545
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
ABSTRAK
Syok adalah sindrom klinis akibat kegagalan sirkulasi sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen jaringan.
Sindroma klinis ini disebabkan oleh ketidak seimbangan antara kebutuhan oksigen dan pasokan oksigen ke jaringan.
Terganggunya pasokan oksigen merupakan problem primer pada syok hipovolemik, syok kardiogenik, syok obstruktif
dan syok distributif.
Syok diatasi dengan resusitasi cairan. Tujuan resusitasi cairan adalah untuk memperbaiki gangguan sirkulasi, sehingga
kebutuhan oksigen jaringan dapat terpenuhi.
Untuk menilai keberhasilan resusitasi cairan diperlukan suatu end point. Laktat adalah salah satu end point yang banyak
diteliti pada saat ini.
Bersihan laktat (perbaikan) merupakan indikator terhadap mortalitas yang lebih baik dibandingkan kadar laktat awal.
SYOK
Syok adalah sindrom klinis akibat keg-
agalan sirkulasi sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan oksigen jarin-
gan.
Sindrom klinis ini disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara kebutuhan
oksigen dan pasokan oksigen ke jarin-
gan. Terganggunya pasokan oksigen
merupakan problem primer pada syok
hipovolemik, syok kardiogenik, syok
obstruktif dan syok distributif.
1
Syok hipovolemik, syok kardiogenik
dan syok obstruktif berhubungan den-
gan menurunnya cardiac output. Syok
distributif, seperti pada sepsis ber-
hubungan dengan distribusi abnormal
mikrovaskuler dan gangguan metabo-
lik atau cardiac output.
2
Akibat syok, terjadi gangguan perfusi
yang akan menyebabkan metabolisme
anaerob dengan hasil akhir laktat.
Syok diterapi dengan resusitasi cairan.
3
Untuk menilai keberhasilan resusitasi
cairan diperlukan end point.
4
END POINT RESUSITASI
Parameter untuk menilai sirkulasi mak-
ro:
· Denyut jantung
· Tekanan darah
· Produksi urin
· Suhu tubuh
· Pengukuran hemodinamik : CVP,
PAWP dan RVEDVI
Dua kategori end point resusitasi :
1. Parameter umum:
· Indeks antaran oksigen/Oxygen
delivery index ( DO
2
I )
Kadar Laktat sebagai Parameter Resusitasi
Ery Leksana
SMF/Bagian Anestesi dan Terapi Intensif RS dr. Kariadi/Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang
PENDAHULUAN
Memasuki abad ke XX telah diketahui
bahwa pasien dengan penyakit kritis
menunjukkan asidosis metabolik tan-
pa disertai peningkatan keton maupun
anion lainnya yang dapat diukur.
Pada tahun 1925, Clausen dapat
mengidentifikasi akumulasi asam lak-
tat dalam darah sebagai penyebab
gangguan asam-basa.
Beberapa dekade kemudian, Hucta-
bee secara tegas mengatakan bahwa
asidosis laktat sering menyertai pe-
nyakit berat dan hipoperfusi jaringan
sebagai dasar patogenesisnya.
Pada tulisan klasik monograf tahun
1976, Cohen dan Woods membuat
klasifikasi penyebab asidosis laktat atas
dasar kecukupan oksigenasi jaringan.
OPINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 545
8/26/2010 3:40:09 PM
547
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
· Indeks konsumsi oksigen/Oxygen
consumption index ( VO
2
I )
· Saturasi vena campuran/Mixed
venous saturation ( SVO
2
)
· Laktat serum
· Defisit basal
· Gradien karbon dioksida arteri/
Arterio carbon dioxide gradient (
AVPa CO
2
)
2. Parameter organ spesifik:
· Tonometri lambung
· Kapnometri sublingual
· Spektroskopi infra merah dekat
Parameter umum dan spesifik ini un-
tuk menilai sirkulasi mikro.
Laktat serum merupakan salah satu
end point pada resusitasi cairan.
Meningkatnya produksi laktat merupa-
kan petanda terganggunya mitokon-
dria yang lebih baik dibanding kadar
laktat awal dan berkorelasi dengan
hasil klinis.
7
LAKTAT
Pada kondisi normal terdapat keseim-
bangan antara produksi laktat dan
bersihan laktat. Meningkatnya kadar
laktat darah disebabkan oleh produksi
yang meningkat atau penurunan ber-
sihan laktat oleh hati.
1
Penyebab peningkatan produksi lak-
tat:
-
Syok
-
Hipoksemia
-
Anemia berat
-
Kejang Grand mal
-
Asma berat
-
Sepsis
-
Asidosis laktat
-
Keganasan
-
Obat dan toksin: etanol,
metanol,teofilin, kokain, salisilat,
niasin, isoniasid, biguanid
-
Gangguan metabolisme sejak la-
hir (Inborn errors of metabolism):
defisiensi G6PD dan defisiensi
fruktosa-1,6 difosfat
Penyebab penurunan bersihan laktat:
gagal hati dan keganasan.
1
Asidosis laktat merupakan akibat
hipoksia yang berkaitan dengan gagal
jantung atau gagal napas, syok dan
perdarahan akut.
8
Cohen dan Woods membagi asidosis
laktat menjadi 2 kategori:
1. Tipe A: asidosis laktat berkaitan
dengan bukti klinis buruknya per-
fusi jaringan yang atau kurangnya
oksigenasi darah (hipotensi, sia-
nosis, ekstremitas dingin dan lem-
bab )
2. Tipe B: asidosis laktat yang terjadi
tanpa bukti klinis buruknya perfusi
jaringan yang atau kurang nya ok-
sigenasi darah.
Jalur metabolisme anaerob yang dike-
nal sebagai glikolisis adalah langkah
awal metabolisme glukosa sel-sel sito-
plasma. Hasil akhir dari jalur ini adalah
piruvat.Pada keadaan hipoksia, piru-
vat diubah menjadi laktat oleh enzim
laktat dehidrogenase ( LDH ).
Akumulasi laktat intraselular mening-
katkan pelepasan laktat dari sel. Lak-
tat yang keluar dari sel akan ditukar
dengan ion hidroksil ( OH
-
) membran
yang berhubungan, tergantung pH
dan sistim antiport.
Sumber OH
ekstraselular berasal dari
disosiasi air menjadi H
+
dan OH
-
.
H
+
ekstraselular bergabung dengan
laktat yang meninggalkan sel mem-
bentuk asam laktat, sementara OH
mengikat H
+
yang dihasilkan se-
lama hidrolisa ATP menjadi air ( H
2
O
). Sehingga transport laktat selular
membantu peningkatan sedang H
+
di sitosol sebagai hasil hidrolisis ATP
anaerob.
Dalam keadaan normal produksi laktat
± 1 mmol/kg/jam. Kadar laktat normal
di dalam darah 0,5 1,5 mmol/L. Wak-
tu paruh laktat ± 3 jam dan penurunan
laktat terjadi secara bertahap setelah
dilakukan resusitasi.
Peningkatan kadar laktat > 2 mmol/L
merupakan indikator telah terjadi
hipoksia jaringan, sedangkan pen-
ingkatan laktat > 4 mmol/L dan tidak
turun setelah resusitasi merupakan in-
dikator telah terjadi kerusakan organ.
Selain kadar laktat awal yang pent-
ing, respons laktat terhadap resusitasi
cairan juga perlu diperhatikan (Vincent
dkk.). Abramson dkk. meneliti pasien
trauma berat setelah resusitasi untuk
meningkatkan transport oksigen ke
jaringan; menemukan bahwa waktu
yang diperlukan agar laktat serum
kembali normal, sangat menentukan
prognosis.
5
Bila kadar laktat membaik
dalam waktu:
-
24 jam
: prognosis baik
-
24-48 jam
: mortalitas 25 %
-
> 48 jam
: mortalitas 86 %.
Nguyen dkk, mendapatkan bahwa
kematian turun sekitar 11 % pada se-
tiap 10 % peningkatan bersihan laktat.
Pada pasien dengan bersihan laktat
10 %, APACHE II scorenya turun
relatif lebih besar pada dalam periode
72 hari penelitian dan mortalitasnya
lebih rendah dalam 60 hari penelitian
dibanding pasien dengan bersihan
laktat
< 10 %.
9
RESUSITASI CAIRAN
Resusitasi cairan merupakan tera-
pi utama kekurangan cairan untuk
mencegah syok, asidosis bahkan ke-
matian.
Tujuan resusitasi cairan adalah untuk
memperbaiki gangguan sirkulasi se-
hingga kebutuhan oksigen jaringan
dapat dipenuhi. Laktat dihasilkan dari
proses metabolisme anaerob, mem-
punyai korelasi dengan jumlah oksigen
yang dibawa ke jaringan dan beratnya
syok; sehingga kadar laktat darah da-
pat dipakai sebagai end point penila-
ian keberhasilan resusitasi cairan.
Pada keadaan syok dengan hipotensi
dan/atau kadar laktat > 4 mmol/L,
resusitasi cairan menggunakan krista-
loid 20 mL/kg dalam waktu 30 menit
dan dapat diulang selama tidak terjadi
edema paru, MAP > 70 mmHg dan
denyut nadi < 100 x/menit.
10
OPINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 547
8/26/2010 3:40:11 PM
548
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
RINGKASAN
Pada syok, sirkulasi terganggu sehing-
ga terjadi ketidakseimbangan antara
kebutuhan oksigen dan pasokan oksi-
gen ke jaringan.
Terapi utama syok adalah resusitasi
cairan. Untuk menentukan keberhasi-
lan, diperlukan suatu parameter end
point. Saat ini digunakan parameter
klinis tradisional, yaitu denyut nadi,
tekanan darah, produksi urin, suhu tu-
buh, pengukuran hemodinamik ( CVP,
PAWP, RVEDPI ) yang hanya menilai
sirkulasi makro.
End point resusitasi dibagi menjadi
2 kategori: parameter umum dan pa-
rameter organ spesifik. Laktat meru-
pakan salah satu parameter umum.
Bukan hanya kadar laktat awal yang
penting, respons laktat terhadap re-
susitasi juga penting; selain itu waktu
yang diperlukan agar konsentrasi lak-
tat kembali normal sangat menentu-
kan prognosis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sharma S. Lactic Acidosis.http://emedicine.medscape.com/article/167027-overview.
2. Elbers PWG, Ince C. Bench-to-bedside review: Mechanism of critical illness classifying microcircula-
tory flow abnormalities in distributive shock.http://ccforum.com/content/10/4/221.
3. Bidges E. Cardiovascular aspect of Septic shock. Pathophysiology, Monitoring and Treatment. http://
ccn.aacnjournals.Org.cgi/content/full/25/2/14.
4. Rudra A, Chatterjee S, Singupta S, Wnkhade R, Sirohio S, Das T. Fluid Resuscitation in Trauma. Indian J.
Crit. Care Med. 2006, vol 10. Issue 4: 241 249.
5. Tisherman SA, Barie P, Bokhari F, Bonadies J, Daley B, Diebel L et al. Clinical Practice guideline: End
point of Resuscitation. Eastern Association for the Surgery of Trauma.2003.
6. Puyana JC. Complication of Acute fluid loss and replacement. http://books.google.co.id/books?id=JL-
803mXP2gc&pg=PA23&ots=urFMD04-ui&dq=blood+laktat+resuscitation&ht=en#PPA17.MI.
7. Leclercq P, Derraji M, Colombe B, Leverve XM. Laktat endogenous production is a good tool to evalu-
ate mitochondria dysfunction.4
th
International Workshop on Adverse drug reaction and lipodystrophy
in HIV. San Diego, Deptember 22-25. 2002.
8. Brandis K. Acid base physiology.http://www.anesthesiaMCQ.com.
9. Nguyen HB, Rivers EP, Knoblich BP. Early Lactate Clearance is associated with Improvement in Severe
Sepsis and Septic shock. Crit. Care Med. 2004; 32(8): 1637-42.
10. Treat Hypotensive and / or Elevated Lactate with Fluids. http://www.surviving sepsis.org/bundles/indi-
vidual
-
changes/treat
-
hypotensive.
OPINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 548
8/26/2010 3:40:12 PM