background image
S
efalosporin adalah salah satu antibiotika yang sering
digunakan dalam klinik; termasuk golongan beta laktam
karena memiliki struktur kimia cincin beta laktam.
1
Gambar: Struktur inti sefalosporin
Berdasarkan aktivitas antibakterinya, sefalosporin diklasifikasi-
kan menjadi 5 generasi.
1-4
Resistensi bakteri terhadap antibiotika adalah salah satu masalah
serius saat ini di dunia
5
; antibiotika seperti sefaloporin generasi
satu sampai ke tiga sering kurang efektif. Adanya sefalosporin
generasi ke empat seperti cefepime yang mempunyai spektrum
luas berpotensi menurunkan kemungkinan bakteri resisten
terhadap sefalosporin.
Struktur kimia
Gambar: Struktur kimia cefepime
Gugus N-methylpyrrolidine meningkatkan penetrasi cefepime
terhadap bakteri gram negatif. Muatan positif dari gugus nitrogen
kuarterner dan muatan negatif dari gugus karboksil menyebab-
kan cefepime menjadi suatu zwitter ion sehingga mempercepat
penetrasi cefepime ke dinding sel bakteri (sekitar 5-15 kali lebih
cepat dibandingkan sefalosporin generasi 3).
6
FARMAKODINAMIK
Mekanisme kerja
Cefepime menghambat sintesis dinding sel bakteri; efeknya
bakterisidal (membunuh bakteri).
Spektrum aktivitas antibakteri
Cefepime memiliki spektrum luas; telah terbukti efektif mengatasi
bakteri patogen gram negatif (seperti Enterobacteriacea, Klebsiella
pneumonia, Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis,
Neisseria gonorrhoeae dan Pseudomonas aeruginosa) dan positif
(seperti Streptococcus pneumonia, Streptococcus pyogenes dan
Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae).
7
Selain itu,
cefepime lebih tahan terhadap enzim
laktamase termasuk
ESBL dan dapat berpenetrasi lebih cepat ke dinding bakteri.
Farmakokinetik
Cefepime terdistribusi ke dalam cairan dan jaringan tubuh seperti
mukosa bronkus, usus buntu, cairan peritoneal, cairan empedu
dan cairan serebrospinal. Ekskresi cefepime terutama melalui
ginjal dalam bentuk utuh (> 80 %).
7
Uji klinik
Efektivitas cefepime telah terbukti melalui uji klinik seperti pada
kasus pneumonia, pasien demam netropenia, infeksi saluran kemih
bagian atas dengan komplikasi (termasuk pielonefritis), infeksi
kulit dan jaringan lunak, infeksi intra abdominal.
8
Berdasarkan
uji klinik juga, cefepime dapat ditoleransi dengan baik. Efek
samping yang sering dilaporkan adalah gangguan saluran cerna
(mual, diare, muntah, konstipasi), sistem saraf (nyeri kepala), dan
kulit (rash).
9
Dosis penggunaan
Disesuaikan dengan tipe infeksinya; secara umum dosis yang
digunakan adalah 500 mg - 2 gram, 2 kali sehari. Khusus untuk
infeksi yang sangat berat/mengancam jiwa dapat digunakan
dosis: 2 gram, 3 kali sehari.
8
Kesimpulan
· Cefepime merupakan sefalosporin generasi 4 yang mem-
punyai
struktur
kimia
zwitter ion yang dapat mempercepat
penetrasinya ke dinding sel bakteri.
· Cefepime mempunyai spektrum yang luas, lebih stabil ter-
hadap enzim beta laktamase sehingga mempunyai potensi
untuk mengatasi bakteri patogen yang telah resisten
terhadap sefalosporin generasi sebelumnya.
· Efektivitas cefepime telah teruji secara klinis dan dari segi
keamanan, cefepime dapat ditoleransi dengan baik.
(CTA)
Referensi:
1. Cefepime. Available from: www.wikipedia.org
2. Prober, CG. Cephalosporins: An Update. Pediatrics in Review. 1998;19:118-27.
3. Ceftobiprole Approved in Canada for Treatment of Complicated Skin Infections.
Available from: http://www.docguide.com/news/content.nsf/news/ 852571020057CC
F6852574780063823B
4. Gould, IM. Do we need fourth-generation cephalosporins?. Clin Microbiol Infect.
1999; 5:S1-5.
5. Furtado,Perdiz, Medeiros. The effect of a 4th generation-cephalosporin introduction
upon the incidence of multidrug-resistant gram negative bacteria in a non-teaching
hospital. American Journal of Infectious Diseases. 2008; 4 (4); 267-71.
6. Gutierrez, K. Pharmacology review: newer antibiotics: cefepime. NeoReviews 2004;5;
e382-6.
7. Scates, AC. Cefepime: A new fourth-generation cephalosporin. US Pharmacist Publication.
8. Vipime. Product information.
9. Cefepime. A review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties and
therapeutic use. Drugs 1994; 47 (3): 471-505.
Sefalosporin Generasi Ke-empat: CEFEPIME
F
aisal (nama panggilan sehari-harinya) sejak kecil - kelas 4 SD -
sudah memakai kaca mata tebal, dan selalu digelari teman-teman
sebayanya sebagai dokter kecil. Dengan gelar dokter kecil itulah, ia
berkembang dewasa dan setamat SMA bercita-cita menjadi dokter.
Cita-citanya tercapai dengan masuk ke Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia dan lulus dokter tahun 1976. Faisal mem-
punyai delapan bersaudara, hanya beliau yang menjadi dokter."Ya
alhamdullilah semuanya menjadi orang walaupun orangtua saya
hanya seorang guru saja," ujar Faisal.
Setelah lulus dokter, Faisal Yunus melanjutkan pendidikan ke spesialis;
ketika itu ada dua pilihan, pertama ke THT atau ke ilmu kesehatan
anak. Tetapi sebelum mengambil spesialis ia berangkat ke Jepang
karena ingin mendapat beasiswa; banyak teman di Jepang memberi
dukungan dan saran, akhirnya Faisal memutuskan mengambil
pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam di Jepang walaupun saat
itu dengan sangat terpaksa. Pada tahun 1983 Faisal lulus dari Post
Graduate Course Dept. of 2nd Internal Medicine, School of Medicine,
Hiroshima University Japan dengan mendapat gelar PhD.
Berbagai kursus tambahan ia geluti baik di dalam negeri maupun di
luar negeri, seperti pada Juli 1988 tentang Fine Needle Aspiration
Biopsy Course di FK Universitas Indonesia Jakarta. Desember 1990
sampai Maret 1991 Training on Bronchoalveolar Lavage and Thoracic
Ultrasonography at Juntendo di Tokyo, Japan. November 1994
Training on Cardiopulmonary Exercise Testing in di Los Angeles,
USA dan banyak kursus lainnya.
Karena pengabdiannya dalam mengajar di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, pada tahun 2003 beliau dikukuhkan sebagai
Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Faisal yang hobinya membaca dan nonton ini, menganggap penting
membagi waktu dengan keluarga, walaupun hanya satu hari dalam
seminggu. "Misalnya hari Minggu hanya untuk keluarga saja, dan
hari Sabtu untuk acara lain, seperti ceramah, seminar atau kegiatan
lainnya," tutur Faisal.
Masalah waktu kerja pun Faisal Yunus sangat disiplin. "Waktu kerja
saya di RS Persahabatan adalah dari pk. 7.00 sampai pk. 16.00.
Setelah itu saya baru ke rumah sakit lain. Sampai saat ini saya ber-
komitmen pada diri saya jangan sampai saya korupsi waktu," ujar Faisal.
Menjadi dokter adalah panggilan jiwa untuk menolong sesama,
inilah prinsip Prof. Faisal Yunus, sehingga sampai saat ini beliau
senang dan bahagia menjadi dokter. "Jarang sekali menderitanya,"
ujar Faisal.
Professor yang mempunyai 3 putra ini berharap agar dokter di
Indonesia menjadi dokter yang jujur, mau mengabdi, dan pintar
menulis. "Sekarang ini jarang sekali dokter itu mau menulis dan
meneliti," ujar Faisal.
Prof. Faisal Yunus sampai saat ini telah menghasilkan 50 artikel
yang dipublikasikan dan 118 artikel yang presentasikan; juga telah
menghasilkan 3 buku panduan mengajar, yaitu buku Pulmonologi
Klinik, buku Diagnosis dan Pengobatan Kanker Paru dan buku
Penyakit Paru Obstruktif Menahun. Banyak penghargaan diterima
dari hasil tulisannya; jumlahnya ia sendiri lupa, salah satu adalah
penghargaan Soedjono Djoened Poesponegoro untuk artikel terbaik
di Majalah Kedokteran Indonesia.
Beberapa jabatan yang pernah beliau pegang baik dalam peker-
jaannya maupun dalam organisasi adalah sebagai Koordinator Riset
di Departemen Pulmonologi dan Respiratori Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Director of Training Progam di Departemen
Pulmonologi dan Respiratori Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
dan Manager of Research and Public Services, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia tahun 2004 - 2008. Selain itu: "diharapkan
dalam waktu dekat kami akan membuat senter pulmonologi di ber-
bagai daerah, seperti yang sudah kami lakukan di Riau, Makassar,
Bali dan Aceh. Insya Allah bulan depan," ujar Faisal.
Beberapa jabatan organisasi yang pernah dipegang, seperti, Ketua
Editor di Jurnal Respirologi Indonesia. Ketua Yayasan Asma Indonesia.
Sampai saat ini beliau masih menjabat Ketua Perhimpunan Dokter
Paru Indonesia dan masih banyak lagi jabatan organisasi.
(REDAKSI)
Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, Sp.P (K)
"Dokter Sebaiknya Jangan Korupsi Waktu"
Spesialis klinik adalah jurusan yang sering dicari oleh dokter yang ingin melanjutkan pendidikan, seperti
spesialis anak, kebidanan,dll. karena spesialis klinik adalah salah satu profesi yang akan menghasilkan
banyak uang. Tetapi tidak juga, tegas Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D, Sp.P(K) saat diwawancara di ruang
kerjanya di Gedung Poli Paru RS Persahabatan Jakarta. Karena menurut dokter yang lahir di Batu Sangkar
Sumatera Barat ini tergantung pada niat, dan seharusnya dokter mempunyai pengabdian untuk menolong
pasien secara ikhlas, walaupun nantinya akan mendapatkan imbalan uang.
I N F O P R O D U K
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
64
63
P R O F I L
background image
A
PCP (Asian-Pacific Congress of Pediatrics) ke-13 ini dilaksanakan
bersamaan dengan APCN (Asian-Pacific Congress of Pediatric
Nursing) ke-3 di Shanghai International Convention Center,
Shanghai, China, pada tanggal 14 - 18 Oktober 2009 dengan
topik "Building a Supportive Environment for Children".
Acara ini diawali dengan kuliah umum pada plenary lecture
dengan topik: "Update on the diagnosis of neonatal sepsis",
dilanjutkan dengan " Child Health under APPA over the past
three decades".
Banyak topik yang dibicarakan di acara ini, di antaranya obesitas
pada anak yang merupakan salah satu problem dibidang pediatrik
yang angka kejadiannya diperkirakan akan meningkat. Perubahan
lingkungan mungkin akan mengubah aktivitas serta diet yang
akan meningkatkan risiko obesitas. Perlu pengenalan dan pe-
nyadaran mengenai dampak yang akan timbul untuk meningkat-
kan efektivitas intervensi selain dukungan dari pemerintah baik
lokal maupun nasional.
Di bidang neurologi anak, ADHD merupakan salah satu topik
yang banyak dibahas. Salah satu presentasi menyatakan bahwa
anak-anak ADHD biasanya mempunyai sisi positif, misalnya
dalam hal musik, ketrampilan, serta keunggulan-keunggulan
lain. Prevalensi gangguan ini diperkirakan mencapai sekitar
3% - 5%; ADHD dapat disertai gangguan lainnya seperti:
ODD, CD dan perilaku antisosial.
Manajemen penanganan asma anak juga melibatkan populasi
dewasa, termasuk mengeliminasi tindakan merokok (baik primer
maupun sekunder), memperbaiki ventilasi dalam ruangan, meng-
hindari polusi lingkungan dengan lebih banyak tinggal di dalam
rumah, selalu menutup jendela dan pintu, membersihkan ruangan
setiap hari untuk mencegah alergen, serta penggunaan saringan
udara jika perlu.
Terapi farmakologis tidak saja untuk serangan asma akut
tetapi juga terapi adiksi nikotin, misalnya dengan replacement
nicotine (patch, spray, permen karet, inhalasi, dsb), bupropion,
serta varenicline tartrate.
Topik infeksi di antaranya mengenai hepatitis virus, TBC dan
HIV pada anak-anak yang juga merupakan salah satu masalah
yang cukup sering di bidang pediatrik.
Demam berdarah atau demam dengue saat ini mempunyai
variasi gejala yang sangat luas, mulai dari gejala-gejala non-flu
like syndrome, sampai derajat yang lebih berat dengan per-
darahan. Vaksin demam berdarah mulai banyak dikembangkan
di Asia dan Amerika Latin; obat-obat antivirus juga tidak ketinggalan
mulai banyak diteliti. Dalam hal demam berdarah, mengontrol
vektor pembawa virus mungkin belum cukup untuk mencegah
dan meng-eradikasi penyakit ini.
Pada simposium ini juga terungkap bahwa manfaat zinc tidak
hanya untuk penanganan diare akut atau untuk mencegah
kekambuhan diare, tetapi juga untuk mencegah pneumonia.
Delegasi Indonesia yang memberikan presentasi adalah: Dr.
Sukman Tulus Putra SpA(K),FACC,FESC dengan topik
"Critical congenital heart disease in the neonates: early detec-
tion and initial treatment", Prof. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro
SpA(K), dengan topik: "Increased awareness on pneumonia
detection in Indonesia through advocacy to health care workers
and media journalist " dan topik "Ten-year evaluation of adverse
event following immunization in Indonesia 1998-2008", dan
Prof. dr. Yati Sunarto, PhD. SpA(K) yang menyampaikan
topik "The road from the early era of discovery to vaccine
development; rotavirus diarrhea in Indonesia".
Pertemuan ini juga dilengkapi dengan presentasi makalah
bebas dan presentasi poster sebagai ajang para peneliti muda
untuk menyampaikan hasil penelitiannya, sekaligus berkom-
petisi untuk menjadi yang terbaik.
(KTW)
13
th
APCP (Asian-Pacific Congress of Pediatrics) and
3
rd
APCN (Asian-Pacific Congress of Pediatric Nursing)
14 ­ 18 Oktober 2009, Shanghai International Convention Center ­ Shanghai, China
LAPORAN KHUSUS
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
66
IKLAN
VIPIME