background image
537
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
ABSTRAK
Biopsi jaringan dalam bidang dermatologi perlu perencanaan sempurna agar memperoleh hasil pemeriksaan histo-
patologik yang mewakili seluruh lesi kulit, tanpa menimbulkan efek samping atau komplikasi pada pasien. Tinjauan
pustaka ini membahas mekanisme kerja dan macam-macam teknik anestesi lokal dan regional yang dapat dimanfaatkan
untuk menghilangkan rasa nyeri selama biopsi kulit.
PENDAHULUAN
Pemanfaatan biopsi jaringan untuk
membantu menegakkan diagnosis
jauh lebih sering dilakukan dalam bi-
dang dermatologi daripada bidang-
bidang spesialisasi lain.
1
Sebelum
merencanakan tindakan biopsi, perlu
dipertimbangkan pilihan-pilihan teknik
anestesi yang dapat dilakukan. Den-
gan perencanaan yang sempurna di-
harapkan akan dapat diperoleh suatu
sediaan untuk pemeriksaan histopa-
tologik yang mewakili seluruh lesi ku-
lit, tanpa menimbulkan efek samping
atau komplikasi yang tidak diinginkan
pada pasien.
Tinjauan pustaka ini akan memba-
has mengenai mekanisme kerja dan
macam-macam teknik anestesi lokal
dan regional yang dapat dimanfaat-
kan untuk menghilangkan rasa nyeri
selama biopsi kulit.
DEFINISI
Istilah `anestesi' berasal dari Bahasa
Yunani an yang artinya tidak, dan ais-
thesis yang artinya perasaan. Secara
umum anestesi berarti kehilangan
perasaan atau sensasi. Walaupun de-
mikian, istilah ini terutama digunakan
untuk kehilangan perasaan nyeri yang
diinduksi untuk memungkinkan dilaku-
kannya pembedahan atau prosedur
lain yang menimbulkan rasa nyeri.
2
MEKANISME KERJA
Serabut saraf memiliki membran li-
poprotein yang memisahkan matriks
intraseluler dari ekstraseluler. Cairan
intraseluler terutama mengandung
kalium, sedangkan cairan ekstrase-
luler mengandung natrium. Pada fase
istirahat, membran relatif permeabel
terhadap kalium tetapi kurang per-
meabel terhadap natrium, sehingga
mempunyai potensi membran -70
mV di mana bagian luar relatif positif
dibandingkan bagian dalam dan mem-
bran dalam keadaan polarisasi.
3
Bila
saraf dirangsang maka terjadi pening-
katan permeabilitas terhadap natrium,
sehingga terjadi depolarisasi dan pen-
ingkatan potensi membran +20 mV
di mana bagian luar menjadi relatif
negatif dibandingkan bagian dalam.
Kejadian berurutan di mana impuls
menyebar sepanjang saraf. Pada fase
selanjutnya terjadi repolarisasi mem-
bran yang menyebabkan peningkatan
permeabilitas terhadap kalium. Pada
akhir potensi aksi, natrium dikeluarkan
melalui proses aktif, dan saraf kembali
ke fase istirahat.
3
Anestesi Lokal dan Regional
untuk Biopsi Kulit
Yuanita Dian Utama
Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Dipo-
negoro / Rumah Sakit Dokter Kariadi, Semarang
Sebagian besar obat anestesi lokal te-
rikat pada reseptor `sodium channel'
dan bekerja mencegah terbukanya
`sodium channel' pada membran
`sodium channel'
`sodium channel'
akson sehingga tidak terjadi depo-
larisasi dan potensi aksi tidak me-
ningkat. Dengan demikian, anestesi
lokal menyebabkan peningkatan nilai
ambang rangsang saraf, mengham-
bat penyebaran impuls, mengurangi
kecepatan peningkatan potensi aksi,
dan akhirnya menghambat konduksi.
3
TEKNIK-TEKNIK ANESTESI
Pilihan teknik anestesi untuk sebagian
besar kasus adalah masalah individual.
Selain aspek-aspek teknis, untuk me-
nentukan pilihan tersebut juga harus
mempertimbangkan status emosional
pasien. Secara umum, anestesi lokal
atau regional lebih disukai, khususnya
pada pasien-pasien dengan penyakit
kardiovaskuler atau saluran perna-
pasan, karena lebih aman dan nya-
man.
4
1. Anestesi Lokal
Anestesi lokal didefinisikan sebagai hi-
langnya sensasi sementara pada suatu
area tubuh yang relatif kecil atau ter-
batas yang tercapai dengan aplikasi
topikal atau injeksi obat-obat yang
PRAKTIS
background image
539
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
menekan eksitasi ujung saraf atau
menghambat konduksi impuls sepan-
jang saraf perifer.
5
Salah satu keunggulan anestesi lokal
yaitu dimungkinkannya komunikasi
antara operator dengan pasien sela-
ma operasi. Hal ini terutama penting
saat operasi dilakukan di dekat saraf-
saraf penting.
4
Sedangkan kerugian-
nya yaitu bahwa operator harus san-
gat berhati-hati dalam berbicara agar
tidak mengucapkan sesuatu yang tidak
pada tempatnya. Selain itu, secara
teknis injeksi anestesi lokal dapat me-
nyebabkan pembengkakan jaringan,
sehingga mempersulit penentuan ba-
tas lesi secara tepat. Pada beberapa
area, seperti bibir, kelopak mata, dan
alis, pembengkakan akibat anestesi
akan sangat mengganggu hasil akhir
secara kosmetik. Untuk mengatasi ke-
adaan ini, sebaiknya rencana tindakan
dan garis batas operasi digambar se-
belum injeksi anestesi.
4
Obat anestesi lokal yang ideal yaitu
yang memiliki awitan kerja cepat, du-
rasi kerja cukup panjang, serta derajat
toksisitas dan alergenisitas minimal.
Sebagian besar kriteria ini dipenuhi
oleh anestesi lokal dengan golongan
amida (Tabel 1.). Jika diperlukan anes-
tesi tambahan, injeksi ulang sebanyak
25% dari dosis maksimal dapat diberi-
kan 30 menit setelah injeksi awal.
4
Tambahan obat-obat vasokonstriktor
seperti epinefrin akan menyebabkan
vasokonstriksi sementara dan men-
gurangi perdarahan intraoperatif,
mempercepat awitan kerja dan mem-
perpanjang durasi kerja, serta menin-
gkatkan kadar obat anestesi dalam
jaringan karena obat anestesi yang
masuk dalam sirkulasi darah berku-
rang. Kerugiannya yaitu bahwa vaso-
dilatasi yang terjadi setelah efek va-
sokonstriksi habis akan meningkatkan
perdarahan.
4
Pada beberapa area tubuh, vasokon-
striksi dapat menyebabkan kerusakan
jaringan, sehingga biasanya disara-
nkan jangan menggunakan anestesi
yang mengandung epinefrin untuk
jari, penis, hidung, dan telinga. Se-
lain itu, epinefrin sebaiknya dihindari
untuk pasien-pasien dengan penya-
kit vaskuler perifer, diabetes, kardio-
vaskuler, glaukoma, dan pasien hamil.
Epinefrin juga berinteraksi dengan
berbagai obat, antara lain: antihiper-
tensi, antidepresan, amfetamin, dan
hidantoin.
4
Pada beberapa pasien injeksi obat
anestesi cukup menyakitkan, sehingga
beberapa operator menambahkan
sodium bikarbonat pada larutan anes-
tesi untuk meningkatkan pH agar nyeri
berkurang. Larutan yang mengandung
sodium bikarbonat harus selalu baru,
atau setidaknya dibuat tiap hari.
4
Bahan tambahan lain yang bermanfaat
yaitu hialuronidase. Enzim ini men-
gurangi edema dan mempermudah
difusi obat anestesi. Hialuronidase
terutama bermanfaat dalam anestesi
kelopak mata, di mana edema sering
terjadi. Saat anestesi blok saraf, hia-
luronidase menyebabkan difusi obat
anestesi lebih luas.
4
Efek samping anestesi lokal yang
mungkin terjadi: kerusakan saraf, re-
aksi alergi, kerusakan vaskuler, pneu-
motoraks (pada blok pleksus), infeksi
pada area injeksi, injeksi intravaskuler,
nekrosis jaringan (jika menggunakan
vasokonstriktor), reaksi toksik sistemik,
reaksi sistem saraf pusat, hiperventi-
lasi, agitasi, depresi napas, hipotensi,
atau aritmia.
4
1.1. Krioanestesi
Semprotan krio menghasilkan anest-
esi sementara untuk prosedur superfi-
sial. Penyemprotan selama 5-10 detik
menghasilkan anestesi parsial selama
1 menit; waktu ini cukup untuk melaku-
kan biopsi shave atau biopsi plong.
4
Anestesi semprot yang pertama kali
digunakan yaitu etil klorida, dengan
efek samping mudah meledak jika
bercampur dengan udara, dapat me-
nyebabkan hepatotoksisitas, dan jika
uapnya terhirup dalam jumlah besar
dapat menyebabkan anestesi sistemik.
Anestesi semprot lain yang mengand-
ung diklorotetrafluoroetan kurang
toksik dan lebih efektif daripada etil
klorida, namun di Amerika Serikat te-
lah ditarik dari pasaran karena meru-
sak lapisan ozon (Gambar 1.).
4,6
Beberapa ahli menyebutkan bahwa
etil klorida tidak bermanfaat untuk
biopsi plong karena menyebabkan
trauma jaringan dan menurunkan
kualitas spesimen untuk pemeriksaan
mikroskopis.
6
1.2. Anestesi Topikal
EMLA (eutectic mixture of local an-
esthetics) yang merupakan campuran
lidokain 2,5% dengan prilokain 2,5%
dalam vehikulum khusus dapat meng-
hasilkan anestesi yang cukup baik jika
diaplikasikan dengan oklusi selama 45-
60 menit (Gambar 2). Pada anak-anak,
EMLA yang digunakan pada area luas
dapat menyebabkan methemoglobin-
emia.
4
1.3. Anestesi Infiltrasi
Pada umumnya, injeksi infiltrasi tidak
dilakukan secara langsung pada lesi
tetapi justru pada sekitar lesi, dengan
beberapa tusukan membentuk suatu
cincin untuk mencakup seluruh area
operasi (Gambar 3). Pendekatan ini
meminimalkan risiko teoritis penye-
baran tumor ganas oleh trauma jarum
injeksi dan mencegah edema dermal
yang dapat mengganggu evaluasi his-
tologis.
4
2. Anestesi Regional
Anestesi regional didefinisikan seba-
gai proses yang sama dengan aneste-
si lokal, yang melibatkan area jaringan
subkutan yang lebih luas atau saraf-
saraf perifer yang lebih luas.
5
Anestesi regional dapat dicapai den-
gan injeksi obat anestesi berdurasi
kerja panjang pada daerah proksimal
lokasi operasi, di sekitar saraf sensorik
utama. Pendekatan ini terutama ber-
manfaat untuk daerah wajah, jari, dan
genitalia pria.
4
2.1. Daerah Kepala dan Leher
Daerah dahi disarafi oleh saraf supra-
orbitalis dan supratroklearis. Saraf su-
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 539
8/26/2010 3:40:05 PM
background image
540
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
praorbitalis keluar dari foramen supra-
orbitalis, yang dapat diraba sepanjang
batas atas orbita, kira-kira 2,5 cm late-
ral garis tengah wajah. Blok saraf ini
dapat dilakukan dengan injeksi 2-3 ml
lidokain 1% ke dalam foramen supra-
orbitalis. Sedangkan saraf supratrok-
learis keluar di sepanjang batas atas
orbita, kira-kira 1 cm medial foramen
supraorbitalis. Blok saraf supratrokle-
aris dilakukan dengan injeksi 2-3 ml
lidokain 1% pada batas atas orbita, 1
cm medial foramen supraorbitalis. Un-
tuk blok kedua saraf sekaligus, infiltra-
si 5-7 ml lidokain 1% dilakukan pada
dua pertiga tengah alis, tepat di atas
tulang orbita (Gambar 4).
11
Saraf infraorbitalis mensarafi daerah
sentral wajah, mencakup bibir atas,
pipi, dan sebagian cuping hidung. Sa-
raf ini keluar dari foramen infraorbita-
lis, yang terletak tepat di bawah orbi-
ta, sedikit ke arah nasal terhadap garis
imajiner yang ditarik dari pertengahan
kelopak mata bawah. Untuk blok saraf,
jarum ditusukkan sekitar 1 cm inferior
foramen infraorbitalis dan didorong
ke arah foramen, kemudian masukkan
2-4 ml lidokain 1% (Gambar 5).
11
Telinga disarafi oleh saraf aurikularis,
osipital, dan aurikulotemporalis. Injek-
si 10-20 ml obat anestesi di atas dan
bawah daun telinga akan mengha-
silkan blok berbentuk belah ketupat
(Gambar 6).
11
Bibir atas dianestesi dari dua titik,
masing-masing pada tiap sudut mu-
lut (Gambar 7). Secara keseluruhan,
sepanjang dua garis ke arah ala nasi
disuntikkan 5-10 ml obat anestesi.
11
Bi-
bir bawah dianestesi dari titik tengah
dagu, kemudian jaringan ikat diinfil-
trasi secara oblik ke arah sudut mulut
(Gambar 7.). Biasanya secara keselu-
ruhan diperlukan 10-15 ml obat anes-
tesi.
11
Saraf mentalis memberi inervasi sen-
sorik pada bagian anterior mandibula.
Saraf ini keluar dari foramen mentalis,
yang terletak di antara batas atas dan
bawah mandibula serta berada dalam
satu garis imajiner dengan foramen
supraorbitalis, pupil, dan foramen in-
fraorbitalis. Jarum ditusukkan kurang
lebih 1,5 cm posterolateral foramen
ke arah foramen, kemudian diinjeksi-
kan 2-3 ml lidokain 1% (Lihat Gambar
8.).
11
2.2. Daerah Ekstremitas dan Ingui-
nal
Saraf medianus memberi sensasi pada
sisi radial telapak tangan, sisi palmar
ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan
separuh jari manis, serta dasar kuku
jari-jari tersebut. Saraf medianus bera-
da di antara tendo-tendo fleksor karpi
radialis dan palmaris longus, di bawah
fleksor retinakulum. Kedua tendo ter-
sebut dapat dikenali dengan meminta
pasien mempertemukan ibu jari dan
jari kelingking. Jarum disuntikkan den-
gan sudut 45° ke antara tendo-tendo
pada lipatan pergelangan tangan
proksimal. Injeksi 2-5 ml obat anestesi
lokal akan memblok nervus medianus
(Gambar 9 A). Jika timbul parestesia,
jarum harus ditarik sedikit (sekitar 2
mm) untuk menghindari kerusakan se-
rabut saraf atau injeksi intraneural.
12
Cabang superfisialis saraf radialis
mensarafi dorsum tangan dan bagian
proksimal sendi interfalangeal distal
tiga jari pertama. Sebelum mencapai
pergelangan tangan saraf ini memiliki
banyak cabang, sehingga area yang
perlu dianestesi untuk mencapai blok
total cukup luas. Pertama-tama, 3 ml
lidokain 1% diinjeksikan tepat di la-
teral arteri radialis pada lipatan per-
gelangan tangan proksimal. Jarum
kemudian digeser dan ditusukkan
secara subkutan melintasi tepi proksi-
mal snuffbox menuju pertengahan sisi
dorsal pergelangan tangan. Injeksi 5-7
ml obat anestesi dilakukan secara me-
lingkar sambil menarik jarum (Gambar
9 B).
12
Saraf ulnaris bercabang ke palmar dan
dorsal pada lipatan fleksor proksimal
pergelangan tangan, mensarafi ba-
gian ulnaris permukaan palmar dan
dorsal telapak tangan dan jari kelin-
gking, serta separuh bagian ulnaris jari
kelingking. Injeksi 5-7 ml obat anestesi
sedalam 1-2 cm ke daerah antara ten-
do fleksor karpi ulnaris dan arteri ulna-
ris akan memblok cabang palmar dari
saraf ulnaris (Gambar 10 A). Cabang
ulnaris dorsal dapat diblok dengan in-
filtrasi 3-4 ml cairan pada daerah distal
prosesus stiloideus ulnaris (Gambar
10 B). Kedua cabang saraf tersebut
juga dapat diblok sekaligus pada siku.
Caranya, siku difleksikan 90º, jarum di-
tusukkan 0,5 cm ke dalam kulit antara
olekranon dan epikondilus medialis,
kemudian suntikkan 3-5 ml cairan. Ri-
siko kerusakan saraf pada prosedur
ini lebih tinggi karena saraf dapat ter-
jebak di antara anestesi lokal dan tu-
lang, menyebabkan iskemia saraf.
12
Kedua saraf yang berjalan pada tiap
sisi jari tangan dan kaki dapat diblok
dengan injeksi pada tiap sisi jari (Gam-
bar 11). Jarum ditusukkan ke arah
tulang, pada perbatasan permukaan
palmar dan dorsal jari, 1-2 cm distal
sela jari. Anestesi diberikan dengan
jarum tegak lurus jari, kemudian sedi-
kit bersudut ke arah palmar dan dor-
sal. Biasanya hanya dibutuhkan 1,5 ml
obat anestesi untuk tiap sisi jari.
12
Anestesi lokal pada telapak kaki relatif
sulit karena rasa nyeri yang nyata saat
penetrasi; blok saraf regional seringka-
li lebih disukai. Blok pergelangan kaki
posterior (Gambar 12.) digunakan un-
tuk menganestesi telapak kaki melalui
blok saraf suralis dan tibialis poste-
rior. Saraf suralis berjalan di belakang
fibula dan maleolus lateral, dan men-
sarafi tumit dan sisi lateral kaki. Untuk
melakukan blok saraf suralis, pasien
diposisikan telungkup dengan kaki
sedikit dorsofleksi. Jarum ditusukkan
di lateral tendo Achilles dan 1-2 cm
di atas ujung lateral maleolus. Obat
anestesi disuntikkan dengan pola sep-
erti kipas dari satu sisi ke sisi lain untuk
mencakup seluruh persarafan.
12
Saraf tibialis terletak di antara maleo-
lus medialis dan tendo Achilles, men-
sarafi bagian medial telapak kaki dan
sisi medial kaki. Saraf ini berjalan di
posterior arteri tibialis posterior. Untuk
memblok saraf tibialis, pasien diposi-
sikan telungkup dengan kaki sedikit
dorsofleksi. Jarum ditusukkan di ante-
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 540
8/26/2010 3:40:06 PM
background image
541
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
rior tendo Achilles, 1-2 cm di atas ma-
leolus medialis, kemudian didorong
menuju arteri tibialis posterior. Saraf
tibialis terletak di bawah retinakulum
fleksor yang padat, sehingga ma-
suknya jarum akan terasa saat menem-
bus retinakulum. Sekitar 5 ml lidokain
1% disuntikkan di sekitar saraf setelah
dilakukan aspirasi untuk mencegah in-
jeksi intraarteri. Sambil menarik jarum,
ditambahkan 5 ml lidokain lagi.
12
Blok pergelangan kaki anterior (Gam-
bar 13) digunakan untuk prosedur
pada dorsum kaki dan melibatkan
anestesi saraf safena, serta saraf pe-
roneus superfisial dan profunda. Saraf
peroneus profunda mensarafi ruang
antara jari kaki pertama dan kedua;
terletak antara tendo tibialis anterior
dan tendo ekstensor halusis longus.
Pasien diposisikan terlentang dan
pergelangan kaki sedikit plantarfleksi,
kemudian jarum ditusukkan di bagian
atas maleolus antara tendo-tendo ti-
bialis anterior dan ekstensor halusis
longus. Tendo-tendo ini akan menon-
jol jika pergelangan kaki dalam posisi
dorsofleksi dan ibu jari kaki melawan
tahanan. Jika arteri tibialis anterior te-
raba, jarum ditusukkan tepat di lateral
arteri, didorong ke dalam tendo di
atas periosteum, dan setelah aspirasi
disuntikkan 5 ml lidokain 1%.
12
Saraf peroneus superfisial dapat di-
blok dengan menusukkan jarum tepat
di superoanterior maleolus medialis.
Sekitar 5 ml obat anestesi disuntikkan
subkutan di antara tepi anterior tibia
dan tepi superior maleolus lateralis.
Saraf safena yang berjalan di medial
vena safena magna dapat diblok den-
gan menusukkan jarum tepat di su-
peroanterior maleolus medialis dan
menyuntikkan 3-4 ml obat anestesi
pada jaringan subkutan di sekitar vena
safena magna.
12
Pada blok penis dorsal jarum ditu-
sukkan pada pangkal penis pada po-
sisi jam 2 dengan sedikit menyudut ke
medial dan didorong kira-kira 0,5 cm
di bawah permukaan kulit, kemudian
0,5 ml cairan lidokain 1% tanpa epi-
nefrin disuntikkan. Jarum ditarik, dan
injeksi diulang pada posisi jam 10.
12
PENUTUP
Biopsi jaringan untuk membantu me-
negakkan diagnosis dapat dilakukan
dengan berbagai teknik sesuai keada-
an lesi. Demikian pula, terdapat ber-
bagai pilihan teknik anestesi yang da-
pat digunakan untuk mengurangi rasa
nyeri sebelum dan selama tindakan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Petres J, Rompel R, Robins P. Diagnostic Biop-
sies. Dalam: Dermatologic Surgery: Textbook
and Atlas. New York: Springer 1996 ;A(5): 31.
2. Tim Penerjemah EGC. Anestesi. Dalam: Ka-
mus Kedokteran Dorland. Edisi 26. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC 1996; 96.
3. Yogyartono P, Jayanata K, Prawito, Ernawati
D. Dasar-dasar Bedah Kulit. Dalam: Buku Pan-
duan Penatalaksanaan Bedah Kulit 1. Edisi 2.
Semarang: Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi Semarang 2000;
I: 48-66.
4. Petres J, Rompel R, Robins P. Anesthesia. Da-
lam: Dermatologic Surgery: Textbook and At-
las. New York: Springer 1996; A(3): 17-23.
5. Drake LA, Dinehart SM, Goltz RW, dkk. Guide-
lines of care for local and regional anesthesia
in cutaneous surgery. J Am Acad Dermatol
1995; 33: 504-9.
6. Huang W, Vidimos A. Topical anesthetics in
dermatology. J Am Acad Dermatol 2000; 43(2):
286-98.
7. Gebauer Company. Product Sheet Bottle un-
tuk Gebauer's Ethyl Chloride. URL: http://www.
gebauerco.com/?strProduct=EthylChloride
8. Harmon CB. Dermabrasion. Emedicine, 31 Juli
2003.URL: http://www.emedicine.com/derm/
topic744.htm
9. Kundu S, Achar S. Principles of Office Anesthe-
sia: Part II. Topical Anesthesia. Am Fam Physi-
cian 2002; 66(1): 99-102. URL: www.aafp.org/
afp/20020701/99.pdf
10. Gmyrek R. Local Anesthesia and Regional
Nerve Block Anesthesia. Emedicine, 28 Maret
2002. URL: http://www.emedicine.com/derm/
topic824.htm
11. Salam GA. Regional Anesthesia for Office
Procedures: Part I. Head and Neck Surgeries.
Am Fam Physician 2004; 69: 585-90. URL: www.
aafp.org/afp/20040201/585.pdf
12. Salam GA. Regional Anesthesia for Office Pro-
cedures: Part II. Extremity and Inguinal Area
Surgeries. Am Fam Physician 2004; 69: 896-
900. URL: www.aafp.org/afp/20040215/896.
pdf
Tabel 1. Klasifikasi dan farmakologi obat-obat anestesi lokal
4
Obat Anestesi
Golongan
Awitan
Kerja
Dosis Maksimal
Dewasa (Anak)
Durasi Kerja
Prokain
Mepivakain
Lidokain
Prilokain
Etidokain
Bupivakain
Ester
Amida
Amida
Amida
Amida
Amida
Lambat
3'-5'
3'-5'
<3'
3'-5'
3'-5'
500 mg (2 mg/kg)
300 mg (4 mg/kg)
300 mg (7 mg/kg)
400 mg (5,7 mg/kg)
300 mg (4,2 mg/kg)
175 mg (2 mg/kg)
15'-30'
30'-120'
45'-120'
30'-120' 120'-
180'
120'-180'
Keterangan: dosis dewasa dengan berat badan 70 kg.
Tabel 2. Bahan tambahan untuk anestesi lokal
4
Bahan
Dosis
Efek
Epinefrin
Sodium
bikarbonat
Hialuronidase
1:100.000
1 ml (1 mEq/ml) tiap 10 ml
larutan anestesi
50 IU tiap 10 ml larutan anestesi
Memperpanjang durasi kerja
Mengurangi perdarahan
Mengurangi dosis total yang
dibutuhkan
Menurunkan toksisitas
Mengurangi nyeri saat injeksi
dengan meningkatkan pH
Mempercepat awitan
Mengurangi pembengkakan
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 541
8/26/2010 3:40:06 PM
background image
542
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
Gambar 1. (A) Etil klorida dalam kemasan botol dan
kaleng.
7
(B) Frigiderm, anestesi semprot dengan kand-
ungan bahan aktif diklorotetrafluoroetan.
8
Gambar 2. Aplikasi lapisan tebal EMLA pada kulit intak,
dengan plastik oklusi Tegaderm.
9
Gambar 3. Injeksi anestesi pada daerah sekitar lesi,
tanpa injeksi langsung pada daerah lesi.
10
Gambar 4. Blok saraf supraorbitalis.
11
Gambar5. Blok saraf infraorbitalis
Gambar 6. Blok daun telinga.
11
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 542
8/26/2010 3:40:06 PM
background image
543
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
Gambar 7. Blok bibir atas dan bawah.
11
Gambar 8. Blok saraf mentalis.
11
Gambar 9 (A). Blok saraf medianus.
12
(B). Blok saraf radialis.
12
Gambar 10. Blok saraf ulnaris. (A) Penempatan jarum untuk memblok cabang palmar saraf ulnaris.
(B) Penempatan jarum untuk memblok cabang dorsal saraf ulnaris.
12
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 543
8/26/2010 3:40:07 PM
background image
544
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
Gambar 11. Blok saraf digitalis.
12
Gambar 12. Penempatan jarum untuk blok pergelangan
kaki posterior.
12
setelah aspirasi disuntikkan 5 ml
lidokain 1%.
12
Gambar 13. Penempatan jarum untuk blok pergelangan
kaki anterior.
12
PRAKTIS
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 544