CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
537
LAPORAN KHUSUS
D
unia kedokteran telah jauh berkembang sejak John Snow
mengamati adanya perbedaan insidens diare di dua daerah
yang air minumnya dipasok oleh dua perusahaan yang ber-
beda; demikian pula pengetahuan mengenai infeksi didahului
oleh pengamatan Semmelweiss atas penurunan kejadian infeksi
purpueral/infeksi nifas setelah petugas kesehatan mencuci
tangan mereka sebelum menolong persalinan.
Usaha mencari penyebab penyakit selalu didahului oleh
pengamatan adanya perbedaan kejadian penyakit di antara
kelompok yang berbeda; prinsip inilah yang antara lain menjadi
landasan berkembangnya penelitian epidemiologis.
Dimulai dari penelitian penyakit menular, epidemiologi telah
merambah ke penyakit tidak menular; setiap orang tentu
pernah mendengar tentang studi Framingham suatu peneli-
tian kohort besar yang banyak menyumbangkan pengetahuan
baru mengenai faktor-faktor risiko berbagai penyakit degene-
ratif, terutama hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya.
Demikian pula penyakit degeneratif di bidang neurologi seperti
demensia, penyakit Parkinson atau sklerosis multipel makin
menjadi masalah kesehatan masyarakat seiring dengan makin
bertambahnya usia harapan hidup.
Pemahaman penyakit-penyakit tersebut memerlukan data epide-
miologis, terutama jika perjalanan penyakit tersebut bisa di-
pengaruhi oleh kondisi lingkungan, diet dan pola hidup masyarakat.
Dengan makin berkembangnya pemahaman epidemiologi, juga di
kalangan neurologi, maka penyelenggaraan Kongres Internasional
Neuroepidemiologi Klinik menjadi sangat relevan dan penting.
Kendati tidak semegah kongres-kongres internasional lain
(epidemiologi belum menarik minat industri farmasi !) , cukup
banyak diskusi dan kursus yang membuka wawasan baru.
Prof. Valery Feigin dari Selandia Baru-ketua kongres-dalam
sambutan pembukaannya mengungkapkan besarnya beban
ekonomi stroke; yang menjadi masalah adalah adanya kecen-
derungan penurunan insidens di high-income countries - data
menunjukkan penurunan insidens sebesar 42%, sebaliknya
meningkat lebih dari 100 % di low-to middle-income countries
dalam kurun waktu 1970 - 2008. Beliau juga mengungkapkan
adanya ketimpangan data hanya 20% data berasal dari low-
to middle-income countries. Data epidemiologis ini penting untuk
mengantisipasi besarnya beban kesehatan yang harus ditang-
gung, sekaligus untuk mencari langkah-langkah pencegahan.
Usaha mencari faktor risiko dilakukan secara epidemiologis
terhadap petanda genetik, sistim scoring, maupun terhadap
petanda aterosklerosis seperti ketebalan tunika intima karotis
dan ankle brachial index.
Upaya mendeteksi dini demensia melalui pemeriksaan baik
pencitraan maupun biokimiawi belum memuaskan. Pencitraan saat
ini terpusat pada upaya mencari korelasi antara atrofi - khususnya
di hipokampus dan daerah temporal medial ; namun sampai saat ini
belum didapatkan parameter yang memuaskan; penelitian cairan
serebrospinal menunjukkan penurunan kadar Aß42 dan pening-
katan kadar protein tau dan fosfo tau di kalangan demensia. Saat
ini sedang berlangsung studi longitudinal yang menggunakan
pengukuran parameter di atas - adakah korelasi perubahannya
dengan data klinis demensia.
Prof. Bruno Dubois mengusulkan konsep baru diagnosis demensia
untuk keseragaman kriteria penelitian agar hasilnya valid, termasuk
kesepakatan penggunaan tes-tes neuropsikologi.
Carol Brayne dari Cambridge mengharapkan bahwa hasil studi
epidemiologi (antara lain uji validitas tes-tes tersebut) bisa ber-
kontribusi dalam menyempurnakan kriteria diagnostik klinis.
Beliau juga mengungkapkan studi MRC yang sedang berjalan di
Inggris, yang antara lain menguji algoritma diagnosis demensia.
Beliau juga mengharapkan agar hasil riset bisa diaplkasikan ke situasi
klinis, dan lebih baik lagi jika bisa berguna di situasi masyarakat
(real world setting).
Studi fitoterapi untuk demensia sampai saat ini belum menggem-
birakan; penelitian di China belum ada yang berdesain uji klinis
buta-ganda. Analisis Cochrane masih menunjukkan hasil yang
tidak konsisten. Kebanyakan zat yang diuji ialah ginkgo biloba
dan huperzine A.
Studi epidemiologi di Afrika menghasilkan angka yang beragam
- 2.3% untuk demensia dan 1.4% untuk Alzheimer di Ibadan,
Nigeria; 3.7% untuk demensia dan 2.8% untuk Alzheimer di Benin.
Sedangkan di Congo antara 6.7% - 8.1%.
Epilepsi dibicarakan oleh Prof. E.Beghi dari Italia. Data epidemiologi
digunakan untuk meramalkan risiko epilepsi setelah berbagai
cedera atau penyakit otak; juga untuk meramalkan efektivitas
pengobatan antiepilepsi pada berbagai keadaan; beliau menda-
patkan kesan bahwa obat antiepilepsi memang efektif mencegah
serangan, tetapi tidak mempengaruhi prognosis jangka panjang.
Rata-rata remisi akan dicapai pada 50% kasus.
Penyakit Parkinson dibicarakan oleh Prof. W.Oertel dari Jerman;
bahasannya lebih banyak mengenai aspek diagnostik dan klinis;
disinggung pula gambaran kelainan yang bisa ditemukan pada
pemeriksaan MRI.
Sesi makalah bebas dikelompokkan menurut topiknya : stroke,
trauma, tumor, epilepsi dan lain-lain; demikian juga halnya dengan
presentasi poster yang dipajang di selasar di luar ruang kongres.
Pada kongres ini juga diselenggarakan kursus mengenai desain
dan metode melakukan berbagai studi epidemiologik seperti rando-
mised controlled trial, survai populasi, studi kohort, studi kasus-
kontrol ; juga bagaimana melakukan systematic review dan panduan
untuk menulis artikel dengan baik, termasuk kiat menulis usulan
penelitian untuk pengajuan bantuan dana. Sayangnya kebanyakan
kursus tersebut dilaksanakan secara paralel dan selain itu biayanya
di luar biaya pendaftaran kongresnya.
Peserta kongres ini dari Indonesia hanya 2 orang dengan dua
makalah satu presentasi oral dan satu lagi dalam bentuk poster.
Kongres berikutnya akan diadakan di Seville, Spanyol pada tahun
2011 diharapkan dapat dihadiri oleh lebih banyak peserta dari
Indonesia, lebih baik lagi jika bisa berperan aktif. (BRW)
1
st
International Congress
on Clinical Neuroepidemiology
Munich, 27 30 Agustus 2009