374
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
375
|
a g u s t u s 2 0 0 9
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
http://www.nytimes.com/2008/10/09/
1.
us/09infection.html
Sumber
Pedoman Baru Pengendalian Infeksi
Diterbitkan oleh American Hospital
Association dan Joint Commission
B
erharap meningkatkan pe-
ngen dalian infeksi di rumah
sa kit, kelompok petinggi epi-
demiologi nasional AS ber-
sama dengan American Hospi-
tal Association dan Joint Commission, yang
mengakreditasi rumah sakit, mengeluarkan
rangkuman pedoman untuk mencegah
enam keadaan yang mematikan.
Dukungan bersama dari asosiasi rumah
sakit dan lembaga akreditasi harus mem-
beri dukungan kekuatan pada pedoman
tersebut. Wakil presiden Joint Commission
Dr. Robert A. Wise mengatakan bahwa se-
lama satu tahun mendatang, lembaga yang
dipimpinnya akan meneliti pedoman yang
akan ditambahkan pada pedoman akredi-
tasi yang baku pada 2010.
Kegiatan yang disarankan, misalnya
mencuci tangan sebelum memasukan ka-
teter dan peringatan untuk tidak memakai
pisau silet cukur sebelum operasi, tidak
berbeda secara bermakna dibandingkan
pedoman lengkap yang diterbitkan dan
diperbarui selama dua dasawarsa lalu oleh
tim penasihat pemerintah.
Namun para penulis mengatakan
bahwa mereka telah menulis secara lebih
jelas dan ringkas, dengan saran yang tidak
hanya tentang apa yang harus dilakukan
rumah sakit, tetapi juga tentang apa yang
seharusnya tidak dilakukan serta tentang
pendekatan sekunder yang perlu dicoba
apabila tindakan lini pertama tidak berha-
sil menurunkan tingkat infeksi.
Presiden asosiasi rumah sakit yang be-
ranggotakan 5.000 rumah sakit, Richard J.
Umbdenstock mengatakan, pedoman yang
dibuat selama dua tahun merupakan "ke-
se pakatan secara profesional" yang per-
tama pada strategi untuk meminimalisasi
infeksi.
Kelompok lain yang membuat pedoman
adalah Infectious Diseases Society of Amer-
ica, Society for Healthcare Epidemiology of
America, dan Association for Professionals in
Infection Control and Epidemiology.
Para pakar epidemiologi mengakui
bahwa tantangan untuk mengurangi in-
feksi di rumah sakit, yang dinyatakan me-
nyerang satu dari setiap 22 pasien, bukan
ketiadaan dari pedoman tetapi karena
ketidakpatuhan.
Sebuah survei di rumah sakit yang di-
lakukan oleh Leapfrog Group pada 2007
yang mengadvokasi mutu layanan kese-
hatan menemukan bahwa 87% tidak
mengikuti pedoman pengendalian infeksi
secara konsisten.
Dr. Wise mengatakan lembaganya me-
nemukan perbedaan besar pada kegiatan
pengendalian infeksi di rumah sakit.
Centers for Disease Control and Preven-
tion federal yang turut mengesahkan pedo-
man baru, memperkirakan bahwa ada 1,7
juta kasus infeksi dalam setahun di rumah
sakit, dan bahwa 99.000 pasien meninggal
setelah tertular penyakit tersebut (walau-
pun mungkin bukan disebabkan oleh in-
feksi saja). Lembaga tersebut memperkira-
kan biaya pengobatan infeksi di rumah
sakit sebanyak 20 miliar dolar AS setahun.
Dengan penelitian baru yang memberi
bukti yang sangat mendesak bahwa infeksi
sering tidak dapat dicegah, banyak rumah
sakit menjadi lebih giat. Mereka juga di-
dorong oleh pedoman baru dari Medicare
dan perusahaan asuransi lain yang tidak
mengganti tambahan biaya pengobatan
pasien yang mengembangkan penyakit in-
feksi tertentu.
Namun petugas rumah sakit menga-
takan, dengan masalah yang tetap terjadi,
sulit untuk menerapkan pedoman.
Enam keadaan yang dicakup dalam
pedoman tersebut, yang mempunyai 16
halaman, adalah infeksi aliran darah yang
terkait dengan kateter pusat, pneumonia
terkait ventilasi, infeksi saluran kencing
terkait kateter, infeksi pada luka operasi,
Methicillin-resistant Staphylococcus au-
reus atau MRSA, dan Clostridium difficile,
sebuah bakteri usus.
Dr. David C. Classen ahli epidemiologi
dari Universitas Utah dan penulis utama
mengatakan, tim penelitinya melakukan
survei dan meneliti pedoman yang ada saat
ini sebelum menentukan kegiatan yang
memiliki dasar ilmiah. Beberapa pedoman
yang ada belum diperbarui selama beber-
apa tahun. Dr. Classen menambahkan, di
antara beberapa tambahan adalah saran
bahwa pasien yang memakai alat perna-
pasan ditempatkan di tempat tidur rumah
sakit yang ditinggikan dan diberi perawa-
tan antiseptik oral secara rutin.
Beberapa rumah sakit sangat berhasil
dengan program pencegahan yang ter-
masuk skrining secara universal. Namun
para peneliti lain berpendapat bahwa men-
cuci tangan dan pencegahan lain mungkin
cukup efektif dan lebih murah sementara
merawat pasien yang terinfeksi secara lebih
baik. Penulis pedoman mengatakan bahwa
secara ilmiah tetap belum terbukti. n
NFA
L-reuteri ATCC 55730
Mengurangi Kolik
pada Bayi
Savino F, pelle E, Palumeri E. et al. Lactobacillus
1.
reuteri ATCC 55730 versus Simethicone in the
Treatment of Infantil Colic: A Prospective Ran-
domized Study. Pediatrics 2007;119:e124-30.
Karla C. Lactobacillus reuteri lessens
2.
symptoms of infantile colic. AAP News
2007;28(4):2.
Referensi
K
olik pada bayi merupakan
salah satu masalah yang
sering terjadi pada bayi usia
kurang dari 3 bulan, kelu-
han ini mengenai sekitar 3%
- 28% dari bayi yang dilahirkan. Kolik pada
bayi ditandai dengan kumpulan gejala pe-
rubahan perilaku bayi dengan gambaran
paroksismal, eksesif, dan menangis yang
tidak diketahui penyebabnya. Walaupun
kolik pada bayi sering, dan sering menim-
bulkan stres baik orang tua maupun tenaga
medis, namun belum atau tidak diketahui
penyebabnya dengan jelas.
Penyebab kolik pada bayi ini bersifat
multifaktorial; misalnya; temperamen bayi,
interaksi antara ibu dan bayi yang tidak
adekuat, kecemasan pada ibu, serta fungsi
saluran cerna yang abnormal, defisiensi
lactase sementara, serta faktor alergi mis-
alnya: alergi terhadap susu formula, dsb.
Peningkatan kadar motilin maupun ghre-
lin dalam darah juga akan meningkatkan
kejadian kolik pada bayi pada ibu yang
merokok. Satu hal menarik adalah adanya
penurunan jumlah populasi bakteri
Lac-
tobacillus pada bayi-bayi yang mengalami
kolik abdomen jika dibandingkan dengan
bayi-bayi yang sehat. Juga disebutkan
mungkin ada korelasi antara alergi dengan
kejadian kolik pada bayi.
Lactobacillus reuteri merupakan salah
satu Lactobacillus endogen yang terdapat
di dalam saluran cerna manusia telah ba-
nyak digunakan dan bersifat aman baik
pada anak, dewasa maupun bayi yang baru
lahir. Penggunaan Lactobacillus reuteri ini
cukup banyak, dan dari studi yang ada juga
menunjukkan bahwa Lactobacillus reuteri
mampu menurunkan keluhan ataupun
gejala kolik pada bayi. Pemberian probio-
tik termasuk Lactobacillus reuteri akan
memodulasi sistem imun bayi, membantu
perkembangan sistem imun bayi sehingga
akan toleran terhadap alergen yang masuk;
dengan hipotesa adanya korelasi antara
aler gi dengan kejadian kolik pada bayi
maka pemberian probiotik dalam hal ini
Lactoabcillus reuteri akan memperbaiki ke-
luhan kolik tersebut.
Hipotesa tersebut dibuktikan dengan
sebuah studi klinis yang melibatkan 90
bayi dengan keluhan kolik abdomen. Su b-
yek mempunyai rentang usia 21 90 hari,
berat saat kelahiran 2500 4000 gram. Kri-
teria kolik abdomen adalah; bayi menangis
lebih dari tiga jam, dengan frekuensi lebih
dari 3 hari setiap minggunya. Selanjutnya
subyek diacak dan dikelompokkan menja-
di kelompok yang mendapat Lactobacillus
reuteri ATCC 55730 10
8
CFU atau simethi-
cone sekali sehari selama 28 hari.
Hasil studi tersebut menunjukkan
bahwa, pada kelompok bayi yang menda-
pat Lactoabcillus reuteri terjadi penurunan
waktu ataupun lama menangis, jika diban-
dingkan dengan kelompok simethicone.
Pada evaluasi hari ke-28 menunjukkan
bahwa 95% bayi pada kelompok Lactoba-
cillus reuteri memberikan respon perbaik-
an dan sebaliknya hanya 7% bayi dari
kelompok simethicone yang mengalami
perbaikan.
Studi di atas menunjukkan bahwa su-
plementasi Lactobacillus reuteri mampu
mengurangi keluhan kolik abdomen pada
bayi, dan merupakan agen terapi yang
menjanjikan dengan profil keamaan yang
lebih baik. n
KTW
Crying Tim, Min
p
a
L reuteri (n = 41)
Simethicone (n = 42)
Difference (95% CI)
Day 0
187 (180-276)
197 187 (180-276)
0 (-10 to 10)
.987
Day 1
192 (107-273)
192 (107-278)
0 (-18 to 16)
.753
Day 7
159 (54-211)
177 (38-241)
-18 (-40 to -1)
.005
Day 14
95 (41-179)
153 (51-231)
-58 (-95 t0 -32)
<.001
Day 21
74 (35-139)
154 (54-229)
-80 (-95 to -60)
<.001
Day 28
51 (26-1005)
145 (70-191)
-94 (-102 to -76)
<.001
Values are shown as median (range). CI indicates cofindence internal
a p values from x2 test for proportions
100%
80%
60%
40%
20%
0%
5%
7%
93%
95%
L reuteri
Simothicone
Responders
Nonresponders