221
| APRIL 2010
M
engurangi takaran ribavirin
menjadi di bawah 12mg/kg/
hari dalam terapi kombinasi
untuk mengobati infeksi virus hepati-
tis C (HCV) kronis dapat menyebabkan
peningkatan kemungkinan kambuh.
Hal itu dilaporkan peneliti dalam Jour-
nal of Viral Hepatitis edisi Agustus
2009. Namun, apabila tingkat ribavirin
yang sesuai dipertahankan, takaran
interferon pegilasi dapat dikurangi
secara aman setelah 12 minggu tanpa
meningkatkan risiko kegagalan pen-
gobatan.
Ribavirin, yang memiliki kegiatan anti-
virus dan mengatur kekebalan, terbuk-
ti mengurangi risiko kambuhan pada
pasien yang menerima terapi berbasis
interferon. Terapi yang baku meng-
himbau penggunaan takaran ribavirin
berdasarkan berat badan, untuk me-
mastikan agar pasien yang lebih berat
pun mencapai tingkat yang sesuai,
tetapi waktu yang optimal, takaran
rejimen, dan pajanan obat yang ideal
tidak sepenuhnya ditentukan.
Dalam penelitian ini, peneliti meni-
lai dampak pajanan ribavirin terha-
dap kambuhan secara virologi pada
984 pasien HCV kronis dengan HCV
genotipe 1 yang diobati dengan in-
terferon pegilasi alfa-2b plus ribavirin.
Pajanan obat dari setiap jenis obat di-
hitung berdasarkan rata-rata takaran
yang benar-benar dipakai.
Hasil
» Pengurangan takaran ribavirin se-
cara bertahap dikaitkan dengan
peningkatan tingkat kambuhan
secara bertahap, dari 11% men-
jadi 60%.
» Untuk pasien dengan tanggapan
virologi awal penuh (early virologi-
cal response/EVR) didefi nisikan
sebagai RNA HCV tidak terdeteksi
pada minggu ke 12 hanya 4% di
antara pasien yang menerima ta-
karan ribavirin 12mg/kg/hari atau
lebih, yang mengalami kambuhan
virus.
» Pajanan ribavirin terus mempen-
garuhi tingkat kambuhan bahkan
setelah minggu ke-12.
Namun, takaran interferon pegilasi
dapat dikurangi menjadi 0,6mcg/kg/
minggu setelah minggu ke-12 tanpa
meningkatkan risiko kambuhan.
Pada 472 pasien yang memiliki viral
load HCV tidak terdeteksi pada ming-
gu ke-24 dan minggu ke-48, analisis
multivariat menunjukkan bahwa faktor
yang berkaitan secara bermakna de-
ngan kambuhnya virus adalah:
» Tingkat fi brosis hati (p = 0,002);
»
Waktu saat seseorang menjadi
RNA HCV-negatif (p < 0,001);
» Rata-rata takaran ribavirin (p <
0,001).
Sebaliknya, takaran pegilasi interferon
memprediksi tingkat kambuhan seca-
ra bermakna.
Berdasarkan temuan ini, para peneli-
ti menyimpulkan, "Mempertahankan
takaran ribavirin setinggi mungkin
(12mg/kg/hari) selama masa pengo-
batan penuh dapat mengarah pada
penekanan tingkat kambuhan HCV
genotipe; pasien menanggapi pegilasi
interferon alfa-2b plus ribavirin, teruta-
ma pada pasien EVR secara penuh."
Sumber: Hiramatsu N, Oze T, Yakushi-
jin T et al. Ribavirin dose reduction
raises relapse rate dose-dependently
in genotype 1 patients with hepatitis
C responding to pegylated interferon
alpha-2b plus ribavirin. J. Viral Hepati-
tis 2009;16(8): 586-594. (Abstract).
Pengurangan Dosis Ribavirin
Meningkatkan Risiko Kambuhan
pada Pasien Hepatitis C Kronis
BERITA
TERKINI
CDK ed_176 april [hal 195-240]_dr.indd 221
3/26/2010 1:49:43 PM