, Sodium-bikarbonat, Mannitol, Natrium laktat
hipertonik
Ada pula cairan kombinasi, misal: Ringer dan Dekstrosa 5 %;
NaCl 0,45 % dan Dekstrosa 5 %.
Osmolaritas adalah konsentrasi osmolal suatu larutan bila
dinyatakan sebagai osmol per liter larutan (osm/L).
Osmolalitas adalah konsentrasi osmolal suatu larutan bila
dinyatakan sebagai osmol per kilogram air (osm/kg).
Tonisitas merupakan osmolalitas relatif suatu larutan.
Terapi Cairan dan Darah
Ery Leksana
SMF/Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif,
RSUP Dr. Kariadi / Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 304
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 304
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM
305
| MEI - JUNI 2010
Osmolaritas total setiap kompartemen adalah 280 300
mOsm/L.
Larutan dikatakan isotonik, jika tonisitasnya sama dengan
tonisitas serum darah yaitu 275 295 mOsm/kg.
Osmosis adalah bergeraknya molekul ( zat terlarut ) melalui
membran semipermeabel dari larutan dengan kadar rendah
menuju larutan dengan kadar tinggi sampai kadarnya sama.
Seluruh membran sel dan kapiler permeabel terhadap air,
sehingga tekanan osmotik cairan tubuh di seluruh kompar-
temen sama. Membran semipermeabel dapat dilalui air (
pelarut ), tetapi tidak dapat dilalui zat terlarut.
Difusi adalah peristiwa bergeraknya molekul melalui pori-
pori. Larutan akan bergerak dari yang berkonsentrasi
tinggi menuju konsentrasi rendah.Tekanan hidrostatik di
dalam pembuluh darah akan mendorong air secara difusi
masuk melalui pori-pori. Difusi tergantung kepada tekanan
hidrostatik dan perbedaan konsentrasi.
Perpindahan air dan zat terlarut di bagian tubuh menggu-
nakan mekanisme transpor pasif dan aktif.
Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energi; me-
kanisme transpor aktif membutuhkan energi berkaitan den-
gan Na-K Pump yang membutuhkan energi ATP.
Kalium-Sodium pump adalah pompa yang memompa ion
natrium keluar melalui membran sel dan pada saat yang
bersamaan memompa ion kalium ke dalam sel. Bekerja un-
tuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel.
Jenis cairan berdasarkan tujuan terapi:
1. Cairan rumatan ( maintenance ).
Bersifat hipotonis: konsentrasi partikel terlarut < konsentrasi
cairan intraseluler (CIS); menyebabkan air berdifusi ke da-
lam sel.
Tonisitas < 270 mOsm/kg; misal: Dekstrosa 5 %, Dekstrosa
5 % dalam Salin 0,25 %
2. Cairan pengganti ( resusitasi, substitusi )
Bersifat isotonis: konsentrasi partikel terlarut = CIS; no net
water movement melalui membran sel semipermeabel
Tonisitas 275 295 mOsm/kg; misal : NaCl 0,9 %, Lactate
Ringer's, koloid
3. Cairan
khusus
Bersifat hipertonis: konsentrasi partikel terlarut > CIS; me-
nyebabkan air keluar dari sel, menuju daerah dengan kon-
sentrasi lebih tinggi
Tonisitas > 295 mOsm/kg; misal: NaCl 3 %, Mannitol, Sodi-
um-bikarbonat, Natrium laktat hipertonik
3. TERAPI CAIRAN DURANTE OPERASI
Sebelum operasi pasien akan dipuasakan selama 6 jam (de-
wasa) atau 4 jam (bayi dan anak)
Zat yang hilang selama puasa, setiap jamnya :
· Air
60 ml
· KH
2,6 g
· Na
+
1,8 mEq
· Lemak
5,6 g
· K
+
2,4 mEq
· Protein 6,4 g
Durante operasi diberi cairan:
· Pengganti puasa 2 ml/kg/jam
· Pemeliharaan
2 ml/kg/jam
· Stres operasi:
Dewasa
Anak
Operasi kecil
4 ml/kg/jam
2 ml/kg/jam
Operasi sedang
6 ml/kg/jam
4 ml/kg/jam
Operasi besar
8 ml/kg/jam
6 ml/kg/jam
· Transfusi jika: pada dewasa perdarahan > 15 % EBV; pada
bayi dan anak perdarahan > 10 % EBV. Jika menggunakan
koloid, sesuai jumlah perdarahan; jika kristaloid, 3 x jumlah
perdarahan
4. DEHIDRASI
Derajat dehidrasi:
Dewasa
Bayi dan Anak
Dehidrasi ringan
4 % bb
5 % bb
sedang
6 % bb
10 % bb
berat
8 % bb
15 % bb
Tanda klinis dehidrasi :
Ringan
Sedang
Berat
Defi sit
3-5 %
6-8 %
10 %
Hemodinamik takikardia
takikardia
takikardia
nadi lemah
nadi sangat lemah
nadi tak teraba
kolaps volume
akral dingin
hipotensi
ortostatik
sianosis
Jaringan
lidah kering
lidah keriput
atonia
turgor turun
turgor kurang
turgor buruk
Urin pekat
jumlah
kurang
oliguria
SSP mengantuk
apatis koma
Tindakan:
1. Tentukan
defi sit
2. Atasi syok: cairan infus 20 ml/kg dalam ½ - 1 jam, dapat
diulangi
3. Sisa
defi sit:
- 50 % dalam 8 jam pertama
- 50 % dalam 16 jam berikutnya
Cairan: Ringer Lactate (RL) atau NaCl 0,9 % (RL adalah
cairan paling fi siologis untuk tubuh)
Jenis dehidrasi:
1. Dehidrasi
hipertonik:
-
kehilangan air lebih besar dari Na
+
- kadar Na
+
> 145 m.mol/L
- osmolalitas serum > 295 m.Osm/L
- terapi:
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 305
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 305
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM
306
| MEI - JUNI 2010
·
Dekstrosa 5 % dalam NaCl 0,45 % atau 5 % Dextrose in
half strength Ringer's lactate atau
·
fase I : 20 ml/kg NaCl 0,9 % atau RL
fase II : Dekstrosa 5 % dalam NaCL 0,45 % diberikan
48 jam agar tidak terjadi edema otak dan kematian
Kelebihan Na
+
: ( X 140 ) x BB x 0,6 = mg
Defi sit cairan : {( X 140) x BB x 0,6}:140 = L
Kecepatan koreksi maksimal 2 mEq/L/jam
2. Dehidrasi isotonik:
- kehilangan air sama dengan Na
+
- kadar Na
+
135 145 m.mol/L
- osmolalitas serum 275 295 m.Osm/L
- terapi:
·
NaCl 0,9 % atau Dekstrosa 5 % dalam NaCl 0,225 %
·
20 ml/kg NaCl 0,9 % atau RL
3. Dehidrasi hipotonik :
- kehilangan air lebih kecil dari Na
+
- kadar Na
+
< 135 m.mol/L
- osmolalitas serum < 275 mOsm/L
- terapi:
·
NaCl 0,9 % disertai Dekstrosa 5 % dalam NaCl 0,225 %
untuk the rest of fl uid defi cit atau
·
phase I: 20 ml/kg 0,9 % NaCl atau RL
phase II: tambahkan defi sit natrium
Koreksi defi sit Na
+
= ( Na
+
yang diinginkan Na
+
aktual ) x
0,6 x BB
Koreksi Na
+
diberikan > 24 jam, agar tidak terjadi injuri susu-
nan saraf pusat
Dehidrasi isotonik atau isonatremik adalah jenis dehidrasi
yang paling sering terjadi (80 %).
5. RESUSITASI CAIRAN
Tujuan resusitasi cairan adalah untuk memperbaiki volume
sirkulasi, agar tidak terjadi gangguan perfusi jaringan dan
oksigenasi sel, sehingga dapat mencegah iskemi jaringan
dan gagal organ.
Pemilihan jenis cairan harus atas dasar pertimbangan kom-
partemen yang terganggu atau yang mengalami defi sit.
Defi sit cairan jika tidak segera diresusitasi cairan akan me-
nyebabkan syok dengan segala akibatnya.
Defi sit cairan intraseluler
Kadar natrium yang tinggi, menunjukkan defi sit cairan in-
traseluler.
Larutan elektrolit hipotonis akan mengisi kompartemen
intraseluler lebih banyak daripada kompartemen intra-
vaskuler dan interstisial sehingga lebih tepat diberikan pada
keadaan dehidrasi yang telah berlangsung lama. Konsen-
trasi Na+ larutan ini lebih rendah daripada konsentrasi Na+
plasma. Glukosa ditambahkan untuk membuat agar larutan
menjadi isotonik.
Di dalam tubuh, glukosa dari cairan infus akan cepat men-
galami metabolisme menjadi air sehingga tekanan osmo-
tiknya menjadi lebih rendah dari plasma.
Pada defi sit cairan intraseluler dapat diberi cairan hipotonis
seperti D5W (5% Dextrose in water) atau cairan yang ban-
yak mengandung K+, Mg++, HPO4-.
Cairan hipotonis mempunyai osmolaritas lebih rendah dari
serum ( kadar Na+ lebih rendah) sehingga pemberiannya
akan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan akan "di-
tarik" dari dalam pembuluh darah ke jaringan sekitar ( prin-
sip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas
tinggi ) sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju.
Resusitasi dinyatakan berhasil, apabila:
· MAP (Mean Arterial Pressure) 65 mmHg
· CVP (Central Venous Pressure) 8 12 mmHg
· Urine output 0,5 ml/kg/jam
· Central venous ( vena cava superior ) atau mixed venous
oxygen saturation 70 %
· Status mental normal
Red blood cells excess ( hemokonsentrasi ).
Kadar hematokrit ( Ht ) 50 % - 65 %, bahkan sampai 80 %.
Keadaan ini dapat menyebabkan: trombosis, sludging dan
restrictive circulation.
Terapi: Albumin atau Kristaloid untuk menurunkan hema-
tokrit maksimum 65 %.
II. TRANSFUSI
Tujuan transfusi adalah untuk memperbaiki sirkulasi volume
darah dan oxygen carrying capacity.
Transfusi darah masih berperan penting pada penanganan
syok hemoragik dan diperlukan bila kehilangan darah men-
capai 25 % volume darah sirkulasi.Pada syok lain darah ber-
guna mengembalikan curah jantung bila hematokrit rendah
atau bila cairan gagal mempertahankan perfusi.
Kadar Hb 8 g% masih efektif untuk memenuhi kebutuhan
oksigen jaringan.Pada pasien kritis transfusi sel darah merah
(red blood cells) diberikan bila Hb < 7 g%, kecuali terdapat:
penyakit arteri koroner, perdarahan akut atau asidosis laktat.
Ambilan oksigen (oxygen uptake) adalah petunjuk lebih
rasional saat diperlukannya transfusi daripada kadar hemo-
globin. Ambilan oksigen akan menjadi fl ow dependent bila
ekstraksi oksigen (oxygen extraction) tidak berubah sebagai
respon terhadap aliran darah.
Keadaan fl ow dependent ini terutama terjadi pada penyakit
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 306
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 306
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM
307
| MEI - JUNI 2010
serius, sehingga lebih baik mempertahankan curah jantung
untuk mempertahankan suplai oksigen ke jaringan.
Risiko transfusi:
· Acute: overload, reaksi alergi, reaksi hemolitik, demam,
emboli udara.
·
Delayed: infeksi dan imunosupresi.
Transfusi dapat menggunakan whole blood atau packed red
cells. Pada perdarahan akut harus diberikan whole blood.
Kriteria transfusi dengan packed red cells:
·
Hb < 8 g/dL
· Hb 8 10 g/dL, normovolemik disertai tanda-tanda
gangguan miokardium, serebral dan respirasi
· Perdarahan hebat: 10 ml/kg pada 1 jam pertama atau >
5 ml/kg pada 3 jam pertama
Untuk meningkatkan Hb, transfusi dengan:
· Whole blood: ( Hbx Hb pasien ) x BB x 6 = ml
· Packed red cells: ( Hbx Hb pasien ) x BB x 3 = ml
Volume darah adalah volume plasma ( 5 % BB ) ditambah
eritrosit ( 2 % BB ), sehingga volume darah adalah 7 % berat
badan.
Cara lain menghitung volume darah, berdasarkan estimated
blood volume (EBV):
· Neonatus
90 ml/kg
· Bayi dan Anak
80 ml/kg
· Dewasa
70 ml/kg
Gangguan koagulasi:
· Prothrombin Time dan Partial Thromboplastin Time
memanjang, berikan
Fresh Frozen Plasma: 10 ml/kg
· ACT > 120 detik, berikan Protamine: 1 mg/kg
· Trombositopenia, berikan Faktor trombosit
· Fibrinogen < normal, berikan Kriopresipitat: 5 ml/kg
Perdarahan
Variabel
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Kelas IV
Sistolik (mmHg)
> 110
> 100
> 90
< 90
Nadi (x/menit)
< 100
> 100
> 120
> 140
Nafas (x/menit)
16
16-20
21-26
> 26
Mental
anxious agitated confused lethargy
Kehilangan darah
750 ml
750-1500 ml
1500-2000 ml
> 2000 ml
< 15 %
15-30%
30-40 %
> 40 %
Maximal allowable blood loss: {( Ht 30 ) : Ht } x EBV.
DO
2
= CO x CaO
2
= 640 1400 ml/menit.
CaO
2
( kandungan oksigen arterial ) berkaitan dengan satu-
rasi oksigen arterial (SaO
2
) dan Hb.
VO
2
( oxygen uptake = demand = consumption ) atau ambi-
lan oksigen dapat digunakan untuk menilai oksigenasi jarin-
gan yang adekuat.
VO
2
meningkat setelah curah jantung meningkat, tetapi
VO
2
tidak akan meningkat setelah peningkatan hematokrit
pasca transfusi darah. Ini menunjukkan bahwa ambilan oksi-
gen ( VO
2
) lebih rasional dipakai sebagai petunjuk perlunya
transfusi dibanding hemoglobin serum secara individual.
VO
2
= CO x ( CaO
2
CvO
2
) x 10
= 180 280 ml/menit.
CaO
2
= ( Hb x 1,37 x SaO
2
) + ( 0,003 x PaO
2
)
CvO
2
= ( Hb x 1,37 x SvO
2
) + ( 0,003 x PvO
2
)
SaO
2
= 93 98 %
SvO
2
= 65 75 %
Rasio ekstraksi oksigen ( O
2
ER ) = VO
2
/DO
2
x 100
O
2
ER = 0,25 0,30
III. CAIRAN UNTUK RESUSITASI
Cairan untuk resusitasi umumnya bersifat isotonis atau ter-
gantung kompartemen yang akan diresusitasi.
Golongan Kristaloid
1. Ringer's Lactate
Cairan paling fi siologis jika diperlukan volume besar.
Banyak digunakan sebagai terapi cairan pengganti (resus-
itasi atau replacement therapy), misalnya pada: syok hipov-
olemik, diare, trauma dan luka bakar.
Laktat dalam RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi
bikarbonat untuk memperbaiki keadaan, misal asidosis me-
tabolik.
Kalium dalam RL tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,
apalagi untuk kasus defi sit kalium.
Tidak mengandung glukosa, sehingga sebagai cairan ruma-
tan (maintenance) harus ditambah glukosa untuk mencegah
ketosis.
Pemberian maksimal 2000 ml per hari.
2. NaCl 0,9 % ( Normal saline )
Dipakai sebagai cairan resusitasi (replacement therapy ),
terutama pada kasus:
· kadar Na
+
rendah
· jika RL tidak cocok (alkalosis, retensi K
+
)
· cairan terpilih untuk trauma kepala
· untuk mengencerkan eritosit sebelum transfusi
Mempunyai kekurangan:
· tidak mengandung HCO
3
· tidak mengandung K
+
· kadar Na
+
dan Cl
relatif tinggi, sehingga dapat terjadi
asidosis hiperkloremia, asidosis dilusional, dan hiperna-
tremia
Pemberian maksimal 1500 ml per hari
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 307
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 307
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM
308
| MEI - JUNI 2010
3. Dekstrosa 5 %
Dipergunakan sebagai cairan rumatan (maintenance) pada
pasien dengan pembatasan asupan natrium atau sebagai
cairan pengganti pada pure water defi cit.
Penggunaan perioperatif:
· berlangsungnya metabolisme
· menyediakan kebutuhan air
· mencegah hipoglikemi
· mempertahankan protein yang ada; dibutuhkan mini-
mal 100 g karbohidrat untuk mencegah dipecahnya
kandungan protein tubuh
· menurunkan kadar asam lemak bebas dan keton
· mencegah ketosis, dibutuhkan minimal 200 g karbohid-
rat
Cairan infus mengandung dekstrosa, khususnya Dekstrosa 5
% tidak boleh diberikan pada pasien trauma kepala (neu-
ro-trauma) karena dekstrosa dan air akan berpindah secara
bebas ke dalam sel otak. Di dalam sel otak (intraseluler),
dekstrosa akan dimetabolisir yang akan menyebabkan ede-
ma otak.
Golongan Koloid
1. HES
(
Hydroxyethyl Starch )
a. Pelarut NaCl 0,9 %: Wida HES, HES Steril
b. Pelarut elektrolit berimbang: FIMAHES
2. Gelatin
3. Dekstran
4. Albumin
Keuntungan HES:
· menyumpal kebocoran ( sealing effect )
· memiliki efek antiinfl amasi, dengan cara menghambat
produksi mediator infl amasi NF-Kappa , sehingga da-
pat digunakan pada kasus infl amasi ( sepsis )
Jumlah cairan yang diperlukan :
PV = volume infus ( PV/dV )
(1)
PV = perubahan PV yang diharapkan
dV = volume distribusi cairan infus
Contoh:
Penderita BB 50 kg perdarahan 2 L.
1. Berapa jumlah D5W (5 % Dextrose in water) diperlu-
kan?
PV = 2 L
PV = 5 % x 50 kg = 2,5 L
dV = seluruh kompartemen = 60 % x 50 kg = 30 L
2 L = volume infus ( 2,5/30 )
2 L = volume infus ( 1/12 ) volume infus = 24 L
Diperlukan: 24 L 5 % Dextrose in water.
2. Berapa jumlah NaCl 0,9 % diperlukan ?
PV = 2 L
PV = 5 % x 50 kg = 2,5 L
dV
=
Na
+
terbanyak pada kompartemen ekstraseluler
= 20 % x 50 kg = 10 L
2 L = volume infus ( 2,5/10 )
2 L = volume infus ( 1/4 ) volume infus = 8 L
Diperlukan: 8 L NaCl 0,9 %
3. Berapa jumlah koloid diperlukan ?
PV = 2 L
PV = 5 % x 50 kg = 2,5 L
dV = koloid tempatnya di plasma
= Plasma = PV = 2,5 L
2 L = volume infus ( 2,5/2,5 ) volume infus = 2,5 L
Diperlukan koloid: 2,5 L.
Catatan
· CVP dengan ventilator N = 12 15 mmHg.
· Terapi cairan akan mempengaruhi keseimbangan asam-
basa.
Kristaloid digunakan sebagai cairan dan kompensasi terh-
adap insensible loss selama pembedahan.
NaCl 0,9 % isotonis dengan plasma, didistribusi terutama ke
ekstraseluler; dapat menyebabkan asidosis metabolik hiper-
kloremia, memperburuk splanchnic perfusion yang ditandai
dengan penurunan urine outfl ow dan keluhan abdomen.
Istilah asidosis dilusional menunjukkan adanya ekspansi
plasma yang menyebabkan reaksi dilusional dari bikarbonat
plasma.
Menurut teori keseimbangan asam-basa Stewart, hiperk-
loremia akan menurunkan strong ion difference ( SID ). SID
dan PaCO2 merupakan independent variable, sedangkan
konsentrasi ion hidrogen dan bikarbonat merupakan de-
pendent variable.
Larutan Ringer Laktat banyak digunakan sebagai cairan
pengganti.
Ringer Laktat tidak menambah asidosis, sebab jika sirku-
lasi pulih kembali, produksi asam laktat akan berkurang. Di
samping itu, sirkulasi yang membaik akan membawa tim-
bunan asam laktat ke hati, yang melalui siklus Krebs akan
dibuffer oleh bikarbonat menjadi asam karbonat yang
dilepas melalui paru-paru.
Koloid banyak digunakan untuk mempertahankan volume
darah sirkulasi.
Produk Hextend merupakan plasma volume expander yang
mengandung 6 % hetastarch di dalam larutan elektrolit ber-
imbang, laktat dan glukosa ( hetastarch 60g/L, natrium 143
mmol/L, klorida 124 mmol/L, kalsium 2,5 mmol/L, kalium 3
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 308
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 308
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM
309
| MEI - JUNI 2010
mmol/L, magnesium 0,45 mmol/L, glukosa 0,99 g/L, laktat
28 mmol/L ).
Syok hemoragik dapat menyebabkan hypercoagulable
state yang berkaitan dengan komplikasi hemoragik dan
trombotik pada periode pasca operasi.
Hextend dapat menurunkan aktivitas heparin dan anti-
trombin II, sehingga terjadi percepatan inisiasi pembekuan
darah.
Strategi untuk rehidrasi harus memperhitungkan: defi sit
cairan, cairan rumatan dan kehilangan cairan yang sedang
berlangsung.
Cara rehidrasi:
1. Hitung derajat dehidrasi
Jumlah cairan yang diberikan = derajat dehidrasi ( % ) x
BB x 1000 ml
2. Hitung cairan rumatan.
Bayi dan Anak: rumus 4,2,1
Dewasa: 40 ml/kg/24 jam atau rumus 4,2,1
3. Pemberian cairan (Guillot).
· 6 jam I = ½ dari jumlah cairan yang diberikan + ¼ cairan
rumatan
18 jam II = ½ cairan yang diberikan + ¾ cairan rumatan
· 8 jam I = ½ cairan yang harus diberikan + ½ cairan ruma-
tan
16 jam II = ½ cairan yang harus diberikan + ½ cairan
rumatan
DAFTAR PUSTAKA
1. Sunatrio S. Resusitasi Cairan. Media Aesculapius FKUI: Jakarta, 2000 Agus-
tus.
2. Balk AR, Ely EW, Goyette RE. Sepsis Hand Book. Society of Critical Care
Medicine. 2nd ed. 2004
3.
Giesecke AH, Egbert LD. Perioperative Fluid Therapy Crystalloid. Miller RD
(ed). Anaesthesia, 2nd ed., Churchill Livingstone: New York, Melbourne,
1986.
4. Surjiani-Karsono. Prinsip Dasar Resusitasi Cairan. PT Widatra Bhakti: 2005.
5. http: // koas kamar 13.wordpress.com/2007/11/09/terapi-cairan
6. Pedoman Cairan Infus. Edisi VI PT Otsuka Indonesia: 1996.
7. Fluid
Replacement.http://en.wikipedia.org/wiki/fl uid replacement
8. Smith RM. Anesthesia for Infants and Children. Fluid therapy and
Blood replacement. 4th ed. The CV Mosby Company. St Louis, Toronto,
London,1980:566-67.
9. Arifi anto. Pemberian cairan intravena.
Available from URL http: //www.sehatgroup.web.id/guidelines/isi Guide
asp? Guide ID=6.
10. Hiponatremia dan hipernatremia.
h t t p : / / t e r a p i c a i r a n . w e t p a i n t . c o m / p a g r / H i p o n a t r e m i a + d a n +
Hipernatremia?t=anon.
11. Robert KB. Fluid defi cit.
http: www.elmhurst.edu/~chm/vc henbook/255fl uiddefi cit.html
12. Hartanto WW. Terapi Cairan Dan Elektrolit Perioperatif. Bag. Farmakologi
Klinik dan Terapeutik. FK Unpad 2007.
13. Huang LH, Anchala KR, Ellsbury DL, George CS. Dehydration: Treatment &
Medication. http://emedicine.medscape.com/article/906999-treatment
14. Yarboro Y, Janoff S. Dehydration.
http:
//yourtotalhealth.ivillage.com/dehydration.html?pageNum=9
15. Mcllwaine JK, Corwin HL. Hypernatremia and Hyponatremia in Fink MP,
Abraham E, Vincent JL, Kochanek PA. Textbook of Critical Care, 5th ed.
Elsevier Saunders. Philadelphia, Pennsylvania, 2005: 63-65.
PRAKTIS
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 309
CDK ed_177 mei ok2 DR (282-320).indd 309
4/26/2010 8:45:18 PM
4/26/2010 8:45:18 PM