background image
376
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
377
|
a g u s t u s 2 0 0 9
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
D
isfungsi endotel pem-
buluh darah merupa-
kan tanda awal terjadinya
gangguan sistim kardio-
vaskular. Endotel pembu-
luh darah mengatur hemostasis vaskular
dan pengaturan ini sangat penting untuk
mempertahankan aliran darah dan ak-
tifitas antitrombotik. NO (Nitric oxide)
yang dibentuk dari L-arginine melalui
enzim NO synthase, menyebabkan relak-
sasi pembuluh darah dan berhubungan
dengan penghambatan adesi dan agregasi
trombosit. Jika terjadi gangguan pemben-
tukan NO atau peningkatan degradasi NO,
maka terjadi disfungsi endotel pembuluh
darah, seperti pada pasien-pasien hiper-
0
Telmisartan
(n=45)
Remipril
(n=42)
RPF r
esponse t
o L
-NMMA (mL/
min)
-20
-40
-60
-80
-100
-120
Figur 1.
Pengaruh pemberian telmisartan
40/80 dan ramipril 5/10 selama 9
minggu pada mean SE respon RPF
terhadap infus 5 mg/kg L-NMMA
dibandingkan dengan nilai infus sebe-
lum L-NMMA.
= baseline
= pada akhir penelitian
tensi, PAOD (peripheral arterial occlusive
disease), dan gagal ginjal kronik. Salah satu
penyebab yang dapat meningkatkan stres
oksidatif dan meningkatkan pemecahan
NO adalah angiotensin II.
Disfungsi endotel menyebabkan
atherosklerosis dan kerusakan target or-
gan, yang berlanjut pada penyakit kardio-
vaskular dan penyakit ginjal kronik.
Karena patologi disfungsi endotel
pembuluh darah adalah ketidakseimbang-
an antara angiotensin II dengan NO pada
target organ, maka untuk mencegah dis-
fungsi endotel (kerusakan endotel) lebih
lanjut, sangatlah beralasan jika aktifitas
angiotensin II diturunkan, yaitu dengan
memilih obat yang bekerja pada sistim
RAS (renin-angiotensin system), seperti
obat antihipertensi golongan pengham-
bat ACE (angiotensin converting enzyme
inhibi tor) dan obat antihipertensi golongan
ARB (angiotensin receptor blocker).
Obat antihipertensi golongan peng-
hambat ACE mencegah pembentukan an-
giotensin II, sedangkan obat antihipertensi
golongan ARB (angiotensin receptor blocker)
menghambat ikatan antara angiotensin II
dengan reseptor tipe I. Jadi penghambatan
pembentukan angiotensin II atau pengham-
batan penempelan angiotensin II pada rese-
TRENDY: Ramipril vs
Telmisartan terhadap NO
ptor tipe I, diperkirakan akan menekan pen-
garuh angiotensin II terhadap NO, sehing ga
bermanfaat untuk mempertahankan fungsi
kardiovaskular dan ginjal.
Dr. Roland Schmieder dan rekan
melakukan penelitian, yang dikenal de-
ngan nama TRENDY (Telmisartan versus
Ramipril on Renal Endothelium Function
in Type 2 Diabetes) untuk mengetahui
pengaruh blokade sistim RAS terhadap
fungsi endotel. Penelitian ini adalah pe-
nelitian multisenter, prospektif, tersamar
ganda, acak melibatkan 96 pasien diabe-
tes tipe II, hipertensi dengan GFR (glom-
erular filtration rate) 80 ml/menit dan
normo- atau mikroalbuminuri. Pasien
diberi terapi telmisartan 40/80 mg sehari
atau ramipril 5/10 mg sehari selama 9
minggu.
Hasil penelitian memperlihatkan pe-
ningkatan respon renal plasma flow (RPF)
terhadap NG-monomethyl-L-arginine (L-
NMMA) pada pasien-pasien yang diberi
Telmisartan: dari 71.9 +/- 9.0 ml/menit se-
belum terapi menjadi 105.2 +/- 9.7 ml/me-
nit pada akhir penelitian (p<0,001). Sedan-
gkan pada kelompok yang diberi ramipril
juga terjadi peningkatan respon sebesar
60.1 +/- 12.2ml/menit menjadi 87.8 +/- 9.2
ml/menit (P < 0.018). Adjusted difference
antara kedua kelompok adalah 17.1 +/-
13.7 ml/menit (P < 0.214).
Perbandingan efektifitas head-to-head
antara penghambat ACE dengan ARB
terhadap fungsi endotel belum pernah di-
laporkan. Karena itu TRENDY merupa-
kan penelitian pertama yang menganalisis
ektifitas NO dalam sirkulasi ginjal pasien
diabetes tipe II dan membandingkan se-
cara langsung pengaruh 2 macam obat
anti hiper tensi dari golongan berbeda yang
bekerja pada RAS.
Peningkatan bermakna RPF terhadap
respon L-NMMA pada akhir penelitian
dengan terapi penghambat ACE dan ARB
memperlihatkan bahwa menargetkan tera-
pi pada sistim RAS dapat meningkatkan
aktifitas NO. Tidak ada perbedaan ber-
makna antara ramipril dengan telmisartan
dalam hal ini.
Kesimpulan
Pada pasien diabetes tipe II, pembe-
rian obat antihipertensi golongan peng-
hambat ACE dan ARB (dalam penelitian
ini Ramipril dan Telmisartan) bermakna
meningkatkan aktivitas NO endotel ginjal,
sehingga kedua golongan obat ini berman-
faat mempertahankan fungsi kardiovasku-
lar dan ginjal. n
YYA
Brunner H, Cockroft JR, Deanfield J et al. En-
1.
dothelial function and dysfunction. Part II. As-
sociation with cardiovascular risk factors and
diseases: a statement by the Working Group
on Endothelins and Endothelial Factors of the
European Society of Hypertension. J Hypertens
2005; 23:233­46
Ladeia AM, Ladeia-Frota C, Pinho L et al.
2.
Endothelial dysfunction is correlated with
microalbuminuria in children with short-
duration type 1 diabetes. Diabetes Care 2005;
28:2048­50
Perticone F, Ceravolo R, Pujia A et al. Prognos-
3.
tic significance of endothelial
dysfunction in hypertensive patients. Circula-
4.
tion 2001; 104:191­6.
Schmieder RE, Delles C, Mimiran A et al.
5.
Impact of Telmisartan Versus Ramipril on
Renal Endothelial Function in Patients With
Hypertension and Type 2 Diabetes. Diabetes
Care 2007; 30:1351­6.
Weintraub HS. Where Is the Cardiovascular
6.
Continuum Today? -- An Expert Interview
With Howard S. Weintraub, MD, FACC.
http://www.medscape.com/
7.
viewarticle/504977
Referensi
The Cardiovascular Continuum
Risk Factors:
Diabetes
Hypertension
Adapted from Dzau V, Braunwald E. Am Heart J, 1991
Gibbons, 1999
Endothelial
Dysfuntion
Vascular
Disease
Tissue Injury
(MI, Stroke)
Pathological
Remodeling
Target Organ
Dysfunction (CH, Renal)
End-stage
Organ Failure
Death
P < 0,018
P < 0,001
background image
376
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
377
|
a g u s t u s 2 0 0 9
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
D
isfungsi endotel pem-
buluh darah merupa-
kan tanda awal terjadinya
gangguan sistim kardio-
vaskular. Endotel pembu-
luh darah mengatur hemostasis vaskular
dan pengaturan ini sangat penting untuk
mempertahankan aliran darah dan ak-
tifitas antitrombotik. NO (Nitric oxide)
yang dibentuk dari L-arginine melalui
enzim NO synthase, menyebabkan relak-
sasi pembuluh darah dan berhubungan
dengan penghambatan adesi dan agregasi
trombosit. Jika terjadi gangguan pemben-
tukan NO atau peningkatan degradasi NO,
maka terjadi disfungsi endotel pembuluh
darah, seperti pada pasien-pasien hiper-
0
Telmisartan
(n=45)
Remipril
(n=42)
RPF r
esponse t
o L
-NMMA (mL/
min)
-20
-40
-60
-80
-100
-120
Figur 1.
Pengaruh pemberian telmisartan
40/80 dan ramipril 5/10 selama 9
minggu pada mean SE respon RPF
terhadap infus 5 mg/kg L-NMMA
dibandingkan dengan nilai infus sebe-
lum L-NMMA.
= baseline
= pada akhir penelitian
tensi, PAOD (peripheral arterial occlusive
disease), dan gagal ginjal kronik. Salah satu
penyebab yang dapat meningkatkan stres
oksidatif dan meningkatkan pemecahan
NO adalah angiotensin II.
Disfungsi endotel menyebabkan
atherosklerosis dan kerusakan target or-
gan, yang berlanjut pada penyakit kardio-
vaskular dan penyakit ginjal kronik.
Karena patologi disfungsi endotel
pembuluh darah adalah ketidakseimbang-
an antara angiotensin II dengan NO pada
target organ, maka untuk mencegah dis-
fungsi endotel (kerusakan endotel) lebih
lanjut, sangatlah beralasan jika aktifitas
angiotensin II diturunkan, yaitu dengan
memilih obat yang bekerja pada sistim
RAS (renin-angiotensin system), seperti
obat antihipertensi golongan pengham-
bat ACE (angiotensin converting enzyme
inhibi tor) dan obat antihipertensi golongan
ARB (angiotensin receptor blocker).
Obat antihipertensi golongan peng-
hambat ACE mencegah pembentukan an-
giotensin II, sedangkan obat antihipertensi
golongan ARB (angiotensin receptor blocker)
menghambat ikatan antara angiotensin II
dengan reseptor tipe I. Jadi penghambatan
pembentukan angiotensin II atau pengham-
batan penempelan angiotensin II pada rese-
TRENDY: Ramipril vs
Telmisartan terhadap NO
ptor tipe I, diperkirakan akan menekan pen-
garuh angiotensin II terhadap NO, sehing ga
bermanfaat untuk mempertahankan fungsi
kardiovaskular dan ginjal.
Dr. Roland Schmieder dan rekan
melakukan penelitian, yang dikenal de-
ngan nama TRENDY (Telmisartan versus
Ramipril on Renal Endothelium Function
in Type 2 Diabetes) untuk mengetahui
pengaruh blokade sistim RAS terhadap
fungsi endotel. Penelitian ini adalah pe-
nelitian multisenter, prospektif, tersamar
ganda, acak melibatkan 96 pasien diabe-
tes tipe II, hipertensi dengan GFR (glom-
erular filtration rate) 80 ml/menit dan
normo- atau mikroalbuminuri. Pasien
diberi terapi telmisartan 40/80 mg sehari
atau ramipril 5/10 mg sehari selama 9
minggu.
Hasil penelitian memperlihatkan pe-
ningkatan respon renal plasma flow (RPF)
terhadap NG-monomethyl-L-arginine (L-
NMMA) pada pasien-pasien yang diberi
Telmisartan: dari 71.9 +/- 9.0 ml/menit se-
belum terapi menjadi 105.2 +/- 9.7 ml/me-
nit pada akhir penelitian (p<0,001). Sedan-
gkan pada kelompok yang diberi ramipril
juga terjadi peningkatan respon sebesar
60.1 +/- 12.2ml/menit menjadi 87.8 +/- 9.2
ml/menit (P < 0.018). Adjusted difference
antara kedua kelompok adalah 17.1 +/-
13.7 ml/menit (P < 0.214).
Perbandingan efektifitas head-to-head
antara penghambat ACE dengan ARB
terhadap fungsi endotel belum pernah di-
laporkan. Karena itu TRENDY merupa-
kan penelitian pertama yang menganalisis
ektifitas NO dalam sirkulasi ginjal pasien
diabetes tipe II dan membandingkan se-
cara langsung pengaruh 2 macam obat
anti hiper tensi dari golongan berbeda yang
bekerja pada RAS.
Peningkatan bermakna RPF terhadap
respon L-NMMA pada akhir penelitian
dengan terapi penghambat ACE dan ARB
memperlihatkan bahwa menargetkan tera-
pi pada sistim RAS dapat meningkatkan
aktifitas NO. Tidak ada perbedaan ber-
makna antara ramipril dengan telmisartan
dalam hal ini.
Kesimpulan
Pada pasien diabetes tipe II, pembe-
rian obat antihipertensi golongan peng-
hambat ACE dan ARB (dalam penelitian
ini Ramipril dan Telmisartan) bermakna
meningkatkan aktivitas NO endotel ginjal,
sehingga kedua golongan obat ini berman-
faat mempertahankan fungsi kardiovasku-
lar dan ginjal. n
YYA
Brunner H, Cockroft JR, Deanfield J et al. En-
1.
dothelial function and dysfunction. Part II. As-
sociation with cardiovascular risk factors and
diseases: a statement by the Working Group
on Endothelins and Endothelial Factors of the
European Society of Hypertension. J Hypertens
2005; 23:233­46
Ladeia AM, Ladeia-Frota C, Pinho L et al.
2.
Endothelial dysfunction is correlated with
microalbuminuria in children with short-
duration type 1 diabetes. Diabetes Care 2005;
28:2048­50
Perticone F, Ceravolo R, Pujia A et al. Prognos-
3.
tic significance of endothelial
dysfunction in hypertensive patients. Circula-
4.
tion 2001; 104:191­6.
Schmieder RE, Delles C, Mimiran A et al.
5.
Impact of Telmisartan Versus Ramipril on
Renal Endothelial Function in Patients With
Hypertension and Type 2 Diabetes. Diabetes
Care 2007; 30:1351­6.
Weintraub HS. Where Is the Cardiovascular
6.
Continuum Today? -- An Expert Interview
With Howard S. Weintraub, MD, FACC.
http://www.medscape.com/
7.
viewarticle/504977
Referensi
The Cardiovascular Continuum
Risk Factors:
Diabetes
Hypertension
Adapted from Dzau V, Braunwald E. Am Heart J, 1991
Gibbons, 1999
Endothelial
Dysfuntion
Vascular
Disease
Tissue Injury
(MI, Stroke)
Pathological
Remodeling
Target Organ
Dysfunction (CH, Renal)
End-stage
Organ Failure
Death
P < 0,018
P < 0,001