467
| AGUSTUS 2010
D
i negara Jepang, tepatnya di
Fukuoka International Cong-
ress Center, telah dilang-
sungkan the 13
th
Asian Australasian
Congress of Anaesthesiologists (13
th
AACA) pada tanggal 1-5 Juni 2010.
Acara yang diikuti oleh lebih dari 500
peserta, khususnya dokter spesialis
anestesia tersebut mengambil tema
"Safety and Challenge" yang bertu-
juan untuk memberikan kesempatan
yang berharga bagi para dokter spe-
sialis anestesia untuk belajar menge-
nai perkembangan baru dalam bidang
anestesia, nyeri, perawatan klinis, ke-
dokteran kegawatdaruratan dan pera-
watan paliatif.
Program ilmiah dalam acara tersebut
meliputi workshop, kuliah pleno, sim-
posium, dan luncheon seminar de-
ngan pembicara dari berbagai negara
termasuk Indonesia. Selain itu, juga
ada pameran poster ilmiah dan dime-
riahkan dengan pameran beberapa
produk dan peralatan anestesia di
Marinemesse Fukuoka yang gedung-
nya cukup jauh terpisah dari gedung
tempat berlangsungnya simposium.
Salah satu topik yang dibicarakan da-
lam program ilmiah adalah mengenai
desfl
urane yang merupakan suatu
obat anestetik inhalasi yang relatif
baru di beberapa negara. Krishan Na-
rani dari Sir Ganga Ram Hospital In-
dia menyampaikan bahwa desfl urane
mempunyai titik didih 22,8
°C pada 1
atm dan tekanan uap 669 mmHg pada
20
°C sehingga memerlukan botol dan
vaporizer khusus untuk penyimpanan
dan penghantaran uap desfl urane
dengan terkontrol. Desfl urane mem-
punyai koefi sien partisi darah:gas 0,42
yang menyebabkan cepatnya penca-
paian tekanan parsial alveolus yang
diperlukan untuk anestesia, diikuti
dengan pulih sadar yang cepat setelah
pemberian desfl urane dihentikan.
Nilai MAC (Minimal Alveolar Con-
centration) desfl urane 6,6% dalam
O
2
pada suhu 37
°C dan turun men-
jadi 2,38% jika desfl urane diberikan
dengan N
2
O 60-70%. Desfl urane juga
sehingga kurang sesuai untuk induksi
anestesia.
volume tidal, resistensi vaskular, teka-
nan darah dan curah jantung, tetapi
tidak menyebabkan risiko aritmia atau
mensensitisasi jantung terhadap epi-
nephrine. Desfl urane dapat mening-
katkan aliran darah otak dan tekanan
intrakranial, yang dapat diturunkan
dengan hiperventilasi.
Desfl urane tidak bersifat nefrotoksik
minimal pada manusia, yaitu hanya
sekitar 0,02% yang dimetabolisme
oleh tubuh. Namun desfl urane dapat
didegradasi menjadi karbon monok-
sida pada CO
2
absorber yang sangat
kering.
Dilihat dari karakteristik desfl urane
tersebut, maka desfl urane baik digu-
nakan untuk anestesia pada pasien
bedah rawat jalan.
Penggunaan rocuronium juga diba-
has dalam acara ini yang antara lain
disampaikan oleh Takahiro Suzuki
dari Surugadai Nihon University Hos-
pital, Jepang. Rocuronium merupak-
an obat pelumpuh otot dengan onset
yang cepat, namun efeknya berbeda
nyata pada dosis yang berbeda, se-
sangat bermanfaat untuk mencapai
intubasi yang tercepat dan teraman.
nya bermanfaat untuk menjaga ham-
batan neuromuskular tetap konstan
karena kebutuhan infus rocuronium
secara nyata berbeda menurut otot-
anestetik.
th
Asian Australasian Congress of
Anaesthesiologists (AACA) 2010
LAPORAN KHUSUS
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 467
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 467
7/23/2010 10:34:24 PM
7/23/2010 10:34:24 PM
Pelaksanaan The 13
1 - 5 Juni 2010
mempunyai bau yang tajam dapat
Desfl urane menyebabkan penurunan
merangsang saluran pernapasan
maupun hepatotoksik desfl urane
mengalami metabolisme yang
hingga monitoring neuromuskular
Monitoring neuromuskular khusus-
otot yang dimonitor, usia pasien dan
468
| AGUSTUS 2010
Infus rocuronium yang lebih besar
diperlukan untuk mempertahankan
T1 10% dari kontrol pada otot corru-
gator supercilii (7,1 mcg/kg/menit)
dibanding pada otot adductor pol-
licis (4,7 mcg/kg/menit) pada pasien
muda selama anestesia sevofl urane.
Sedangkan pada pasien usia lanjut,
kebutuhan rocuronium lebih kecil dan
pada pasien dengan anestesia propo-
fol, kebutuhan rocuronium lebih be-
sar.
Selain itu, ada topik lain yang memba-
has mengenai sejumlah fakta dalam
anestesia regional yang disampaikan
oleh Ma. Concepcion Cruz dari De-
partment of Anesthesiology UP Col-
lege of Medicine Philippine General
Hospital.
Antara lain disebutkan bahwa pem-
berian analgesia neuroaksial termasuk
epidural dapat mempengaruhi keja-
dian persalinan operatif, dan kejadian
hipotensi maternal setelah anestesia
spinal dan epidural untuk persalinan
sectio caesarea dapat diturunkan
dengan pemberian infus cairan dima-
na cairan kristaloid lebih baik diband-
ing tanpa cairan, cairan koloid lebih
efektif dibanding kristaloid, dan tidak
ditemukan perbedaan untuk dosis, ke-
cepatan maupun cara pemberian yang
berbeda dari kristaloid maupun koloid.
Namun kebanyakan studi menunjuk-
kan bahwa kejadian hipotensi masih
relatif tinggi sehingga masih perlu
dipersiapkan pemberian vasopresor.
Pemberian cairan preloading ternya-
ta juga tidak lebih unggul dibanding
pemberian cairan coloading.
Selain itu sering ada anggapan bahwa
analgesia epidural untuk persalinan
meningkatkan risiko nyeri punggung
pasca persalinan, namun kenyataan-
nya bahwa kehamilan itu sendiri dapat
menyebabkan nyeri punggung akibat
adanya berbagai perubahan dalam
tubuh seperti perubahan berat badan
dan hormonal, serta ketidakseimban-
gan otot.
(EKM)
LAPORAN KHUSUS
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 468
CDK ed_179 Agustus-September'10 DR.indd 468
7/27/2010 8:03:37 AM
7/27/2010 8:03:37 AM