CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
B E R I T A T E R K I N I
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
E
fek silymarin terhadap saluran cerna ini di antaranya adalah
kemampuan silymarin menstimulasi aktivitas antioksidan
pankreas, efek ini memberikan hasil positif pada hewan coba.
Pemberian silymarin pada hewan coba akan mencegah
peningkatan glukosa darah dan mencegah hiperglikemia.
Ada beberapa studi klinis baik pada gangguan hati maupun
pada diabetes melitus tipe II. Pada studi pertama pemberian
silymarin (600 mg) selama 12 bulan pada pasien gangguan
hati disertai diabetes dengan 30 sampel di masing-masing
kelompok (obat vs plasebo). Hasilnya menunjukkan penurunan
bermakna parameter rata-rata gula darah puasa, rata-rata
kadar gula darah harian, kadar HbA1c, serta penurunan
kebutuhan insulin jika dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Studi kedua adalah studi pemberian silymarin pada penderita
diabetes mellitus tipe II. Studi ini melibatkan 25 subyek pada
kelompok yang mendapat silymarin (200 mg 3x sehari) dan
26 subyek pada kelompok plasebo.
Pemberian silymarin selama 4 bulan. Pada akhir studi terjadi
penurunan bermakna kadar HbA1c, kadar gula darah puasa,
total kolesterol dan LDL, trigliserida serta transaminase pada
kelompok silymarin dibandingkan dengan plasebo.
Kesimpulan studi ini adalah bahwa silymarin berpotensi luas efek
antidiabetogenik serta efek penghambatan peroksidasi lemak.
Juga studi ini menunjukkan bahwa penggunaan silymarin
jangka panjang dengan dosis 600 mg/ hari terbukti aman.
(TMB)
Referensi:
1. Kren V, Walterova D. Silybin and Silymarin new effect and application. Biomed Papers
2005;149(1):29-41.
2. Vellusi M, Cernigoi M, Viezolli L. et al. Silymarin reduces hyperinsulinemia, malondialdehyde
levels, and daily insulin need in cirrhotic diabetic patients. Curr Ther Res 1993;53(5): 533
(Abstrak).
3. Fallah Huseini B. Larijani , R. Heshmat, H. et al. The efficacy of Silybum marianum (L.)
Gaertn. (silymarin) in the treatment of type II diabetes: a randomized, double-blind,
placebo-controlled, clinical trial. Phytother. Res. 2006;20(12): 1036 (Abstrak).
4. Velussi M, Cernigoi AM, De Monte A. et al. Long-term (12 months) treatment with an
anti-oxidant drug (silymarin) is effective on hyperinsulinemia, exogenous insulin need
and
malondialdehyde levels in cirrhotic diabetic patients. J Hepatol. 1997;26(4):871
(Abstrak)
B E R I T A T E R K I N I
Indeks Glikemik atau Glycemic Index (GI)
merupakan suatu sistem peringkat untuk
menilai seberapa cepat glukosa dari suatu
jenis makanan memasuki aliran darah, atau
dapat dikatakan seberapa cepat karbohidrat
dalam makanan dapat meningkatkan kadar
gula darah.
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
Glycemic Index
dan
dan Glycemic Load
Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Glycemic Index
dan Glycemic Load
Silymarin dan Diabetes Mellitus
Silymarin telah lama digunakan untuk mengobati gangguan fungsi hati dan saluran empedu.
Komponen aktifnya adalah 70% - 80% flavonolignan, sisanya fraksi kimia yang tidak terdefinisi.
Komponen aktif Silymarin ini adalah silibin atau sering disebut juga silibinin. Studi yang paling
banyak adalah untuk memperbaiki tes fungsi hepar yaitu transaminase. Namun studi-studi yang
lebih baru menunjukkan silymarin mempunyai berbagai potensi di antaranya potensi hipo-
kolesterolemik, kardioprotektif, neuroaktif dan neuroprotektif, serta potensi anti kanker dan
kemopreventif, efek antioksidan terhadap saluran cerna dan hati.
U
ntuk menyusun peringkat GI dibuat suatu standar
pengukuran dengan berpedoman seberapa cepat 50 gram
dari suatu jenis makanan dapat diubah menjadi gula;
peringkat tertinggi ditempati oleh glukosa dengan rating
100. Semakin tinggi rating berarti semakin cepat makanan
tersebut masuk ke dalam peredaran darah. GI dikategorikan
tinggi jika memiliki rating 70 atau lebih, sedang antara
56-69 dan rendah jika rating 55 ke bawah. Nilai GI ini
dinilai penting karena konsumsi makanan yang memiliki GI
tinggi akan meningkatkan secara cepat gula darah yang
akan menyebabkan gangguan sensitivitas insulin, obesitas,
peningkatan tekanan darah, peningkatan lipid darah dan
meningkatkan risiko DM tipe 2.
Yang menjadi masalah dari GI adalah bahwa ternyata GI
tidak menjelaskan berapa banyak karbohidrat yang tersaji
dari suatu makanan. Sebagai contoh wortel memiliki rating
GI 71, terkesan bahwa mengkonsumsi banyak wortel dapat
meningkatkan berat badan dan berbahaya bagi penderita
Diabetes mellitus karena wortel memiliki GI yang tinggi.
Keterbatasan lainnya dari GI ini adalah bahwa informasi
yang diberikan hanya berpatokan pada satu jenis makanan
yang dimakan secara terpisah, padahal pada kenyataannya
dalam kehidupan sehari hari makanan yang kita makan
bercampur dan berinteraksi dalam menentukan kadar gula
darah kita.
Saat ini ada satu parameter baru yang dapat digunakan
selain GI, yaitu Glycemic Load (GL). Berbeda dengan GI, GL
tidak hanya menilai seberapa cepat glukosa dari suatu makan
memasuki peredaran darah tetapi juga menilai seberapa banyak
glukosa yang terkandung dari makanan tersebut sehingga
GL lebih menilai secara keseluruhan (the whole package).
GL dinyatakan sebagai peringkat dari suatu standar saji dari
suatu makanan untuk dapat meningkatkan kadar gula darah.
Semakin rendah GL semakin kecil suatu makanan yang
disajikan memicu peningkatan gula darah secara berlebih.
Berikut parameternya:
·
Tinggi: GL 20 atau lebih
·
Sedang: GL 11-19
·
Rendah: GL 10 atau kurang
GL dapat dihitung dengan cara mengkalikan GI dengan
jumlah karbohidrat yang terkandung dari suatu makanan
lalu dibagi seratus.
Sebagai contoh kita ambil wortel, wortel sebanyak 50 gram
memiliki kandungan 5,3 gram karbohidrat (telah diketahui
di atas bahwa GI wortel adalah 71), jadi nilai GL nya adalah:
(71 x 5.3):100 = 3,76
Jadi wortel yang dikatakan memiliki GI yang tinggi ternyata
memiliki GL yang rendah. Jadi walaupun GI wortel sama
dengan soda tetapi GL soda 10 kali lebih besar daripada wortel.
Berdasarkan fakta di atas saat ini pola program diet mulai
bergeser pada pemilihan makan yang memilki nilai GL rendah.
Dikatakan GL merupakan parameter yang lebih akurat dan
efektif dalam mengontrol berat badan dan mencegah resistensi
insulin, yang memungkinkan seseorang dapat menyantap
makanan lebih banyak dari program diet sebelumnya tetapi
tetap dapat membakar lemak, membentuk tubuh dan mem-
percepat metabolisme (Thompson 2006).
Studi yang dilakukan di General Clinical Research Centers
of the Brigham and Women's Hospital and the Children's
Hospital, Boston selama 3 tahun terhadap 30 orang obesitas
menyimpulkan bahwa diet rendah GL dapat mengurangi
obesitas, penyakit kardiovaskular dan DM.
Pada saat ini untuk mempermudah penilaian GI dan GL
telah diterbitkan tabel internasional untuk berbagai macam
jenis makanan yang disertai lengkap dengan nilai GI dan
GL nya, di antaranya di American Journal Clinical Nutrition
tahun 2002 volume 76. (DHS)
Referensi:
1. Dolson L. Is the glycemic index useful? http://lowcarbdiets.abou.com. Accessed on July 19, 2006.
2. Hapworth W.E. Meaning of glycemix index and glycemic load. http://www.treatmentonline.com.
Accessed
on
July
19,
2006.
3. Mendosa D. Revised international table of glycemic index (GI) and glycemix load (GL) values 2002.
http://www.mendosa.com/. Accessed on July 19, 2006.
4. Pereira et al. Effects of a low-glycemic load diet on resting energy expenditure and heart disease risk
factors during weight loss. JAMA. 2005 Mar 9;293(10):1189;1189-90.
5. Powel KF, Holt S H and Miller JC. International table of glycemic index and glycemic load values:2002.
Am J Clin Nutr 2002;76:5-56.
6. Thompson R. The glycemic load diet. http://www.books.mcgraw-hill.com./ Accessed on July 19, 2006.
7. Weil A. What is the glycemic index. http://www.drweil.com/. Accessed on July 19, 2006.
128
127