background image
Penatalaksanaan Contusio
Cerebri
Syawalluddin Nasution, Adril A. Hakim
Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini jumlah kendaraan bermotor makin bertam-
bah dan tidak sebanding dengan peningkatan sarana jalan yang
tersedia, di samping jumlah manusianya juga makin bertambah;
akibatnya angka kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan ce-
dera kepala juga ikut meningkat. Dari 2063 penderita kecelaka-
an lalu lintas yang dirawat di RSCM Jakarta pada tahun 1983
ternyata 35,9% mengalami memar otak (contusio cerebri).
Berat ringannya cedera kepala tergantung pada kekuatan,
arah, dan tempat benturan. Pada daerah frontal dan oksipital
dimana terdapat otot, kekuatan benturan bisa dikurangi dengan
adanya otot-otot tersebut.
Pada contusio cerebri, daerah yang mengalami cedera men-
jadi-lunak, nekrosis, dan didapati adanya pelebaran pembuluh
darah, serta perdarahan kecil di samping hilangnya respons ter-
hadap rangsangan fisiologis. Kerusakan jaringan otak ini me-
nyebabkan gangguan peredaran darah otak (cerebral blood flow)
dan keadaan ini memperburuk hipoksi otak yang menimbulkan
acidosis lokal, edema otak, gangguan autoregulasi dan pening-
gian tekanan intrakranial. Kondisi di atas menyebabkan adanya
defisit neurologis.
PENATALAKSANAAN
Perdefinisi dapat dikatakan bahwa memar otak adalah per-
darahan otak tanpa gangguan kontinuitas jaringan yang dise-
babkan cedera kepala.
Gangguan kesadaran dapat dipantau dengan memperguna-
kan Glasgow Coma Scale. Dengan melihat skor GCS tadi dapat
dinilai apakah penderita dalam kondisi membaik atau sebalik-
nya. Pemeriksaan CT Scan kepala sangat dianjurkan bila fasili-
tas merhungkinkan, terutama bila ada kecurigaan timbulnya
82
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
hematom intrakranial.
Sewajarnya penderita contusio cerebri dirawat di ICU de-
ngan fasilitas yang memadai.
Pernafasan
Ditujukan untuk membebaskan jalan nafas dan menjamin
ventilasi yang baik.
­
bersihkan lendir, muntah, atau darah dari jalan nafas.
­
pasang endotracheal tube.
­
kalau perlu lakukan tracheostomi.
­
pemberian 0
2
secara intermiten.
Sirkulasi
Dalam waktu 24 jam pertama tekanan darah dan nadi harus
dikontrol secara ketat; tiap 15 menit pada 4 jam pertama dan
sesudah itu tiap 30 menit. Bila tekanan darah turun, nadi naik
berarti shock; bila tekanan darah naik, nadi melambat berarti
tekanan intrakranial meninggi; sedangkan bila tekanan darah
naik, nadi naik berarti permulaan dari hiperkapnia.
Bila ada, shock diberantas dengan pemberian infus.
Pemberian cairan dan elektrolit
Masukan cairan dibatasi untuk menghindari menghebatnya
edema otak, jumlah cairan diberikan sekedar pengganti cairan
yang hilang melalui pernafasan, kulit dan saluran kencing. Pada
3 ­ 4 hari pertama dapat diberikan cairan sebanyak 1 ­ 1,5 liter
dalam bentuk infus berupa cairan glukose 10% sebanyak 1 ­ 2
kolf, dan 1 kolf NaCl 0,9%. Kemudian secara bertahap jumlah ini
dinaikkan meqjadi 1500 ­ 2000 ml, terbagi atas cairan glukose
dan NaCl (3 :
'
1).
Pemberian makanan
Diberikan makanan personde; biasanya sesudah 48 jam
background image
sesuai dengan terdengarnya peristaltik usus. Jumlah makanan
diperhitungkan sesuai dengan cairan, elektrolit dan kalori yang
dibutuhkan dihitung bersama dengan cairan infus.
Hari pertama diberikan larutan glukose 10% sebanyak 100
ml tiap 2 jam. Hari berikutnya dapat diberikan susu dengan cair-
an yang lama. Pemberian protein 100 g/hari untuk 4 ­ 5 hari,
kemudian 400 g/hari, disertai makanan cair.
Pemberian anti edema
Upaya mencegah menghebatnya edema otak, kecuali me-
lalui perbaikan ventilasi, pembatasan cairan yang masuk juga
dipergunakan obat baik perinfus maupun parenteral. Mannitol
20%; 500 ml diberikan perinfus selama 30 menit per 24 jam.
Gliserol 10%; 500 ml diberikan perinfus selama 6 ­ 8 jam per 24
jam secara intermiten.
Peranan kortikosteroid sebagai obat untuk mencegah pe-
ninggian tekanan intrakranial masih dipertanyakan, namun
pemakaian kortikosteroid dapat menstabilkan membran sel dan
lisosomal, menghambat aggregasi trombosit, melindungi sel
endotel kapiler dari pengaruh faktor toksis, dan memelihara me-
tabolisme prostaglandin di tingkat sel. Preparat dexamethason
mula-mula diberikan 10 mg intravena, kemudian 5 mg tiap 6 jam
selama 2 hari pertama, diteruskan 5 mg/8 jam pada hari ke 3. 5
mg/12 jam pada hari ke 4 dan 5 mg/hari pada hari ke 5.
Pemberian obat-obatan
Bila suhu tubuh penderita mcningkat, diturunkan dengan
jalan mengkompres, dan mcmbcri antipiretika, di camping me-
nutupi penderita dengan selimut tipis, dan memperlancar aliran
angin dalam ruangan.
Pemberian analgetik pada kasus yang kesakitan, baik karena
luka maupun karena fraktur yang dialaminya.
Keadaan gaduh gelisah dapat disebabkan karena nyeri,
kandung kencing yang penuh, atau karena tekanan intrakranial
yang meninggi. Pemberian minor tranquilizer cukup membantu,
namun tidak jarang terpaksa dikombinasikan dengan major
tranquilizer dosis rendah.
KEPUSTAKAAN
1. Beks JWF. Pathophysiology of Head Injuries. Neurona 1988; 7(1).
2. Capita Selecta Kedokteran U.I.
3. Jennet B. Diagnosis and Management of Head Trauma. Journal of Neuro-
trauma, July 1991.
4. Markam
S. Kumpulan Makalah Neurologi. Bagian Neurologi FKUI.
5. Minderhoud
JP. Medical Management of Head Injuries. Neurona 1988; 7(1).
6. Sutanto dkk. Defisit neurologi pada penderita kecelakaan lalu li mas tanpa
atau dengan memakai
helm dirawat di RSUP Dr. Sardjito -- Yogyakarta.
Kumpulan Naskah Lengkap, Kongres IDASI Ujung Pandang, 1988.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
83