background image
Abses Amoeba Hepar di RS UGM Bagian
Penyakit Dalam, Yogyakarta : lnsidensi serta
Segi Kliniknya
Haryono Adenan, Soegijanto Soemomarto, J Wijono
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Abses amoeba hati merupakan infeksi hepar oleh Entamoeba
histolytica, yang menghasilkan bentuk pus. Secara klinis kita
kenal abses akut dan kronis (1).
Di lndonesia amoebiasis masih merupakan penyakit endemik,
seperti halnya di negara tropik lainnya.
Amoebiasis hepar merupakan amoebiasis extraintestinalis yang
paling sering kita dapati, dibanding amoebiasis di paru, otak,
kulit, ginjal, mata.
Insidensi abses amoeba hati di Asia Tenggara sekitar 5 - 40%.
Menurut De Bakey insidensi berdasar otopsi 7,6 - 84,I0%,
rata-rata 36,6% (2).
BAHAN, CARA HASIL PENELITIAN
Semua status penderita suspect abses hati karena amoeba
yang dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS UGM, di-
kumpulkan kemudian diteliti kembali secara retrospektif dari
Januari 1975 s/d Desember 1979.
Diagnosa kebanyakan dibuat berdasarkan atas keluhan-
keluhan penderita yang mengarah, pemeriksaan fisik dan pe-
meriksaan tambahan yaitu pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiologi.
Umur dan Jenis Kelamin (Tabel 1)
U m u r
Lelaki
Wanita
Jumlah
20­29
2
2
30 ­ 39
­
3
3
40 ­ 49
3
11
4
50 ­ 59
2
­
2
60 ­ 69 1
2
3
Jumlah
6
8
14
Umur penderita yang dirawat ialah dari 20 sampai 69 tahun
dengan jumlah penderita terbanyak antara 40 sampai 49 tahun.
Mengenai jenis kelamin ternyata jumlah wanita lebih
banyak daripada jumlah lelaki di mana wanita 8 orang dan
lelaki 6 orang sehingga perbandingan lelaki dan wanita 4 : 3.
(Tabel 1)
Pekerjaan dari para penderita kebanyakan adalah buruh
tani, ibu rumah tangga, mereka berasal dari daerah wilayah
DIY.
Keluhan penderita (Tabel 2)
Panas atau demam merupakan keluhan
yang
banyak di-
alami, terdapat pada I1 penderita (78,57%). Kemudian rasa
sakit di hypochondrium kanan terdapat pada 10 penderita.
(71,42%).
Sebagian besar penderita merasa tidak pernah buang air
besar disertai dengan lendir dan darah, hanya 5 penderita
(35,71%) mempunyai riwayat pernah buang air besar disertai
lendir
dan darah 24 bulan sebelumnya. Ikterus ditemukan
pada 4 penderita (28,57%). Sedang rasa sakit di dada kanan
dan sesak nafas dirasakan masing-masing oleh 3 penderita
(2I,43%). Rasa sakit di pundak kanan terdapat 2 penderita
(I4,28%) dan batuk-batuk hanya 1 penderita (7,14%).
Tabel 2.
Keluhan
Jumlah
penderita
%
Panas/demam
11
78,57
Sakit di hypochondrium kanan
Pernah buang air besar disertai lendir -
10
71,42
darah
5
35,7
1
Mata/Badan kuning
4
28,57
Sakit di dada kanan
3
21,42
Sesak nafas
3
21,43
Sakit di pundak kanan
2
14,28
Batuk-batuk
1
7,14
Pemeriksaan fisik (Tabel 3).
Hepatomegali terdapat pada semua (14) penderita (I00%)
yang teraba sebesar 3 jari sampai 6 jari di bawah arcus-costa-
rum, sedangkan panas terdapat pada 11 penderita (78,57%).
Nyeri tekan pada hepar ditemukan pada 9 penderita (64,28%),
demikian pula adanya fluktuasi pada hepar ditemukan juga
pada 9 penderita (64,28%). Tanda-tanda peritonitis ditemukan
pada 2 penderita atau I4,28%.
Tabel 3
Pemeriksaan fisik
Jumlah
%
Hepatomegali
1 4
100.00
Panas
11
78,57
Nyeri tekan di hati
9
64,28
Fluktuasi tekan di hati
9
64,28
I kterus
4
28,57
Peritonitis
2
14,28
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dikerjakan pada 14 penderita. Hasilnya
ialah terlihat gambaran diaphragma kanan naik 9 penderita
(64,28%), gambaran abses paru-paru 2 penderita (I4,29%)
dan pleural effusion 3 penderita (21,43%).
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium yang diperiksa adalah darah
rutin termasuk kadar Hb darah, jumlah lekosit darah, kecepat-
an endap darah dan percobaan fungsi hati, termasuk kadar
bilirubin total, Takata Ara, total protein dan kadar albumin
dan globulin dalam darah.
Kadar Hb dalam darah .
Tujuh penderita (50%) ternyata menderita anemia Hb
6 - 9,9 gr%. Dua penderita (I4,29%) menderita anemia yang
lebih berat lagi Hb< 5,9 gr% sedangkan penderita dengan Hb
10 - 11,9 gr% ada 3 penderita (21,42%). Penderita dengan Hb
I2 gr% keatas hanya ada 2 penderita (I4,29%). (Tabel 4)
Jumlah lekosit.
Jumlah lekosit 5.000 - I0.000 ada 5 pen-
derita. Sebagian besar penderita mempunyai jumlah lekosit
lebih dari I0.000 yaitu 9 pendetita di mana jumlah 10.000 -
I5.000 ada 4 penderita, jumlah I5.000 - 20.000 ada 3 pen-
9 9
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
derita, jumlah 20.000 - 25.000 dan lebih 30.000 masing-
masing 1 penderita. (Tabel 5)
Laju endap darah.
Semua penderita mempunyai
laju endap
darah yang
tinggi pada jam pertama bahkan 8 penderita (57,14%) mem-
punyai LED di atas I00 pada jam pertama.
Tes faal hati.
Hanya beberapa tes faal hati yang diperiksa pada penderita,
antara lain bilirubin total, Takata Ara, protein total dan
albumin globulin.
Ternyata bilirubin > I mg% terdapat pada semua penderita
yang diperiksa. Takata Ara dalam batas normal terdapat pada
8 penderita (57,I4%) dan borderline pada 6 penderita (42,
86%). Tidak terdapat penderita dengan Takata Ara yang jelek.
Total protein < 5 gr% terdapat pada 6 penderita (42,86%) dan
total protein > 5 gr% terdapat pada 8 penderita (57,14%) yang
diperiksa.
Ratio
albumin/globulin < I terdapat pada 5 penderita
(35,7I%).
Faeces
Baik bentuk kista maupun tropozoit tidak terdapat pada pe-
meriksaan faeces para penderita.
Tabel 4
Kadar Hemoglobin
Jumlah
%
< 5,9 gr%
6­ 9,9 gr%
I0 ­ II,9 gr%
12 gr%
2
7
3
2
I4,28
50
21,44
I4,28
Tabel 5
Jumlah lekosit
Jumlah
%
Kurang dari 5000/mm
3
­
5.000 ­ 10.000
5
35,72
1 0.000 ­ 15.000
4
28,58
15.000 ­ 20.000
3
21,42
20.000 ­ 25.000
1
7,14
25.000 ­ 30.000
­
Lebih dari 30.000
1
7,1 4
Aspirasi pus hanya dilakukan pada 2 penderita dan dilakukan
secara terbuka, dengan hasil : (1) Cairan pus yang khas (ancho-
vy sauce); (2) Pemeriksaan amoeba pada pus negatif.
Pada pemeriksaan tinja tak diketemukan amoeba (kista/tropo-
zoid).
Pengobatan
Kami hanya memberikan satu macam obat saja ialah
metronidazole. Dosis yang diberikan ialah 3 x 500 mg per hari.
Pengobatan ini memberikan hasil terhadap penurunan panas
badan dan pengecilan hepar. Panas badan paling cepat akan
turun pada hari ke-3 setelah pemberian metronidazole dan
paling lama pada hari ke-9.
Sedangkan hati akan mengecil (just palpable) paling cepat
pada hari ke 5 dan paling lama pada hari ke-8. Pemberian
pengobatan dilakukan selama I0 hari.
PEMBICARAAN
Meskipun
Entamoeba histolytica
di dalam perjalanan hidup-
nya selain di hepar juga bisa di lain-lain organ seperti paru,
otak (3), tetapi terutama adalah di hepar dan insidensi abses
amoeba hati di Asia Tenggara sekitar 5 - 40%. (4).
Pada pemeriksaan ini jumlah penderita wanita sedikit lebih
banyak daripada lelaki yaitu ditemukan 8 wanita dan 6 lelaki.
Ini berbeda dengan apa yang ditemukan Moerdowo di Den-
pasar Bali di mana selama 3 tahun ditemukan 36 orang laki-
laki dan I orang wanita.
Panas yang intermiten merupakan keluhan paling awal dari
penderita abses hati menahun. Nurul Akbar (5) menemukan
panas badan 74%, dan R. Moerdowo (4) menemukan panas
badan 84,61%, sedang V.P. Singh (6) menemukan panas
badan 97% dan kami sendiri menemukan 78,57%.
Penderita dengan abses amoeba hepar biasanya juga menderita
dysentri amoeba atau ada riwayat pernah menderita dysentri
amoeba, tetapi mungkin juga tak ada riwayat pernah men-
derita dysentri amoeba (7), di tempat kami didapatkan 35,71%
pernah berak lendir/darah.
Pemeriksaan
Entamoeba histolytica
di dalam pus hasil
aspirasi abses hepar didapatkan hasil positif 14 - 20% dan
hasilnya akan lebih tinggi jika yang diperiksa bahan kerokan
dari dinding abses dan dari segi klinis yang penting nanah
warna coklat (anchovy sause) (4).
Pada pemeriksaan foto thorax kami mendapatkan peninggian
diaphragma 64,28%, gambaran abses paru 14,24%, dan pleural
efusion 2I,43%; sedang Moerdowo menemukan peninggian
diaphragma 72,4I%, pleural efusion 13,79%, abses paru 2,56%.
(4).
Menurut Middlemiss (I964) gambaran radiologis dari abses
hati adalah sebagai berikut :
1. Peninggian dome dari diaphragma kanan.
2. Berkurangnya gerak dari dome diaphragma kanan.
3. Pleural efusion.
4. Kolaps paru.
5. Abses paru.
Tes fungsi hati biasanya normal, kadang-kadang fosfatase alkali
naik dan tes BSP sedikit abnormal. (3).
Kami menemukan bilirubin total lebih dari I mg% pada semua
penderita (I00%), Moerdowo menemukan 27,58%. Sedangkan
Nurul Akbar menemukan bilirubin total lebih dari 1,5 mg%
ada 26%. Ikterus hanya terjadi jika terdapat abses yang luas
atau abses pada kanalikuli biliferus.Pada kasus yang berjalan
lama albumin menurun dan globulin naik. Adanya hepatome-
gali yang nyeri tanpa kelainan test faal hati yang nyata curiga
untuk suatu abses hati karena amoeba.
Biasanya terdapat leukositosis ringan sampai sedang,
leukositosis pada bentuk akut abses piogenik dan adanya
infeksi sekunder akan lebih tinggi.
Moerdowo menemukan leukositosis 60,52% sedang Nurul
Akbar menemukan 67,5% dan V.P. Singh 6,I% adapun kami
menemukan 64,28%. Welmot menemukan anemia normositik
normokromik dan Mayet bersama Powell menemukan anemia
hipokromik pada 50% penderita (8), kami menemukan
anemia diphasic 85,72% yang mana selain menderita abses
amoeba hepar juga menderita ankylostomiasis. Moerdowo
mendapatkan 89,48% dan VP. Singh menemukan 77% sedang
Nurul Akbar mendapatkan 98%.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
100
background image
Kriteria diagnostik untuk hepatic amoebiasis menurut Lamont
dan Pooler :
1. Pembesaran hati yang nyeri tekan pada orang laki dewasa.
2. Respons yang baik terhadap obat anti amoeba.
3. Hasil pemeriksaan hematologis yang menyokong : leukosi-
tosis.
4. Pemeriksaan Rontgen (PA Lateral) yang menyokong.
5. Trophozoit E. histolytica positif dalam pus hasil aspirasi.
6. "Scintiscanning" hati adanya "filling defect".
7.
"
Amoeba Hemaglutination" test positif (3).
Pada waktu ini scintiscanning dan haemaglutination indirect
untuk amoeba belum bisa dikerjakan di RS. UGM.
Masih ada perbedaan pendapat tentang keharusan menge-
luarkan pus dari dalam abses hati karena amoeba. Menurut
Powell (8) pada abses hati yang besar pengobatan dengan
metronidazole harus disertai dengan aspirasi untuk mencegah
relaps kemudian Beeler (9) menyelidiki 247 kasus dengan
penggunaan kombinasi metronidazole 4 x 500 mg sehari
untuk sebulan ternyata tak ada perbedaan hasil antara kasus
yang diaspirasi dan tidak diaspirasi (5).
Keampuhan metronidazole terhadap abses hati karena
amoeba sudah banyak dikenal orang apabila obat tersebut
diberikan selama 3 sampai 10 hari. (I0 - 13). Pada penderita
yang kami rawat diberikan dosis metronidazole 3 x 500 mg
selama 10 hari.
Dengan dosis kecil yaitu 2,4 gr metronidazole dan dengan
aspirasi pus Bunnag et al (I4) dapat menyembuhkan 15 pen-
derita dengan abses hati karena amoeba tanpa komplikasi (4).
Griffin (I5) menulis tentang kegagalannya dalam mengobati se-
orang penderita laki-laki umur 19 tahun dengan metronidazole.
Dosis metronidazole yang diberikan ialah 500 mg tiap 8 jam
per oral selama 10 hari. Karena hepar tetap membesar dan
perut dirasakan sakit sekali, maka pemberian metronidazole
dihentikan dan diganti dengan suntikan emetin hidroklorida
65 mg tiap hari selama 2I hari dan chloroquine diphosphate
4 x 250 mg tiap hari selama 2I hari. Meskipun metronidazole
merupakan obat pilihan untuk semua infeksi amoeba namun
kadang-kadang mengalami kegagalan juga yang sebabnya
belum diketahui. (13).
Prognosa amoebiasis hati tergantung dari :
1. Virulensi parasit dan daya tahan host.
2. Derajad dari infeksi.
3. Adanya infeksi sekunder dan komplikasi lainnya.
4. Terapi yang diberikan. (4).
RINGKASAN
Telah diteliti kembali status 14 penderita abses hati karena
amoeba yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam RS UGM,
selama 5 tahun. Penderita terdiri dari 6 Iaki-laki dan 8 wanita.
Umur penderita antara 20 - 60 tahun dengan peak incidence
pada umur 40 - 49 tahun. Keluhan terutama berupa panas
78,57%, sakit di hypochondrium kanan 71,42% dan pernah
buang air besar lendir darah 35,71%.
Pemeriksaan fisik kami dapatkan hepatomegali I00%,
panas 78,57%, nyeri tekan di hati 64,28%, fluktuasi tekan di
hati 64,28%, ikterus 28,57%, anemia (Hb kurang dani 10 gr%)
ada 64,28%, leukositosis 64,28%. Pada tinja penderita tak
diketemukan amoeba baik bentuk kista maupun trophozoid.
Ada 2 penderita dilakukan aspirasi pus secara terbuka
dengan hasil anchovy sauce dan pemeriksaan bakteriologis
trophozoid negatif. Semua penderita mendapat metronidazole
500 mg 3 x sehari selama I0 hari, dengan hasil semua pen-
derita menunjukkan respons yang baik terhadap obat-obat
anti amoeba.
KEPUSTAKAAN
1.Leevy CM Hans Popper, Sheila Sherlock. Diseases of the Liver and
billiary tract. Chicago, London : Year book medical Publishers, Inc.
2.Kasliwal RM. Clinical amoebiasis syndrome and case reports of a
few unusual cases of amoebiasis. Am J Proctol 1973; 24 : 326 - 336.
3.Sherlock S. Diseases of the Liver and Billiary System. Fifth Ed.
London : Blackwell Scientific Pub. I975; 613 - 621.
4.Moerdowo R et al. Beberapa segi klinis abscess hati amoebic di
RSUP. Sanglah Denpasar Bali. Simposium Penyakit Hati Menahun
di Jakarta. I979.
5.Akbar N. Amebiasis Hati. KPPIK X FKUI . I979.
6.Sing HVP et al. Amoebic Liver Abscess in Eastern Utar Pradesh,
India. Trop Geogr Med 1973; 25, 2I7 - 222.
7.Wilcocks Manson Bahr. Manson s Tropical Diseases I7 th ed.,
ELBS. London : Bailliere Tindall, I972; 174 - 185.
8.Powell SJ, Ibrahim M. Some new Metronidazole derivates. Clinical
trials in liver abscess. Amer J Trop Med Hyg 1973; 2I : 318 - 320.
9. Bieler ZU et al. The liver in amoebic disease, South Asia Med J
1975; 48 : 308 - 320.
10.Abio Sc PA. Tinidazole in the treatment of amoebic liver absces.
Curr Ther Res I974; 20 : 32 - 35.
II.Henn R, Collin D. Amoebic abscess of the liver. Treatment failure
with Metronidazole. JAMA. I973; 224 : I394.
I2.Javant A et al. Clinical evaluation of Metronidazole in hepatic
abscess. Amer J Trop Med Hyg I9 : 3, 762 - 766.
I3.Patton R. Treatment of amoebic abscess. New Eng J Med 1973;
288 : 869.
I4.Bunnag D et al. Clinical trial of Metronidazole low dosage in amoe-
bic liver abscess. South Asia J Trop Med Publ Health G. 99 - I02.
I5.Griffin FN Jr. Failure of Metronidazole to care hepatic abscess,
New Engl J Med 1973; 288 : 1297.
Amoebiasis lntestinal pada Karyawan RS
UGM dan Pengobatannya dengan
Metronidazole
Siti Moesfiroh ls ., Cholid AB , Sutarti A , Noerhayati S ,
Mufrodi
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, Bagian
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Amoebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya Entamoeba
histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik. Klasifikasi
amoebiasis menurut WHO I968 (I) di bagi dalam asimpto-
matik dan simptomatik, sedang yang termasuk amoebiasis
simptomatik
yaitu amoebiasis intestinal dan amoebiasis
extra intestinal. Yang termasuk amoebiasis intestinal yaitu :
dysentri, non-dysentri colitis, amoebic appendicitis amoe-
boma. Amoebiasis dapat ditularkan dari seorang ke orang lain
oleh pengandung kista Entamoeba histolytica yang mem-
punyai gejala klinik (simptomatik) maupun yang tidak (asimp-
tomatik), sehingga pengobatan pengandung kista E. histolytica
dipandang perlu, mengingat bahwa :
10 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980