Efisiensi Pengelolaan Laboratorium
di
Rumah Sakit
Dr Indika Pitono, Dr Rustadi Sosrosumihardjo
Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Pengetahuan ilmiah saja yang selama ini dianggap me-
rupakan satu-satunya prinsip untuk pengelolaan laboratorium,
sekarang tidakdapatdipertahankan lagi. Konsep terbaru mengenai
laboratorium klinik adalah konsep ekonomi yang bersama-sama
dengan pengetahuan laboratorium secara terintegrasi diperlukan
dalam pengelolaan laboratorium klinik untuk menghadapi
lingkungan yang makin bersifat business
.
Laboratorium klinik merupakan salah satu bagian yang
memerlukan biaya tinggi (cost intensive) dari suatu rumah sakit
untuk diagnosis dan monitoring suatu penyakit. Laboratorium
swasta komersial dihadapkan pada persaingan yang ketat dan
harus menemukan cara untuk mengelola secara ekonomis, tetapi
tetap masih mendapat keuntungan. Laboratorium yang tidak
bersifat komersial dalam suatu rumah sakit harus meningkatkan
efisiensi dan mengenal bentuk operasional maupun fungsi dalam
menghadapi beban kerja yang semakin meningkat
.
Belum ada atau sedikit sekali petunjuk/rujukan baku untuk
menilai biaya, produktivitas, aktivitas atau faktor-faktor untuk
membuat perkiraan biaya yang diperlukan untuk karyawan,
reagensia dan pengeluaran lainnya
.
Pada kesempatan ini akan diulas mengenai pengelolaan
laboratorium klinik yang pada akhirnya didapatkan suatu kese-
imbangan antara kualitas pelayanan dan efektifitas
.
Pengelolaan laboratorium seyogyanya menggunakan
manajemen yang lazim digunakan dalam industri yang ternyata
sangat berharga untuk dilaksanakan di laboratorium. Adminis-
trator rumah sakit bertanggung jawab dalam merencanakan serta
menentukan kualitas pelayanan penderita secara umum serta
keberhasilannya, sedangkan manajer laboratorium merekomen-
dasikan alat yang cost-effective, mengoptimalkan penggunaan
sumber daya manusia dan membantu merencanakan anggaran
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25 November 1993
.
106
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
untuk merealisasikan suatu target yang telah ditentukan dengan
biaya yang minimal, efisiensi maksimal dan kualitas pelayanan
penderita yang tidak terganggu
.
Secara umum agar hal tersebut dapat dicapai sebaik-baiknya
pihak manajemen seharusnya mempunyai tujuan, rencana yang
baik dan kontrol. Tujuan harus jelas, realistik dan dapat "diukur"
.
Perencanaan yang baik meliputi aktifitas planning statement,
forecasting, menentukan prioritas tujuan, programming yang
meliputi rencana mengenai alat-alat, personel, keuangan dan
timetable, scheduling yaitu menentukan batas waktu tujuan ter-
capai dan merencanakan anggaran. Aktifitas kontrol manajemen
meliputi pembuatan standar prosedur, mengukur performance
dan melakukan tindakan koreksi
.
Eksekutip rumah sakit sering kali dikritik, karena dianggap
tidak mengeluarkan dana cukup yang diperlukan untuk direct
patient care. Keterangan bahwa selama ini sumber dana masih
terbatas tidak dapat meyakinkan bahwa rumah sakit bukannya
mempunyai dana yang tidak ada habisnya. Hal ini disebabkan
karena kritik tersebut tidak memperhatikan fakta-fakta serta
pengertian tentang adanya distribusi dana dalam rumah sakit,
asal dana serta nilai diagnostik dan penggunaan yang berlebihan
dari tes diagnostik, x-ray, obat-obatan serta tindakan diagnostik
dan terbatasnya sumber dana. Walaupun demikian permintaan
tes-tes diagnostik dan tindakan diagnostik tetap meningkat,
sebabnya adalah mekanisme kontrol yang tidak pernah ada
secara jelas dan formal. Dalam hal laboratorium rumah sakit
swasta kesukaran dana tersebut dapat dicapai dengan mening-
katkan pendapatan atau mengurangi pengeluaran. Pada rumah
sakit pemerintah dimana peningkatan pendapatan laboratorium
tidak dapat begitu saja dicapai dengan menaikkan harga tiap tes
dan pemberian dana dengan meningkatnya biaya juga tidak dapat
begitu mudah dilaksanakan, manajer laboratorium harus lebih
efisien dan memanfaatkan setiap dana yang dianggarkan
.
Untuk mengoptimalkan dana tersebut beberapa masalah
yang sering dijumpai di rumah sakit seyogyanya dipahami dan
diantisipasi. Masalah ini adalah sebagai berikut :
1) Kurangnya informasi tentang besarnya kebutuhan klinik
dan prioritas
.
Manajer laboratorium mendapat kesukaran mengatur ang-
garan yang telah ditetapkan karena :
a) tidak ada cara yang tepat untuk menaksir jumlah serta ma-
cam tes yang rutin akan diminta selama satu mata anggaran
.
b) perkiraan tentang tes yang tidak dikehendaki tidak pernah
dapat diterka dengan tepat
.
Kejadian ini biasa terjadi dan mengharuskan pihak adminis-
trator rumah sakit mengalihkan anggaran dari satu pos ke pos
lain. Komputerisasi laboratorium mungkin membantu men-
dapatkan angka mengenai jumlah dan macam tes lebih tepat
.
2) Kurangnya pendidikan/pemberitahuan/prosedur standar
diagnostik
.
Adanya prosedur standar, pemberitahuan tentang cara
meminta tes seharusnya diberikan serta pendidikan yang terus
menerus
.
3) Meningkatnya beban kerja dan kebutuhan akan prosedur
pemantapan mutu
.
Jumlah, macam tes dan prosedur pemantapan mutu diten-
tukan setepat mungkin untuk mengurangi biaya. Tes apa yang
sering diminta serta penyakit apa yang sering dijumpai, kapan
terdapat akumulasi permintaan tes tertentu dapat membantu
menentukan keperluan di atas. Data tersebut sebenarnya dapat
diperoleh melalui medical record
.
Selain masalah tersebut terdapat biaya yang tidak terkontrol
dalam laboratorium yang penyebabnya adalah :
1) Biaya untuk otomatisasi yang tidak terantisipasi sebelum-
nya.
Dengan otomatisasi pemeriksaan laboratorium menjadi
mudah dan cepat. Profil tes lebih mudah dikerjakan dan lebih
cepat mendorong klinisi meminta tes dengan cara tersebut, era
dimana permintaan tes berdasarkan pertimbangan klinis serta
diagnostik fisik semakin ditinggalkan.
2) Masalah dengan reagen dan reagen penunjang lainnya
.
Pada permulaan perusahaan automatic analyzer sering kali
membuat alat yang banyak reagen serta penunjangnya banyak
tergantung padanya. Akan tetapi pada masa kini kebanyakan alat
telah menggunakan open system artinya dapat menggunakan
reagen merk lain bahkan perangkat kerasnya misalnya kuvet dan
sebagainya.
3) Perlunya kontrol atas pengeluaran biaya untuk personalia.
4) Perlunya membuat grup tes yang lebih kecil tetapi lebih
spesifik dibanding grup tes penyaring yang banyak akan tetapi
kurang spesifik
.
Mengatur biaya laboratorium tidak mungkin tanpa adanya
upaya meningkat produktivitas laboratorium. Produktivitas la-
boratorium meningkat apabila 1) Jumlah pemeriksaan yang
dikeluarkan bertambahnya untuk usaha yang tertentu. 2) Usaha
untuk mencapai jumlah pemeriksaan tertentu menurun. 3) Jum-
lah pemeriksaan dan usaha tetap akan tetapi kualitas pemeriksaan
meningkat
.
Dalam meningkatkan produktivitas ini manajer laborato-
rium harus memperhatikan dua hal yaitu tingkat kualitas yang
dihasilkan dan tingkat produktivitas (Gambar 1). Posisi (1,1)
adalah yang tidak memperhatikan kedua hal tidak dapat bertahan
lama dan tidak diinginkan oleh pihak rumah sakit. Posisi (10,1)
adalah manager yang sangat memperhatikan kualitas, akan tetapi
kurang memperhatikan produktivitas, tipe ini masih dapat diper-
tahankan akan tetapi sukar menghadapi keadaan dana yang
terbatas. Posisi (1,10) tidak diinginkan karena- walaupun
produktivitasnya tinggi, akan tetapi kualitas pemeriksaannya
rendah. Posisi (5,5) adalah posisi yang seimbang dimana per-
hatian ditujukan terhadap baik kualitas maupun produktivitas,
akan tetapi hal ini juga kurang disukai karena menunjukkan
pekerjaan yang "setengah hati" baik untuk kualitas maupun
produktivitas. Posisi (10,10) adalah tipe manajer yang memper-
hatikan secara maksimum baik kualitas maupun produktivitas,
mungkin hipotesis saja, akan tetapi ini posisi yang paling jelas
diinginkan untuk manajer yang bertanggung jawab
.
Gambar 1. Perhatian atas kualitas dan produktivitas manajer laborato-
rium.
Berikutnya adalah tabel-tabel yang dapat dipakai sebagai
strategi untuk meningkatkan produktivitas laboratorium. Di dal am
tabel-tabel terdapat masalah maupun penyelesaian yang umum,
yang mungkin tidak semuanya cocok untuk tiap laboratorium,
akan tetapi setidaknyadapat dipakai acuan untuk menilai keadaan
laboratoriumnya bila terdapat masalah tersebut.
Tabel 1.
Penyebab rendahnya produktivitas personil di laboratorium
1
. Tingkat ketrampilan yang rendah.
2.
Absen yang terlalu sering
.
3.
Program pelatihan yang kurang tepat.
4.
Orientasi karyawan terlalu berlebihan.
5.
Spesialisasi dan generalisasi kurang tepat.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
107
6.
Arus kerja yang kurang baik karena perencanaan yang kurang baik.
7.
Kurangnya penjelasan arus kerja
.
8.
Penilaian tentang beban kerja salah
.
9.
Pembagian kerja yang kurang baik antara shift, sub bagian lab
.
10.
Melakukan batching of test ) yang tidak benar. (tes dilakukan tujuh
kali seminggu walaupun tiga kali telah cukup)
.
11.
Standar turn around time ) yang tidak tepat.
12.. Mengerjakan sendiri pemeriksaan yang jarang diminta.
13.
Program pemantapan mutu kurang tepat sehingga tes sering harus di-
ulang.
14.
Pelaksanaan quality control yang berlebihan
.
15.
Tuntutan pelayanan yang berlebihan dari para klinisi. Permintaan sito
yang terlalu banyak.
16.
Automatisasi yang tidak memadai.
17.
Kerusakan alat yang relatip sering.
Keterangan :
) Batching of t est adalah melakukan pemeriksaan dengan mengumpulkan
terlebih dulu untuk kemudian dikerjakan setelah banyak
.
) Turn around time adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan.satu
pekerjaan dari permulaan sampai selesai
.
Tabel 2. Jalan keluar untuk mengatasi rendahnya produktivitas personil.
l.
Tinjau kemungkinan adanya konsolidasi personil
.
2.
Tingkatkan ketrampilan dan harapan akan kemajuan dengan pelatihan
dan imbal jasa
.
3.
Perbaiki hubungan dengan staf medik
.
4.
Campur antara analis yang "general" dan "spesialis"
.
5.
Hindari karyawan yang mempunyai spesialisasi sangat khusus
.
6.
Tinjau kemungkinan pengurangan karyawan
.
7.
Motivasi karyawan agar bekerja 100% pada waktu jam kerja
.
8.
Tingkatkan kemampuan seluruh analis tentang tindakan pencegahan
dan pemeliharaan alat-alat
.
9.
Hindari terlalu banyak karyawan dengan honor tinggi
.
10.
Tinjau kembali struktur organisasi
.
11.
Tinjau biaya tes bila dilakukan manual atau otomatis
.
12.
Tentukan apakah harus membuat atau membeli
.
13.
Gabungan sub bagian/seksi untuk mendapatkan efisiensi maksimal
.
14.
Usahakan adanya ruang cukup dan arus kerja yang baik
.
15.
Tinjau kemungkinan "satelite lab"
.
16.
Usahakan beban kerja yang tepat
.
17.
Meningkatkan beban kerja dan memperbesar jumlah "batch" dengan
peningkatan pelayanan
.
18.
Pindahkan pekerjaan rutin ke waktu lain
.
19.
Tinjau kemungkinan meningkatkan batching of test dan penurunan test
turn around time
.
20.
Kurangi adanya duplikasi pelayanan dalam laboratorium.
21.
Tingkatkan otomatisasi dengan menggunakan alat yang non labor
intensive dan low cost/test
.
22.
Kirim keluar tes yang jarang bila efisiensi masih rendah.
23.
Tinjau kembali kegiatan riset dan tindakan pengembangan yang tidak
perlu
.
24.
Tinjau dan tingkatkan efisiensi beberapa alat otomatis.
25.
Hindari alat yang banyak memerlukan interaksi karyawan.
26.
Komputerisasi laboratorium.
Tabel 3.
Hal-hal yang mungkin timbul akibat adanya excessive high labor
productivity.
l.
Adanya kemungkinan kekurangan karyawan untuk bertugas 24 jam.
2.
Berkurangnya waktu untuk pelatihan dan pengembangan.
3.
Adanya kemungkinan menurunnya kualitas.
4.
Timbulnya tes yang jarang diminta karena keluhan dari klinik.
5.
Adanya kemungkinan memanjangnya turn around time yang tidak
benar.
6.
Berkurangnya peninjauan untuk mengembangkan tes yang baru.
7.
Terjadi pelaporan tentang beban kerja yang tidak benar.
108
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
Tabel 4.
Rekomendasi untuk meningkatkan kualitas (clinical produc-
tivity).
Tabel 5.
Penyebab tingginya biaya non personil.
l.
Terlalu banyak biaya untuk riset, pengembangan dan tidak untuk
perawatan pasien
.
2.
Terlalu banyak beban biaya yang tidak berhubungan dengan laborato-
rium oleh rumah sakit atau yayasan
.
3.
Terlalu banyak biaya untuk perjalanan atau pendidikan.
4.
Tingginya biaya untuk mengikuti program pemantapan mutu ekstema.
5.
Tingginya biaya untuk melakukan tindakan quality control dalam
semua tahap pemeriksaan.
6. Tingginya iuran untuk organisasi.
7.
Terlalu banyak berlangganan buku/majalah yang tidak perlu.
8.
Terlalu banyak biaya untuk konsultasi.
9.
Terlalu sedikit modal untuk alat/terlalu banyak alat yang disewa (rental).
10. Terlalu banyak reagen terbuang.
11.
Terlalu banyak kontrol, standar dan pengulangan tes.
12.
Kebijaksanaan pembelian dan tawar menawar yang kurang baik.
13.
Adanya ketetapan yang tidak menentu mengenai definisi peralatan
yang akan dibeli.
14.
Inventarisasi yang kurang baik.
15.
Terlalu banyak atau terlalu sedikit tes yang dikirim keluar.
16. Terlalu banyak tindakan pencegahan.
17.
Tindakan pencegahan yang jelek yang mengakibatkan tingkat kega-
galan alat-alat yang tinggi.
18.
Monitoring terhadap telepon interlokal yang kurang baik.
19.
Kurir servis (bila ada) kurang terkontrol biayanya.
20.
Kapasitas peralatan yang dibeli tidak sesuai dengan beban kerja.
21.
Peralatan khusus sito yang harga reagennya tinggi dipakai untuk rutin.
22.
Tingginya pengulangan tes karena standardisasi alat yang kurang baik.
23.
Kemungkinan perlu alat cadangan.
24.
Tingginya penggunaan kertas komputer.
Tabel 6.
Penyebab tingginya permintaan tes laboratorium
l.
Rumah sakit adalah rumah sakit pendidikan dimana residen dapat
meminta tes
.
2.
Laboratorium mempunyai program keluar yang demikian baik se-
hingga banyak sampel berasal dari luar rumah sakit
.
3.
Banyaknya pasien dalam keadaan kritis.
4.
Tidak benarnya tata cara pola permintaan tes
.
5.
Monitoring atas tata cara permintaan tes tidak berfungsi efektip.
6.
Kurangnya presentasi kasus oleh patologists
.
7.
Turn around time yang jelek
.
8.
Adanya length of stay yang pendek dengan bertambahnya permintaan
tes
.
9.
Formulir lab yang kurang terencana dengan baik
.
10.
Kurangnya algoritme untuk membantu pemilihan dan interpretasi tes.
11.
Catatan yang tidak benar sehingga tampak sebagai permintaan tes
tinggi
.
12.
Adanya kepentingan komersial untuk mempertahankan permintaan tes
yang tinggi
.
13.
Terlalu banyaknya tes sito
.
14.
Adanya persepsi kualitas lab yang jelek yang mengakibatkan per-
mintaan tes ulang.
15.
Metodologi yang jelek yang mcnyebabkan hasil lab tidak konsisten
dengan keadaan penderita
.
16.
Pekerjaan riset dan pengembangan tidak dinilai dalam rupiah.
l.
Kembangkan laboratory disease related test group dengan klinisi
.
2.
Interaksi dengan klinisi untuk melakukan prioritas terhadap tes.
3.
Interaksi dengan staff klinik untuk menentukan pemilihan jenis tes yang
optimal
.
4.
Integrasikan grup tes dengan rencana program pemantapan kualitas.
5.
Lengkapi dengan interpretasi untuk klinisi
.
6.
Interaksi dengan pihak manajemen rumah sakit untuk tidak melakukan
tes yang tidak relevan lagi dan adakan tindakan pengurangan biaya.
KEPUSTAKAAN
1. Travers EM. Managing Costs in Clinical Laboratories. New York: McGraw-
Hill, 1989
.
2. Bennington JL, Westlake GE, Louvau GE. Financial Management of the
clinical Laboratory. Baltimore, Maryland: University Park Press, 1974.
3. Morrison JI, Hardwick DF, Cassidy PA. Laboratory Use, Cost, Technology:
How much can be saved?. In: The Clinical Laboratory in the new era. Quality,
Cost, and Diagnostic Demands. Bermes EW, ed. Washington: AACC Press,
1989.
Cerm.in Dunia Kedokteran, Edisi Khusus Nd.
91, 1994
10 9