L A P O R A N K H U S U S
439
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
L A P O R A N K H U S U S
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
438
P
ada tanggal 24 Agustus 2008 telah diadakan pertemuan
National Symposium on Vascular Medicine ke-4 (ANVIN), yang
diadakan oleh team marketing Discovery A, PT Kalbe Tbk, dr.
Siswandi dan rekan. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 50 orang
dokter, yang tediri dari dokter umum, dokter spesialis jantung,
dokter spesialis bedah vaskular. Acara yang berlangsung malam
hari itu dibuka oleh dr. H. Murnizal Dahlan, SpBV(K).
Setelah itu langsung dilanjutkan dengan pembahasan topik
Chronic Venous Insufficiency (CVI) Role of Vasoprotective
Agent oleh Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K). Kepala Bagian Vaskular
di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.
CVI merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Amerika Serikat. Kurang lebih 24 juta penduduk Amerika
menderita vena varikosa dan 6 juta orang menderita kelainan
kulit yang berhubungan dengan CVI. Ulkus karena CVI diderita
oleh kurang lebih 500.000 orang, dengan prevalensi tertinggi
pada pria usia 70-79 tahun dan wanita usia 40-49 tahun.
Kemungkinan besar banyak penderita CVI di Indonesia, namun
belum dilakukan pendataan secara berkala dan nasional.
Penyebab CVI multifaktorial, di antaranya adalah insufisiensi
katup vena, malformasi vaskular kongenital, herediter, kelebihan
berat badan, gaya hidup yang tidak sehat, serta faktor-faktor
hormonal. Selain itu pasien dengan riwayat gagal jantung,
trauma pada ekstremitas, flebitis, trombosis vena dalam lebih
mudah untuk mengalami CVI.
Ada 4 teori terjadinya CVI:
Teori lama:
· Vein & Valve Damage or Failure Theory
Terjadinya refluks dan peningkatan tekanan vena, dan
· Calf Muscle Pump Failure Theory
Terbentuknya vena yang melebar dan memanjang, terutama
di daerah medial malleolus
Teori baru:
· Fibrin Cuff Theory
Terbentuknya deposit fibrin di daerah perikapiler.
· White Cell Trapping Theory
Kerusakan vena karena penempelan sel darah putih di
dinding kapiler pembuluh darah.
Klasifikasi CEAP :
CEAP
clinical classification
CEAP
etiological classification
CEAP
anatomical classification
CEAP
pathophysiological classification
Pemeriksaan non-invasif yang dapat dilakukan adalah Imaging
Studies berupa Doppler bidirectional-flow studies dan Doppler
color-flow studies dan pemeriksaan lainnya, seperti photo-
plethysmography. Pada CVI, pilihan terapi di antaranya adalah
elevasi tungkai, kompresi, obat-obatan venoaktif, perawatan
luka dan terapi operatif.
Di antara obat-obat venoaktif, Venosmil merupakan pilihan karena
kemampuannya dalam menurunkan permeabilitas kapiler, me-
ningkatkan tonus vena, memperbaiki deformabilitas eritrosit
dan mengurangi edema. Penelitian yang membandingkan
hidrosmin dengan sediaan venotropik lainnya, memperlihatkan
keunggulan efektifitas Venosmil sebagai venotropic agent.
Penelitian yang membandingkan hidrosmin dengan diosmin juga
disampaikan dr. Ismoyo pada kesempatan ini. Hasil penelitian
memperlihatkan bahwa efektifitas perbaikan klinis hidrosmin
pada pasien CVI lebih superior dibandingkan dengan diosmin.
Topik CVI (Chronic Venous Insufficiency) dibahas oleh Dr.
H. Murnizal Dahlan,SpBV(K), kepala bagian Bedah Vasku-
lar Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Beliau mengulas
mengenai CVI, prevalensi, etiologi, patofisiologi, serta terapi
yang dapat diberikan. Dalam bahasan ini terapi dibagi menjadi
terapi non-farmakologis, terapi farmakologis dan terapi operatif.
Terapi non farmakologik di antaranya adalah elevasi tungkai,
stoking kompresi, serta menurunkan berat badan. Terapi kompresi
terbaru dinamai External Pneumatic Compression. Terapi farma-
kologi yang dapat diberikan di antaranya adalah golongan
flavonoid seperti hidrosmin (Venosmil) yang dikatakan sangat
bermanfaat, bahkan pada kasus CVI lanjut. Tindakan invasif
seperti sclerotherapy; dalam kesempatan ini dibahas teknik
foam sclerotherapy.
Tindakan operatif pada kasus-kasus CVI vena superfisial di-
lakukan jika:
· Telah terjadi perforasi vena
· Nyeri tidak bisa ditangani dengan obat-obatan lagi.
· Terapi konservatif gagal
· Pasien yang aktif (berhubungan dengan aktifitas pasien
dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, gaya hidup)
· Vena dalam (vena profunda) berfungsi baik.
Tindakan operatif untuk CVI vena superfisial antara lain adalah:
· The Hook Technique
· Ligation of saphenofemoral junction
· Ligasi vena yang mengalami perforasi (Linton»s procedure)
· Stripping varises dengan vein stripper.
Diingatkan oleh dr. Murnizal bahwa syarat yang penting sekali
untuk tindakan operatif pada vena superfisial adalah vena
profunda (vena dalam) harus berfungsi baik; untuk itu harus
dilakukan penilaian pre-operatif dengan seksama.
Syarat operasi pada vena dalam adalah:
· Gagalnya
terapi
konservatif
· DVT (Deep Vein Thrombosis) proksimal
· Inkompetensi vena dalam yang ringan
Tindakan operatif yang dapat dilakukan untuk CVI vena
profunda (dalam) antara lain pemasangan saphenous vein
crossover graft/PTFE (Polytetrafluoroethylene) graft, by pass
insitu vena popliteal-femoral. Jika vena dalam tidak kompe-
ten (vena profunda tidak berfungsi/ dalam keadaan tidak
baik), maka dapat dilakukan valvuloplasti atau transposisi
segmen vena (vein segment transpositions).
Komplikasi tindakan operatif yang dapat terjadi adalah:
hematoma, kerusakan beberapa saraf saphena dan infeksi.
Selain tindakan operatif, ada tindakan invasif ringan yang
dapat dilakukan pada kasus-kasus CVI vena superfisial dan
vena profunda, di antaranya adalah Endovenous Radio
frequency Ablation, Endovenous Laser Treatment (EVLT),
Subfascial endoscopic perforator surgery (SEPS).
Pada acara ini dibahas pula diagnosis serta penatalaksanan
beberapa kasus dalam klinik.
(YYA)
National Symposium on
National Symposium on
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
National Symposium on
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
L A P O R A N K H U S U S
439
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
L A P O R A N K H U S U S
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
438
P
ada tanggal 24 Agustus 2008 telah diadakan pertemuan
National Symposium on Vascular Medicine ke-4 (ANVIN), yang
diadakan oleh team marketing Discovery A, PT Kalbe Tbk, dr.
Siswandi dan rekan. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 50 orang
dokter, yang tediri dari dokter umum, dokter spesialis jantung,
dokter spesialis bedah vaskular. Acara yang berlangsung malam
hari itu dibuka oleh dr. H. Murnizal Dahlan, SpBV(K).
Setelah itu langsung dilanjutkan dengan pembahasan topik
Chronic Venous Insufficiency (CVI) Role of Vasoprotective
Agent oleh Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K). Kepala Bagian Vaskular
di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.
CVI merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Amerika Serikat. Kurang lebih 24 juta penduduk Amerika
menderita vena varikosa dan 6 juta orang menderita kelainan
kulit yang berhubungan dengan CVI. Ulkus karena CVI diderita
oleh kurang lebih 500.000 orang, dengan prevalensi tertinggi
pada pria usia 70-79 tahun dan wanita usia 40-49 tahun.
Kemungkinan besar banyak penderita CVI di Indonesia, namun
belum dilakukan pendataan secara berkala dan nasional.
Penyebab CVI multifaktorial, di antaranya adalah insufisiensi
katup vena, malformasi vaskular kongenital, herediter, kelebihan
berat badan, gaya hidup yang tidak sehat, serta faktor-faktor
hormonal. Selain itu pasien dengan riwayat gagal jantung,
trauma pada ekstremitas, flebitis, trombosis vena dalam lebih
mudah untuk mengalami CVI.
Ada 4 teori terjadinya CVI:
Teori lama:
· Vein & Valve Damage or Failure Theory
Terjadinya refluks dan peningkatan tekanan vena, dan
· Calf Muscle Pump Failure Theory
Terbentuknya vena yang melebar dan memanjang, terutama
di daerah medial malleolus
Teori baru:
· Fibrin Cuff Theory
Terbentuknya deposit fibrin di daerah perikapiler.
· White Cell Trapping Theory
Kerusakan vena karena penempelan sel darah putih di
dinding kapiler pembuluh darah.
Klasifikasi CEAP :
CEAP
clinical classification
CEAP
etiological classification
CEAP
anatomical classification
CEAP
pathophysiological classification
Pemeriksaan non-invasif yang dapat dilakukan adalah Imaging
Studies berupa Doppler bidirectional-flow studies dan Doppler
color-flow studies dan pemeriksaan lainnya, seperti photo-
plethysmography. Pada CVI, pilihan terapi di antaranya adalah
elevasi tungkai, kompresi, obat-obatan venoaktif, perawatan
luka dan terapi operatif.
Di antara obat-obat venoaktif, Venosmil merupakan pilihan karena
kemampuannya dalam menurunkan permeabilitas kapiler, me-
ningkatkan tonus vena, memperbaiki deformabilitas eritrosit
dan mengurangi edema. Penelitian yang membandingkan
hidrosmin dengan sediaan venotropik lainnya, memperlihatkan
keunggulan efektifitas Venosmil sebagai venotropic agent.
Penelitian yang membandingkan hidrosmin dengan diosmin juga
disampaikan dr. Ismoyo pada kesempatan ini. Hasil penelitian
memperlihatkan bahwa efektifitas perbaikan klinis hidrosmin
pada pasien CVI lebih superior dibandingkan dengan diosmin.
Topik CVI (Chronic Venous Insufficiency) dibahas oleh Dr.
H. Murnizal Dahlan,SpBV(K), kepala bagian Bedah Vasku-
lar Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Beliau mengulas
mengenai CVI, prevalensi, etiologi, patofisiologi, serta terapi
yang dapat diberikan. Dalam bahasan ini terapi dibagi menjadi
terapi non-farmakologis, terapi farmakologis dan terapi operatif.
Terapi non farmakologik di antaranya adalah elevasi tungkai,
stoking kompresi, serta menurunkan berat badan. Terapi kompresi
terbaru dinamai External Pneumatic Compression. Terapi farma-
kologi yang dapat diberikan di antaranya adalah golongan
flavonoid seperti hidrosmin (Venosmil) yang dikatakan sangat
bermanfaat, bahkan pada kasus CVI lanjut. Tindakan invasif
seperti sclerotherapy; dalam kesempatan ini dibahas teknik
foam sclerotherapy.
Tindakan operatif pada kasus-kasus CVI vena superfisial di-
lakukan jika:
· Telah terjadi perforasi vena
· Nyeri tidak bisa ditangani dengan obat-obatan lagi.
· Terapi konservatif gagal
· Pasien yang aktif (berhubungan dengan aktifitas pasien
dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, gaya hidup)
· Vena dalam (vena profunda) berfungsi baik.
Tindakan operatif untuk CVI vena superfisial antara lain adalah:
· The Hook Technique
· Ligation of saphenofemoral junction
· Ligasi vena yang mengalami perforasi (Linton»s procedure)
· Stripping varises dengan vein stripper.
Diingatkan oleh dr. Murnizal bahwa syarat yang penting sekali
untuk tindakan operatif pada vena superfisial adalah vena
profunda (vena dalam) harus berfungsi baik; untuk itu harus
dilakukan penilaian pre-operatif dengan seksama.
Syarat operasi pada vena dalam adalah:
· Gagalnya
terapi
konservatif
· DVT (Deep Vein Thrombosis) proksimal
· Inkompetensi vena dalam yang ringan
Tindakan operatif yang dapat dilakukan untuk CVI vena
profunda (dalam) antara lain pemasangan saphenous vein
crossover graft/PTFE (Polytetrafluoroethylene) graft, by pass
insitu vena popliteal-femoral. Jika vena dalam tidak kompe-
ten (vena profunda tidak berfungsi/ dalam keadaan tidak
baik), maka dapat dilakukan valvuloplasti atau transposisi
segmen vena (vein segment transpositions).
Komplikasi tindakan operatif yang dapat terjadi adalah:
hematoma, kerusakan beberapa saraf saphena dan infeksi.
Selain tindakan operatif, ada tindakan invasif ringan yang
dapat dilakukan pada kasus-kasus CVI vena superfisial dan
vena profunda, di antaranya adalah Endovenous Radio
frequency Ablation, Endovenous Laser Treatment (EVLT),
Subfascial endoscopic perforator surgery (SEPS).
Pada acara ini dibahas pula diagnosis serta penatalaksanan
beberapa kasus dalam klinik.
(YYA)
National Symposium on
National Symposium on
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
National Symposium on
Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)