background image
L A P O R A N K H U S U S
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
56
A
cara pertemuan dan juga sekaligus simposium tahun ini dihadiri
oleh sekitar 2.300 peserta dari berbagai negara yang terdiri dari sebagian
besar dokter ginekologi onkologi, ahli patologi anatomi, hematologi
onkologis, dokter umum, dan berbagai bidang spesialisasi lainnya.
Berikut resume beberapa topik yang disampaikan :
Ca Cervix: Adjuvant Treatments, To Whom and What ?
G.Thomas, Canada
Dalam setting ajuvan pasca radioterapi pada ca serviks stadium IB/IIA,
kemoterapi FU/Platinum secara bermakna terlihat meningkatkan
progression free survival (RT + kemo vs RT : 78% vs 60%; p=0,005).
Manfaat kemoterapi ajuvan tersebut terlihat terutama pada jenis
adenokarsinoma. Hingga 85% pasien memerlukan kemoterapi ajuvan,
dan hasil studi secara tidak langsung menunjukkan adanya peningkatan
survival dengan radioterapi / kemoterapi ajuvan berbasis platinum.
Long-Term Follow-Up Results of the EORTC-Action Trial
I.Vergote, Belgium
Studi ini menilai manfaat kemoterapi ajuvan (berbasis platinum) vs
tanpa kemoterapi ajuvan pada pasien ca ovarium stadium dini pasca
pembedahan (n=925). Hasilnya, terdapat peningkatan recurrence
free survival (HR 0,69; p=0,02). Hasil pemantauan jangka panjang
(median : 10 tahun) memperlihatkan bahwa kemoterapi ajuvan
berbasis platinum meningkatkan overall survival dan disease free survival
terutama pada kelompok risiko sedang (medium risk), sehingga pada
kelompok ini, kemoterapi ajuvan tetap diindikasikan. Sedangkan untuk
kelompok risiko tinggi, manfaat kemoterapi ajuvan tidak terlalu nyata.
Prevention of Cervical Cancers: HPV Vaccination Strategies
Jonathan S. Berek, USA
Saat ini telah teridentifikasi 4 jenis Human Papiloma Virus (HPV) yang
diketahui menyebabkan Ca serviks maupun lesi genital, yaitu tipe
6,11,16, dan 18. Sekitar 70% Ca serviks berhubungan dengan HPV
tipe 16 atau 18. Kini telah tersedia 2 jenis vaksin HPV, yaitu vaksin
bivalent (terhadap tipe 16, 18) dan quadrivalent (terhadap tipe
6,11,16,18), efektifitas keduanya kurang lebih setara. Rekomendasi
vaksinasi HPV saat ini : dianjurkan vaksinasi untuk wanita usia 11-12
tahun atau dapat dimulai paling cepat usia 9 tahun. Bagi yang belum
mendapat vaksinasi, disarankan bagi wanita usia 13 26 tahun.
Untuk pria, dianjurkan divaksinasi bila cakupan vaksinasi pada
wanita rendah (< 50%). Sebaliknya, jika cakupannya sudah cukup
tinggi, maka vaksinasi pria tidak terlalu bermanfaat. Vaksinasi HPV
merupakan cara preventif primer terhadap Ca seviks dan sebaiknya
berjalan sinergis dengan program skrining Ca serviks.
Influence of Detection of Erythropoietin Receptor in Tumour
Tissue on Prognosis in Patients with Breast Carcinoma
B. Volgger, Austria
Studi ini bertujuan menilai hipotesis yang menyatakan bahwa adanya
reseptor epoetin berperan pada turunnya hasil terapi / survival pada
pasien kanker yang mendapat terapi epoetin.
Sampel yang diperiksa berupa jaringan Ca payudara dari 107 pasien
dan jaringan tumor jinak payudara dari 12 pasien sebagai kontrol.
Hasilnya, mRNA reseptor epoetin tidak secara bermakna lebih tinggi
pada jaringan tumor ganas. Ekspresi reseptor epoetin yang tinggi
hanya ditemukan pada 3% kasus. Overall survival juga terlihat tidak
terkait ekspresi reseptor epoetin, namun ditemukan adanya hubungan
bermakna antara reseptor epoetin dengan angka rekurensi lokal
(p<0,05). Selain itu, tidak diketemukan adanya hubungan antara
reseptor epoetin dengan stadium maupun derajat tumor.
Case-Control Study of Green Tea Consumption and the Risk
of Endometrial Endometroid Adenocarcinoma
Y. Kakuta, Japan
Studi yang melibatkan 152 pasien Endometrial Endometroid Adeno-
carcinoma (EEA) dan 285 relawan sehat ini bertujuan menilai
manfaat konsumsi teh hijau dengan risiko EEA. Hasilnya, ternyata
konsumsi teh hijau secara bermakna berhubungan dengan penurunan
risiko timbulnya EEA, dan manfaat tersebut makin besar sesuai
dengan makin banyaknya konsumsi teh hijau. Konsumsi teh hijau
5-7 gelas/minggu menurunkan risiko EEA sebesar 16%, sedangkan
konsumsi > 4 gelas/hari sebesar 64%.
Disimpulkan, bahwa konsumsi teh hijau dapat bermanfaat menurunkan
risiko timbulnya EEA. (LHS)
Pada tanggal 25-28 Oktober 2008 di Bangkok, Thailand, perhimpunan dokter
ginekologi onkologi internasional (International Gynecologic Cancer Society / IGCS)
mengadakan pertemuan rutinnya yang diadakan 2 tahun sekali.
L A P O R A N K H U S U S
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
57
E
SMO merupakan organisasi medical oncology terbesar di Eropa
beranggotakan lebih dari 5.000 onkologi profesional dari lebih dari
100 negara. Acara tahun ini dihadiri lebih dari 9.500 peserta. Pada
pembukaan oleh presiden ESMO José Baselga dan dihadiri oleh
ratu Swedia (Queen Silvia) disampaikan data sejak tahun 2006
kejadian kanker terus meningkat di seluruh dunia, di Eropa sendiri
tahun 2006 didapatkan 3,2 juta kasus kanker baru pertahun dengan
angka kematian akibat kanker sebesar 1,7 juta; jenis kanker yang
terutama adalah kanker payudara, kanker kolorektal dan kanker paru
sedangkan kanker yang paling tinggi menyebabkan kematian adalah
kanker paru, kanker kolorektal, kanker payudara dan kanker gaster.
Beberapa hal baru :
a) Pada terapi kanker ovarium disimpulkan beberapa hal:
· Operasi merupakan upaya sitoreduksi maksimum yang harus
diupayakan dalam setiap stadium.
· Kemoterapi intraperitoneal mampu memperbaiki PFS dan OS jika
residu tumor < 1 cm
· Paclitaxel Carboplatin tetap merupakan terapi standar dengan
pemberian 6-8 siklus jika residu tumor > 1 cm
· Terapi maintenance pada kanker ovarium tidak direkomendasikan
· Pada pasien yang rekuren dalam kondisi sensitif platinium, operasi
dapat tetap menjadi pilihan dilanjutkan kemoterapi kombinasi
berbasis
platinum
(gemcitabine-carboplatin,
paclitaxel-carboplatin,
liposomal
doxorubicin-carboplatin)
· Pada pasien yang rekuren dalam kondisi resisten platinum,
operasi tidak direkomendasikan; kemoterapi tunggal menjadi
pilihan (liposomal doxorubicin, gemcitabine, topotecan, paclitaxel
mingguan, tamoxifen dan letrozole)
b) Hasil final uji klinik fase III AVAIL - terapi lini pertama kanker paru
NSCLC, yang membandingkan kemoterapi bevacizumab ditambahkan
dalam regimen gemcitabine cisplatin dibandingkan dengan gemcitabine
cisplatin, mendapatkan penambahan bevacizumab 7,5 mg/m
2
meningkatkan PFS 6,8 bulan vs 6,2 bulan (nilai p : 0,0003) meskipun
median harapan hidup pasien sebanding.
c) Uji klinik fase III FLEX, menunjukkan cetuximab kombinasi kemoterapi
berbasis platinum sebagai terapi lini pertama meningkatkan harapan
hidup kanker paru NSCLC stadium lanjut. Erbitux 400 mg/m
2
dosis
awal dan dilanjutkan 250 mg/m
2
(cetuximab) monoclonal antibody
EGFR dikombinasi dengan kemoterapi cisplatin 80 mg/m
2
dan vino-
relbine 25 mg/m
2
/hari setiap 3 minggu dibandingkan kemoterapi
tunggal pada 1.125 pasien secara bermakna meningkatkan harapan
hidup pasien NSCLC stadium lanjut (median 11,4 bulan vs 10,1
bulan, nilai p : 0,0441).
d) Uji klinik oral inhibitor VEGFR Cediranib (AstraZeneca) kombinasi
kemoterapi platinum pada 76 pasien NSCLC stadium lanjut, dosis
cediranib 30 mg/hari diberikan dalam kombinasi carboplatin AUC 6
dan paclitaxel 200 mg/m
2
atau kemoterapi tunggal; penambahan
cediranib mampu menguatkan respon terapi 41 % vs 20 %,
meskipun hipertensi, diare, hand and foot syndrome, anoreksia dan
mukositis lebih tinggi pada kelompok cediranib.
e) Bevacizumab dalam kombinasi taxan menjadi terapi lini pertama
kanker payudara metastasis. Dalam 2 uji klinik fase III monoclonal
antibody anti VEGF bevacizumab (Avastin) mampu meningkatkan
PFS. Uji klinik E2100 membandingkan kelompok paclitaxel diberikan
setiap minggu dengan kombinasi bevacizumab dibandingkan kelompok
paclitaxel tunggal melibatkan total 722 pasien; bevacizumab kombi-
nasi paclitaxel secara bermakna meningkatkan PFS. Uji klinik AVADO
melibatkan 736 pasien bertujuan melihat apakah bevacizumab dalam
kombinasi taxan lainnya yaitu docetaxel yang diberikan setiap 3
minggu mampu meningkatkan PFS : docetaxel 100 mg/m
2
kombinasi
plasebo dibandingkan docetaxel kombinasi bevacizumab 7,5 mg/kg
atau docetaxel kombinasi bevacizumab dosis 15 mg/kg; docetaxel
diberikan setiap 3 minggu hingga 9 siklus sedangkan bevacizumab
diberikan setiap 3 minggu hingga terjadi progresifitas penyakit atau
terjadi toksisitas yang tidak dapat diterima. Hasilnya secara konsisten
menunjukkan bevacizumab kombinasi docetaxel meningkatkan PFS.
Berdasarkan dua uji klinik tersebut, bevacizumab dapat menjadi
terapi pilihan lini pertama pada kanker payudara stadium metastasis.
f) Zoledranic acid meningkatkan DFS (Disease Free Survival) dan RFS
(Recurrence Free Survival) pada pasien kanker payudara stadium dini
premenopause yang mendapat terapi hormonal.
ABCSG-12 (Austrian Breast and Colorectal Cancer Study Group)
melakukan uji klinik fase III melibatkan 1.802 pasien yang secara
acak mendapatkan GnRH goserolin (GOS) kombinasi anastrazole
(ANA) atau Tamoxifen (TAM) dengan atau tanpa zoledranic acid
dengan median follow up selama 60 bulan. Penambahan zoledronic
acid 4 mg setiap 6 bulan selama 3 tahun kombinasi ajuvan terapi
homonal meningkatkan DFS dan RFS secara bermakna.
g) Uji klinik fase III Docetaxel (75 mg/m
2
) kombinasi Epirubicin (75
mg/m
2
) vs Docetaxel (75 mg/m
2
) kombinasi Capecitabine (950
mg/m
2
) yang diberikan hari 1-14 dalam siklus 21 hari pada kanker
payudara stadium lanjut, melibatkan 272 pasien; mendapatkan
efektivitas yang sebanding baik ORR (51,5 % vs 52,9%) dan TTP
(10,4 bulan vs 13,4 bulan), tetapi netropenia derajat 3-4 lebih tinggi
pada kelompok docetaxel epirubicin 57 % vs 46 % (nilai p 0,07) dan
demam netropenia 11 % vs 8 % (nilai p : 0,001), tetapi diare 6 % vs
9 % dan hand and foot syndrome 0 % vs 3 % lebih tinggi pada
kelompok docetaxel capecitabine.
h) TAC vs FAC sebagai ajuvan terapi pada kanker payudara dengan
KGB (-) dan risiko tinggi dengan kriteria usia 18-71 tahun, T1-3, N0
dan M0 operabel, dan satu dari kriteria st.Gallen risiko tinggi
terpenuhi (derajat II / III, tumor > 2 cm, usia < 35 tahun, hormon
reseptor negatif). Uji klinik besar yang melibatkan 1.059 pasien ini
secara acak terbagi antara kelompok TAC dengan FAC, radioterapi
diberikan pasca breast conserving surgery dan tamoxifen diberikan
selama 5 tahun pada pasien dengan ER positif; TAC didapatkan
menurunkan sebesar 33 % DFS dalam follow up selama 5 tahun. Ini
merupakan uji klinik pertama yang positif menunjukkan taxane
sebagai ajuvan terapi pada pasien dengan KGB (-).
h) Faktor yang mempengaruhi pemberian capecitabine sebagai
kemoterapi oral pada kanker kolorektal. Observasi dilakukan oleh 39
dokter di Swiss pada 224 pasien kanker kolorektal untuk menilai apa
yang mempengaruhi pemilihan kemoterapi capecitabine dibanding-
kan 5-FU. Hasilnya pada tabel sbb. :
Dari data kuesioner, alasan utama capecitabine paling sering di-
gunakan sebagai ajuvan, lini pertama, lini kedua adalah stadium
penyakit, diagnosis, terapi oral, usia pasien, dan referensi pasien.
Diduga stadium penyakit dan diagnosis penyakit merupakan alasan
utama capecitabine lebih umum digunakan sebagai pilihan terapi.
i) Cetuximab kombinasi oxaliplatin, capecitabine sebagai terapi lini
pertama kanker kolorektal. Uji klinik yang meneliti kombinasi cetuximab,
oxaliplatin dan capecitabine sebagai terapi lini pertama kanker kolorektal
metastasis melibatkan 49 pasien menunjukkan respon yang sangat
tinggi hingga mendekati 60 % dan TTP 12 bulan, rash kulit derajat
3 atau 4 ditemukan hanya 8,3%. (ARI)
Kongres
ESMO 2008
Stockholm Swedia,
12-16 September 2008
Regimen
Persentase pasien
Neoajuvan
Lini
pertama
Lini
kedua
(n =122)
(n=51)
(n= 37)
Capecitabine (%)
63,9
33,3
36,6
XELOX (%)
13,9
33,3
17,1
XELIRI (%)
0,8
2
0
5-FU (%)
6,6
0
2,4
FOLFOX (%)
14,8
15,7
9,8
FOLFIRI (%)
0
15,7
19,5
Cetuximab (%)
-
-
14,6