CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
190
PENDAHULUAN
Bising didefinisikan sebagai bunyi tidak dikehendaki yang
merupakan aktivitas alam atau buatan manusia.
1
Suara yang
dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau
sebagian orang merupakan suara yang disenangi, namun bagi
beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu.
Bising yang didengar sehari-hari berasal dari banyak sumber
baik dekat maupun jauh.
2
Pada tahun-tahun terakhir ini diberitakan bahwa sekitar 14,7
juta penduduk Amerika Serikat terpajan kebisingan yang
mengancam pendengaran karena pekerjaan, sedangkan 13,5
juta orang tanpa disadari terpajan kebisingan pada tingkat
berbahaya, seperti bising dari pesawat terbang, truk, bis,
mobil, sepeda motor, alat-alat musik, pemotong rumput dan
alat-alat dapur.
3
Menurut Kryter (1996), tingkat kebisingan di jalan raya dapat
mencapai 70-80 dB, sedangkan di sekitar jalur kereta api
mencapai 90 dB dan di sepanjang jalur take off pesawat dapat
mencapai 110 dB.
5
Basirudin (2003) pada penelitiannya
mendapatkan bahwa rerata intensitas bising kendaraan bajaj
adalah sebesar 91 dB dan survai Shield (2005) melaporkan
bahwa 86% sumber bising di lingkungan sekolah adalah
berasal dari mobil.
6,7
Hal ini dapat merepresentasikan intensi-
tas bising di jalan raya, dengan volume kendaraan yang sangat
padat dengan jenisnya yang beragam. Pada suasana kelas
yang tenang dan jauh dari jalan raya tingkat kebisingannya
mencapai 40-50 dB; sama dengan yang dilaporkan Jonsdotir
(2002) bahwa sebagian besar ruangan kelas mempunyai
tingkat kebisingan 50 dB.
8
Di bidang THT, bising ini tidak hanya berdampak pada gang-
guan pendengaran, tetapi dapat juga berdampak pada gang-
guan komunikasi.
11
Menurut Atmosoewarno (2003), komuni-
kasi verbal (lisan) merupakan sarana informasi dan komunikasi
yang paling efektif.
12
Suara juga dapat digunakan untuk mengekspresikan berbagai
keadaan emosional manusia, untuk meningkatkan kemam-
puan intelektual, spiritual dan sosial, sehingga suara guru yang
tidak mengalami gangguan dibutuhkan untuk menyampaikan
informasi yang jelas kepada murid-muridnya.
Sekolah harusnya masuk ke Zona B berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 718/MEN.KES/PER/XI/1987 tentang
kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan
4
. Persyaratan
untuk zona B ditetapkan sebesar 45 dB (maksimum yang dianjur-
kan) sampai 55 dB (maksimum yang diperbolehkan).
4
Sayang-
nya, distribusi lokasi SD cukup tersebar, mulai dari daerah
perkotaan sampai pedesaan, dari pinggir jalan raya sampai ke
tengah perumahan, bahkan di sekitar jalur kereta api dan jalur
take off pesawat terbang.
13
Akibat kepadatan volume kenda-
raan di perkotaan dan pinggir jalan raya yang lebih padat
dibandingkan di pedesaan dan di perkampungan, dapat
diasumsikan bahwa tingkat kebisingannya juga lebih tinggi.
Menurut Gabriel (1990) tingkat kebisingan jalan pada umum-
nya adalah 60 dB sampai 80 dB dengan rata-rata 70 dB.
1
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disusun perumusan
masalah sebagai berikut:
Tingkat kebisingan sekolah di sekitar jalan raya meningkat
akibat arus transportasi.
Kebisingan dapat mengganggu komunikasi dalam proses
belajar mengajar.
Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi belajar murid.
Pertanyaan penelitian yang ingin dijawab: apakah tingkat
konsentrasi belajar murid sekolah di sekitar jalan raya lebih
dipengaruhi bising lingkungan dibanding murid sekolah yang
jauh dari jalan raya? Penelitian ini bertujuan untuk memban-
dingkan pengaruh bising lingkungan terhadap tingkat kon-
sentrasi belajar murid yang bersekolah di sekitar jalan raya
dibanding murid sekolah yang jauh dari jalan raya.
1.
2.
3.
Pengaruh Bising
Pengaruh Bising
terhadap
terhadap Konsentrasi
Konsentrasi
Belajar Murid Sekolah Dasar
Belajar Murid Sekolah Dasar
M. Arief Purnanta, Soepomo Soekardono, BU Djoko Rianto, Anton Christanto
M. Arief Purnanta, Soepomo Soekardono, BU Djoko Rianto, Anton Christanto
SMF Teliga Hidung danTenggorok RS Dr Sardjito-Fakultas Kedkteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
SMF Teliga Hidung danTenggorok RS Dr Sardjito-Fakultas Kedkteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Pengaruh Bising
terhadap Konsentrasi
Belajar Murid Sekolah Dasar
M. Arief Purnanta, Soepomo Soekardono, BU Djoko Rianto, Anton Christanto
SMF Teliga Hidung danTenggorok RS Dr Sardjito-Fakultas Kedkteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
H A S I L P E N E L I T I A N
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
239
T
he 8th Jakarta Nephrology and Hypertension Course
yang berlangsung dari tanggal 23-24 Mei 2008 seperti tahun
sebelumnya dilangsungkan di Hotel Borobudur, Jakarta.
Acara yang dibuka oleh DR.Dr.Suhardjono, SpPD-KGH,
KGer sebagai ketua PERNEFRI ini mengambil 2 tema,
dimana pada hari pertama tema yang diangkat adalah :
"Pengaruh Obat Pada Ginjal", sedangkan pada hari kedua
pilihan tema yang diambil adalah: "Poluria, Mekanisme dan
Penanggulangannya". Dengan mengikuti rangkaian acara
simposium pada kali ini diharapkan para peserta yang hadir
lebih mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan meng-
hindari akibat yang tidak diinginkan dari obat terhadap
ginjal. Selain itu peserta dapat mengetahui serta mampu
mengatasi poliuria dan hal-hal yang berhubungan dengan
poliuria tersebut.
Setiap harinya acara dibagi menjadi menjadi 3 sesi, dimana
untuk 2 sesi pertama setiap sesi dibawakan 3 materi oleh 3
pembicara yang berbeda. Untuk sesi ketiga diisi dengan
presentasi kasus dan diskusi panel, pada sesi ini diharap-
kan para peserta aktif untuk ikut terlibat dalam menentukan
diagnosis kasus yang dibawakan serta mengemukakan
pendapat mengenai penanganan yang seharusnya dilaku-
kan pada pasien tersebut.
Topik yang dibawakan antara lain adalah :
SESI 1 Hari ke 1
Diuretika pada kasus oliguria (Dr.Chandra Irwanadi)
Pemakaian diuretika (meskipun masih menjadi perde-
batan) seperti loop diuretika masih dipergunakan pada
gagal ginjal akut yang disertai oliguria. Pemberian diure-
tika untuk kasus di atas dapat diberikan secara oral,
intravena dan intravena berkesinambungan (menggunakan
pump). Setiap jenis diuretika sesuai dengan tempat dan
cara kerjanya akan memberikan efek samping yang ber-
beda sehingga harus digunakan secara hati-hati dan bijak-
sana dalam pemberian dan pengobatan diuretika ini.
Obat vasoaktif, kaitannya dengan gangguan fungsi
ginjal (Dr.Jodi Sidharta)
Obat vasoaktif sering digunakan untuk meningkatkan
cardiac output (CO) dan tekanan arterial rerata untuk
menghasilkan peningkatan aliran darah ginjal untuk men-
cegah kerusakan ginjal terutama pada saat kritis. Dopa-
mine dosis renal banyak digunakan banyak digunakan
pada kondisi klinis walaupun kegunaannya dalam pen-
cegahan dan pengobatan gagal ginjal akut masih kontro-
versi. Penelitian tentang obat vasoaktif dan pengaruh-
nya terhadap ginjal pada banyak uji klinik menunjukkan
tidak ada bukti menguntungkan terhadap perlindungan
ginjal dan tidak ada random dengan kotrol yang mem-
beri bukti secara statistik bermakna dari hasil pengo-
batan selain dari penggunaan dopamine dosis rendah,
itupun hanya terbukti dalam meningkatkan produksi urin
dan aliran darah ke ginjal, akan tetapi tidak bisa mence-
gah penurunan fungsi atau kematian pasien gagal ginjal
akut (GGA) atau pasien GGA, belum jelas benar apakah
peranan perbaikan hemodinamik mutlak untuk proteksi
ginjal. Sedangkan data untuk Dobutamine, suatu anala-
log dopamine tentang pernyataan yang menyatakan
kegunaannya untuk proteksi ginjal juga masih sedikit.
Penggunaan Manitol: dampaknya pada fungsi ginjal.
(Prof.DR.dr. M.Sja"bani)
Manitol dilaporkan meningkatkan osmolaritas filtrasi
glomerulus, menarik cairan intraseluler ke ekstraseluler,
menurunkan hematokrit serta meningkatkan viskositas
darah. Pada klinik, indikasi pemberian Manitol adalah :
menurunkan tekanan intrakranial dan terapi edema
serebri, menurunkan tingginya tekanan intraokuler yang
tidak dapat diturunkan dengan obat lain, memacu ekresi
urin yang mengandung substansi toksik, diuresis pada
gagal ginjal fase oliguria dan terapi rhabdomiolisis,
mengatasi sindroma disequilibrium pada pasien dialisis.
The 8th Jakarta
Nephrology and
Hypertension Course,
Hotel Borobudur Jakarta,
23-24 Mei 2008
1.
2.
3.
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
240
SESI 2 Hari ke 1
Dampak NSAID pada ginjal (Dr.Rubin Surachno)
NSAID menganggu fungsi ginjal melalui efek pengham-
batan terhadap prostaglandin ginjal. Prostaglandin
diproduksi di berbagai tempat di ginjal dan berfungsi
untuk mempertahankan homeostasi dan perfusi ginjal.
Efek gangguan NSAID terhadap ginjal dapat mengaki-
batkan gangguan ginjal vasomotor, sindroma nefrotik
dengan nefritis tubulo intersitialis, retensi garam dan air,
hiperkalemia, hipernatremia. Masih menjadi pertanyaan
apakah pemakaian jangka panjang NSAID akan menimbul-
kan gagal ginjal kronik yang progresif serta ireversibel.
Antibiotika nefrotoksik: penggunaan pada gangguan
fungsi ginjal (Dr.Shofa Chasani)
Beberapa antibiotika yang sering menyebabkan gang-
guan ginjal antara lain golongan aminoglikosida, golo-
ngan beta laktam, vancomisin, sulfonamide, kotrimok-
sazol, aciclovir, amphotericin B, rifampicin. Obat antibiotika
dapat menginduksi kerusakan ginjal melalui berbagai
cara antara lain berkurangnya natrium dan air, peruba-
han aliran darah dan obstruksi ginjal. Pada penderita
PGK yang telah menjalani dialisis maka perlu perubahan
dosis dikarenakan adanya kehilangan obat melalui darah
yang dapat mempengaruhi efikasi dari obat tersebut.
Penggunaan antiplatelet pada pasien dengan penyakit
ginjal kronik (DR.Dr.Suhardjono)
Aspirin sebagai pencegahan trombosit vaskular, infark
jantung maupun stroke telah banyak digunakan di
banyak klinik ginjal, akan tetapi belum banyak studi
mengenai efektivitas, keuntungan dan kerugiannya. Dari
suatu studi pada pasien HD, pemberian aspirin meng-
akibatkan 14,7% dengan kejadian perdarahan sebanyak
36 kali (10,3 episode/100 pasien-tahun). Oleh karena
risiko ini maka pertimbangan yang baik pada pasien
PGK dengan HD pemebrian aspirin tidak hanya didasar-
kan pada manfaatnya akan tetapi juga mempertimbang-
kan kemungkinan risiko atau komplikasi perdarahannya.
SESI 1 Hari ke 2
Keseimbangan air (Dr.Parlindungan Siregar)
Keseimbangan cairan tubuh adalah tercapainya osmo-
lalitas plasma yang tetap (mencapai set point). Osmolali-
tas plasma yang tercapai berkat pengaturan yang dilakukan
oleh regulasi osmotik an regulasi volume yang berlangsung
secara simultan, pengaturan ini melibatkan berbagai
hormon seperti hormon antidiuretik (ADH) dan hormon
Natriuretik (ANP, BNP).
Poliuria pada gangguan hormonal (Dr.Pranawa)
Oliguria pada gagal ginjal akut (DR.Dr.Bimanesh Sutarjo)
Fase poliuria pada GGA mengindikasikan permulaan
perbaikan ginjal dan kembali ke fungsi normal atau me-
nandakan adanya kerusakan ginjal yang berat. Penyebab
terjadinya poliuria adalah terganggunya resorbsi natrium,
diuresis osmotik oleh ureum, ganguan respon sel tubulus
terhadap ADH (anti diuretic hormone), hidrasi berlebihan
saat fase oliguria dan pembilasan solut dalam tubulus di
medula. Oleh karena fase poliuria dapat masif dan ber-
kepanjangan maka diperlukan pemantauan produksi
urin ketat dan pemeriksaan elektrolit darah.
SESI 2 Hari ke 2
Poliuria pasca kraniotomi (Dr. Julius July)
Poliuria pasca prosedur kraniotomi merupakan kondisi
yang sering diketemukan pada kasus bedah saraf, pe-
nyebab tersering adalah karena Cerebral Salt Wasting
Syndrome (CSWS) dan neurogenik Diabetes Incipidus (DI).
Poliuria, Hiponatremia dan hipokalemia
(Prof.DR.dr.Ketut Suwitra)
Pada PGK poliuria bisa terjadi dalam bentuk water di-
uresis yaitu pada keadaan diabetes incipidus neurogenik
atau solute diuresis yaitu pada keadaan post obstruk-
tive diuresis atau pada Sodium Wasting Nephropathy.
Hiponatremia pada PGK bisa terjadi akibata kehilangan
Na berlebih (misal pada sodium wasting nephropathy)
dan pada sindroma nefrotik. Hipokalemia pada pasien
PGK bisa terjadi lewat renal atau ekstrarenal, lewat renal
biasanya akibat pemakaian diuretika berlebih atau
akibat sekresi mineralkortikoid. Kehilangan ekstrarenal
paling sering terjadi melalui GIT.
Poliuria pada penggunaan obat-obatan
(Dr.Ginova Nainggolan)
Obat tranqulizer yang mengandung lithium sering me-
ngakibatkan poliuria dan dapat mengaggu kerja ginjal
sehingga penggunaannnya khususnya pada pasien
psikiatri yang sering mendapat obat jenis ini harus
berhati-hati dan bijaksana.
(DHS)
1.
2.
3.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
189
3. Kortikosteroid
Sebelum steroid digunakan secara luas untuk pengobatan
croup, lebih dari 15% penderita croup harus dirawat di rumah
sakit.
4
Sejak adanya penelitian meta analisis tentang penggu-
naan steroid pada penanganan croup, saat ini penggunaan
steroid merupakan terapi standar.
8
Steroid mempunyai efektifi-
tas yang baik untuk pengobatan croup derajat ringan, sedang
maupun berat.
4
Mekanisme aksi kortikosteroid masih belum jelas; diduga se-
bagai antiinflamasi, sehingga menurunkan udem subglotis dan
memperbaiki gejala klinik.
7,8
Penelitian meta-analisis Ausejo
dkk. menyebutkan bahwa steroid efektif memperbaiki gejala
croup dalam 6 - 12 jam setelah pengobatan. Dari penelitian
tersebut juga didapatkan perbaikan skor croup secara ber-
makna, penurunan penggunaan adrenalin sebagai terapi tam-
bahan, dan penurunan angka perawatan di rumah sakit.
5
Preparat yang sering dipakai untuk pengobatan croup yaitu
deksametason dan budesonid. Deksametason merupakan
steroid dengan efek antiinflamasi yang poten dan efek terapi
jangka panjang karena mempunyai waktu paruh 36 sampai 54
jam.
4
Dosis deksametason 0,6 mg/kg bb. (maksimal 10 mg);
tetapi penelitian Geelhoed membuktikan bahwa dosis
deksametason 0,15 mg/ kg bb sama efektifnya.
17
Deksametason dapat diberikan secara oral, parenteral atau-
pun secara nebuliser.
17-20
Pemberian oral sama efektifnya
dengan pemberian intramuskular dalam mengobati croup
sedang sampai berat. Keuntungan pemberian secara oral yaitu
lebih mudah didapat dan diberikan, selain itu nyeri dan risiko
yang berhubungan dengan penyuntikan dapat dihindari.
4,17
Budesonid diberikan secara nebuliser, mempunyai efek yang
lebih cepat daripada deksametason peroral yaitu kurang lebih
2 sampai 4 jam. Keuntungan lain nebuliser budesonid yaitu
efek sistemik minimal, penderita lebih cepat keluar dari unit
rawat darurat, dan mengurangi lamanya perawatan di rumah
sakit. Dosis budesonid 2 mg dilarutkan dalam 4 ml larutan
salin; dapat diulang dengan dosis 1 mg budesonid dilarutkan
dalam 2 ml larutan salin tiap 12 jam.
21,22
Kombinasi budesonid
nebuliser dengan deksametason peroral mempunyai efek yang
lebih cepat daripada budesonid saja.
23
4. Heliox
Merupakan campuran helium dan oksigen. Helium merupa-
kan gas dengan densitas dan viskositas rendah; dapat menu-
runkan tahanan aliran udara, meningkatkan aliran udara dan
menurunkan kerja otot pernafasan.
6,7,9
Kombinasi helium
dengan oksigen akan meningkatkan oksigenasi darah. Pasien
croup berat yang menghirup campuran gas helium dan oksigen
akan menjadi nyaman dan tidak memerlukan intubasi.
9
5. Intubasi endotrakeal atau Trakeostomi
Intubasi atau trakeostomi jarang dilakukan sejak penggunaan
steroid secara luas. Intubasi endotrakeal atau trakeostomi
dilakukan pada pasien croup berat yang tidak responsif ter-
hadap pengobatan sebelumnya.
Keputusan melakukan intubasi endotrakeal atau trakeostomi
berdasar pada kriteria klinik adanya hiperkarbia dan gagal nafas
mengancam termasuk peningkatan stridor inspirasi, frekuensi
respirasi, denyut jantung, adanya retraksi, tanda-tanda sianosis
atau terjadi perubahan status mental.
1,7,9
Karena udem larings,
maka pipa endotrakeal yang digunakan sebaiknya dua ukuran
lebih kecil daripada yang digunakan untuk anak sehat untuk
mencegah penekanan berlebihan pada trakea yang dapat ber-
akibat nekrosis dan stenosis subglotis.
7
KEPUSTAKAAN
Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher edisi 13. Jakarta:
Binarupa Aksara 1994.
Cherry JD, Fugin RD. Textbook of Pediatric Infectious Diseases 2
nd
ed. Philadelphia:WB
Saunders Co, 1987: 237-247.
Neto GM, Kentab O, Klassen TP, Osmond MH. A Randomized controlled trial of mist in the
acute treatment of moderate croup. Acad Emerg Med 2002; 9: 873-879.
Rittichier KK, Ledwith CA. Outpatient treatment of moderate croup with dexamethasone
intramuscular versus oral dosing. Pediatrics 2000; 106: 1344-1348.
Ausejo M, Saenz A, Kellner JD, Johnson W, Moher D, Klassen TP, et al. The effectiveness
of glucocorticoids in treating croup: meta-analysis. BMJ 1999; 319: 595-600.
Weber JO, Chudnofsky CR, Younger JG, Lakin GL, Boczar M, Wilkerson MD, et al. A
randomized comparison of helium-oxygen mixture (Heliox) and racemic epinephrine for
the treatment of moderate to severe croup. Pediatrics 2001; 107: 1-4.
Rosekrans JA. Viral croup: Current diagnosis and treatment. Mayo Clin Proc 1998; 73:
1102-1107.
Ewig JM. Croup. Pediatric Annals 2002; 31: 125-130.
Krilov LR, Malhotra A. Viral croup. Pediatric Rev 2001; 22: 5-12.
Chin R, Browne GJ, Lam LT, McCaskill ME, Fasher B, Hort J. Effectiveness of a croup
clinical pathway in the management of children with croup presenting to an emergency
department. J Paediatr Child Health 2002; 38: 382-387.
Bailey BJ. Head and Neck Surgery-Otolaryngolgy 2
nd
ed. Lippincott-Raven, Philadelphia,
New York, 1998.
Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, Nose, and Throat Diseases: a pocket reference
2nd rev. ed. Thieme Medical Publ. Inc, New York, 1994.
Rudolph, AM, Kamli RK. Rudolph's Fundamentals of Pediatrics 2
nd
ed. Appleton and
Lange USA 1998.
Hodge KM, Ganzal TM. Diagnostic and therapeutic efficiency in croup and epiglottitis.
Laryngoscope 1987; 97: 621-625.
Westley CR, Cotton EK, Brook JG. Nebulized racemic epinephrine by IPPB for the
treatment of croup: a double blind study. Am J Dis Child 1978; 132: 484-487.
Frantz TD, Rasgon BM, Querenberry CP Jr. Acute epiglottitis in adults: analysis of 129
cases. JAMA 1994; 272: 1358-1360.
Nakamura H, Tanaka H, Matsuda A, Fukushima E, Hasegawa M. Acute epiglottitis: a
review of 80 patients. J Laryngol Otol 2001; 115: 31-34
Donaldson D, Poleski D, Kripple E, Filips K, Reetz L, Pascual RG, et al. Intramuscular
versus oral dexamethasone for the treatment of moderate to severe croup: a randomized
double blind trial. Acad Emerg Med 2003; 10: 16-21.
MacDonald WBG, Geelhoed GC. Management of childhood croup. Thorax 1997; 52:
757-759.
Luria JW, DiGuilio GA, Gonzales JA. Oral dexamethasone led to fewer treatment failures
than did nebulized dexamethasone or placebo in children with mild croup. ACP Journal
Club 2002.
Luria JW, Gonzales JA, DiGuilio GA, McAneney CM, Olson JJ, Ruddy RM. Effectiveness of
oral or nebulized dexamethasone for children with mild croup. Arch Pediatr Adolesc Med
2001; 155: 1340-1345.
Godden CW, Campbell MJ, Hussey M, Cogwell JJ. Double blind placebo controlled trial of
nebulized budesonide for croup. Arch Dis Child 1997; 76: 155-158.
Johnson DW, Jacobson S, Edney PC, Hedfield P, Mundy ME, Schuk S. A comparison of
nebulized budesonide, intramuscular dexamethasone, and placebo for moderately severe
croup. N Engl J Med 1998; 339: 498-503.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
H A S I L P E N E L I T I A N